Selama ini kita mengenal KH Anwar Musaddad, penggagas berdirinya perguruan tinggi Islam negeri (PTKIN) di Indonesia, Rektor pertama (IAIN), Gedung Auditorium (Aula) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Pendiri Pondok Pesantren dan Yayasan Pendidikan Al-Musaddadiyah di Garut.
Justru ditangan "dingin" Iip D. Yahya, Direktur Media Center NU Jawa Barat yang ulet, terus bergelut dengan (pendekatan) sejarah yang bersumber pada khazanah klasik, khususnya warta harian Pemandangan yang terbit di Jakarta dan Tjahaja di Bandung.
Dalam buku terbarunya, KH. Anwar Musaddad: Ketua Kokesin dan Pendiri Hizbullah Priangan karya Iip D. Yahya, terbitan Lakpesdam PWNU Jawa Barat (Cetakan 1, 1 Maret 2025), hadir sebagai upaya penting untuk menelusuri dan merekonstruksi jejak intelektual, kemanusiaan, dan perjuangan tokoh sentral bersahaja ini dalam lintasan sejarah Indonesia.
Sejumlah fakta ini dengan sendirinya menjadi novelty (kebaruan) dalam kajian tokoh KH Anwar Musaddad yang membuktikan jasa, kiprah dan perjuangan kemanusiaan sebagai Ketua Kokesin di Makkah, Kepala Syuumuka dan Pendiri Hizbullah Priangan.

Pejuang Kemanusiaan, Teladan yang Menginspirasi
Dalam tradisi pesantren dikenal suatu perilaku menyembunyikan prestasi, karya, amal baik (kebaikan), yang disebut tawadlu. Bersikap rendah hati dan menghindari untuk menyombongkan diri.
Di sisi lain, dalam tradisi Sunda dikenal pula perilaku menyembunyikan sesuatu, yang sekalipun faktual, tetapi dianggap akan menyakitkan hati pihak lain.
KH Anwar Musaddad, tampaknya mengambil sikap tawadlu, terkait banyak peristiwa di masa askhir penjajahan Belanda dan era pendudukan tentara Jepang. Sikap ini tidak unik, pilihan yang lazim ngaragangan batur dan teu wasa, terkait banyak peristiwa di masa akhir penjajahan tetapi sebatas pada hal-hal yang ditanyakan.
Padahal, pada masa antara 1940 hingga saja di antara para ulama pesantren. Beberapa kejadian memang dijelaskannya, 1941 peristiwa Kokesin dan mukimin menjadi berita (istilah sekarang viral, fyp) di media massa, antara Juli 1943 hingga Mei 1945.
Namanya hampir selalu muncul dalam pemberitaan media massa yang terbit di Bandung, baik karena kedudukannya sebagai Kepala Kantor Urusan Agama Priangan, perwakilan Masyumi, maupun karena ketokohannya sebagai penceramah keliling yang terkenal di wilayah Priangan.
Buku kecil yang berjumlah (xii+73 halaman) ini, mencoba untuk memaparkan sejumlah kiprah Anwar Musaddad pada akhir masa penjajahan Belanda dan selama pendudukan bala tentara Jepang, berdasarkan pemberitaan media sezaman, khususnya warta harian Pemandangan yang terbit di Jakarta dan Tjahaja yang terbit di Bandung, yang diperkuat dengan sejumlah kajian sarjana luar dan dalam negeri.
Untuk kajian atas peristiwa Kokesin, nyaris belum pernah ditulis dalam sebuah buku khusus. Sekalipun itu merupakan peristiwa besar yang menarik perhatian seluruh penduduk muslim Hindia Belanda. Baru ada satu buku yang menuturkan soal Kokesin, yaitu R.H.O. Djoenaidi Pejuang Pengusaha dan Perintis Pers, Menuju Indonesia Merdeka Selintas Kilas Pemandangan', disusun oleh Badruzzaman Busyairi dan diterbitkan oleh Yayasan R.H.O. Djoenaidi Manonjaya, Tasikmalaya, pada 1982.
Pada halaman 209-244, pada bagian kedelapan, memuat sub judul Pemandangan Menolong Mukimin. Tulisan ini merupakan ringkasan dari liputan Pemandangan sejak awal peristiwa mukimin menjadi perhatian publik, hingga kedatangan kapal terakhir yang dipimpin oleh Anwar Musaddad.
