Ayo Netizen

Spiritualitas Santri dalam Menerjemahkan Zaman yang Kian Apokaliptik

Oleh: Vito Prasetyo
Kegiatan setoran hafalan Quran Santri Cianjur. (Sumber: Yayasan Huda Cendekia)

Apakah peringatan Hari Santri Nasional, yang tiap tahun diperingati pada tanggal 22 Oktober, hanya sebatas frasa Resolusi Jihad? Atau ada persoalan global yang mengikis logika santri, untuk tetap bertahan dan menjaga nilai-nilai Resolusi Jihad tersebut? Ada yang perlu diwaspadai karena zaman berubah begitu cepat, bahkan mungkin menjadi zaman apokaliptik.

Zaman modern menghadirkan paradoks yang semakin sulit diabaikan. Ilmu pengetahuan berkembang pesat, tetapi kebijaksanaan tidak selalu mengikutinya. Teknologi mempermudah komunikasi, tetapi tidak otomatis memperkuat empati. Pertumbuhan ekonomi menghasilkan kemakmuran bagi sebagian orang, sementara ketimpangan sosial dan kerusakan ekologis terus membayangi kehidupan manusia.

Dalam situasi demikian, istilah apokaliptik tidak semata-mata menunjuk pada bayangan akhir zaman, tetapi juga menggambarkan kecemasan terhadap krisis peradaban: ketika kemajuan kehilangan orientasi moral, pengetahuan terlepas dari tanggung jawab, dan manusia semakin jauh dari kesadaran akan batas-batas dirinya.

Di sinilah spiritualitas santri menemukan relevansinya. Sasaran utamanya bukan sekadar mempertahankan kesalehan individual, melainkan membangun manusia yang mampu mempertemukan iman, akal, dan tanggung jawab sosial. Santri dituntut tidak hanya memahami teks keagamaan, tetapi juga membaca realitas yang terus berubah dengan kejernihan intelektual dan kepekaan kemanusiaan.

Spiritualitas santri dapat diringkas dalam tiga kesadaran mendasar:

Pertama, kesadaran transendental, yakni menempatkan Tuhan sebagai orientasi moral kehidupan. Kesadaran ini mengajarkan bahwa manusia bukan pusat segala sesuatu dan tidak memiliki kebebasan mutlak untuk mengeksploitasi sesama maupun alam. Iman seharusnya membatasi keserakahan, menumbuhkan kerendahan hati, dan memperkuat tanggung jawab atas setiap tindakan.

Kedua, kesadaran intelektual, yakni kemampuan mempertemukan ajaran agama dengan pengetahuan dan kenyataan empiris. Spiritualitas tidak identik dengan penolakan terhadap modernitas. Sebaliknya, iman yang matang semestinya mendorong manusia belajar, memeriksa kebenaran, dan memahami persoalan secara kritis. Santri perlu menguasai tradisi keilmuan Islam sekaligus memiliki literasi sains dan digital agar tidak terjebak dalam prasangka, disinformasi, atau penafsiran zaman yang serba spekulatif.

Ketiga, kesadaran sosial, yakni menerjemahkan nilai keagamaan menjadi tindakan yang memperjuangkan kemaslahatan. Kesalehan tidak cukup diukur melalui intensitas ibadah, tetapi juga perlu tercermin dalam kejujuran, keberpihakan terhadap kelompok rentan, kepedulian ekologis, dan keberanian menghadapi ketidakadilan.

Ketiga dimensi tersebut saling melengkapi. Kesadaran kepada Tuhan tanpa kecakapan memahami realitas berisiko menjadi kesalehan yang pasif. Pengetahuan tanpa landasan etis dapat berubah menjadi instrumen dominasi. Sementara kepedulian sosial tanpa pemahaman yang memadai berisiko berhenti pada tindakan simbolis.

Seorang sosiolog Ulrich Beck, melalui konsep masyarakat risiko, menjelaskan bahwa modernitas tidak hanya menghasilkan kemajuan, tetapi juga menciptakan ancaman yang berasal dari aktivitas manusia sendiri. Perubahan iklim, pencemaran lingkungan, dan risiko teknologi memperlihatkan bahwa kemampuan manusia mengendalikan alam tidak selalu sebanding dengan kemampuannya mengantisipasi konsekuensi tindakannya.

