Beranda

Cerita Warga Setelah Konvoi Persib Usai

Oleh: Ilham Maulana Senin 25 Mei 2026, 08:24 WIB
Hendi Suhendi bersama petugas kebersihan lainnya menyisir kawasan pusat Kota Bandung usai perayaan kemenangan Persib. Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Persib Bandung telah resmi menyandang gelar juara di Super League 2025/2026. Bandung selalu punya cara sendiri untuk merayakan Persib.

Klakson bersahutan. Biru mendominasi jalanan. Ribuan bobotoh memenuhi ruas kota, menyanyikan lagu kemenangan, mengibarkan syal, membakar flare, dan mengubah malam menjadi pesta panjang.

Hingga Sabtu, 23 Mei 2025, tengah malam pun euforia tak kunjung padam. Dengan rasa bangga, mereka terus hadir dan merayakan. Namun, lambat laun euforia mulai surut dan memperlihatkan wajah lainnya.

Di beberapa sudut kota terlihat tumpukan sampah. Ada yang masih berserakan di tengah jalan, ada pula yang menumpuk di trotoar. Taman kota dipenuhi sampah. Di kawasan Asia Afrika, sekitar Alun-Alun, sampai ruas jalan menuju Banceuy, pesta itu meninggalkan jejak yang tak ikut pulang bersama konvoi. Botol minuman berserakan di pinggir trotoar. Plastik makanan menumpuk di sudut jalan. Kardus, bungkus rokok, sisa jajanan, hingga pecahan sampah kecil memenuhi beberapa titik pusat kota.

Sampah bekas konvoi Persib di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Saat sebagian warga Bandung masih membicarakan kemenangan Persib, Hendi Suhendi justru baru memulai pekerjaannya. Pria 54 tahun itu merupakan petugas kebersihan yang bertugas di kawasan pusat kota. Sejak pukul sembilan malam, ia bersama rekan-rekannya mulai menyisir area Asia Afrika, lampu merah Tamblong, Alun-Alun, belokan menuju Banceuy, depan Pendopo Wali Kota, hingga sekitar Dewi Sartika.

Malam itu bukan malam kerja biasa.

Sampahna mah di mana-mana. Ini empat kali lipat dibanding Lebaran. Dengan personel 10 orang mah enggak mungkin cepat beres kalau kondisinya begini. Mobil sampah juga kayaknya enggak bakal muat, ini sudah penuh,” ujar Hendi sambil tetap membereskan tumpukan sampah di pinggir jalan.

Kalau hari normal kawasan itu hanya menghasilkan dua tong sampah besar, malam pascaperayaan Persib menghadirkan volume yang jauh berbeda.

Bukan lagi hitungan tong.

“Hari biasa dari Tamblong sampai Otista paling dua hengkar kiri kanan. Sekarang? Bisa lebih dari 10 kubik. Bahkan 20 kubik juga mungkin. Ini Asia Afrika saja sudah hampir tiga jam dibersihin, tapi belum beres,” katanya.

Jenis sampah yang ditemukan pun beragam. Namun yang paling dominan, menurut Hendi, adalah botol minuman. Tak sedikit yang memenuhi karung besar.

“Yang karung 25 kilo juga penuh. Botol plastik ada, botol minuman alkohol juga ada. Campur sama plastik, kardus, sisa makanan, macam-macam lah. Pokokna membeludak,” ucapnya.

Sebagai warga Bandung, Hendi tidak menampik dirinya ikut senang melihat Persib kembali berjaya. Ia tumbuh di lingkungan yang akrab dengan sepak bola. Anak-anaknya pun menyukai Persib.

Namun, di balik rasa bangga itu, ada pekerjaan panjang yang harus diselesaikan setelah pesta selesai.

“Senang mah lain senang deui. Persib juara pasti urang bungah. Anak-anak oge resep, keluarga senang. Tapi di sisi lain, ya ieu sudah jadi tugas kami beberes setelah semua selesai,” katanya.

Meski lelah menghadapi tumpukan sampah yang menurutnya empat kali lebih banyak dibanding masa Lebaran, Hendi mengaku tidak ingin melihat euforia Persib hilang dari Kota Bandung. Yang ia harapkan justru cara merayakannya bisa semakin dewasa.

“Mudah-mudahan taun hareup, lamun Persib juara deui atanapi aya konvoi deui, suasanana tetap rame, tetap aman, tapi sampahna bisa leuwih tertib. Konvoina ayeuna mah sebenarnya sudah aman, sudah tertib, enggak ada kejadian apa-apa. Tinggal soal kebersihannya wae nu dipikirkeun deui,” ujarnya.

Ia berharap bobotoh dan warga Bandung bisa ikut menjaga kota yang mereka rayakan bersama.

“Buat bobotoh, kalau melihat dari konvoinya mah sudah bagus, aman, tertib. Cuma soal miceun sampahna, punten lah… tong asal miceun. Biar kota ieu tetap bersih. Karena setelah pesta selesai, sampahna tetap kudu aya nu beberes,” kata Hendi.

