AYOBANDUNG.ID - Edi Junaidi barangkali layak dijuluki “Bukan Orang Sunda, Tapi Nyunda”. Siapa sangka, pria yang tekun mengabdikan diri pada pelestarian budaya ini justru berasal dari suku Minang. Identitas yang diwariskan orang tuanya membentuk perjalanan hidupnya, membawanya menetap lama di Bandung dan jatuh cinta pada tradisi lokal.
Melalui komunitas Petra Nusa yang bernaung di bawah Organo, sebuah program edukasi pelestarian permainan tradisional Nusantara, Edi berupaya menjaga agar warisan tersebut tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Bersama rekan-rekannya, ia ingin permainan tradisional tetap dikenal, dimainkan, dan diwariskan kepada generasi masa kini.
Perlawanan terhadap “Sindrom Digital”
Di tengah dominasi gawai dalam kehidupan sehari-hari generasi Alpha, Edi datang membawa alat-alat sederhana berbahan kayu, bambu, dan karet. Baginya, permainan tradisional merupakan jawaban atas berkurangnya aktivitas fisik dan interaksi sosial anak-anak.
“Tujuan kita ingin memperkenalkan kembali permainan tradisional ini jangan sampai punah. Kenapa? Karena permainan ini penuh dengan pengembangan motorik anak sebenarnya,” ungkap Edi.
Menurutnya, perbedaan mendasar antara permainan masa kini dan masa lalu terletak pada proses penciptaannya. Anak-anak modern umumnya hanya menjadi konsumen mainan buatan pabrik, sementara permainan tradisional menuntut keterlibatan sejak awal.
“Uniknya permainan tradisional itu, orang bisa main dari hasil buatan mereka sendiri. Tapi kalau zaman modern, mereka hanya main, tapi nggak bisa buat mainannya,” jelasnya.
Proses berpikir, berkreasi, mencari teman bermain, hingga menyusun strategi adalah bagian dari perkembangan manusia yang ingin ia hidupkan kembali.

Seutas Karet dan Sarung
Alat-alat yang dibawa Edi bukan sekadar benda mati. Di tangannya, seutas karet gelang dan potongan kayu bisa berubah menjadi bedil karet. Jika dahulu sasaran tembaknya adalah teman bermain, kini ia menyesuaikannya dengan target yang lebih aman tanpa menghilangkan unsur kesenangan.
Ada pula bedil jebret dengan peluru buah leunca, gasing bambu bersuara khas, kikiteran, hingga kokoleceran yang melatih keseimbangan tangan. Edi juga menunjukkan bagaimana sehelai sarung dapat disulap menjadi media permainan serbaguna.
Mulai dari babalunan—melempar sarung hingga mengembang seperti balon—hingga permainan monyetan, di mana ujung sarung dibentuk menyerupai buntut yang harus dikejar dan ditangkap.
“Motorik kasarnya jalan, motorik halusnya jalan, kinestetiknya jalan, auditorinya jalan. Sosialnya juga jalan, karena mereka nggak bisa main sendirian,” tutur Edi bersemangat.

Mewariskan Keterampilan, Bukan Sekadar Tontonan
Menyadari tantangan mengajak anak-anak di wilayah padat penduduk, Edi memilih pendekatan proaktif melalui institusi pendidikan. Ia menyasar sekolah, mulai dari taman kanak-kanak hingga SMP.
Namun, ia tidak langsung masuk ke ruang kelas. Langkah pertamanya adalah melatih para guru.
“Setelah diperkenalkan, sebelum ke anak-anak, gurunya dulu kita latih. Setelah itu baru ke anak-anak. Jadi nanti mereka bisa main sendiri. Bisa beli alatnya di kita atau bikin sendiri, kita ajarkan,” jelasnya.
Pendekatan ini bertujuan agar pengetahuan tidak berhenti pada dirinya, melainkan dapat berkembang secara mandiri di lingkungan sekolah.
Harapan Edi sederhana, tetapi bermakna: generasi mendatang tetap terhubung dengan warisan budaya. Ia ingin anak-anak masa kini kelak mengingat pengalaman bermain di lapangan, bukan hanya kenangan tentang layar sentuh.
“Kita ingin generasi Alpha tahu permainan tradisional. Kalau sudah tahu, pasti lestari. Sampai dewasa mereka ingat, ‘Oh, dulu saya pernah main ini waktu SD,’” pungkasnya.
Bersama Petra Nusa, Edi Junaidi terus berkeliling, memutar gasing, dan membidikkan bedil karet. Ia menjalani perjuangan yang tenang—sebuah upaya agar gelak tawa di halaman tak pernah benar-benar sunyi ditelan zaman.