AYOBANDUNG.ID - Satu hal yang jarang disadari warga Bandung adalah jejak sejarah Persib ternyata tersembunyi di tempat-tempat yang setiap hari mereka lewati. Dari stadion tua, stasiun kereta, toko sepatu legendaris, hingga lapangan yang kini berubah menjadi apartemen, semuanya menyimpan cerita tentang lahir, tumbuh, dan bertahannya klub kebanggaan kota ini.
Jejak-jejak itulah yang dibongkar kembali melalui Bobotoh Story Walk Seri 4 pada Minggu, 14 Juni 2026.
Dipandu oleh trio interpreter Eko Maung, jurnalis foto Andri Gurnita, dan Anyun Cadel yang menyaksikan sejarah Persib sejak kecil hingga tumbuh menjadi Bobotoh dewasa, perjalanan yang diinisiasi Bobotoh Story Walk ini mendadak berubah menjadi mesin waktu. Mereka membedah ruang publik Bandung bukan dari kemegahan betonnya, melainkan dari sisa-sisa kisah jenaka, air mata, kejayaan, hingga darah yang tertinggal di aspalnya.
Kurang lebih delapan checkpoint sejarah sepanjang lima kilometer telah menanti untuk ditundukkan. Ini bukan sekadar jalan sehat biasa. Ini adalah Bobotoh Story Walk Seri 4, sebuah ritual napak tilas untuk membongkar kembali lapis demi lapis ingatan kolektif kultur ngabobotohan zaman baheula yang kini mulai terkubur oleh modernitas.

Sidolig
Langkah awal dimulai dari Stadion Sidolig. Hari ini, tempat tersebut berdiri gagah dengan rumput hijau yang terawat. Namun, Eko Maung langsung memecah romantisme itu dengan melemparkan ingatan ke era 1970-an hingga 1980-an.
"Sidolig dulu enggak sebagus sekarang lapangannya. Dulu sering dijuluki 'Santiago Berdebu' karena isinya cuma pasir," kenang Eko Maung sambil menunjuk ke arah lapangan.
'Santiago Berdebu' adalah plesetan dari Santiago Bernabeu, kandang Real Madrid yang terkenal megah.
Pada masa itu, tribun stadion masih terbuat dari kayu. Wajah Sidolig baru berubah total saat era manajer Yosi Irianto dan pelatih Arcan Iurie, ketika manajemen mulai memperjuangkan rumput hijau yang perawatannya tak mudah hingga hari ini.
Bagi Anyun Cadel, Sidolig adalah tempat di mana ingatan masa muda berputar. Ia teringat momen epik launching tim tahun 2005 di era Wisnanda yang menghadirkan Pas Band, hingga riuhnya internal Persib saat Christian Gonzales pertama kali menginjakkan kaki di sana.
"Dulu sebelum ada clothing-clothing lokal mentereng, kalau mau beli baju ya ke Empet, ke Marisa di Siliwangi, atau ke Adidas Sport di sini. Baheula mah dua brand lokal, Jati Rasport dan Adek Sport, itu udah yang paling gaya," tutur Anyun. Bahkan, ia menceritakan bahwa sekelas Irfan Bachdim pun melakoni trial perdananya di Bandung dengan jersey yang dibeli langsung di sekitar kawasan ini.
Uniknya, cerita-cerita sejarah ini tidak hanya memikat Bobotoh garis keras. Di antara puluhan peserta yang menyusuri trotoar, ada Arfi Damayanti (26), seorang ibu asal Cimahi yang datang karena diajak suaminya. Bagi Arfi, melangkah masuk ke Sidolig adalah pengalaman pertama dalam hidupnya.
"Aku kan orang Sunda, tinggal di sini, tapi jujur tidak terlalu mengikuti Persib dan baru pertama kali masuk ke Sidolig serta mendengar sejarah Persib. Pas dengar cerita di sini langsung berkesan, ternyata umur stadion ini jauh lebih tua daripada Persib sendiri," ungkap Arfi takjub mengingat tahun berdirinya Sidolig sejak 1903.
