PT PLN (Persero) memanfaatkan kanal komunikasi digital dalam mempublikasikan peluncuran Smart and Green Building sebagai upaya efisiensi energi serta penurunan emisi karbon di lingkungan kantor. Publikasi ini dilakukan melalui media berita online, website resmi perusahaan, hingga media sosial dengan pengemasan pesan yang disesuaikan pada karakter berbagi platform.
Konsistensi pada key massage mengenai efisiensi energi menunjukkan strategi komunikasi terpadu PLN dalam menyampaikan programnya sebagai upaya mendukung kantor yang efisien dan rendah emisi. Walau begitu, terdapat perbedaan teknik penulisan dan gaya penyajian infromasi dari media massa dan media sosial, menunjukan strategi komunikasi yang adaptif dalam memanfaatkan berbagai media.
Media berita online menggunakan teknik penulisan straight news berbasis piramida terbalik sehingga pembaca dapat dengan cepat memahami inti informasi utama. Dengan isi yang menekankan fakta utama mengenai peluncuran program serta dampaknya terhadap efisiensi energi dan pengurangan emisi karbon kantor menjadikan informasi lebih terstruktur.
Pada website resmi PLN, informasi disajikan dengan teknik penulisan piramida terbalik menekanan pada komitmen perusahaan dalam transformasi energi dan penerapan teknologi ramah lingkungan. Konten disusun dalam bentuk press release yang mencakup konteks, tujuan jangka panjang, hingga implikasi program sehingga memberikan pemahaman yang mendalam.
Sedangkan media sosial PLN menggunakan teknik microcontent yang mengutamakan caption ringkas, penggunaan hashtag, serta elemen visual untuk memperkuat penyampaian informasi secara efektif. Berdasarkan hal tersebut, PLN mengemas pesan dengan format penulisan yang singkat padat serta visual menarik menyesuaikan karakter platform sehingga pesan mudah dipahami oleh audiens luas.
Gaya penulisan media berita online bersifat objektif informatif dan faktual mengenai program sehingga fokus pada data dan infromasi terkait program perusahaan. Sedangkan website PLN menggunakan gaya formal terstruktur yang menonjolkan narasi komitmen jangka panjang PLN sehingga memperkuat citra perusahaan di mata publik.
Sementara itu, media sosial PLN mengajak publik untuk mulai perduli terhadap keselamatan bumi dengan mengemas pesan melalui gaya penulisan persuasif sehingga meningkatkan keterlibatan publik. Penggunaan bahasa ringan dan visual interaktif membuat pesan lebih mudah dipahami serta mendorong publik untuk berpartisipasi dalam isu keberlanjutan dan efisiensi energi.
Selanjutnya, pemilihan angle yang menekankan efesiensi energi dan penurunan emisi karbon sebagai isu berkelanjutan menunjukkan upaya PLN dalam mengaitkan program dengan kepentingan publik, sehingga meningkatkan nilai berita. Hal ini sejalan dengan dengan tiga aspek utama pemilihan angel dalam konteks PR yaitu relevansi dengan kepentingan publik, nilai berita,dan kesesuaian dengan agenda media target (Abdurahman, 2026).

Selain itu, merujuk pada buku Digital Public Relations Writing oleh Abdurahman (2026), dijelaskan bahwa “praktisi PR harus mengembangkan sistem kerja yang memungkinkan merespons cepat tanpa mengorbankan standar akurasi dan etika komunikasi”. Namun, dalam praktiknya, publikasi informasi mengenai peluncuran program PLN masih terbilang kurang responsif karena terdapat jeda waktu sekitar satu hingga tiga hari antara peluncuran program dan publikasi informasi.
Dari sisi penulisan, ketiga kanal menunjukan penerapan prinsip kehumasan yang berbeda namun saling melengkapi dalam menyampaikan pesan strategis perusahaan kepada publik secara luas. Perbedaan tersebut tidak hanya terlihat pada struktur penulisan, tetapi juga pada pemilihan bahasa, kedalaman informasi, waktu publikasi, serta tujuan komunikasi yang ingin dicapai pada masing-masing platform. (*)