Di sudut kota lain, euforia Persib juga menghadirkan cerita berbeda bagi para pengemudi ojek online. Kemacetan panjang, jalan ditutup, titik jemput yang sulit diakses, sampai penumpang yang mulai gelisah karena keterlambatan menjadi bagian dari ritme kerja mereka selama perayaan berlangsung.

Aji tetap menarik penumpang di tengah konvoi Persib sambil menikmati suasana kemenangan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Aji, pengemudi ojol berusia 37 tahun yang biasa beroperasi di wilayah Bandung Kota, merasakan langsung dampaknya.

Meski begitu, ia justru tidak menganggap situasi tersebut sepenuhnya merugikan.

“Kalau orderan mah waktu konvoi sedikit lebih susah. Jalan macet, kadang enggak gerak, harus muter jauh juga. Tapi unikna, order memang lebih sedikit, cuma uangna malah lebih gede,” katanya sambil tertawa.

Menurutnya, ongkos perjalanan naik karena rute menjadi lebih panjang dan waktu tempuh bertambah akibat kepadatan jalan. Jadi, walaupun jumlah order berkurang, pemasukan tetap terjaga.

“Biasanya sehari bisa 150 sampai 200 ribu. Waktu konvoi mah orderan enggak sebanyak biasa, tapi karena ongkos naik, pemasukan mah malah bisa lebih. Jadi ya dinikmati wae,” ujarnya.

Tetap saja, pekerjaan di lapangan tidak selalu mulus.

Ia bercerita pernah menghadapi penumpang yang mulai cemas karena proses penjemputan terlambat akibat kondisi jalan.

“Ada yang buru-buru, pas dijemput telat gara-gara macet. Saya kasih tahu kondisi jalan lagi susah, mau nunggu atau gimana. Untungnya mau nunggu. Memang sempat rewel sedikit, tapi akhirnya paham juga karena situasinya memang lagi konvoi,” katanya.

Sebagai bobotoh, Aji memilih melihat semua itu sebagai bagian dari perayaan kota.

“Saya mah enjoy wae. Anggap sambil narik sambil ikut konvoi. Persib juara itu momen besar buat Bandung. Jadi kerja tetap jalan, tapi suasananya juga dinikmati,” ucapnya.

Tias, pengemudi ojol asal Cimahi, harus menghadapi macet dan jalan ditutup saat euforia kemenangan Persib berlangsung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Cerita serupa datang dari Tias, pengemudi ojol 25 tahun yang biasa menarik penumpang dari kawasan Cimahi hingga Bandung Kota.

Baginya, hari pascakonvoi adalah kombinasi antara pekerjaan, kemacetan, hujan, dan kesabaran ekstra.

“Sedikit chaos sih. Kejebak macet, hujan, jalan ditutup, muter-puter. Pokokna mantap lah,” katanya sambil tertawa kecil.

Di tengah situasi tersebut, order justru sedikit meningkat. Sebagian warga memilih menggunakan jasa ojol dibanding membawa kendaraan pribadi ke tengah kondisi jalan yang padat.

Namun, kenaikan order itu datang bersama konsekuensi lain.

Cancel order banyak pisan. Penumpang juga susah dijemput. Kadang kita harus muter jauh, bensin jadi lebih boros. Tapi ya dibawa enjoy aja,” ujarnya.

Sebagai warga Bandung dan bobotoh, Tias mengaku sulit benar-benar mengeluh di tengah suasana kemenangan Persib.

“Di satu sisi kita happy karena Persib juara. Di sisi lain pekerjaan juga harus jalan. Jadi ya dinikmati aja. Cuma mungkin ke depannya pengaturan jalannya bisa lebih kondusif lagi, lebih rapih,” katanya.

Tidak semua orang menghadapi dampak yang melelahkan dari pesta kota. Bagi sebagian pedagang kecil, perayaan Persib justru menjadi momen panen rezeki.

Abdul Syukur atau Gapuy mengaku omzet jualan tahu bulatnya naik hingga tujuh kali lipat saat perayaan juara Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Di sekitar Alun-Alun Bandung, Abdul Syukur (24), pedagang tahu bulat yang akrab dipanggil Gapuy, merasakan lonjakan pembeli yang jarang terjadi di hari biasa.

Tanpa perlu berpikir lama, ia menyebut perbedaan omzet hari biasa dengan masa konvoi seperti bumi dan langit.

“Rame pisan. Kalau dibanding hari biasa mah bisa tujuh kali lipat,” katanya.

Gapuy yang sudah berjualan sejak 2020 itu mengaku momen kemenangan Persib membawa berkah nyata bagi pedagang kecil sepertinya.

Jalanan yang penuh orang berarti peluang jualan yang ikut membesar.

“Buat pedagang mah mantap. Persib juara itu mantap pisan,” ucapnya singkat.

Bandung memang selalu hidup bersama Persib. Ketika klub itu menang, kota ikut berpesta.

Reporter Ilham Maulana
Editor Andres Fatubun