Kendati kajian atas periode pendudukan tentara Jepang di Indonesia sudah cukup banyak dilakukan dengan fokus yang beragam. Aspek sosial politik, kajian pada aspek keagamaan menjadi pilihan, termasuk soal Masyumi dan Hizbullah. Namun, dokumen mengenai periode ini rupanya tersebar dan tidak semuanya dapat ditemukan pada saat para peneliti melakukan risetnya.
Sejumlah pustaka penting yang dijadikan rujukan, misalnya, tidak menyebutkan secara pasti tanggal pendirian Masyumi dan Hizbullah. Dalam catatan intelijen Belanda yang dihimpun pada 1946, masih menyatakan bahwa, de juiste datum van oprichting is onbekend, tanggal pasti pendiriannya tidak diketahui. (h. 1-2)
Paling tidak buku ini menangkat tema Kepemimpinan Kemanusiaan, Musaddad sebagai penggerak penyelamatan mukimin Indonesia di masa perang; Diplomasi Sejarah, kemampuan negosiasi dan advokasi di tengah situasi internasional yang rumit; Keagamaan dan Kewarganegaraan, yang berusaha menjadi perpaduan nilai agama dan cinta tanah air dalam tindakan nyata perjuangan. Militer Pesantren, terutama peran Hizbullah Priangan sebagai barisan militan berbasis pesantren yang berusaha memperkokoh semangat, perjuangan, pembelaan kemerdekaan.

Berikut inilah 3 Jejak Heroik Anwar Musaddad yang Terlupakan
1. Ketua Kokesin di Makkah, Diplomat Sejati yang Berhasil Menyelamatkan Nyawa 2.504 Manusia pada Perang Dunia II.
Keterlibatan Kiai Anwar dalam Komite Kesengsaraan Indonesia (Kokesin), organisasi yang dibentuk pada 18 Februari 1940 di Hijaz awal Perang Dunia II (1940–1941) untuk membantu ribuan mukimin Indonesia yang terlantar di Arab Saudi akibat gangguan transportasi dan perang.
Anjuran itu dilaksanakan oleh enam orang dan Abdoelkadir. Namun, karena Konsul Cornelis Adriaanse sedang cuti ke Belanda, perwakilan mukimn, yaitu Abodel Meohaimin, Moersal, Madjidi, Hoesin, Moesaddad diserahkan kepada wakilnya.
Kokesin berupaya memfasilitasi bantuan, komunikasi diplomatik, yang pada akhirnya berhasil pemulangan mukimin ke tanah air. Kiai Musaddad dikenal bukan hanya sebagai pemimpin organisasi, melainkan diplomat ulung yang menjalin komunikasi produktif antara Kokesin, Konsulat Hindia Belanda, Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), dan pihak berwenang lainnya. Pendekatan yang sangat penting demi keselamatan orang-orang yang terlantar.
Atas saran Wakil Konsul, keenam orang itu ditambah Abdoel Djalil Moekaddasi, pada 18 Maret 1940, mengirimkan surat kepada MIAI dan kalangan media massa di Indonesia. Begitu surat sampai di Indonesia, pada 10 Mei 1940, Belanda mendapat serangan mendadak oleh Jerman.
Lumpuhnya pemerintahan Belanda sangat berpengaruh pada situasi di Hijaz, terutama pada menunrunnya nilai tukar mata uang Belanda yang ikut jatuh. Akibatnya harga-harga menjadi mahal, sementara hubungan Hijaz dan tanah air sama sekali terputus. Karena tidak ada yang bisa diperbuat, sekitar 300 mukimin melakukan salat hajat di Masjid Al-Haram, memohon doa keselamatan bagi mereka dan tanah air Indonesia.
Pada 19 Juni 1940, di kediaman Madjidi, dilangsungkan pertemuan yang diikuti 20 orang perwakilan mukimin yang sepakat untuk membentuk Komite Kesengsaraan Indonesia yang kemudian populer dengan singkatan Kokesin. Susunan awal Kokesin adalah Moersal Aziz (Ketua), Rifai (Wakil Ketua), Imran Rosyadi (Sekretaris 1), Abdoelkadir (Sekretaris 2), Madjidi (Bendahara), Abdul Hamid dan Madani (Anggota).
Sebagai Ketua Kokesin terakhir, Musaddad memimpin rombongan terakhir pulang dengan kapal S.S. Garoet-Rotterdam pada 15 September 1941. Proses pemulangan yang panjang, dramatis dan penuh tantangan.
