Beranda

Zaman Sudah Serba Digital, Penjual Arloji Lawas Masih Bertahan di Jalan ABC

Oleh: Halwa Raudhatul Kamis 29 Jan 2026, 10:58 WIB
Lapak penjual dan service arloji di Jalan ABC. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Terletak di jantung Kota Kembang, tepat di jalur penghubung antara Jalan Otista dan Jalan Suniaraja, terdapat sebuah ruas jalan yang dipenuhi deretan penjual barang antik, pernak-pernik, hingga barang elektronik. Jalan itu bernama Jalan ABC. Selain namanya yang unik dan mudah diingat, Jalan ABC kerap disebut sebagai lorong waktu yang merekam transformasi sejarah perdagangan arloji di Kota Bandung.

Jalan ABC telah melegenda sejak 1905. Di kalangan masyarakat, beredar cerita bahwa nama ABC merupakan singkatan dari Arab (A), Bumiputra (B), dan Cina (C), yang sejak dahulu hidup berdampingan dan mengisi ruang-ruang lapak di jalan ini. Namun, temuan arsip koran Belanda yang diungkap Atep Kurnia, penulis sejarah Bandung, menyebutkan asal-usul penamaan Jalan ABC sebenarnya berasal dari sebuah toko bernama Toko ABC milik Tio Tek Hong, yang berdiri di Bandung sejak 1905.

Kini, Jalan ABC masih menyisakan banyak kenangan. Bangunan bergaya era Belanda masih terlihat mengisi sepanjang ruas jalan, meski sebagian telah dipoles mengikuti tren arsitektur masa kini. Menjelang petang, suasana jalan tetap ramai. Pedagang arloji dan kacamata yang menghiasi bahu jalan tampak sibuk dengan dagangannya. Sebagian merapikan lapak, sebagian lain menatap lalu lintas sambil menawarkan barang kepada pejalan kaki, berharap satu-dua orang melirik dan tertarik pada isi bilik kecil mereka.

Tepat di sebuah perempatan, terlihat seorang kakek tengah mengemas dagangannya. Lapaknya kecil, berdampingan dengan lapak penjual yang usianya jauh lebih muda. Sosok itu bernama Jana (67), penjual arloji jadul yang telah berjualan di Jalan ABC sejak 1985. Usianya yang sudah lawas membuatnya tak lagi secekatan dulu saat bermain dengan obeng kecil untuk memperbaiki arloji.

Jana (67) sudah berjualan arloji di sekitaran Jalan ABC sejak 1980-an. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Berangkat dari pekerjaan awal sebagai buruh tani, Jana merantau ke Bandung sejak usia 16 tahun bersama rekan sebayanya. Ia belajar cara memperbaiki arloji secara otodidak. Puluhan tahun kemudian, Jana menjadi saksi hidup perubahan dunia perdagangan arloji di Jalan ABC.

“Ya, dulu kerja di toko. Sekarang sudah agak tua, ah, mandiri aja di sini,” ucap Jana sambil merapikan jam-jam dagangannya.

Selama 40 tahun berjualan, Jana mengaku kerap mendapat permintaan untuk mengajarkan cara memperbaiki arloji atau sekadar berbagi ilmu dasar tentang permesinan arloji. Menariknya, permintaan itu justru datang dari pembeli asal Tailan, bukan dari anak muda lokal.

“Orang Tailan pernah minta diajarin. Arlojinya ada di sini. Minta diajarin gitu,” aku Jana sambil menunjukkan arloji berwarna emas milik pembelinya.

Menggantungkan hidup dari lapak kecil ini selama puluhan tahun bukan perkara mudah. Jana menyadari betul tantangan bertahan di tengah gempuran smart watch. Ia menyimpan harapan untuk bisa bekerja di tempat lain, sebab dari usaha arlojinya ini, Jana tak selalu pulang membawa uang.

“Kadang dapat uang, kadang nggak. Barang bapak dari toko diambil ke sini,” ujarnya lirih.

