Ayo Netizen

Pengalaman Memandu SMP Athirah Makassar (Bagian #2)

Oleh: Malia Nur Alifa
Para pemandu CV Shakha Pesona dalam pemanduan SMP Athirah Makassar. (Foto: Malia)

Sebelum bercerita tentang pemanduan pada hari kedua, pada hari pertama kami semua tidak hanya menyambangi gedung MPR, DPR RI saja, tetapi juga menyambangi kediaman Bapak Anies Baswedan yang berada di Jalan Lebak Bulus Dalam II No. 42, RT 06/RW 04, Kelurahan Cilandak Barat, Kota Jakarta Selatan.

Pemandangan membumi langsung menyeruak ketika saya memandu anak-anak ke dalam hunian yang penuh pepohonan rindang. Bahkan, saya menemukan bunga anggrek indah di tempat parkirnya. Saat itu kami diterima di sebuah pendopo yang indah. Setelah saya riset lebih dalam, ternyata pendopo tersebut bukan pendopo sembarangan. Pendopo tersebut dibuat pada tahun 1743.

Ternyata pendopo tersebut adalah hadiah dari Pakubuwono II untuk pernikahan anaknya dengan seorang ulama ternama yang bernama Hasan Besari. Hasan Besari adalah seorang ulama besar pada abad ke-19 yang memimpin Pondok Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari di Jetis, Ponorogo. Ia adalah guru agama Islam bagi para raja dan kalangan keraton, bahkan hingga rakyat biasa. Beliau adalah sosok membumi yang harus dicontoh para pemimpin bangsa ini sekarang. Salah satu keturunan (cicit) dari pernikahan Hasan Besari dengan putri Pakubuwono II adalah H.O.S. Tjokroaminoto.

Saya sangat terkesima dengan arsitektur pendopo tersebut. Ternyata, setelah diriset lebih dalam, langgam arsitektur pendopo tersebut adalah Satria Pinayung Lembah Gantung. Satria artinya adalah kehormatan, Pinayung artinya tahan terhadap gempa, dan Lembah Gantung artinya konstruksi penguncian sistem usuk 1 penguncian yang khas di kalangan keluarga keraton.

Sampailah kami semua pada hari kedua, dan objek pada hari kedua adalah Istana Wakil Presiden RI yang ternyata memiliki dua gerbang, yaitu di Jalan Kebon Sirih dan Jalan Medan Merdeka Selatan. Ternyata, untuk pegawai, staf, dan kunjungan, hanya diperbolehkan masuk melalui gerbang Jalan Kebon Sirih saja. Gerbang Jalan Medan Merdeka Selatan ternyata hanya untuk kunjungan resmi kenegaraan.

Pagi itu, tanggal 6 Oktober 2026, para siswa SMP Athirah mulai memasuki gerbang pengamanan yang lumayan berlapis. Kami, para pemandu, pun memastikan semua keadaan berjalan lancar hingga rombongan kami diterima di sebuah aula besar dan megah untuk penerimaan resmi oleh pihak Istana. Selain itu, kami pun diberikan materi soal tema kunjungan, yaitu Leadership dan Public Speaking. Setelah pemaparan selesai, kami pun dipandu untuk berkeliling Istana Wakil Presiden RI didampingi para staf khusus.

Lagi-lagi jiwa riset saya selalu membara apabila menemukan objek-objek sejarah baru. Ditemukan data bahwa dahulu kompleks Istana Wakil Presiden RI dibangun pada masa penjajahan Belanda dan awalnya dibangun sebagai tempat tinggal resmi Presiden De Javasche Bank. De Javasche Bank adalah sebuah bank swasta zaman Hindia Belanda yang berdiri pada 24 Januari 1828 untuk mencetak dan mengatur sirkulasi mata uang gulden. De Javasche Bank kemudian, pada masa pascakemerdekaan, dinasionalisasi menjadi Bank Indonesia.

Baca Juga: Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Ketika berkeliling istana, saya seperti memasuki dimensi abad ke-19. Pilar-pilar besar seperti mengucapkan selamat datang kepada kami. Marmer-marmer tua tempat kami memijakkan kaki terasa begitu anggun. Sepertinya, ruangan yang dipakai sebagai aula adalah tempat berkumpul kaum elite pada masa Hindia Belanda untuk berpesta dansa. Langit-langit yang tinggi dan ornamen ukiran dinding pada setiap sudutnya membuat saya sangat takjub. Bangunan setua ini masih bisa berdiri kokoh hingga sekarang, sebuah karya arsitektur yang sangat luar biasa.

Setelah puas berkeliling istana, kami kembali ke aula pertama untuk menikmati kudapan. Sambil menikmati kudapan, saya pun terus meriset. Ternyata, ada bagian dari istana ini yang merupakan sebuah replika yang dibangun pada tahun 1988–1993, ketika itu Wakil Presiden RI-nya adalah Soedharmono.

Tiba di waktu rehat dan berfoto bersama, saya pun terus mencoba berkeliling sambil tetap mengarahkan anak-anak. Saya menemukan ruangan penuh bunga anggrek yang berwarna-warni. Sungguh indah! Ternyata, itu adalah hadiah karangan bunga untuk Ibu Wapres. Saya sempat bertanya kepada staf yang sedang berjaga di ruangan tersebut, dan staf itu mengatakan bahwa ruangan bunga ini dahulu pernah dipakai sebagai kantor maskapai Garuda Indonesia.

Baca Juga: Mewujudkan RTH Pasirwangi yang Berkelanjutan

Setelah acara selesai, kami pun langsung menggiring anak-anak kembali ke bus. Namun, saat melewati pintu pengamanan, alangkah bahagianya anak-anak karena ternyata diberikan cendera mata berupa tas sekolah berwarna biru muda dan hitam yang di dalamnya pun telah disediakan alat tulis. Senyum semringah anak-anak pada saat itu adalah warna pada kepulangan kami. Kami pun mulai bersiap untuk makan siang dan melanjutkan tur menuju Kota Bandung.

Di Kota Bandung, kami mengunjungi beberapa objek seperti Gedung Sate, Lab Bahasa Institut Teknologi Bandung, dan Kantor Wali Kota Bandung. Namun, di Bandung, tur diselingi dengan kunjungan ke Museum Gedung Sate, Museum ITB, dan Museum Geologi serta melihat UMKM di Lembang. Kunjungan pun tak hanya di situ saja. Anak-anak diberikan kesempatan mengenal budaya Sunda di Saung Angklung Udjo, bermain di arena Wisata Grafika Cikole, Lembang, dan berkeliling Bandung dengan Bus Bandros.

Tak terasa, lima hari kami menemani para siswa-siswi dan para staf pengajar SMP Athirah Makassar. Rasanya seperti memiliki keluarga baru. Bahkan, saat kami hendak berpisah di bandara, derai air mata mewarnai kepulangan para siswa. Kami saling berpelukan, dan semoga kami dapat bertemu kembali dalam kesempatan lain yang lebih menyenangkan. (*)

Reporter Malia Nur Alifa
Editor Aris Abdulsalam