Cikudapateuh-Kosambi: Toko Sepatu Jadul Pemain dan Sangu Koneng Basi
Rombongan kemudian bergerak menyusuri pertokoan Ahmad Yani menuju Stasiun Cikudapateuh. Di sinilah jantung spiritual Bobotoh kelas pekerja berdenyut pada masanya. Sebelum era toko ritel modern menginvasi, kawasan Kosambi dan Cikudapateuh adalah kiblat perlengkapan olahraga.
Anyun Cadel menunjuk ke sebuah sudut.
"Ini area Kembang Sepatu, menyediakan semua perlengkapan olahraga dan legend pisan. Dulu anak-anak Bandung tahun 90-an kalau baru masuk SSB, dikontrak tim Suratin, Porda, atau Haornas, pasti dianteur sama orang tuanya beli sepatu ke sini. Paling belinya merek Spec, Spotec, Eagle, atau Tenstar. Kalau beli Nike atau Adidas mah belum kabeuli. Malah dulu ada yang ketipu mengira Eagle lebih bagus dari Nike karena yang dibeli ternyata Nike palsu. Kalau orang yang dulu berasal dari keluarga berada mah ke Toko Barcelona," kenang Anyun disambut tawa peserta.

Pemain-pemain besar seperti Atep dipastikan memiliki memori masa kecil di toko ini.
Di dekat sana pula terdapat tempat sol sepatu legendaris milik Mang Ade, tempat para pemain profesional bahkan pemain asing asal Chili mempercayakan sepatu mereka untuk diperbaiki pada masanya.
Namun, Cikudapateuh punya sisi lain yang jauh lebih keras. Stasiun ini adalah gerbang masuk utama bagi Bobotoh asal wilayah timur seperti Cicalengka dan Rancaekek yang menumpang Kereta Api Daerah (KRD), lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki hingga Stadion Siliwangi.
Anyun menceritakan betapa presisinya jadwal anak-anak kereta zaman dulu, berkejaran dengan waktu demi mengejar KRD pukul 09.45 atau 11.30. Titik kumpul utama mereka adalah Warung Masteng (Mas Teng), tempat berburu minuman sebelum berjalan kaki ke Siliwangi.
"Naik kereta di atap, gratis sepeser pun enggak keluar uang. Tapi berangkatnya aman, pulangnya serasa perang gajah," ujar Anyun.
Sambil tersenyum, Anyun menunjukkan bekas luka di kepalanya.
"Dua jahitan di sini gara-gara kena lempengan batu pas pulang jam enam sore. Dulu pas pulang, kereta dilempari batu sama warga di daerah Kiaracondong atau Ciroyom, kaca pecah semua. Tapi anehnya, kita dulu senang-senang saja, besoknya siap perang lagi. Batu tinggal nyomot di pinggir rel," kenangnya.
Keterbatasan ekonomi Bobotoh era baheula terpampang nyata di stasiun ini. Anyun mengenang bagaimana sisa uang yang pas-pasan membuat mereka harus memutar otak untuk mengganjal perut yang kelaparan usai laga.
"Dulu kalau pulang jam setengah enam sore, di depan stasiun ada yang jual bacang atau sangu koneng yang tidak laku di stadion. Harganya murah, seribu perak, tapi sangu konengna geus baseuh jeng baleuy (sudah basah dan basi). Da teu boga duit mah dilebok weh lah, emang ripuh jaman dulu mah," kata Anyun.
"Mun Bobotoh zaman 2000 mah rizkina ripuh, sangu koneng basi digas. Beda sama sekarang, kemarin tiket harga Rp2.500.000 aja laku dibeli. Bobotoh sekarang mah loba duitna, edan!" seloroh Anyun.
