Minggu, 31 Agustus 1997. Ada hari-hari tertentu yang begitu kuat melekat dalam ingatan, seolah waktu tak pernah benar-benar mampu menghapusnya.
Pagi itu, dunia terbangun oleh sebuah kabar dari Paris yang terasa sulit dipercaya yakni Diana, Putri Wales, meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan mobil di Terowongan Pont de l’Alma, Paris- Prancis.
Berita duka itu menyebar begitu cepat. Televisi dan radio di berbagai negara segera memberitakannya. Surat kabar bersiap dengan edisi khusus. Di rumah-rumah, orang-orang terpaku di depan layar televisi, mencoba memahami kenyataan bahwa perempuan yang selama bertahun-tahun begitu akrab di mata dunia telah pergi untuk selamanya.
Dari Asia hingga Eropa, dari Afrika hingga Amerika, kesedihan seakan tak mengenal batas negara dan benua. Indonesia pun tak luput dari suasana duka itu.
Nama Diana selama bertahun-tahun hadir di halaman depan surat kabar, majalah, dan layar televisi. Senyumnya begitu dikenal. Gaunnya menjadi pembicaraan. Gaya rambutnya ditiru. Kunjungan-kunjungan kemanusiaannya diberitakan. Bahkan kehidupan pribadinya pun tak pernah luput dari sorotan kamera.
Namun pada hari itu, untuk pertama kalinya, dunia mengenalnya melalui sebuah berita yang paling menyedihkan:
Diana telah meninggal dunia.
Diana Frances Spencer lahir pada 1 Juli 1961 di Park House, Sandringham, Norfolk, Inggris. Ia berasal dari keluarga bangsawan Spencer yang memiliki hubungan dekat dengan keluarga kerajaan Inggris.
Namanya mulai dikenal luas ketika ia menjalin hubungan dengan Charles, Pangeran Wales, putra mahkota Inggris.
Pertunangan mereka pada 1981 mengubah kehidupan Diana dalam sekejap. Gadis muda yang dikenal pemalu itu mendadak menjadi pusat perhatian dunia.
Pada 29 Juli 1981, Diana dan Charles menikah di Katedral St Paul, London.
Pernikahan tersebut menjadi salah satu peristiwa televisi terbesar pada zamannya. Jutaan pasang mata menyaksikan kemegahan upacara itu. Gaun pengantin Diana, kereta kerajaan, kemeriahan pesta, dan sosok pengantin perempuan yang masih sangat muda menjadi gambar yang tersimpan dalam ingatan sebuah generasi.
Sejak saat itu, Diana resmi menjadi Putri Wales.
Dari pernikahan tersebut lahirlah dua putra, William dan Harry.
Namun Diana kemudian menemukan jalannya sendiri. Di tengah protokol kerajaan yang serba resmi, ia tampil dengan cara yang berbeda, lebih hangat, terbuka, dan dekat dengan masyarakat.
Ada sesuatu yang membuat Diana terasa berbeda.
Ia tidak hanya berdiri dari kejauhan ketika bertemu masyarakat. Ia berjabat tangan, memeluk, menyentuh, mendengarkan dan berbicara langsung dengan orang-orang yang ditemuinya.
Sikap sederhana itu membuat jarak antara seorang putri kerajaan dan rakyat terasa lebih dekat.
Diana kemudian dikenal luas karena keterlibatannya dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan. Ia memberikan perhatian kepada anak-anak, orang lanjut usia, penderita kanker, serta berbagai kelompok masyarakat yang hidup dalam keterbatasan.
Keberaniannya berinteraksi dengan penderita HIV/AIDS juga menjadi salah satu momen penting dalam perjuangannya melawan stigma terhadap penyakit tersebut.