Begitulah cerita dramatis perjalanan Anwar Musaddad memimpin kafilah orang-orang Indonesia yang terlantar di Hijaz. Kedudukannya sebagai Ketua Kokesin memperlihatkan kepemimpinannya yang kuat dan kharismatis. Kefasihannya berbahasa Arab, membuatnya berwibawa di antara para Mukimin. Sementara kemahirannya berbahasa Belanda, menjadikannya mudah berkomunikasi dengan kapten kapal dan sebagian awaknya.
Dalam sejarah Indonesia modern, apa yang dilakukan oleh Kokesin dengan bantuan MIAI adalah penyelamatan warga Indonesia terbesar di luar negeri. Sejumlah 2.320 orang dewasa dan 184 anak-anak berhasil kembali pulang ke kampung halamannya di berbagai wilayah di Indonesia. Sebagai Ketua Kokesin di Makkah, Anwar Musaddad pulang dengan kapal pengangkut terakhir yang membawa 630 orang. (h. 10-16).

2. Kepala Syuumuka (Kantor Urusan Agama) Karesidenan Priangan, Pelatihan Ulama Angkatan I, Berbadan Bugar, Pandai Bahasa, Ketokohan dan Permintaan Residen Ichibangase Yosio.
Pada tanggal 8 Maret 1942, begitu tentara Jepang berhasil menguasai Jawa, langsung mengumumkan Undang-Undang No. 2 dari PBTJ. UU tersebut dimuat dalam Kan Po nomor istimewa yang terbit pada 9 Maret 1942. Pada pasal 2 UU tersebut dinyatakan:
"Sementara waktu dilarang keras berbuat seperti tersebut di bawah ini: a) Berserikat, berkumpul, berpropaganda bagi musuh dan menempel kertas gambar atau tulisan ...."
Pasal inilah yang inilah menjadi dasar dibubarkannya semua partai politik dan organisasi massa, termasuk Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Paguyuban Pasundan, dan lain-lain. Pembubaran terhadap Nahdlatul Ulama, diakui dalam Riwayat Singkat Partai Nahdlatul Ulama dalam Kepartaian dan Parlementaria Indonesia (1954: 411),
Dengan pembubaran ini maka para tokoh organisasi massa dan partai politik memiliki dua pilihan; segera menyesuaikan diri dengan kebijakan PBTJ atau bergerak di bawah tanah.
Pada masa pendudukan tentara Jepang, yang berlaku adalah hukum militer. Setiap lapisan warga Indonesia dikondisikan dalam suasana bersiap untuk menghadapi pertempuran. Berbagai pelatihan semacam wajib militer dilaksanakan dan diikuti berbagai kalangan, termasuk oleh para tokoh nasional untuk memberikan contoh kepada masyarakat luas.
Untuk kalangan kiai, diselenggrakan pelatihan ulama (Kyai Kyosyukai). Pelatihan pertama ini dilaksanakan selama tiga minggu yang bertempat kantor Syuumubu dan MIAI di kawasan Gambir Timur, Jakarta. K.H. Anwar Musaddad termasuk Kiai yang mengikuti pelatihan ulama ini pada angkatan pertama, mewakili karesidenan Priangan, bersama K.H. Muhamad Syatibi dari Sumedang dan K.H. Muhammad Siddik dari Bandung.
Dalam biodatanya, Kiai Musaddad menjelaskan profesinya sebagai guru mengaji dan muballig keliling di wilayah Priangan serta pengurus Madrasah Al-Falah Campaka Garut. Pada tahap pertama, pelatihan ulama ini diadakan sebanyak tiga gelombang, yang dilaksanakan pada 1 Juli, 1 Agustus, dan 2 Desember 1943. Setiap angkatan diikuti oleh 60 ulama dari 20 karesidenan seluruh Jawa dan Madura. Diikuti oleh tiga orang ulama dari setiap karesidenan.
Pelatihan ini di bawah koordinasi Syuumubucho Kolonel Hori'e. Pelatihan ini ditawarkan secara terbuka dan para kiai yang berminat mendaftarkan diri di karesidenan masing-masing. Beaya selama pelatihan, ditanggung oleh pemerintah, termasuk tunjangan untuk keluarga selama ditinggalkan.
Pelatihan dilaksanakan di Gedung MIAI di kawasan Gambir, sementara untuk penginapan disediakan rumah besar di Jalan Kramat No. 45 dan 47 yang dilengkapi berbagai fasilitas pendukung. Anwar Musaddad seangkatan dengan sejumlah kiai terkenal, di antaranya Kiai Siroj Muntilan, Magelang, Kiai Muhammad Ilyas Pekalongan, Kiai Hamid Dimyati Tremas Pacitan, Kiai Harun Banyuwangi, dan Kiai Abdulchalim Siddik dari Jember.