Tragedi Lapangan Uni Yang Digulung Menara Beton
Lepas dari ingatan keras di Cikudapateuh, rute berjalan menyusuri Gang Katapang Kaler dan Katapang Kulon hingga akhirnya tiba di Jalan Karapitan. Di sinilah para peserta dihadapkan pada sebuah ironi terbesar tata ruang Kota Bandung: eks-Lapangan UNI.
Bagi publik sepak bola tanah air, UNI—singkatan dari bahasa Belanda Uitspanning Na Inspanning yang berarti "beristirahat setelah bekerja"—adalah pabrik talenta legendaris. Lapangan tengah kota ini awalnya berada di Tegalega, sempat pindah ke Alun-alun Bandung, Jalan Jawa, hingga akhirnya menetap lama di Karapitan.
Lapangan ini sangat krusial bagi ekosistem pendidikan atlet lokal. Letaknya yang strategis membuat para pemain muda dengan mudah membagi waktu sekolah mereka di institusi terdekat seperti SMA 7, BPI, PPI, atau Taman Siswa yang dikenal paling longgar memberikan dispensasi latihan.
Namun hari ini, lapangan historis itu telah hilang, berganti wujud menjadi menara-menara beton apartemen yang dibangun senyap tanpa ribut-ribut.

"Siapa yang menyangka tempat ini dulu Lapangan UNI? Sekarang jadi tower-tower apartemen. Kalau pengen tahu Lapangan UNI zaman dulu seperti apa, silakan tonton video klip P-Project lagu 'Cop and Hidden' menjelang Piala Dunia 1994, latarnya ya di sini," kata Eko Maung menunjuk bangunan tinggi di hadapannya.
Bagi Eko, hilangnya lapangan bukan sekadar urusan hilangnya rumput sepak bola, melainkan sebuah kritik keras terhadap tata ruang kota.
"Penting mengenalkan sejarah ini kepada generasi muda agar mereka tahu bahwa kebijakan penguasa itu berdampak langsung pada dinamika sepak bola di suatu kota. Ketika generasi muda ini nanti punya kekuasaan dan duduk di pemerintahan, mereka jangan abai. Jangan sampai gara-gara mal atau apartemen dibangun, anak-anak kehilangan lahan bermain. Mereka harus peduli mencari solusi lain," tegas Eko.
Jalan Asia Afrika: Saat Bobotoh dan Kota Sama-Sama Berubah
Meninggalkan sisa beton apartemen di Karapitan, rombongan bergerak menuju Jalan Asia Afrika. Di sinilah atmosfer perjalanan berubah menjadi lebih pekat saat ingatan beralih pada era toxic supporter zaman dulu.
Jalan Asia Afrika merupakan jalur tradisional kepulangan Bobotoh usai menonton laga di Stadion Siliwangi. Jurnalis foto senior Andri Gurnita (53) membuka kembali lembaran arsip ingatan kolektifnya dari 2002 hingga 2003, saat Persib terseok-seok di bawah asuhan pelatih asal Polandia, Marek Andrzej Sledzianowski, dan nyaris terdegradasi pada pertengahan musim kompetisi.
"Waktu kalah sama Persita Tangerang, Bobotoh melampiaskan kekecewaan dan kesalnya di sepanjang jalan ini. Toko-toko di sepanjang Asia Afrika langsung tutup. Pot-pot bunga beton yang besar di sepanjang trotoar digulingkan semuanya ke tengah jalan oleh massa yang berjalan kaki mengamuk sampai ke Otista, Jamika, dan Mohammad Toha," kenang Andri.
Sebagai fotografer lapangan yang harus mengandalkan insting visual di tengah situasi kacau, Andri mengaku taruhannya bukan hanya foto, melainkan juga keselamatan fisik dan peralatan kerjanya.
"Kita sebagai fotografer harus tetap memfoto meskipun suasana beremosi. Dulu beberapa kali dilarang foto sama Bobotoh yang sedang mengamuk, mereka bilang 'tong difoto, tong difoto!' padahal zaman itu belum ada media sosial. Tapi peristiwa pot-pot digulingkan itu adalah momen mahal yang bernilai tinggi untuk sejarah kota," tambahnya.
