Beranda

Potret Pocong QRIS, Potret Kreativitas Jalanan di Tengah Sulitnya Lapangan Kerja

Oleh: Halwa Raudhatul Sabtu 07 Feb 2026, 12:14 WIB
Cosplayer pocong di Lembang memanfaatkan QRIS untuk menerima uang dari warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Kabut tipis mulai menyelimuti kawasan Ledeng menuju Lembang ketika jarum jam menunjukkan pukul enam sore. Di tepi jalan yang riuh oleh deru mesin angkot dan kendaraan pribadi, sesosok putih berdiri tegak di antara temaram lampu jalan.

Kain kafannya tampak tak lagi bersih. Noda coretan, tanah, dan debu jalanan melekat di permukaannya. Namun, ada satu hal yang membuat “hantu” ini tampak berbeda. Di dadanya tergantung selembar kertas kecil berlapis laminasi, bertuliskan kode batang statis: QRIS “Pocong Lembang, Hiburan”.

Inilah “Pocong Digital” yang belakangan menarik perhatian pengguna jalan di jalur Ledeng–UPI hingga Borma Lembang. Di balik lapisan kain kafan itu, terdapat Toni (40), seorang pria yang berusaha beradaptasi dengan perkembangan zaman demi mempertahankan hidupnya.

Baca Juga: Hantu Asia-Afrika: Antara Daya Tarik Wisata dan Kerentanan Sosial

Pocong ‘Zaman Now’

Toni bukanlah pendatang baru dalam dunia “pocong-pocongan” di Bandung. Sejak 2023, ia telah menekuni profesi ini setelah pekerjaan serabutan di proyek bangunan tak lagi memberikan kepastian. Namun, baru sekitar tiga bulan terakhir ia memutuskan untuk menyediakan alternatif pembayaran nontunai bagi para pengendara.

“Sekarang, kan, serba digital. Ya, mengikuti zaman lah,” ujar Toni saat ditemui di sisi jalan kawasan Ledeng.

Alasannya sederhana. Ia kerap melihat pengendara mobil atau motor yang ingin memberi, tetapi ragu karena tidak membawa uang kecil. Dengan QRIS yang tergantung di dadanya, persoalan itu bisa teratasi. Siapa pun dapat memindai kode tersebut tanpa perlu membuka jendela kendaraan terlalu lama.

Meski telah beralih ke sistem digital, penghasilan Toni tetap tidak menentu. Dalam sehari, ia rata-rata memperoleh sekitar Rp100.000, dengan separuhnya biasanya berasal dari uang tunai.

“Tunai paling Rp50.000, sisanya dari sini (QRIS),” tambahnya.

Bagi para pengguna jalan, sosok Toni kerap tampak unik, bahkan mengundang senyum. Tak jarang, mobil-mobil mewah berhenti sejenak hanya untuk berfoto atau mencoba memindai kode di dadanya.

Pocong QRIS bisa ditemukan wisatawan di jalur Bandung-Lembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Kafan yang Terpaksa Disandang

Di balik inovasinya memanfaatkan QRIS dan menjadikan dirinya berbeda dari pocong-pocongan lain, tersimpan beban berat dalam setiap perkataan Toni. Menjadi “pocong” bukanlah impiannya, melainkan jalan terakhir ketika peluang kerja formal terasa semakin tertutup bagi pria seusianya.

Sebelum berdiri di pinggir jalan dari siang hingga petang, Toni bekerja sebagai tukang bangunan di berbagai proyek.

“Kerjaannya, kan, serabutan. Kadang bangunan, kadang enggak, tergantung ada proyek atau tidak,” katanya, dengan wajah tertutup topeng hantu dan hidung disumbat kapas, seperti gambaran pocong dalam imajinasi banyak orang.

Meski tampak menikmati perannya sebagai “Pocong Digital”, Toni tak mampu menyembunyikan keinginannya untuk menjalani kehidupan yang lebih normal. Ia menyimpan harapan agar akses terhadap pekerjaan lebih terbuka, sehingga ia tak perlu lagi berdiri di pinggir jalan dengan kostum hantu.

“Sebenarnya enggak mau lah, kayak gini-ginian. Harapannya kalau bisa, kerjaan dipermudah,” ungkapnya jujur.

Suka Duka di Bawah Lampu Jalan

Dua tahun menghabiskan waktu di jalan memberi Toni banyak pengalaman. Ia menyadari semakin banyak orang yang tertarik mendekat karena menganggapnya berbeda.

Namun, di balik perhatian itu, ia juga harus menghadapi cuaca yang tak menentu serta penghasilan yang sulit diprediksi. Ada hari-hari ketika ia menerima pemberian yang cukup layak, tetapi tak jarang pula hanya mendapat nominal sangat kecil.

“Rata-rata ada yang kasih Rp2.000, malah pernah juga ada yang kasih Rp100.000,” tuturnya sambil terkekeh pelan.

Ia menanggung sendiri suka duka sebagai “pocong” jalanan. Bagi Toni dan rekan-rekannya sesama pekerja “hantu-hantuan”, yang terpenting adalah ada hasil yang bisa dibawa pulang—entah berupa koin di dalam kotak kayu atau notifikasi saldo masuk di ponsel.

Reporter Halwa Raudhatul
Editor Andres Fatubun