Paradoks ini menjadi tantangan bagi pendidikan pesantren. Tradisi keagamaan tidak cukup dipertahankan sebagai warisan, tetapi perlu diaktualisasikan untuk menjawab persoalan kontemporer. Konsep amanah dan kekhalifahan, misalnya, dapat menjadi landasan etis bagi kepedulian lingkungan. Prinsip ‘tabayyun’ dalam Surah Al-Hujurat ayat 6 dapat diterapkan dalam menghadapi arus informasi digital. Sementara ajaran tentang keadilan dan kepedulian terhadap sesama dapat mendorong keterlibatan santri dalam pemberdayaan masyarakat.

Dengan demikian, santri tidak harus memilih antara kesetiaan pada tradisi dan keterbukaan terhadap perubahan. Keduanya dapat dipertemukan melalui pendidikan yang kritis, dialogis, dan berorientasi pada kemaslahatan.

Pesantren perlu memperkuat tradisi penguasaan kitab sekaligus membuka ruang bagi penelitian, literasi digital, pemahaman persoalan lingkungan, dan kajian sosial. Tujuannya bukan mengubah pesantren menjadi lembaga yang kehilangan identitas, melainkan memastikan bahwa identitas spiritualnya mampu menjawab tantangan zaman.

Kesadaran terhadap hari akhir merupakan bagian penting dari iman Islam. Namun, kesadaran eskatologis tidak semestinya melahirkan ketakutan yang melumpuhkan atau spekulasi tentang kapan dunia berakhir. Ia justru mengingatkan manusia bahwa kehidupan terbatas dan setiap tindakan mengandung pertanggungjawaban moral.

Surah Al-Qasas ayat 77 mengajarkan manusia untuk mengupayakan kehidupan akhirat tanpa melupakan bagiannya di dunia serta tidak membuat kerusakan di bumi. Pesan tersebut memperlihatkan bahwa orientasi akhirat tidak bertentangan dengan tanggung jawab duniawi.

Karena itu, spiritualitas santri seharusnya tidak menjadi tempat persembunyian dari krisis, melainkan sumber keberanian untuk menghadapinya. Ketika masyarakat menghadapi kemiskinan, santri perlu memahami akar persoalannya. Ketika lingkungan mengalami kerusakan, mereka perlu mendukung tindakan pemulihan yang nyata. Ketika ruang digital dipenuhi kebencian dan informasi palsu, mereka perlu membangun budaya komunikasi yang jujur dan bertanggung jawab.

Spiritualitas baru memperoleh daya transformatif ketika keyakinan menghasilkan kesadaran, kesadaran membentuk sikap, dan sikap diwujudkan dalam tindakan.

Zaman yang kian apokaliptik bukan hanya menguji kemampuan manusia bertahan hidup, tetapi juga menguji kemampuannya mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan. Kemajuan tanpa kebijaksanaan dapat melahirkan kehancuran, sebagaimana kesalehan tanpa kepedulian dapat kehilangan makna sosialnya.

Dalam konteks ini, spiritualitas santri harus menjadi perpaduan antara kedalaman iman, ketajaman berpikir, dan kesediaan mengabdi. Ketiganya merupakan fondasi untuk menerjemahkan perubahan zaman tanpa kehilangan orientasi moral.

Baca Juga: Smart Education City Siapkan Pekerja Bandung Hadapi Era Industri 4.0

Pada akhirnya, pertanyaan mendasar bagi santri bukan sekadar bagaimana memahami tanda-tanda kehancuran dunia, melainkan bagaimana mencegah manusia mempercepat kehancuran melalui keserakahan, ketidakadilan, dan pengabaian terhadap kehidupan.

Sebab, spiritualitas bukanlah kemampuan untuk meramalkan gelapnya masa depan, melainkan kesanggupan menjaga nilai-nilai kebaikan ketika masa depan menjadi tidak pasti.

Di tengah peradaban yang semakin canggih tetapi rentan kehilangan arah, santri diharapkan hadir bukan sebagai penonton yang menunggu akhir zaman, melainkan sebagai manusia beriman yang ikut merawat kehidupan, menegakkan keadilan, dan menjaga martabat sesama.

Maka pentingnya, santri memiliki kemampuan pengetahuan dalam menerjemahkan perubahan zaman, yang kini menjadi kian abstrak, dan dengan kompleksitas masalah yang dihadapi secara global, termasuk peran santri dalam merawat budaya tradisional yang berwawasan lingkungan. (*)

Reporter Vito Prasetyo
Editor Aris Abdulsalam