Bagi para penjual arloji di sepanjang jalan bersejarah ini, Jalan ABC bukan lagi sekadar deretan lapak trotoar. Ia telah berevolusi menjadi ruang pertemuan antara keahlian jemari masa lalu dan kecepatan algoritma masa kini. Sebagian bertahan dari pagi hingga petang seperti Jana, menawarkan arloji dan jasa servis. Sebagian lain memilih beradaptasi dengan membuka lapak di layar gawai.

“Awalnya saya kerja dulu. Tapi memang hobi koleksi jam tangan. Kayaknya lebih menjanjikan jual jam. Saya terjun akhirnya. Dijual sama saya, ‘oh, ada untungnya ini,’” ungkap Gugun Wiguna (38), yang menekuni usaha ini sejak 2020.

Gugun Wiguna, generasi muda penjual arloji di Jalan ABC. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Jana dan Gugun sama-sama bercerita soal tren jam tangan yang kini menguasai pasar. Menurut mereka, ada dua negara asal jam yang paling diminati konsumen: Jepang dan Swiss. Jam tangan asal Jepang seperti Seiko, Casio, dan Citizen dikenal unggul dalam inovasi teknologi. Sementara jam asal Swiss—Rolex, TAG Heuer, hingga Omega—memiliki nilai prestise yang kuat.

“Konsumen sekarang lagi banyak ke Swiss. Harga yang saya jual ada yang Rp1.000.000, Rp500.000, paling murah Rp200.000–Rp300.000,” ujar Gugun.

“Pengunjung sekarang berkurang, mungkin karena pengaruh Covid kemarin. Makanya saya jualan online, karena cari pasarnya lebih gampang,” tambahnya.

Meski memilih peruntungan di pasar daring, Gugun mengaku hampir setiap hari tetap nongkrong di Jalan ABC bersama para penjual lain. Dalam bisnis ini, pemasukan sangat tak menentu. Ada hari-hari sepi tanpa transaksi, namun di lain waktu satu penjualan besar bisa menutup kebutuhan berbulan-bulan.

“Kalau jam tuh nggak bisa dipukul rata. Sekalinya dapat, bisa nutup 3–4 bulan. Tapi perputarannya tetap ada, karena ada lelang juga,” beber Gugun, disambut sahutan pedagang lain.

Lebih dari sekadar fungsi teknis, arloji mekanik atau vintage yang dijajakan di trotoar ini adalah pernyataan tentang kelas dan identitas pemakainya. Bagi kolektor dan mereka yang paham mesin, arloji bukan sekadar penunjuk waktu dari etalase toko mewah. Ada kebanggaan tersendiri mengenakan merek legendaris yang daya tahannya teruji puluhan tahun.

“Daya tahan dan umur pakainya. Branding juga. Yang pakai TAG Heuer pasti bukan orang biasa, itu nunjukin identitas,” seru Gugun.

Arloji jadul di lapak milik Jana. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Namun, zaman terus bergerak. Di pergelangan tangan anak muda masa kini, arloji perlahan digantikan layar digital yang memantau detak jantung hingga langkah kaki. Para pedagang di Jalan ABC menyadari pergeseran ini sebagai bagian dari gaya hidup modern.

Meski teknologi menawarkan fungsi yang lebih beragam untuk olahraga dan kesehatan, bagi mereka arloji klasik tetap memiliki tempat tersendiri sebagai simbol.

“Kalau menurut saya sih nggak ada salahnya. Jam tangan buat saya lebih ke hiasan. Balik lagi ke kebutuhan. Orang sekarang kan pengennya olahraga, jadi yang all in one,” ujar Gugun.

Bagi mereka yang setiap hari duduk bersila di sana, Jalan ABC bukan hanya saksi sejarah panjang peradaban urban Bandung, melainkan juga panggung utama perjuangan hidup.

“Menurut saya, ini jalan dengan sejarah panjang jam tangan di Bandung. Tempat palugada. Orang mau cari jam, kacamata, dan lain-lain. Bagi kami, Jalan ABC adalah tempat kami mencari nafkah,” tutup Gugun.

Reporter Halwa Raudhatul
Editor Andres Fatubun