Beranda

Lembur Jurig, Hiburan Murah Warga Maleer di Tengah Himpitan Ekonomi

Oleh: Gilang Fathu Romadhan
Karang Taruna Maleer berpose sebelum beraksi menakut-nakuti warga dalam wahana Lembur Jurig. (Foto: Indra)

AYOBANDUNG.ID - Belakangan ini, lima ribu rupiah nyaris tak cukup untuk membeli banyak hal. Sepiring makanan saja sering kali tak terpenuhi, begitu pula ongkos perjalanan. Kondisi ini dipicu melemahnya nilai rupiah serta kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Di tengah situasi tersebut, berlibur menjadi sesuatu yang tak lagi mudah diwujudkan oleh masyarakat menengah ke bawah. Mereka lebih memilih memprioritaskan kebutuhan sehari-hari.

Namun, di kawasan RW 04 Kelurahan Maleer, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, lima ribu rupiah masih memiliki makna berbeda. Uang dengan nominal sekecil itu menjadi tiket menuju lorong yang dipenuhi suara jeritan, tawa, dan sosok-sosok menyeramkan.

Jalan selebar satu mobil yang berdampingan dengan kompleks pemakaman itu berubah wajah pada Sabtu malam, 27 Juni 2026. Lampu dibuat redup, jalan didekorasi agar tampak mencekam, sementara para pemuda berdandan layaknya makhluk dari kisah-kisah horor.

Mereka menamainya Lembur Jurig, sebuah wahana hantu yang dibangun bukan di dalam gedung, melainkan memanfaatkan gang permukiman yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan warga.

Salah seorang pengunjung, Annisa (38), mengaku kondisi ekonomi keluarganya sedang tidak stabil akibat naiknya harga bahan pokok dan BBM. Akibatnya, ia dan sang suami harus memutar otak untuk mengelola keuangan, situasi yang cukup membuatnya tertekan.

Apalagi, ia jarang membawa kedua anaknya berlibur ke tempat hiburan. Kehadiran Lembur Jurig di dekat rumah membuatnya tak ingin melewatkan kesempatan mengajak buah hatinya menikmati wahana tersebut.

"Jenuh kita sebagai orang dewasa ya, harga pada naik, BBM juga, jadi harus berhemat. Saya jadi jarang ajak anak bepergian. Pas ada ini [Lembur Jurig] akhirnya saya ajak anak-anak. Lumayan hiburan murah," ucapnya.

Ide menghadirkan wahana horor di kawasan Maleer muncul dari para pemuda Karang Taruna yang melihat lingkungan mereka memiliki karakter berbeda. Alih-alih menutupi keberadaan makam, mereka justru menjadikannya sebagai bagian dari pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung.

"Mungkin aspirasi dari teman-teman Karang Taruna. Kebetulan situasi di sini memang kompleks makam juga. Bukan menambah sensasi, tapi supaya pandangan orang jangan sampai takut ke makam," kata Ketua RW 04 Kelurahan Maleer, Djoko Purnomo.

Wahana horor Lembur Jurig di kawasan Maleer, Batununggal, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Menurutnya, nama Kampung Jurig memang terdengar menyeramkan. Namun, pesan yang ingin disampaikan justru sebaliknya, yakni mengubah rasa takut menjadi ruang belajar dan kreativitas.

Lembur Jurig bukan sekadar tempat mencari sensasi. Kegiatan itu juga menjadi panggung bagi anak-anak muda untuk menunjukkan bahwa kreativitas dapat lahir dari lingkungan sederhana dengan modal terbatas.

Seluruh wahana dibangun secara swadaya. Mulai dari dekorasi, kostum, hingga properti dibuat semampunya oleh warga tanpa dukungan anggaran besar.

"Tadinya pengennya kalau ada stan, yang buka dagangan juga pakai dandanan menyeramkan. Cuman dari anggarannya tidak mendukung, jadi apa adanya dulu kita jalankan," tuturnya.

Panjang wahana horor tersebut sekitar 30 meter. Pengunjung akan disuguhi berbagai sosok menyeramkan, mulai dari pocong, kuntilanak, hingga tuyul. Beberapa adegan kejutan pun disiapkan untuk memacu adrenalin.

