Ayo Netizen

Dari Singkong Menjadi Taart: Jejak Kedaulatan Pangan dari Bandung Tahun 1972

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti
Ilustrasi singkong. (Sumber: Pexels | Foto: Matheus Bertelli)

Di tengah arus kehidupan modern, meja makan kita perlahan dikuasai oleh ketergantungan pada terigu impor. Dari sepotong roti saat sarapan hingga aneka kudapan di sore hari, gandum seakan menjadi penguasa yang nyaris tak tergantikan. Tanpa disadari, kita pun mulai menjauh dari kekayaan pangan yang tumbuh subur di tanah sendiri. Namun, sebuah literatur kuliner dari masa lalu mengajak kita menengok kembali zaman ketika kemandirian pangan bukan sekadar seruan, melainkan pengetahuan hidup yang diolah, diwariskan, dan dipraktikkan dengan penuh kreativitas serta keanggunan.

Buku mungil berjudul Resep Masakan Kuwe Singkong karya Ny. H. Oeis hadir layaknya harta karun kuliner yang kembali ditemukan setelah lama tersembunyi. Diterbitkan oleh PT Alma’arif Bandung, buku ini tidak hanya memuat petunjuk teknis untuk mengolah makanan, tetapi juga menyimpan jejak budaya yang terasa semakin relevan di tengah menguatnya semangat kedaulatan pangan saat ini.

Dari lembar ke lembar, pembaca diajak menyaksikan keajaiban singkong—bahan pangan sederhana yang tumbuh dekat dengan kehidupan masyarakat—diolah menjadi beragam sajian dengan permainan rasa dan tekstur yang memikat. Pada masa ketika terigu mulai mendominasi, singkong justru tampil percaya diri, menjelma menjadi hidangan istimewa yang anggun menghiasi meja-meja pesta era 1970-an.

Singkong Bukan Pangan “Kelas Dua”

Membaca kata pengantar buku ini serasa membuka kembali jejak sebuah diplomasi kuliner yang tumbuh dari ruang-ruang domestik. Buku tersebut diterbitkan untuk menyambut Hari Ulang Tahun ke-27 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia oleh Badan Koordinasi Seksi Wanita Regol, Kotamadya Bandung. Kehadirannya bukan sekadar untuk mendokumentasikan resep, melainkan menjadi pernyataan sikap para perempuan dan ibu rumah tangga bahwa bahan pangan lokal memiliki nilai, kehormatan, dan daya cipta yang tidak kalah dari bahan pangan mancanegara.

Semangat itu terangkum dalam kesimpulan dewan juri setelah menilai perlombaan membuat kue berbahan singkong. Mereka menegaskan bahwa kue-kue dari singkong tidak kalah lezat dibandingkan kue berbahan terigu dan bahan lainnya. Pernyataan tersebut terdengar sederhana, tetapi menyimpan pesan yang kuat: singkong mampu berdiri sejajar, bukan sekadar menjadi pengganti ketika bahan lain sulit diperoleh.

Sejak 1972, para perempuan di Regol, Bandung, telah menunjukkan kepercayaan diri kuliner yang mengagumkan. Melalui kreativitas di dapur, mereka menolak pandangan yang menempatkan singkong sebagai makanan “kelas dua”. Bahan pangan yang kerap dianggap bersahaja itu justru diangkat menjadi sajian bernilai, membanggakan, dan layak hadir di meja perayaan.

Keberanian untuk memuliakan hasil bumi sendiri merupakan warisan penting yang patut kita hidupkan kembali. Sebab, identitas kuliner yang autentik tidak lahir dari ketergantungan pada bahan dari luar, melainkan dari keyakinan bahwa tanah sendiri telah menyediakan kekayaan yang pantas diolah, dirayakan, dan dibanggakan.

Saat Singkong Menjelma Menjadi Taart, Spekkoek, hingga Sajian Pesta

Salah satu daya tarik terbesar dalam kurasi resep Ny. H. Oeis terletak pada kecerdasannya mempertemukan tradisi lokal dengan gaya kuliner Eropa. Ia tidak sekadar meniru bentuk-bentuk kue Barat, tetapi melakukan pembaruan yang berani dengan menggantikan gandum—bahan mahal yang lekat dengan warisan kolonial—menggunakan singkong yang tumbuh dekat dengan kehidupan masyarakat. Hasilnya adalah deretan sajian bernama prestisius, seperti Ontbijtkoek Singkong, Mariner Cake dari Singkong, Spekkoek Singkong, dan Taart Singkong Buah-Buahan, yang membuktikan bahwa bahan pangan lokal pun mampu tampil anggun tanpa kehilangan jati dirinya.

Kecermatan itu tampak jelas dalam resep Taart Singkong Buah-Buahan. Ny. H. Oeis memadukan adonan singkong yang telah diolah secara halus dengan aneka buah lokal, seperti belimbing, kedondong, nanas, dan mangga muda. Perpaduan tersebut melahirkan rasa yang segar, berani, dan kaya nuansa.

Singkong diparut, diperas kandungan patinya, lalu diperkaya dengan mentega serta telur hingga menghasilkan tekstur lembut yang menyerupai kue berbahan tepung premium. Di tangan yang terampil, umbi sederhana itu mengalami metamorfosis: dari pangan sehari-hari menjadi sajian berkelas yang layak menghiasi meja perayaan.

