Ayo Netizen

Puluhan Pemuda Tanam 1.800 Bibit Pohon di Batu Tumpeng, Upaya Pulihkan Hutan dan Cegah Banjir di Ciwidey

Oleh: Andres Fatubun Senin 16 Feb 2026, 19:26 WIB
Reforestrasi di Batu Tumpeng, Situs Gunung Nagara Padang diinisiasi oleh gabungan komunitas Sunda Hejo, Patanjala, petani, masyarakat Ciwidey, dan muda-mudi yang berasal dari berbagai wilayah di Bandung Raya. (Foto: Mirsi Nira Insani)

AYOBANDUNG.ID - Sekitar 40 pemuda dari berbagai komunitas dan latar belakang berkumpul di Batu Tumpeng, kawasan Gunung Nagara Padang, Kabupaten Bandung, Minggu (15/2/2026). Mereka melakukan penanaman ribuan bibit pohon sebagai upaya memulihkan lahan gundul yang dinilai berkontribusi terhadap banjir dan kerusakan ekosistem.

Dalam kegiatan reforestasi sukarela tersebut, sekitar 1.800 bibit ditanam di area hutan lindung dan lahan perkebunan warga. Aksi gotong royong ini diinisiasi oleh gabungan komunitas Sunda Hejo, Patanjala, petani, masyarakat Ciwidey, serta relawan dari berbagai wilayah di Bandung Raya.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh banjir yang terjadi di kawasan Rawabogo, khususnya di Kampung Ciparigi, pada Desember 2025 dan Februari 2026. Wilayah tersebut merupakan titik pertemuan Sungai Nyalindung dan Sungai Cangkorah yang rawan meluap saat curah hujan tinggi.

Panitia menilai alih fungsi lahan di sekitar hulu sungai menjadi salah satu faktor yang memperparah risiko banjir. Sejumlah area yang semestinya berfungsi sebagai kawasan resapan air berubah menjadi lahan perkebunan. Melalui penanaman ini, relawan berharap fungsi hutan lindung dapat kembali optimal.

Puluhan pemuda menanam sekirar 1800 bibit pohon di Batu Tumpeng, Situs Gunung Nagara Padang, Kabupaten Bandung. (Foto: Mirsi Nira Insani)

Selain memulihkan daya serap air, kegiatan penghijauan juga ditujukan untuk merespons meningkatnya konflik antara manusia dan satwa liar. Dalam beberapa bulan terakhir, warga melaporkan kemunculan monyet dan macan tutul di sekitar permukiman.

Untuk menjaga keseimbangan ekosistem, relawan menanam berbagai jenis pohon keras dan tanaman produktif, seperti rasamala, puspa, cendana, beringin, mahoni, karet kebo, kopi, dan nangka. Jalur mata air di sekitar lokasi turut dibersihkan dan dirawat guna menjaga ketersediaan sumber air.

Kegiatan dimulai sejak pukul 09.00 WIB dan berlangsung hingga menjelang sore. Para peserta terlebih dahulu berkumpul di titik temu sebelum berjalan kaki menuju lokasi tanam. Jalur yang dilalui berupa jalan setapak berlumpur, tanjakan licin, serta lintasan di tepi jurang.

Sebagian peserta menggotong bibit, sementara lainnya membawa pasak bambu untuk penyangga tanaman. Kondisi medan yang berat menyebabkan sejumlah peserta terpeleset dan terjatuh. Meski demikian, kegiatan tetap berlangsung hingga seluruh titik tanam yang direncanakan dapat diselesaikan.

Aksi ini dilakukan secara swadaya, tanpa dukungan sponsor besar. Seluruh kebutuhan kegiatan dipenuhi melalui patungan dan inisiatif bersama. Panitia menyebut, kegiatan serupa telah dilakukan beberapa kali sebelumnya, meskipun minim eksposur publik.

Bagi para relawan, penanaman pohon ini menjadi bentuk kerja nyata dalam menjaga lingkungan di tengah meningkatnya ancaman krisis ekologis. Kegiatan tidak berhenti pada penanaman, tetapi juga disertai dengan pendataan lokasi dan rencana perawatan lanjutan.

Hingga sore hari, ratusan bibit telah tertanam di lereng dan area perkebunan yang berbatasan langsung dengan hutan lindung. Para peserta kemudian melakukan evaluasi singkat dan menyusun rencana pemantauan pertumbuhan tanaman sebagai bagian dari upaya pemulihan jangka panjang. (Mirsi Nira Insani)

Reporter Andres Fatubun
Editor Andres Fatubun