Beranda

Wajah Ramadan yang Dinamis di Masjid Salman ITB

Oleh: Halwa Raudhatul Sabtu 21 Feb 2026, 14:48 WIB
Kegiatan Ramadan di Masjid Salman ITB menjelang waktu berbuka puasa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Ramadan di Masjid Salman ITB tidak hanya dikenal dengan ribuan jemaah yang memenuhi barisan tarawih. Di balik padatnya rangkaian ibadah, terdapat enam program yang dirancang untuk menjawab kebutuhan jemaah dari beragam latar belakang.

Seluruh aktivitas tersebut berada dalam satu kesatuan besar bernama P3RI, Panitia Pelaksana Program Ramadan dan Iduladha. Pada Ramadan 1447 H, kepanitiaan ini mengusung tema “Ruang Kebaikan untuk Semua.”

Yazid Syauqi Al Ayyubi (19), Ketua Pelaksana P3RI, menjelaskan bahwa seluruh program Ramadan di Salman dikelola secara terintegrasi. Kepanitiaan tahun ini melibatkan 856 relawan yang berasal dari mahasiswa berbagai kampus, pelajar, hingga masyarakat umum.

“Program-program yang ada di Masjid Salman selama Ramadan itu dikumpulkan di P3RI,” ujar Yazid.

Yazid Syauqi Al Ayyubi dan Berlia Citra Ainur Rahmah, Ketua dan Wakil Ketua Pelaksana P3RI. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Berlia Citra Ainur Rahmah (21), Wakil Ketua Pelaksana, menambahkan bahwa Ramadan bukan sekadar agenda tahunan. Panitia ingin menciptakan pengalaman yang membekas, baik bagi jemaah maupun relawan. Menurutnya, ruang kebaikan semestinya juga menjadi ruang belajar.

“Jadi, sesuai temanya ‘Ruang Kebaikan untuk Semua’, itu diterapkan dari orang-orang yang direkrut sekaligus program-programnya,” ucap Berlia.

Program pertama adalah Inspirasi Ramadan (IRAMA). Kegiatan ini berupa kajian sore yang digelar selama 20 hari sejak awal Ramadan. Topik yang diangkat tidak melulu seputar agama, tetapi juga menyentuh isu gizi, ekonomi, pemerintahan, hukum, hingga kesehatan mental.

Jemaah yang mendaftar dan hadir akan mendapatkan takjil sebelum kajian serta kupon berbuka setelahnya. Konsep ini dirancang agar orang tidak hanya datang untuk berbuka, melainkan juga untuk menimba pengetahuan.

Narasumber yang dihadirkan pun beragam, mulai dari tokoh publik hingga praktisi profesional. Setiap sesi dibuat interaktif sehingga jemaah tidak sekadar menjadi pendengar, tetapi turut terlibat dalam diskusi.

Program kedua adalah Berbuka Puasa Gratis. Selama sebulan penuh, Masjid Salman ITB menyediakan ratusan hingga ribuan porsi makanan berbuka bagi jemaah. Program ini menjadi pintu masuk bagi banyak orang untuk merasakan atmosfer Ramadan di masjid kampus tersebut. Sejak sore hari, area masjid kerap dipenuhi jemaah yang datang lebih awal.

“Nah, yang membedakan dengan masjid lain, kami ada flow keeper dan crowd control. Kami sebut divisi tarawih. Mereka yang merapikan saf, mengatur, dan mengarahkan jemaah,” jelas Berlia.

Program ketiga adalah Sahur Bersama. Kegiatan ini dilaksanakan selama 12 hari pada tanggal-tanggal tertentu. Salah satu pertimbangannya ialah jumlah mahasiswa yang tetap berada di Bandung selama masa libur. Meski tidak digelar setiap hari, sahur bersama tetap menjadi momen yang dinantikan.

“Karena ini masjid kampus, identiknya jemaah subuhnya lebih sedikit,” tutur Yazid.

Program keempat ialah Itikaf 10 Hari Terakhir. Pada fase akhir Ramadan, panitia membuka program itikaf yang dapat diikuti secara umum maupun berbayar dengan fasilitas tambahan seperti konsumsi sahur. Relawan bertugas melayani jemaah, mengatur saf, serta memastikan keamanan dan kenyamanan, terutama pada malam-malam ganjil.

Kelima, Para Pejuang Al-Qur’an (PPA). Program ini berfokus pada pelatihan tilawah dan hafalan Al-Qur’an. Peserta dapat mengikuti secara daring maupun luring dengan kuota terbatas, sehingga jangkauannya meluas hingga luar kota. Ramadan dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat interaksi dengan Al-Qur’an.

“Cakupannya hampir satu Indonesia karena online,” ujar Yazid.

Program keenam adalah Ramadan Daycare. Layanan penitipan anak ini memudahkan orang tua untuk beribadah dengan lebih tenang. Anak-anak didampingi mahasiswa dalam kegiatan bermain dan belajar ringan selama orang tua mengikuti kajian atau salat tarawih. Kehadiran daycare membuat masjid terasa lebih ramah bagi keluarga.

Bagi Yazid dan Berlia, keberhasilan Ramadan tidak semata diukur dari jumlah jemaah yang datang. Mereka menilai masjid perlu memahami kebutuhan masyarakat sekitarnya dan meresponsnya melalui program yang relevan.

“Masjid sebagai pusat peradaban, harapannya setiap masjid harus tahu kebutuhan orang di sekitarnya,” ujar Berlia.

Dengan enam program yang berjalan beriringan, Masjid Salman ITB menghadirkan Ramadan sebagai ruang yang dinamis—bukan hanya tempat berbuka puasa gratis, tetapi juga ruang untuk belajar, bertumbuh, dan berbagi bagi semua kalangan.

Reporter Halwa Raudhatul
Editor Andres Fatubun