AYOBANDUNG.ID - Kota Bandung menghasilkan timbulan sampah sekitar 1.200 hingga 1.500 ton per hari. Volume yang besar ini berarti setiap harinya ribuan meter kubik sampah dari rumah tangga, pasar, kawasan bisnis, dan aktivitas warga harus diangkut dari pemukiman menuju tempat pembuangan akhir.
“Rata-rata jumlah timbulan sampah harian itu antara 1.200 sampai 1.500 ton per hari,” ujar Humas UPT Pengelolaan Sampah Kota Bandung, Nugroho Bayu Prasetyo (45).
Namun, mengelola sampah di kota sepadat Bandung bukan sekadar perkara mengirim truk. Hambatan seperti antrean panjang, pembatasan kuota, hingga terbatasnya jam operasional membuat satu kali perjalanan (rit) dapat memakan waktu seharian penuh.
Saat ini, rata-rata kendaraan pengangkut hanya mampu melakukan satu rit per hari. Padahal sebelumnya, satu armada bisa bolak-balik dua hingga tiga kali.
“Kalau untuk kondisi sekarang hanya satu rit. Dulu sebelum ada pembatasan kuota itu bisa dua sampai tiga rit satu hari,” kata Bayu.

Penurunan frekuensi angkutan ini terjadi karena kondisi di tempat pembuangan akhir yang masih mengalami kendala kapasitas dan antrean kendaraan. Truk yang tiba pada sore hari sering kali tidak bisa masuk karena jam operasional sudah tutup, sehingga sopir terpaksa menunggu hingga esok hari.
“Kalau bawa dari Kota Bandung jam empat sore, nyampenya bisa jam enam atau tujuh malam. Otomatis harus nginep,” ujarnya.
Situasi ini membuat persoalan sampah tidak pernah sesederhana “tinggal angkut”. Ketika satu armada tertahan di jalur pembuangan, penumpukan sampah di titik-titik kota lain akan terjadi. Begitu satu TPS dibersihkan, sering kali muncul titik pembuangan liar baru di lokasi berbeda.
Untuk menangani volume tersebut, UPT Pengelolaan Sampah mengoperasikan ratusan kendaraan dari berbagai jenis, mulai dari compactor truck, dump truck, arm roll truck, pick up, hingga triseda yang digunakan untuk mengangkut sampah hasil sapuan jalan.
Triseda berkapasitas kecil menjadi penopang vital di gang-gang sempit. Kendaraan roda tiga ini bergerak menyisir hasil sapuan petugas kebersihan dari trotoar, jalan utama, hingga lingkungan padat penduduk.
Meski jumlah armada terlihat banyak, beban kerja mereka sangat berat. Sebagai kota tujuan, jumlah orang yang beraktivitas di Bandung pada siang hari jauh lebih banyak dibanding penduduk tetapnya karena adanya arus pekerja, mahasiswa, dan wisatawan harian.
“Kalau Kota Bandung kan siang biasanya dua kali lipat jumlah penghuninya. Karena banyak pendatang yang aktivitasnya di kota,” kata Bayu.
Semakin tinggi mobilitas warga, semakin besar pula volume sampah yang dihasilkan. Masalah dasarnya, Bandung masih sangat bergantung pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kapasitas pengolahan sampah di dalam kota masih sangat kecil dibandingkan total sampah harian yang dihasilkan.
“Yang kita olah itu masih sedikit. Dari total timbulan sampah 1.200 ton, paling terolah sekarang 100 sampai 200-an,” ujar Bayu.
Akibatnya, sebagian besar residu tetap harus dibuang ke luar kota, yakni ke TPA Sarimukti. Ketergantungan ini membuat setiap gangguan di lokasi TPA langsung berdampak pada kebersihan jalan-jalan di Bandung. Begitu kuota dibatasi atau akses terganggu, tumpukan sampah segera menjalar ke tingkat TPS dan pemukiman warga.
“Tegallega itu paling banyak pengaduan. Banyak tumpukan yang tidak terangkut karena kapasitas juga,” ujarnya.
Bagi Bayu, masalah sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada petugas dan armada pengangkut. Menurutnya, solusi paling efektif harus dimulai dari lingkup terkecil, yaitu rumah tangga. Memilah sampah organik dan anorganik, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta mengolah sisa makanan menjadi kompos adalah langkah sederhana yang dampaknya signifikan.
“Minimal dipilah dulu lah. Jangan banyak-banyak, tapi mulai dari rumah,” katanya.
Ia menegaskan bahwa edukasi mengenai pengelolaan sampah idealnya ditanamkan sejak dini agar menjadi budaya.
“Kalau dari kecil sudah dibiasakan, biasanya jadi terbiasa,” tutup Bayu.