Saat memasuki area, pengunjung harus melewati kain hitam yang berfungsi sebagai pintu masuk. Setelah itu, mereka akan menyusuri gang yang telah disulap menjadi wahana hantu dengan suasana gelap dan mencekam.

Pada beberapa titik, pengunjung akan dikejutkan oleh sosok-sosok yang tiba-tiba muncul. Untuk menambah keseruan, penyelenggara juga menyiapkan misi berupa menyalakan lilin.

Meski sederhana, antusiasme masyarakat terus mengalir. Pengunjung cukup membayar Rp5.000 untuk menyusuri lorong sepanjang puluhan meter yang dipenuhi kejutan dari para pemeran hantu.

Harga tiket itu sengaja dibuat serendah mungkin agar semua kalangan dapat menikmati hiburan tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

"Di tiket, tiketnya Rp5.000 per orang," kata Djoko.

Hasil penjualan tiket pun tidak berhenti sebagai pemasukan sesaat. Seluruhnya dikelola kembali untuk membiayai kegiatan Karang Taruna agar para pemuda memiliki ruang berkarya tanpa terus bergantung pada bantuan pihak lain.

"Kebetulan komitmen dari anak Karang Taruna dikelola untuk kepentingan Karang Taruna, untuk kegiatan-kegiatan lainnya. Seperti 17-an biar tidak ngamen," ujarnya.

Di balik suasana horor itu, tersimpan pula harapan untuk menghidupkan kembali perputaran ekonomi warga. Sebelum pandemi COVID-19, kawasan tersebut dikenal memiliki banyak pelaku UMKM yang tumbuh pesat melalui penjualan daring, meski sebagian kini telah berhenti berusaha.

Karena itu, Djoko berharap Lembur Jurig ke depan tak hanya menghadirkan wahana horor, tetapi juga deretan stan yang menjual makanan dan produk buatan warga. Gang tersebut diharapkan menjadi ruang bertemunya hiburan dan aktivitas ekonomi.

"Kalau sudah ada stan, pengennya yang jualan juga berdandan seram. Jadi dari gedung serbaguna sampai ke sini nuansanya horor semua," harapnya.

Antusiasme warga Kelurahan Maleer, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung menjajal wahana gang hantu, Sabtu (27/6). (Foto: Indra)

Gagasan tersebut mendapat dukungan dari pencetus Lembur Jurig, Indra Lesmana. Setelah lebih dulu menghadirkan konsep serupa di Kiaracondong, ia melihat Maleer memiliki karakter yang sulit ditemukan di tempat lain karena berada tepat di samping kompleks pemakaman.

"Konsep kita memang pengennya di dalam gang. Biar beda dari rumah hantu yang biasanya di dalam ruangan. Gang yang ada kita sulap jadi benar-benar gang seram," ujarnya.

Bagi Indra, suasana horor hanyalah pintu masuk untuk menghadirkan pengalaman yang terus berubah. Setiap dua pekan, tema cerita dan jalur permainan akan berganti agar pengunjung selalu menemukan sesuatu yang baru saat kembali datang.

Kali ini tema yang diusung bertajuk "Astana Murka". Astana merupakan bahasa Sunda untuk menyebut pemakaman, sementara Murka berarti amarah. Dalam ceritanya, hantu-hantu yang bergentayangan marah karena pengunjung melanggar aturan yang berlaku.

"Jadi peserta berperan sebagai orang-orang atau sekelompok orang yang melanggar aturan dari tempat ini, mengambil sesuatu, akhirnya membangkitkan amarahnya si jurig-jurig di sini.

Makanya misi dari peserta ini kan yang pertama itu mengembalikan kembali barang. Kalau sekarang misinya adalah untuk menyalakan lilin," tuturnya.

Di tengah tekanan ekonomi yang membuat hiburan semakin terasa mahal, Lembur Jurig menunjukkan bahwa kreativitas dapat lahir dari keterbatasan. Warga Maleer membuktikan rasa takut bisa diolah menjadi ruang kebersamaan sekaligus secercah harapan bagi ekonomi masyarakat sekitar.

"Ini hiburan di tengah tekanan ekonomi yang di mana nilai rupiah turun, harga bensin naik. Ini hiburan murah yang bisa didapatkan oleh seluruh kalangan masyarakat," ucapnya.

Reporter Gilang Fathu Romadhan
Editor Andres Fatubun