Ayo Netizen

Hari Anak Nasional: Kenalkan Proses Kreatif Sejak Dini Lewat Program Little Creator

Oleh: Totok Siswantara
Program Kreator Cilik yang diselenggarakan oleh Omochatoys menekankan proses kreatif sejak usia dini (Foto: dok Omochatoys)

Hari Anak Nasional (HAN) diperingati setiap 23 Juli 2026. Tema peringatan yang dibuat oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, adalah "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan".

Cara menyayangi anak dan melindungi masa depannya kini terhalang oleh berbagai macam rintangan. Seperti masalah anak yang cenderung kecanduan gawai atau games. Banyak anak yang terganggu jiwa dan fisiknya akibat kecanduan smartphone, tablet, hingga smartwatch (jam tangan pintar. Akibatnya beberapa syaraf tubuh anak bisa terganggu dan siklus biologisnya seperti waktu tidur mengalami gangguan yang serius.

Kreativitas di segala bidang kehidupan adalah kunci masa depan anak. Mental kreatif perlu ditumbuhkan pada setiap anak untuk menghadapi persaingan. Proses kreatif perlu dikenalkan sejak usia dini. Melalui program-program keterampilan tangan untuk menumbuhkan bakat dan minat berkreasi dan berproduksi. Proses kreatif pada diri anak mesti dikembangkan, baik lewat program kursus atau program di sekolah.

Proses kreatif pada anak-anak merupakan investasi yang amat berharga bagi sebuah bangsa. Mainan anak berbasis kayu dan bahan alam lainnya bisa menumbuhkan jiwa kreatifitas dan mentalitas yang terampil dan ulet. Proses kreatif pada diri anak lebih efektif jika disertai dengan program Little Creator atau Kreator Cilik.

Salah satu program Little Creator yang mengetengahkan Woodworking Class atau kelas kerajinan dari kayu untuk membuat berbagai bentuk mainan dilakukan oleh Omochatoys. Yaitu startup produk mainan anak yang berlokasi di Bogor yang didirikan oleh Ibu Wahyuni.

Untuk menjalankan program Little Creator yang kini mendapat apresiasi yang luas dari masyarakat dan dunia pendidikan, Bu Yuni dibantu oleh beberapa instruktur. Antara lain kak Lucky yang menjabat Kepala produksi Omochatoys, kak Kiyo yakni Putri Owner Little Creator, dan kak Rifky yang bertugas mengelola jadwal program Little Creator.

Program Little Creator bisa diselenggarakan di lantai 2, Graha Mainan Omochatoys. Atau bisa diselenggarakan di luar. Peserta yang merupakan kreator cilik itu dibekali dengan pengenalan proses kreatif dan penggunaan perkakas kayu dengan benar. Kemudian diberikan metode pembuatan bentuk mainan yang diminati sendiri oleh peserta seperti membuat mainan kendaraan dari kayu. Atau bentuk-bentuk yang disukai oleh anak.

Dalam sejarah dunia, proses kreatif yang melibatkan kayu telah menghasilkan para industrialis yang legendaris. Banyak tokoh dunia dan industrialis terkemuka global yang pada saat anak-anak hingga remaja menggeluti dan hobi membuat mainan dari kayu. Salah satu tokoh dunia itu adalah pendiri industri pesawat terbang Boeing yakni William Edward Boeing, seorang pionir penerbangan.

Sebelum merintis industri dirgantara, ia adalah seorang pengusaha di bidang perkayuan. Perusahaan kayunya menjadi cikal bakal pabrik pesawat terbang yang ia dirikan pada tahun 1916. Lahir di Detroit pada 1881, William meninggalkan bangku kuliah dan pindah ke Seattle untuk bekerja di industri perkayuan. Ia memiliki dan mengoperasikan Greenwood Logging Company.

Ketertarikannya pada penerbangan bermula saat ia melihat pameran kedirgantaraan. Berbekal keahliannya di industri kayu, ia menyulap perusahaannya untuk memproduksi pesawat terbang pertama bersama rekannya George Conrad Westervelt. Perusahaan kayu miliknya menjadi landasan material awal mula pembuatan pesawat terbang.

Para Instruktur program Little Creator (Foto: dok Omochatoys Bogor)

Kepeloporan Bu Yuni lewat Omocha

Dalam konteks Indonesia, patut diteladani seorang ibu rumah tangga bernama Wahyuni, yang saat ini pemilik usaha ekonomi kreatif bernama Omochatoys di Bogor. Bu Yuni memiliki konsep dan program untuk menumbuhkan daya kreasi anak melalui kreator cilik yang fokus kepada Woodworking Class.

Program untuk membentuk Little Creator itu sangat tepat untuk membantu terwujudnya lingkungan sekolah yang sesuai dengan tantangan zaman. Dan sangat tepat untuk mewujudkan sekolah sebagai Lumbung Kreativitas. Konsep dan karya Bu Yuni patut diadopsi oleh sekolah maupun lembaga lainnya seperti pengelola ruang untuk anak atau fasilitas publik untuk anak lainnya.

