AYOBANDUNG.ID - Senin 25 Mei 2026, Bandung belum sepenuhnya bangun ketika sekelompok orang dengan membawa sapu mulai bergerak di kawasan Cikapayang, Jembatan Pasupati, dan area Dago.
Euforia kemenangan Persib yang dirayakan seharian sebelumnya belum benar-benar hilang. Bunyi klakson, flare, dan lautan biru semalam berganti dengan pemandangan lain. Sampah botol plastik, pecahan kaca, bekas makanan, hingga sisa flare berserakan di sudut jalan.
Ketika sebagian warga mungkin masih tertidur kerana kelelahan usai konvoi panjang dan pesta juara, ada orang-orang yang justru memulai harinya lebih cepat. Mereka bukan pemain di lapangan, bukan pula bobotoh yang berdiri di atas kendaraan sambil mengibarkan bendera biru. Mereka adalah para petugas kebersihan yang turun sejak subuh untuk mengembalikan wajah kota.

Ari Aldian (34), petugas kebersihan dari DLH Kota Bandung, sudah mulai bekerja sejak pukul 04.00 WIB. Area tugasnya tak kecil. Mulai dari kawasan Cikapayang, Jalan Juanda, hingga Balai Kota menjadi wilayah yang harus ia dan tim bersihkan pagi itu. Sapu lidi ada di tangannya. Karung sampah mulai menggunung di samping motor pengangkut.
“Pas datang tadi mah kondisinya kacau, Kang. Pabalatak (kotor) pisan. Plastik, botol minuman, bungkus makanan, bekas flare, pokokna loba pisan (sampahnya banyak sekali),” ujar Ari sambil tetap menyapu sisa sampah di tepi jalan.
Di hari biasa, menurut Ari, sampah di wilayah kerjanya mungkin hanya memenuhi tiga sampai empat kantong besar. Namun pagi itu situasinya berbeda jauh.
“Kalau hari biasa paling tiga atau empat trash bag. Sekarang mah 20 lebih, Kang,” katanya.
Jenis sampah yang ditemukan pun beragam. Plastik bekas makanan, botol minuman, bungkus jajanan, hingga sisa flare yang ditinggalkan selepas perayaan.
Lima orang petugas dengan satu motor pengangkut sampah dikerahkan di titik tersebut. Mereka memperkirakan pekerjaan baru akan selesai sekitar pukul 08.00 WIB.
Namun, membereskan sisa pesta kota bukan perkara sederhana.
Selain volume sampah yang meningkat berkali-kali lipat, mereka juga harus berpacu dengan lalu lintas Senin pagi yang mulai padat.

“Bagian paling beurat mah pabeulit sareng lalu lintasna (bagian paling besar karena bersinggungan dengan lalu lintas). Aktivitas warga geus mimiti jalan, yang mau kerja sedengkeun ieu kudu beberes sakitu lobana (Warga yang mau bekerja sudah mulai, sedangkan sampah sebanyak ini harus segera dibersihkan),” katanya.
Meski begitu, Ari mengaku tetap senang melihat Persib menjadi juara. Sebagai warga Bandung sekaligus bobotoh, kemenangan Maung Bandung tentu membawa kebahagiaan tersendiri. Hanya saja, ada satu hal yang menurutnya masih perlu diperbaiki.
“Senang mah senang Persib juara. Yang disayangkan mah yang konvoi kurang disiplin dina miceun (buang) sampah,” katanya.
Bagi Ari, membersihkan kota selepas pesta kemenangan sudah menjadi bagian dari tanggung jawab pekerjaannya. Namun di balik itu, ada alasan lain yang membuatnya tetap datang bekerja, bahkan saat harus menghadapi gunungan sampah selepas perayaan besar.
“Abdi mah nyaah ka (sayang) Bandung, Kang. Ieu oge (ini juga) tanggung jawab. Lamun teu aya nu beberes, bade ku saha? (kalau tidak ada yang bersihkan sampah, ya mau sama siapa lagi). Makanya urang (saya) tetep datang, tetep kerja.”
Ia berharap perayaan tetap bisa berlangsung meriah, tetapi kesadaran soal kebersihan juga ikut hadir.
“Konvoi hayu, raramean hayu. Mung perihal sampahna atuh kudu disiplin. Ulah miceun di mana wae, komo tilas flare atawa seng nu seukeut. Bahaya keur nu séjén, (Boleh konvoi dan ramai-ramai, tapi soal membuang sampah tetap harus disiplin. Jangan buang sembarangan. Apalagi bekas flare atau seng yang tajam, berbahaya bagi yang lain)” katanya.
Tak jauh dari sana, di atas Jembatan Pasupati, sapu juga bergerak di tangan warga yang memilih turun langsung membantu membersihkan kota.
Handoyo (65), Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Bandung Wetan, ikut turun bersama unsur kewilayahan sejak pagi. Baginya, membersihkan sampah pascakonvoi bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk kepedulian terhadap Bandung.
“Konvoinya meriah, Bandung pisan (Bandung banget). Tapi jangan hanya mau bergembira, tidak melihat dampak lingkungan,” katanya.
Ia menyebut kondisi sampah pagi itu jauh lebih berat dibanding hari biasa. Salah satu yang paling menyulitkan adalah botol minuman pecah yang berserakan di berbagai titik.
Pembersihan di kawasan tersebut bahkan diperkirakan membutuhkan waktu setengah hari. Bukan hanya KSM yang turun, tetapi juga unsur pemerintah wilayah mulai dari gober, kelurahan, hingga kecamatan.
Meski demikian, Handoyo mengaku tak pernah menganggap pekerjaan itu sebagai beban.
“Enggak ada alasan pekerjaan berat atau tidak berat. Ini memang pekerjaan yang harus kita kerjakan untuk Bandung,” katanya.
Sudah lebih dari satu dekade ia bersama kelompoknya bergerak dalam urusan kebersihan kota. Semangat itu, kata dia, tak pernah benar-benar hilang.
“Teman-teman KSM dari dulu bekerja dengan hati. Dari 2010 sampai sekarang belum bosan,” ujarnya.
Di tingkat kewilayahan, Kecamatan Bandung Wetan juga mengerahkan personel sejak pagi untuk membersihkan sejumlah titik bekas konvoi. Kawasan Cikapayang, Jembatan Layang Pasupati, Taman Radio, hingga beberapa titik lain menjadi fokus pembersihan.
Andre Abdul Rojak (29), petugas dari Kecamatan Bandung Wetan, mengatakan tim mulai bergerak sejak sekitar pukul 05.00 hingga 06.00 WIB.
Sebelum pembersihan dimulai, mereka lebih dulu melakukan pengecekan lapangan.
“Hari ini sampahna banyak banget. Pas kontrol pagi sebelum pembersihan di Cikapayang, benar-benar kotor,” katanya.
Menurut Andre, titik yang paling parah berada di kawasan Pasupati dan area bawah flyover. Sampah didominasi plastik bekas makanan, botol minuman, hingga sisa flare.
“Dibanding hari biasa mungkin dua sampai tiga kali lipat. Malah biasanya area flyover mah normalnya sampahna sedikit,” ujarnya.

