Salah satu tujuan puasa wajib di Bulan Ramadhan adalah agar manusia beriman bisa menjadi orang yang bertakwa, artinya – diiaharapkan manusia menjadi bageur, cageur tur bener. Sebab banyak orang beriman tingkah lakunya tida benar, artinya ia belum tattaqun. (baca QS. Albaqoroh;183)
Maka, Allah menyediakan yang namanya hari raya idul Fitri atau istilah bahasa indonesia lebaran. Di hari inilah manusia kembali menjadi suci setelah sebulan digojlok dengan puasa. Di hari inilah manusia akan terlihat apakah puasa berhasil merubah manusia bisa mudik ke diri sendiri atau tidak. Lebaran menjadi muara kesadaran manusia atas eegala kekurangannya.
Lebaran, bisanya secara social dipakai untuk mudik ke kampung halaman – berrkumpul bersama keluarga, untuk saling melepas kangen, saling memaapkan dan biasanya juga untuk pamer keberhasialn seseorang.
Sebetulnya ada yang lebh penting dari sekedar mudik fisik, ialah mudik
ke diri, sebuah konsep yang mengandung makna spiritual dan reflektif, di luar sekadar perjalanan fisik pulang ke kampung halaman, kembali kepada diri sendiri dengan penuh kesadaran dan introspeksi.
Mudik ke diri pertanda pentingnya lebaran sebagai waktu untuk menyendiri dan melakukan refleksi diri. Secara spiritual, mudik ke diri mengajak individu untuk memanfaatkan momentum tersebut untuk menenangkan hati, memperbaiki diri, dan menyadari kembali nilai-nilai hidup yang mungkin terlupakan selama rutinitas sehari-hari.
Mudik secara psikologis

Perjalanan mudik ke diri berkaitan dengan kebutuhan psikologis dan kebatinan, di mana seseorang merindukan ketenangan, kedamaian, dan keutuhan diri. Dalam konteks ini, Lebaran menjadi waktu yang tepat untuk merenungkan perjalanan hidup, mengampuni diri sendiri dan orang lain, serta memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama. Ini sejalan dengan konsep nafsul mutmainnah (jiwa yang tenang dan damai) dalam ajaran Islam, yang menggambarkan keadaan hati yang patuh dan berserah diri kepada Allah.
Mke diri merupakan proses self-rediscovery, mengenali kembali kekuatan, kelemahan, serta tujuan hidup. Di tengah kesibukan dan tekanan kehidupan modern, momen ini menjadi peluang untuk berhenti sejenak, melakukan evaluasi diri, dan memperbarui niat serta komitmen spiritual maupun pribadi. Dengan demikian, perjalanan ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mendalam secara emosional dan spiritual.
Inilah konsep Lalalakum tattaqun yang mengajak setiap individu untuk melakukan perjalanan batin selama momentum Lebaran. Saatnya untuk introspeksi, memperkuat hubungan spiritual, dan memperbaiki diri agar kembali ke kehidupan sehari-hari dengan hati yang lebih tenang, bersyukur, dan penuh makna.
Jadi, Lebaran tidak hanya menjadi ajang berkumpul secara fisik, tetapi juga menjadi momen transformasi diri menuju pribadi yang lebih baik. (*)