Terdapat empat syarat untuk dapat mengikuti pelatihan tersebut: Pertama, berpengaruh besar dan berwatak baik. Kedua, berbadan sehat dan bertenaga kuat untuk mengerjakan semua yang perlu dilakukan. Ketiga, harus paham bahasa Indonesia dan salah satu bahasa daerah seperti Sunda, Jawa dan Madura, serta bisa menulis. Keempat, berkesempatan mengikuti pelatihan selama sebulan.
Pada saat Syuumuka dibentuk, K.H. Anwar Musaddad dipercaya menjadi Kepala Syuumuka Priangan yang membawahi Bandung, Garut, Tasikmalaya, Ciamis dan Sumedang. Dalam penetapan jabatannya, sebagaimana dimuat dan Kan Ponomor 40 tahun 1944, ia digolongkan sebagai Tihoo Yontoo Gyooseikan atau pejabat publik tingkat empat.
Kiai Musaddad didampingi oleh R. Akis Kartadinata, Moech. Sjafei, M. Nakao, dan Morinaga. Mereka ikut berkantor di kantor karesdienan. Pengurus Syuumuka bertugas untuk mengkoordinasikan semua urusan keagamaan di tingkat karesidenan, termasuk hal-hal yang selama ini diurusi oleh para penghulu.
Lalu setelah K.H. Hasjim Asy'ari menjabat Kepala Syuumubu, maka pengurus Syuumuka menjadi representasi dari Masyumi dimana Kiai Hasjim menjadi Ketua Besar. Oleh karena itulah, ketika tiba saatnya Masyumi membentuk Barisan Hizbullah, Kiai Musaddad karena jabatannya memimpin pembentukan untuk wilayah Priangan. (h. 24-25)
Aiko Kurasawa, peneliti asing asal Jepang yang belajar di Universitas Cornell, Amerika Serikat menilai Kiai Musaddad sebagai peserta terbaik dalam pelatihan ulama itu, yang dibuktikan dengan sebuah artikel berjudul Pendapatan Selama Latihan Oelama, yang ditulisanya dan dimuat dalam Majalah Soeara MIAI, No. 17, 1 September 1943. Satu-satunya peserta pelatihan yang menuliskan tanggapan dalam majalah resmi MIAI yang kemudian berganti menjadi Soeara Masyumi.
Kepada Aiko, Kiai Musaddad mengakui bahwa delapan bulan setelah mengikuti pelatihan ulama, ia dipanggil oleh Residen Ichibangase yang memintanya untuk menjadi Kepala Syuumuka Priangan. Hal itu bisa dimaklumi dari susunan Syuumuka Priangan yang sedikit berbeda dengan karesidenan lain, dengan adanya dua orang Jepang di dalamnya. Sementara di Karesidenan lain, susunan pimpinan Syuumuka adalah gabungan dari ulama NU, Muhammadiyah dan Penghulu. (h. 26).

3. Pendiri Hizbullah Priangan, Berjuang dalam Jala Allah, Bela Nusa Bangsa, Latihan di Cibarusah yang diikuti 500 peserta.
Pembentukan Hizbullah di Karesidenan Priangan, dilaksanakan pada 10 Januari 1945, melalui rapat yang dipimpin oleh K.H. Anwar Musaddad. Rapat tersebut tersebut dihadiri oleh Ketua Pusat Pimpinan Barisan Hizbullah K.H. Zainul Arifin dan Ketua Muda 2 Masyumi K.H. Faried Ma'ruf. Hadir pula perwakilan pemerintahan se-Karedidenan Priangan, , para ulama, dan ratusan calon tentara Hizbullah. Rapat dilaksanak di Gedung Dai Tooa Kaikan atau Gedung Merdeka di Bandung (Tjahaja, 11-01-1945, Asia Raya, 12-01-1945).
Sebelum rapat pembentukan tersebut, di Priangan sudah dilaksanakan kampanye mengenai Hizbullah di berbagai tempat. Misalnya di Bandung diselenggarakan Rapat Besar Islam di Gedung Merdeka pada 14 Desember 1944. Anwar Musaddad bersama M. Natsir menyampaikan ceramah terkait Hizbullah.