Sejak kecil, Andri sudah akrab dengan Persib. Ia kerap diajak dan digendong oleh orang tuanya ke lapangan untuk menonton pertandingan. Dari sanalah sang ayah memperkenalkan satu per satu pemain idolanya.
Dedikasi masa kecil itu berlanjut hingga ia menjadi fotografer yang merekam momen juara Liga Indonesia 1994-1995.
Bagi Andri Gurnita, perjalanan hari itu bukan sekadar mengenang masa lalu. Ia adalah salah satu saksi yang menyimpan ribuan potongan sejarah Persib dalam lensa kameranya.
Pria 53 tahun itu mulai mendokumentasikan Persib sejak pertengahan 1990-an. Dari tribun Stadion Siliwangi yang penuh sesak, pertandingan internal di lapangan-lapangan kecil, hingga momen-momen juara yang membuat Kota Bandung tumpah ke jalanan, semuanya pernah ia abadikan.
"Dulu saya diajak fotografer-fotografer senior ke lapangan. Dari situ terus ikut mendokumentasikan Persib. Sampai sekarang mungkin ribuan foto sudah tersimpan," ujarnya.
"Saya bukan hanya mendokumentasikan foto. Saya sedang mendokumentasikan sejarah klub yang luar biasa," tambahnya

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun sepanjang perjalanan, peserta mulai memahami maksudnya. Sebab banyak tempat yang mereka datangi hari itu sudah berubah wajah. Lapangan hilang. Bangunan berganti fungsi. Bahkan sebagian cerita nyaris lenyap bersama generasi yang mengalaminya.
Foto-foto lama milik Andri menjadi bukti bahwa Bandung pernah memiliki wajah yang berbeda.
Mendengar rentetan cerita masa lalu yang keras itu, Arfi Damayanti tampak tertegun. Sebagai seorang perempuan dan ibu muda, ia mengakui bahwa stigma kekerasan dan kerusuhan di masa lalu itulah yang selama ini menjauhkannya dari sepak bola Bandung.
"Jujur, selama hidup aku belum pernah sekalipun datang langsung ke stadion karena takut kerusuhannya. Stigmanya kan seram banget. Tapi setelah ikut jalan pagi ini dan diceritakan sejarahnya secara detail dari sudut pandang yang berbeda, suasananya jadi terasa seru, lucu, dan unik. Malah sekarang aku ada rencana pengen coba sesekali bawa anak nonton langsung ke stadion, mungkin coba ambil di tribun VIP yang aman," kata Arfi sambil tersenyum.

Savoy Homann dan Pendopo, Menuju Era Profesional
Masih di jalur Asia Afrika, titik henti berikutnya adalah di depan kemegahan arsitektur art deco Hotel Savoy Homann.
Tempat ini bukan sekadar saksi bisu peristiwa politik internasional, melainkan juga saksi sejarah penting dalam transisi manajemen Persib dari era amatir yang bergantung pada APBD menuju era profesional.
Di hotel inilah obrolan dan kesepakatan awal antara tim internal Persib yang saat itu dipimpin Dadak Iskandar dengan pihak konsorsium pertama kali dirumuskan.
Pertemuan penting tersebut melahirkan tiga syarat mutlak yang menjaga marwah dan identitas klub agar tidak dibeli secara membabi buta oleh pemodal. Persib tidak boleh pindah home base, tidak boleh berganti nama klub, dan harus tetap melibatkan orang Bandung dalam struktur pengelolaannya.
Bahkan, di hotel ini pula manajer Yosi Irianto pada 2007 melakukan pembicaraan awal secara tertutup mengenai rencana bergabungnya sejumlah pemain Arema ke Persib Bandung.
Melanjutkan ritme perjalanan dari Savoy Homann, rombongan bergerak menuju Pendopo Kota Bandung.
