AYOBANDUNG.ID - Kelurahan Hegarmanah di Kecamatan Cidadap menyimpan banyak cerita yang kerap luput di tengah hiruk pikuk Kota Bandung. Di sana ada Pancuran Tujuh—yang dulu dikenal sebagai sumber air penyembuh—kini berganti nama menjadi Mata Air Cikendi setelah diresmikan wali kota. Airnya tetap mengalir tenang di balik sekat tembok menyerupai kamar mandi umum. Meski tak seramai dulu, tempat itu masih didatangi warga yang percaya pada kesegarannya.
Tak jauh dari mata air itu, aroma bakso mengepul dari warung sederhana di tepi jalan. Di kawasan yang sama, Cireng Racing di Jalan Ciumbuleuit pernah viral karena antreannya yang panjang. Sore hari, para pejalan kaki kerap berhenti, entah untuk membeli camilan atau sekadar penasaran melihat ramainya pembeli.
Hegarmanah berada di dataran tinggi yang rawan longsor dan banjir. Namun di balik kerentanannya, tersimpan potensi yang belum banyak dikenal, bahkan oleh warga Bandung sendiri. Dari obrolan ringan saat pembentukan Kampung Siaga Bencana (KSB) di Cidadap, lahirlah sebuah akun Instagram bernama @ceritahegarmanah.
Iseng Saat KSB, Lahirnya Cerita Hegarmanah
Wina Elia (32), yang akrab disapa Wina, tak pernah membayangkan dirinya akan menjadi penggerak cerita-cerita lokal Hegarmanah. Sehari-hari ia mengelola media sosial resmi Kecamatan Cidadap dan terbiasa menyampaikan informasi kebencanaan maupun aspirasi warga.
“Awal dibuatnya pas pembentukan KSB Cidadap. Kebetulan saya pegang media sosial resmi Kecamatan Cidadap. Waktu itu lagi ada bencana banjir sama longsor tahun 2025,” kenangnya.
Obrolan itu terjadi di Lapangan Cipicung saat pelantikan KSB. Wina berada satu kelompok dengan pengelola @infociumbuleuit dan @cipicungbergerak. Dari percakapan santai itulah muncul gagasan membuat akun khusus untuk Hegarmanah yang belum punya representasi digital.
“Eh, katanya si Hegarmanah tuh kayaknya belum ada akun nih media sosialnya. Iseng awalnya. Ya udah, cobalah bikin,” ujarnya sambil tersenyum.

Dari Pancuran Tujuh hingga UMKM Viral
Konten pertama @ceritahegarmanah diunggah pada 10 Oktober 2025. Sejak itu, akun tersebut tumbuh sebagai ruang berbagi cerita lokal—mulai dari potensi wisata seperti Pancuran Tujuh, aktivitas warga, hingga UMKM makanan rumahan.
Berbeda dengan sejumlah media lokal lain yang sering mengangkat isu trotoar rusak atau berita viral penuh kontroversi, @ceritahegarmanah memilih jalur yang lebih tenang. Fokusnya pada cerita-cerita positif tentang warga dan potensi lingkungan.
“Aku lebih pengennya ngangkat cerita yang ada di Hegarmanah, potensi-potensi sama makanan sih, UMKM. Belum kepikiran kalau untuk ngangkat cerita yang lagi hangat di berita,” tegas Wina.
Ia turun langsung mengumpulkan bahan konten. Bersama teman-temannya, Wina membeli makanan UMKM menggunakan uang pribadi, merekam video, mengeditnya sendiri, lalu menambahkan caption sebelum diunggah ke Instagram.
“Sambil jajan sambil mengenalkan. Beli pakai uang sendiri,” katanya sambil tertawa ringan.
Hasilnya cukup mengejutkan. Satu unggahan tentang bakso sederhana pernah menembus 8.000 tayangan—angka yang besar untuk akun komunitas lokal. Cireng Racing di Jalan Ciumbuleuit, bakso rumahan ibu-ibu, hingga warung minuman kecil ikut terdongkrak setelah diposting.
“Banyak banget. Kebanyakan FnB. Kita coba bantu dengan kekuatan media yang ada di kita dulu. Lumayan kalau viral, peningkatan juga untuk mereka,” jelasnya antusias.
Selain kuliner, Wina juga menyoroti potensi lain. RW 09 memiliki bank sampah kreatif yang mengolah minyak jelantah menjadi lilin cantik seharga Rp2.000 per buah. PKK setempat rutin mengadakan senam lansia. Ada pula program “Buruan Saya” yang mendorong warga menanam sayur di pekarangan untuk mencegah stunting.
Posting Saat Prime Time
Strateginya sederhana. Wina mengunggah konten saat jam istirahat siang, ketika orang-orang cenderung membuka Instagram sambil makan. Awalnya ia membatasi satu unggahan per hari agar algoritma lebih stabil. Kini pengikutnya memang baru ratusan, namun kolaborasi dengan akun lain mampu mendatangkan ribuan penonton.
Pengalamannya bekerja di Trantib Kecamatan Cidadap juga memberi warna tersendiri. Ia kerap membagikan informasi kehilangan KTP atau motor lewat Instagram Story.
“Ada aduan masuk nge-tag. Ditanya-tanya dulu di story,” ujarnya singkat.
Bertahan dengan Perangkat Terbatas
Tantangan terbesar datang dari keterbatasan perangkat. Ponsel yang digunakan khusus membuat konten sering penuh memori, membuat proses editing tersendat. Semua dikerjakan sendiri—memotret, merekam, mengedit, menulis caption, hingga mengunggah.
Kesibukan di Trantib sempat membuat akun itu berhenti cukup lama. Namun dukungan dari rekan-rekan media komunitas seperti Info Ciumbuleuit dan Cipicung Bergerak membangkitkan kembali semangatnya. Ia bahkan sudah membuat akun TikTok, meski belum diisi konten.
Harapannya sederhana: konsisten mengunggah minimal satu konten per hari dan diakui warga sebagai sumber informasi terpercaya. Ia juga ingin suatu hari nanti diakui secara resmi sebagai mitra media kelurahan atau kecamatan.
“Pengennya seperti itu, media yang benar-benar. Proses dulu dari bawah,” katanya.
Di tengah kawasan yang rawan bencana, @ceritahegarmanah hadir tanpa sensasi dan tanpa drama. Hegarmanah—yang dalam bahasa Sunda berarti hati yang bersih dan tulus—pelan-pelan menemukan wajah digitalnya. Satu unggahan demi satu unggahan, cerita-cerita kecil tentang warganya terus mengalir dari layar ponsel Wina.