Setelah terbentuk pada 10 Januari 1945, panitia Hizbullah Priangan lalu menyeleksi ratusan pemuda yang layak mengikuti latihan. Untuk angkatan pertama terpilih 50 orang pemuda yang kemudian disaring lagi menjadi 25 orang. Pada Kamis malam, 15 Februari 1945, bertempat di kediaman tokoh NU H. Wiratmana (Haji Swarha), di Jalan Kopo Bandung, diadakan upacara pelepasan calon Barisan Hizbullah yang dihadiri para ulama dan banyak orang.
Setelah pembacaan tahlil dan barzanji, Kepala Syuumuka Kiai Musaddad membagikan kain dan peralatan sehari-hari kepada para calon prajurit. Semuanya merupakan bantuan dari pemerintah dan sumbangan para dermawan.
Sejumlah tokoh lalu menyampaikan nasehat, M. Natsir, Kiai Hidajat, dan tuan rumah H. Wiratmana. Memasuki dini hari, para calon prajurit itu berjalan menuju stasiun Bandung, diantarkan oleh barisan Seinendan dan Keibodan. Sesampainya di stasiun mereka disambut oleh pasukan tentara PETA yang dipimpin oleh Daidancho Priangan.
Harian Tjahaja, 16-02-1945, melukiskan peristiwa itu dalam laporannya.
Pada awalnya, dalam berbagai pemberitaan media massa, tak pernah disebutkan dimana lokasi pelatihan Barisan Hizbullah ini dilakukan. Termasuk dalam foto upacara pembukaan latihan pada 18 Februari 1945, yang dimuat dalam warta dilatih. Dalam foto tersebut tampak Ketua Muda Masyumi K.H. Wachid Hasjim harian Tjahaja dua hari kemudian, masih disebutkan, menuju ke suatu tempat untuk dilatih.
Dalam foto itu tampak Ketua Muda Masyumi K.H. Wachid Hasjim menyampaikan sambutan. Upacara dihadiri oleh para pembesar Jepang dan Indonesia, para kiai, dan 500 calon tentara Hizbullah.
Belakangan diketahui bahwa lokasi pelatihan itu di Cibarusah yang masuk ke wilayah Bekasi. Lokasi ini sesuai dengan aturan dalam ART Hizbullah, tempat yang terdapat asrama, langgar, dan lapangan.
Pelatihan militer dipimpin oleh Yanagawa, perwira yang melatih calon tentara PETA. la dibantu oleh para komandan PETA, yaitu Abdullah Sajad, Zaini Nuri, Abdul Rahman, Kemal Idris, dan lain-lain. Pada malam hari mereka mendapatkan pendidikan keruhanian yang disampaikan oleh K.H. A. Wachid Hasjim, K.H. Zarkasi (Ponorogo), K.H. Mustofa Kamil (Garut), K.H. Mawardi (Solo), K.H. Mursyid (Kediri), dan K.H. Abdul Halim (Majalengka). Kiai Abdul Halim mengajarkan cara membuat peledak. (Moch. Faisol, 2018: 10)
Pelatihan ini direncanakan akan dilaksanakan secara bergelombang. Namun karena cita-cita Indonesia merdeka segera tercapai pada 17 Agustus 1945, maka hanya terselenggara satu angkatan, sejumlah 500 peserta latihan. (h. 30-31)
Dalam dokumen yang disita oleh NEFIS yang diterjemahkan yang tersimpan dalam bahasa Belanda dan didistribusikan ke berbagai pihak di bawah pengawasan Belanda yang berusaha menduduki tanah Jajahannya. Dokumen tersebut tersimpan dalam arsip Indische Collectie, Inventaris No. 2143. Periodiek nr 14: Doel en werkwijze van de Islamitische organisaties Hizboellah en Sabilillah.
Dokumen sebanyak 18 halaman ini menjelaskan soal tujuan dan metode organisasi tentara Hizbullah dan Sabilillah, dengan kualifikasi geheim atau rahasia. Otorisasi penyebaran dokumen ini ke berbagai pihak terkait, ditandatangi oleh Direktur NEFIS L.N.H. Jungschlager pada 21 September 1946.