Jika urusan pemerintahan dan legislatif lazim dibahas di Balai Kota, maka bagi Persib, Pendopo memiliki makna yang jauh lebih khusus.
Eko Maung menjelaskan bahwa pada masa lalu, karena Persib dianggap sebagai milik masyarakat sekaligus kebanggaan Kota Bandung, berbagai keputusan penting mengenai masa depan Maung Bandung kerap dirumuskan di tempat ini.
Pendopo menjadi simbol keterhubungan antara kebijakan pemerintah daerah dengan kehidupan klub sepak bola yang menjadi identitas kota.
Di sinilah kejutan sejarah terungkap melalui penuturan Merdi Hajiji, Direktur Keuangan Persib periode 2008-2009.
Merdi mengingat momen ketika pemerintah pusat melalui Menteri Dalam Negeri mengeluarkan kebijakan bahwa klub sepak bola tidak lagi boleh menggunakan dana APBD.
Pada 2008, Persib dipaksa bertransformasi dari klub amatir menjadi klub profesional.
"Pemerintah mencantumkan kepada saya untuk tidak lagi digembleng oleh pemerintah. Masalahnya, anggaran 20 miliar waktu itu mau dicari dari mana?" kenang Merdi Hajiji.
Di tengah situasi yang serba buntu, seluruh pemangku kepentingan yang dianggap mampu membantu Persib dikumpulkan di Pendopo oleh Wali Kota Bandung saat itu.
Pembentukan PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) sebenarnya telah selesai secara administratif. Namun persoalan terbesarnya sederhana: siapa yang mampu membiayai operasional klub hingga puluhan miliar rupiah setiap musim?
"Di sanalah sejarah Pendopo ini mencatat jasa luar biasa. Siapa nih yang mau dulu? Tanpa berpikir panjang, Pak Umuh Muchtar langsung mengacungkan tangan (ngadu). Karena darahnya sudah Persib dari kecil, beliau pasang badan menyiapkan, walaupun saya yakin waktu itu Pak Umuh juga bingung harus mulai dari mana. Saat saya diangkat jadi direktur keuangan, saya pun sama bingungnya," tutur Merdi.
Dari keberanian itulah Persib mulai menyusun proposal bisnis profesional pertamanya.
Proposal tersebut kemudian dipresentasikan kepada sejumlah investor dan konsorsium, termasuk Erick Thohir yang kala itu ikut menilai kelayakan bisnis klub.
"Proposal bisnis kita dinilai langsung oleh Erick Thohir. Ditanya, prospek bisnisnya apa? Apa benefit buat sponsor? Akhirnya kita tawarkan lima core business," jelas Merdi.
Di hadapan para calon investor, berbagai lini bisnis dibedah. Mulai dari trade player, ticketing, merchandise, hingga TV rights.
Lini terakhir itulah yang kemudian menjadi salah satu penyelamat keuangan Persib.
"Dulu saat saya menjabat, televisi swasta malah meminta biaya ke kita sebesar Rp15 juta kalau Persib mau ditayangkan. Saya balikkan, kita ini sudah PT, mana ada PT bayar ke TV? Saya minta TV yang bayar Rp45 juta ke kita, kalau tidak mau, tidak usah ditayangkan. Akhirnya dari sana TV rights jadi salah satu pemasukan utama," tegas Merdi.
Namun Pendopo tidak hanya menyimpan cerita bisnis.
Tempat ini juga menyimpan memori euforia juara Liga Indonesia pertama musim 1994-1995.
Merdi yang saat itu masih berstatus mahasiswa mengaku ikut larut dalam perayaan besar tersebut.
Berbeda dengan stigma suporter masa kini, ia menilai Bobotoh era itu memiliki ikatan persaudaraan yang kuat.