Warga kampung adat Cirendeu membuat produk makanan olahan dari singkong di Kampung Adat Cireundeu, Leuwigajah, Kota Cimahi, Sabtu 5 Agustus 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Keistimewaan singkong dalam buku ini tidak berhenti pada kue-kue manis. Ny. H. Oeis memperlihatkan betapa lenturnya bahan tersebut dalam menjelma menjadi aneka hidangan, dari kudapan gurih hingga pencuci mulut yang memikat mata. Singkong hadir sebagai bakwan renyah dengan perpaduan udang dan taoge, lalu berubah menjadi kulit risoles dan lumpia yang lembut. Pada resep Risoles, singkong kukus yang dihaluskan digunakan untuk membungkus ragout berisi daging sapi cincang, wortel, dan buncis, menciptakan susunan rasa yang gurih, padat, dan berlapis.

Selain rasa, unsur keindahan juga mendapat tempat penting. Resep seperti Kuwe Talam Pelangi dan Puteri Noong menunjukkan bahwa sajian berbahan singkong dapat tampil penuh warna dan daya tarik visual. Lapisan merah dan hijau yang cerah menjadikan makanan bukan hanya lezat ketika disantap, tetapi juga menggoda sejak pertama kali dipandang.

Di sinilah singkong membuktikan keluwesannya; mampu tampil sederhana sebagai teman minum teh di teras rumah, sekaligus menjelma menjadi hidangan istimewa yang pantas disajikan dalam pesta-pesta resmi.

Ketelitian Dapur Lama dan Masa Depan yang Berakar pada Singkong

Keberhasilan berbagai resep dalam buku ini tidak lahir dari peralatan canggih, melainkan dari ketekunan, ketelitian, dan pemahaman mendalam terhadap karakter setiap bahan. Di tengah budaya memasak modern yang serba cepat dan instan, teknik-teknik tersebut mengingatkan kita bahwa cita rasa terbaik seringkali dibentuk oleh proses yang sabar. Setiap tahap dikerjakan dengan perhitungan, mulai dari memilih bahan hingga menentukan cara pengolahan yang tepat agar rasa, aroma, dan tekstur singkong dapat berkembang secara maksimal.

Ketelitian itu tampak dalam penggunaan bahan yang sangat spesifik. Pada resep Ontbijtkoek Singkong, misalnya, telur itik disarankan sebagai alternatif telur ayam untuk menghadirkan aroma yang lebih kuat sekaligus tekstur yang lebih kaya. Pemilihan ini memperlihatkan bahwa bahan pelengkap bukan sekadar tambahan, melainkan bagian penting yang menentukan keutuhan karakter sebuah hidangan.

Teknik yang digunakan pun menunjukkan kecerdikan para peracik resep pada masa itu. Dalam pembuatan Spekkoek Singkong dan lumpia, parutan singkong diratakan setipis mungkin di atas tutup panci yang ditempatkan di atas air mendidih. Cara sederhana tetapi presisi ini menghasilkan lembaran adonan yang tipis, lentur, dan cukup kuat untuk digulung. Tanpa mesin modern, mereka mampu menciptakan hasil yang sulit dicapai apabila prosesnya dilakukan secara tergesa-gesa.

Perhatian terhadap detail juga terlihat pada penggunaan mata ula, yakni santan yang sangat kental, serta kinca gula merah yang dimasak bersama tiga lembar daun pandan hingga mencapai kekentalan sempurna. Kehadiran bumbu spekkoek semakin memperkaya aroma dengan lapisan rempah yang hangat dan mewah. Melalui sentuhan-sentuhan tersebut, singkong tidak lagi tampil sebagai bahan pangan sederhana, melainkan berubah menjadi sajian dengan kedalaman rasa dan wibawa yang istimewa.

Menelusuri kembali resep-resep Ny. H. Oeis dari tahun 1972 membuat kita menyadari bahwa gagasan tentang kedaulatan pangan sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Jawabannya telah lama tumbuh di dalam tanah, menunggu untuk digali dan dihargai kembali. Dahulu, kemewahan rasa lahir dari tangan-tangan yang tekun memarut, memeras pati, mengukus, dan mengolah bahan dengan penuh kesabaran. Kini, di tengah kebiasaan serba praktis, kita justru berisiko kehilangan pengetahuan berharga yang pernah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kenyataan bahwa masyarakat pada tahun 1972 telah mampu menciptakan taart dan spekkoek mewah dari singkong menjadi pengingat kuat di tengah tingginya ketergantungan kita pada gandum saat ini. Catatan tersebut tidak sekadar membangkitkan nostalgia, tetapi juga mengajak kita meninjau kembali pilihan pangan serta keberanian dalam memanfaatkan kekayaan bahan lokal.

Sudah saatnya kita menoleh ke masa lalu bukan untuk berhenti di sana, melainkan untuk menemukan arah menuju masa depan. Mengangkat kembali singkong dan hasil bumi lokal bukan hanya perkara menciptakan makanan yang lezat. Di dalamnya terdapat keberanian untuk mempercayai kemampuan sendiri, menjaga warisan pengetahuan, serta menegakkan harga diri bangsa yang bermula dari apa yang kita sajikan di meja makan. (*)

Reporter Badiatul Muchlisin Asti
Editor Aris Abdulsalam