Personel yang diturunkan pun merupakan gabungan berbagai unsur, mulai dari ASN, non-ASN, gober, kelurahan, hingga kecamatan. Sebelum turun ke lapangan, mereka lebih dulu dibagi berdasarkan zona kerja agar proses pembersihan bisa lebih cepat.
Namun, membersihkan sisa perayaan bukan hanya soal menyapu jalanan.
Di balik cepatnya tumpukan sampah berpindah dari titik konvoi, ada koordinasi yang harus berjalan antara petugas wilayah dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Andre Abdul Rojak mengatakan, tim kecamatan tidak bekerja sendiri. Setelah personel dibagi ke sejumlah titik seperti Cikapayang, Pasupati, hingga Taman Radio, mereka juga harus memastikan sampah yang sudah dikumpulkan bisa segera diangkut.
“Kalau untuk alat sebenarnya sudah lengkap, sapu dan perlengkapan dasar ada. Tapi yang paling penting itu koordinasi dengan DLH untuk pengangkutan sampahnya. Karena sampahnya banyak sekali, jadi harus cepat diangkut,” ujar Andre.
Menurutnya, pembersihan di lapangan tidak akan berjalan maksimal jika proses pembuangan dan pengangkutan tidak bergerak beriringan.
“Kami di lapangan fokus membersihkan dan mengumpulkan sampah, tetapi setelah itu harus ada koordinasi juga dengan DLH. Jangan sampai sampah yang sudah dikumpulkan malah menumpuk lagi di satu titik karena pengangkutannya terlambat,” katanya.
Koordinasi itu dilakukan sambil berpacu dengan waktu. Sebab sebelum aktivitas kota benar-benar padat pada Senin pagi, jalanan Bandung harus mulai kembali bersih dari jejak euforia malam sebelumnya.
“Target kami secepat mungkin beres sebelum jam aktivitas kerja. Makanya pembagian personel, pembagian titik, sampai koordinasi pengangkutan itu harus jalan bareng,” ucapnya.
Sebagai warga Bandung, Andre mengaku ikut bahagia melihat Persib mengangkat trofi juara. Namun pagi harinya, kebahagiaan itu datang bersama pekerjaan tambahan membersihkan sisa perayaan.
“Senang sih Persib juara. Untuk beberes (bersih-bersih sampah) mah enggak apa-apalah, yang penting juara,” katanya sambil tersenyum.
Meski begitu, ia percaya euforia kemenangan sebetulnya tetap bisa dirayakan tanpa meninggalkan sampah.
“Bisa saja tanpa ninggalkeun (meninggalkan ) sampah. Misalnya lebih ditekenkeun (ditekankan) soal kebersihan, bawa kantong sendiri atau jangan buang sembarangan,” ujarnya.
Bagi Andre, menghargai petugas kebersihan sebenarnya bisa dimulai dari hal sederhana.
“Kalau ada euforia apa pun, sampah jangan dibuang di mana-mana, apalagi ke saluran air. Bawa pulang atau buang ke tempatnya,” katanya.
Pagi ini, ketika kota perlahan kembali dipenuhi kendaraan dan aktivitas kerja dimulai, sebagian besar sampah mulai terangkut dari jalanan Bandung. Euforia mungkin telah selesai ketika suara klakson dan nyanyian bobotoh mereda.
Namun bagi para petugas kebersihan, kemenangan Persib memiliki babak lain. Memastikan Bandung kembali bersih sebelum kota benar-benar membuka matanya.