Hari raya Idulfitri atau Lebaran selalu hadir sebagai momen yang dinanti. Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa, umat Islam merayakan kemenangan dengan saling memaafkan, berkumpul bersama keluarga, dan berbagi sejuta kebahagiaan.
Namun di balik makna spiritual Lebaran tersebut, ada satu fenomena menarik yang selalu menyertai saat Lebaran yaitu tradisi mengenakan baju baru. Tak heran jika saya menyebut Lebaran seperti sebuah panggung “Fashion show” terbesar setiap tahunnya.
Jika kita memperhatikan suasana pagi saat Lebaran, pemandangan di lapangan tempat salat Id seolah menjadi panggung raksasa peragaan busana. Anak-anak mengenakan gamis atau baju koko baru dengan wajah ceria. Remaja tampil modis dengan sentuhan gaya kekinian. Para orang tua memilih busana yang anggun dan elegan. Semua tampak ingin tampil terbaik, seakan-akan sedang mengikuti ajang peragaan busana massal yang berlangsung serentak di seluruh penjuru dunia.
Tradisi memakai pakaian terbaik saat hari raya memiliki akar budaya dan religius. Dalam ajaran Islam, umat dianjurkan tampil bersih dan rapi ketika melaksanakan salat Id. Nabi Muhammad SAW menganjurkan umatnya untuk mengenakan pakaian terbaik yang dimiliki pada hari raya Idulfitri. Terdorong oleh anjuran itu, muncul kebiasaan membeli atau menyiapkan pakaian baru sebagai simbol kesucian dan mengawali sesuatu dengan yang baru. Pakaian baru menjadi perlambang hati yang kembali bersih setelah ditempa oleh Ramadan.

Khususnya di Kota Bandung, Pusat perbelanjaan, pasar tradisional, dipadati pembeli menjelang hari raya belum lagi masa sekarang bisa belanja melalui toko online. Fenomena ini menciptakan geliat ekonomi yang luar biasa. Industri tekstil, konveksi, dan desainnya mendapatkan momentum emas. Bahkan, koleksi busana khusus Idulfitri sering dirilis jauh hari sebelumnya, lengkap dengan tren warna dan model terbaru. Fenomena ini bukan sekadar soal penampilan, Lebaran adalah momentum kebersamaan. Banyak keluarga sengaja memilih busana dengan warna senada agar terlihat kompak saat bersilaturahmi atau berfoto bersama.
Menariknya, perkembangan media sosial semakin memperkuat kesan Lebaran sebagai panggung “fashion show”. Foto keluarga dengan busana serasi diunggah ke berbagai platform, memperlihatkan kreativitas dalam memadukan gaya tradisional dan modern. Desainer busana muslim pun berlomba-lomba menghadirkan koleksi yang tidak hanya sopan dan syar’i, tetapi juga mengikuti tren global.
Untuk Lebaran tahun 2026 ini model Gamis dengan "Bini Orang" Jadi tren bersamaan dengan itu ada juga model gamis yang dinamakan “Mertua Series” lalu ada gamis” Menantu Idaman dan “Menantu Kebanggaan”. Gamis ini viral di media sosial karena namanya yang unik. Gamis "Bini Orang" memiliki potongan loose fit yang tidak ketat, bersiluet melebar ke bawah, dan dilengkapi aksen susun pada bagian lengan hingga tiga tingkat.
Penampilan gamis tersebut sangat Anggun dan berkelas sehingga banyak yang nyari-nyari, namun ada pembeli yang melontarkan candaan dengan menyebutnya gamis “Bini Orang” ,sejak itulah muncul istilah tersebut untuk gamis yang terinspirasi dari gamisnya Inara Rusli namun para pembeli populer dengan sebuatan “Bini Orang”.
Namun, berbeda dengan fashion show pada umumnya yang menonjolkan kompetisi dan eksklusivitas, “fashion show” saat Lebaran justru menekankan kebersamaan dan kegembiraan. Semua orang adalah modelnya, semua tempat adalah panggungnya, dan senyum tulus adalah aksesori terindahnya.
Maka, ketika Lebaran tiba, kita bukan hanya menyaksikan parade busana terbaru Syahrini, Shimmer pada tahun-tahun sebelumnya atau Mertua Series, atau Gamis Bini Orang tahun 2026 sekarang, tetapi juga parade hati yang kembali bersih. Di situlah keindahan sejati Lebaran yaitu harmoni antara penampilan luar dan keindahan batin.
Baca Juga: Ketika Ramadhan Akan Berakhir
Di balik semaraknya busana baru, penting untuk kembali mengingat esensi Lebaran. Pakaian hanyalah simbol saja. Keindahan sejati terletak pada hati yang bersih, sikap jiwa yang saling memaafkan, serta kepedulian terhadap sesama, sehingga makna spiritual tidak tertutupi oleh gengsi atau perlombaan gaya. Lebaran bukan menjadi ajang pamer kemewahan, melainkan perayaan kemenangan jiwa.
Akhirnya, Lebaran adalah perpaduan antara spiritualitas dan ekspresi budaya. Pakaian baru memperindah suasana, tetapi kehangatan silaturahmi yang menjadikannya istimewa. Ketika takbir berkumandang dan senyum tersimpul di wajah setiap orang, “panggung” itu bukan sekadar tentang mode, tetapi adalah panggung kebersamaan. Tempat seluruh masyarakat tampil dengan versi terbaik dari diri mereka secara lahir dan batin. (*)