"Dulu zaman '95 saya ikut pelakunya. Setiap ada meteran listrik di jalan pasti dimatikan (dipareuman), ada pot bunga digulingkan, ada yang bawa pilok dicoret-coret. Tapi anehnya, tidak ada yang marah, tidak ada yang gelut atau saling sikut antar-Bobotoh. Slogannya satu: Persib eleh, dek menang, tetep Persib nu aing. Rasa dulur itu yang jadi kekuatan luar biasa," kenangnya.

Patung Sepak Bola dan Mitos Ajat Sudrajat
Meninggalkan Pendopo, rombongan melangkah menyusuri Jalan Braga lalu mengarah ke Simpang Tamblong.
Di sudut jalan yang sibuk itu berdiri sebuah ikon yang sangat akrab bagi warga Bandung: Patung Sepak Bola.
Di titik ini, para interpreter meluruskan satu disinformasi yang sudah lama beredar di masyarakat.
"Banyak orang, terutama anak-anak muda atau wisatawan, salah mengartikan patung ini. Banyak yang mengira dan menyebutnya sebagai Patung Ajat Sudrajat," ujar Eko Maung.
Padahal secara historis, patung tersebut merupakan karya seniman Nyoman Nuarta yang dibuat atas inisiatif Pemerintah Kota Bandung sebagai simbol bahwa Bandung adalah kota sepak bola.
Wajah dan postur pemain yang digambarkan di sana bersifat anonim dan universal. Patung itu tidak pernah dimaksudkan untuk merepresentasikan Ajat Sudrajat secara personal, meskipun nama Ajat memang sangat identik dengan sepak bola Bandung pada era tersebut.
Finis Di Stadion Siliwangi: Persib Sebagai Kebutuhan Primer
Sebelum mencapai garis akhir, rombongan sempat melewati Jalan Bali, lokasi Mess Persib lama berdiri.
Tempat itu dahulu menjadi tujuan para Bobotoh yang ingin bertemu langsung dengan pemain idolanya.
Anyun Cadel mendadak emosional ketika mengenang masa-masa menunggu pemain Persib pulang latihan.
"Saat waktu sekolah dulu, saya diam saja di sini karena pengen ketemu pemain Persib. Dulu habis latihan di Lapangan Siliwangi, para pemain suka berjalan kaki menuju mess. Nah, di situlah saya setia menunggu mereka lewat," kenangnya.
Perjalanan panjang sejauh lima kilometer yang menguras fisik itu akhirnya berakhir di Stadion Siliwangi.
Beberapa peserta tampak kelelahan. Bahkan Eko Maung mengaku ada dua peserta yang terpaksa menyerah dan pulang lebih awal di tengah perjalanan.
Namun bagi mereka yang mampu bertahan hingga akhir, berdiri di depan Stadion Siliwangi seolah menjadi cara untuk menyatukan seluruh potongan cerita yang terserak dari Sidolig hingga pusat Kota Bandung.
Di akhir perjalanan, Eko Maung merenungkan arti penting Persib bagi kota yang melahirkannya.
Bagi Eko, Persib bukan lagi sekadar hiburan selama 90 menit di lapangan hijau.
"Persib mah kebutuhan primer euy buat warga Bandung. Bandung ini kan permasalahannya kompleks; dari infrastruktur, transportasi umum, pengangguran, sampai pendidikan. Nah, Persib itu sebetulnya instrumen yang bisa meninabobokan, bisa membuat suasana mood warga Bandung kembali ceria dan bahagia," pungkas Eko.
Napak tilas hari itu membuktikan satu hal. Bandung boleh terus bersolek dengan trotoar estetis dan gedung-gedung tinggi, tetapi esensi sebuah kota terletak pada kemampuannya merawat ingatan.
Bobotoh Story Walk berhasil menghidupkan kembali memori yang nyaris tenggelam oleh perubahan zaman. Ia mengingatkan bahwa di balik aspal yang diinjak warga setiap hari, tersimpan keringat, tawa, luka, dan identitas yang membentuk Bandung seperti yang dikenal hari ini.