Ia juga dikenal karena keterlibatannya dalam kampanye kemanusiaan mengenai ranjau darat.
Dunia pun melihat sisi lain Diana, ia bukan sekadar perempuan yang mengenakan gaun indah dan hidup di istana, tetapi seorang manusia yang menggunakan popularitasnya untuk menarik perhatian terhadap persoalan kemanusiaan.
Tak mengherankan jika kemudian ia mendapat julukan “People’s Princess” atau Putri Rakyat.
Di saat yang sama, Diana menjadi ikon mode dunia. Busana, gaya rambut, hingga penampilannya menjadi rujukan jutaan orang.
Kamera seolah selalu mencarinya.
Tetapi di balik gemerlap kamera itu, kehidupan Diana tidak selalu bahagia.
Rumah tangga yang retak
Pernikahan Diana dan Charles menghadapi berbagai persoalan. Keretakan rumah tangga mereka akhirnya menjadi konsumsi publik dan pemberitaan media di seluruh dunia.
Pada 1992, keduanya berpisah. Perceraian mereka kemudian resmi pada 1996.
Diana kehilangan gelar Her Royal Highness, tetapi tidak kehilangan tempat di hati masyarakat.
Justru setelah meninggalkan kehidupan kerajaan yang penuh protokol, kegiatan kemanusiaannya semakin mendapat perhatian.
Ia tetap Diana.
Perempuan yang dicintai kamera, tetapi juga semakin dikenal karena kepeduliannya terhadap sesama.
Lalu datanglah malam yang mengubah segalanya.
Pada akhir Agustus 1997, Diana berada di Paris bersama Dodi Al-Fayed, seorang konglomerat keturunan Arab.
Memasuki dini hari 31 Agustus 1997, Mercedes Benz yang membawa mereka meninggalkan kawasan Hotel Ritz Paris. Kendaraan itu kemudian mengalami kecelakaan di Terowongan Pont de l’Alma.
Dodi Al-Fayed dan pengemudi Henri Paul meninggal dunia di tempat.
Diana yang mengalami luka parah segera dilarikan ke Rumah Sakit Pitié-Salpêtrière. Upaya medis dilakukan untuk menyelamatkan hidupnya.
Namun sekitar pukul 04.00 waktu setempat, Diana dinyatakan meninggal dunia.
Dan dunia seolah kehilangan napas sejenak.
Ketika dunia menundukkan kepala
Kabar kematian Diana segera memenuhi siaran televisi dan radio. Program-program dihentikan atau diubah untuk menyampaikan berita duka.
Di berbagai negara, masyarakat berkumpul di depan televisi. Bunga mulai diletakkan di depan kediaman kerajaan. Lilin dinyalakan. Kartu dan pesan belasungkawa berdatangan.

Di Indonesia, bagi mereka yang tumbuh pada era televisi dan majalah cetak, berita itu terasa begitu dekat.
Nama Diana bukan nama asing.
Ia telah hadir bertahun-tahun melalui sampul majalah, foto-foto surat kabar, berita televisi, dan berbagai kisah tentang keluarga kerajaan Inggris.
Tiba-tiba, sosok yang selama ini kita lihat tersenyum dalam foto-foto itu telah tiada.
Pada 6 September 1997, pemakaman Diana berlangsung di Westminster Abbey.
Jutaan orang di seluruh dunia menyaksikan prosesi tersebut melalui televisi. William dan Harry berjalan di belakang peti jenazah ibu mereka, sebuah pemandangan yang hingga kini menjadi salah satu gambar paling emosional dari tahun 1997.
Elton John menyanyikan “Candle in the Wind” sebagai penghormatan kepada Diana. Lagu itu kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dari kenangan dunia terhadap sang putri.
Setelah upacara pemakaman, Diana dimakamkan secara pribadi di Althorp, kediaman keluarga Spencer.
Makamnya berada di sebuah pulau kecil di tengah danau, jauh dari hiruk-pikuk dunia yang sepanjang hidupnya tak pernah benar-benar berhenti membicarakannya.
29 tahun kemudian.
Hari ini, 31 Agustus 2026, genap 29 tahun sejak pagi kelabu di Paris itu.
Waktu ternyata berjalan begitu cepat.
Generasi yang dahulu mengenal Diana melalui televisi, radio, majalah, tabloid dan surat kabar kini telah bertambah usia. Anak-anak yang menyaksikan berita kematiannya bersama orang tua mereka mungkin telah menjadi orang tua pula.
Foto-foto lama mulai menguning. Sampul majalah menjadi koleksi. Rekaman televisi menjadi arsip sejarah.
Namun kenangan tentang Diana tetap hidup.
Bagi sebagian orang, ia adalah seorang putri kerajaan.
Bagi yang lain, ia adalah ikon mode.
Bagi banyak orang, ia adalah “Putri Rakyat”, sosok yang membuat keluarga kerajaan terasa lebih manusiawi.
Diana memperlihatkan bahwa di balik mahkota, gaun indah, istana dan protokol, ada seorang perempuan biasa dengan rasa takut, kesedihan, kasih sayang, dan kepedulian terhadap sesama.
Mungkin itulah yang membuat kepergiannya terasa begitu dalam.
Ia pergi terlalu cepat.
Hanya 36 tahun usianya.
Namun 29 tahun setelah kematiannya, senyum Lady Di masih tersimpan dalam ingatan banyak orang.

Waktu boleh berlalu. Generasi boleh berganti. Dunia boleh berubah. Tetapi ada nama-nama yang seakan menolak untuk dilupakan.
Diana adalah salah satunya.
Tiga dekade belum genap, tetapi hampir tiga puluh tahun setelah pagi kelabu itu, dunia masih mengenang perempuan yang pernah menjadi putri, ikon, ibu, dan sahabat bagi begitu banyak orang yang bahkan tak pernah benar-benar mengenalnya.
Selamat jalan, Lady Di. Kenangan tentangmu tetap hidup. (*)