Dokumen ini menerangkan bahwa ada empat bagian dalam organisasi Hizbullah, yaitu bagian umum, barisan, pendidikan dan keuangan. Struktur organsinya berjenjang mulai dari tingkat karesidenan (syuu), kabupaten (ken), barisan pesantren, madrasah, dan desa atau kelurahan. Setiap barisan sedikitnya kawedanaan (gun), dan son (kecamatan). Di tingkat kecamatan masih tebagi ke dalam beranggotakan 10 orang dan paling banyak 25 orang. Jika di sebuah pesantren (desa) mendapatkan anggota yang lebih banyak, maka dibentuk barisan kedua, ketiga dan seterusnya. (h. 34)

Proses Kreatif Penulisan
Dalam kata Pengantar Penulis, Kang Iip sapaan akrabnya menceritakan ketika KH Thontowi Jauhari Musaddad menghubungi dan meminta waktu untuk bertemu, langsung mengiyakan dan menyepakati waktunya.
Segera membuka kembali berbagai literatur mengenai periode pendudukan Jepang di Indonesia. Kebetulan pada 2021 pernah menulis buku Ajengan Sukamanah Biografi KH Zainal Musthafa Asy-Syahid, yang memaksa selama lebih-kurang satu setengah tahun, membuka buku dan sumber dari periode tersebut.
Setelah melusuri koleksi koran lama di Perpustakaan Nasional Jalan Salemba Raya No. 28 A Jakarta Pusat, secara manual dengan membukanya selembar demi selembar, berhasil menemukan sejumlah data baru mengenai kiprah Kiai Musaddad.
Ihwal aktivitasnya dalam Komite Kesengsaraan (Mukimin) Indonesia di tanah Hijaz, ditelusuri melalui website khastara.perpusnas.go.id., layanan digital Perpustakaan Nasional yang sangat memudahkan para pencari data. Sumber lain yang digunakan adalah situs www.niod.nl., yang menyimpan dokumen Hindia Belanda pada Perang Dunia Kedua.
Sebagai Ketua Kokesin, yang secara aktif ikut menyelamatkan ribuan orang yang terlantar di luar negeri dan mengembalikan mereka hampir seluruhnya dengan selamat ke kampung halaman masing-masing di Indonesia. Saat menjabat Kepala Syuumuka (Kantor Urusan Agama) Karesidenan Priangan, telah mempersiapkan, membentuk, dan mengelola Hizbullah di wilayah Priangan. Namanya dengan jelas tercantum dalam Struktur Pimpinan Hizbullah Priangan yang disita oleh NEFIS.
Dengan paparan ini tampak bahwa K.H. Anwar Musaddad telah tampil sebagai pahlawan jauh sebelum Indonesia merdeka. Saat menyelamatkan ribuan mukimin, telah menjadi pahlawan kemanusiaan. Ketika memimpin pembentukan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Saat Masyumi terbentuk menggantikan MIAI, Musaddad menjadi perwakilannya untuk karesidenan Priangan. Dalam kedudukannya sebagai Kepala Syuumuka dan perwakilan Masyumi inilah, sekali lagi sejarah memanggilnya, untuk memimpin pembentukan Barisan Hizbullah Priangan. Dengan memimpin rapat pembentukan, menyeleksi calon tentara yang akan dilatih dan melepas mereka saat akan mengikuti pelatihan di Cibarusah.
Ala kulli hal, Anwar Musaddad tak pernah memburu jabatan selama hidupnya, tetapi ketika tanggung jawab tiba di pundaknya, dilaksanakan dengan baik, dengan segala resikonya. Menjadi ketua Kokesin dan Pendiri Hizbullah Priangan, hanyalah dua karya besar di antara karya-karya lain yang ia torehkan sepanjang hidupnya. (h.37-38)
Baca Juga: Keranjingan Info Bites Konten Religi
Walhasil, saat membaca buku ini, kita tidak sekadar disuguhi biografi seorang tokoh. Kita diajak menelusuri jejak pejuang kemanusiaan dan diplomat sejati. Ulama yang tidak hanya berkiprah di ruang-ruang pendidikan, justru hadir di medan perjuangan moral dan sosial umat. Dengan berusaha untuk membangun khazanah pendidikan Islam dengan visi yang jauh melampaui zamannya, menggerakkan solidaritas umat dengan keteladanan, sambil terus menjaga martabat bangsa melalui sikap arif dan diplomasi yang berkeadaban.
Warisan pemikirannya bukan sekadar catatan sejarah, melainkan energi yang terus hidup, dijaga, dirawat, dan relevan hingga hari ini. Mudah-mudahan menjadi teladan yang inspirasi tentang bagaimana ilmu, perjuangan, dan kemanusiaan dapat berpadu dalam satu sosok KH Anwar Musaddad yang utuh. (*)