Bu Yuni memulai usahanya dari arena pasar kaget di perumahan tempat tinggalnya. Hingga kini memiliki workshop pembuatan mainan atau bisa disebut pabrik Omochatoys ini sudah sangat memadai dengan tambahan mesin-mesin canggih. Graha Mainan Omochatoys berlokasi di Jl Abdullah Bin Nuh No 100, Bubulak, Bogor

Omochatoys juga sering menerima kunjungan dari taman kanak-kanak untuk study tour. Sungguh luar biasa, perempuan sederhana bisa mewujudkan mimpinya sebagai produsen mainan anak.

Ide usaha Bu Yuni muncul ketika dirinya kesulitan mencari mainan edukatif untuk sang anak. “Sebenarnya yang cari mainan edukatif anak itu banyak, tapi sulit didapat. Jadi kenapa saya nggak coba untuk ikut memasarkan dengan menjadi agen,” katanya.

Pada mulanya menjadi agen mainan edukatif anak impor dari Tiongkok. Penjualan yang bagus namun tidak di support dengan suplai yang memadai membuat Bu Yuni memutar otak mencari jalan keluar.

“Karena barang impor jadi kalau lagi banyak ya banyak barang datang, tapi kalau lagi kosong ya sudah nggak ada barang. Kita nunggu beberapa bulan baru ada barang, padahal kan kita jualan, nggak bisa nunggu-nunggu nanti orang nggak jadi beli,” terangnya.

Saat ini, Omochatoys sudah memenuhi permintaan hampir di setiap provinsi, yang terbanyak Jabodetabek dan Pulau Jawa. Kalau Sumatera dan daerah lainnya banyak, tapi tidak sebesar daerah Jawa. Untuk produk Omochatoys, permintaan luar negeri tidak sedikit, sementara kapasitas produksinya sebulan hanya 2.000 mainan untuk jenis puzzle. Produknya tidak hanya puzzle, ada balok-balok, kancing-kancingan, binatang-binatangan, sepatu-sepatuan, alphabet, palu-palu, menara-menara, dan jenis mainan lainnya.

Kolase foto anak-anak peserta program Little Creator (Sumber: Omochatoys | Foto: dokpri Totok Siswantara)

Menumbuhkan Budaya Profesionalisme Sejak Usia Dini

Dari sisi kacamata ilmu sosiologi, kebudayaan, khususnya budaya profesionalisme, dapat direkayasa (dibentuk) di tengah pranata sosial masyarakatnya. Rekayasa lebih tepat dilakukan sejak anak usia dini atau anak usia sekolah dasar dan menengah.

Jika kita meneropong ke negara lain, utamanya negara-negara maju, akan terlihat stigma dan sepak terjang masyarakat di negara maju. Bagaimana cara mereka mengartikulasikan terhadap profesinya. Bagaimana seorang ahli penata bunga, atau seorang tukang kayu di benua Amerika atau Eropa dengan bangga menempelkan di dinding sertifikat mereka sebagai seorang tukang kayu atau perangkai bunga yang certified, yang mencapai standardisasi internasional. Lebih dari itu mereka gemar menjadi anggota komunitas sebuah profesi yang setiap saat dapat menjadi wahana untuk meningkatkan profesionalitas mereka.

Tergambar dalam benak kita melalui film-film ringan Amerika, bagaimana film ini mengelaborasi perjuangan seorang anak muda di dalam memperjuangkan cita-citanya, menjadi seorang pemain American Football. Juga sering kita lihat up and down (perjuangan jatuh bangunnya) seorang musisi yang profesional, atau seorang penari balet yang terkenal.

Dalam psikologi sosial, kebanggaan akan profesi yang dipilihnya seperti dalam contoh kasus di atas dikenal sebagai positivity. Seseorang dikatakan memiliki positivity tinggi apabila di dalam ia melaksanakan tugas-tugas profesinya tampak dengan nyata betapa ia memiliki kepercayaan diri atas profesi yang dijalankan, sehingga tidak merasa rendah diri di dalam menghadapi persaingan dan lingkungan sosialnya.

Yang harus digarisbawahi dan menjadi titik perhatian masyarakat Indonesia sebetulnya adalah suatu isu tentang rasa kebanggaan profesi. Bagaimana cara membangun positivity yang kuat bagi tiap profesi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Yakni profesi dalam arti yang luas, tidak harus kita bayangkan seorang dokter, insinyur, atau seorang pengacara untuk bisa dikatakan memiliki profesi, ataupun untuk bisa disebut profesional.

Profesi apapun bentuknya bila ditekuni secara konsisten dan bersungguh-sungguh akan mendatangkan reward (imbalan) yang memuaskan. Selain itu sebuah profesi sebaiknya mendapatkan apresiasi jika ingin berkembang dan berkelanjutan. (*)

Reporter Totok Siswantara
Editor Aris Abdulsalam