Komunitas

Bandung Berpuisi Buka Panggung, Siapa Saja Bisa Bersuara Lewat Kata

Oleh: Ilham Maulana Senin 13 Apr 2026, 05:25 WIB
Puluhan penampil memeriahkan Open Mic Vol. 17 Bandung Berpuisi untuk mengekspresikan karya dan merayakan puisi secara langsung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Akhir pekan lalu, Komunitas Bandung Berpuisi menggelar acara pembacaan puisi terbuka bertajuk Open Mic Vol. 17 di Toko Buku Pelagia. Kegiatan ini menghadirkan puluhan pembaca puisi serta menjadi ruang ekspresi bagi masyarakat yang ingin menampilkan karya sastra secara langsung.

Koordinator Bandung Berpuisi, Beni Anwar atau yang akrab disapa Eben, mengatakan acara kali ini mengangkat tema perang. Tema tersebut, menurutnya, juga menjadi respons terhadap situasi geopolitik global, meskipun peserta tetap diberi kebebasan dalam menulis karya mereka.

“Temanya perang, mungkin juga merespons situasi geopolitik sekarang. Tapi sebenarnya sangat bebas. Orang bisa menulis tentang hal besar sampai hal kecil dalam kehidupannya,” kata Eben.

Dalam kegiatan tersebut, panitia menghadirkan sekitar 30 penampil. Sebanyak 10 di antaranya merupakan penampil utama yang sebelumnya telah melalui proses kurasi karya dan diterbitkan dalam bentuk zine. Sementara itu, peserta lainnya tampil melalui sesi open mic yang terbuka bagi siapa saja.

“Yang lolos kurasi itu jadi penampil utama dan karyanya diterbitkan dalam zine. Sisanya open mic, siapa pun yang datang dan ingin membaca puisi bisa langsung tampil,” ujarnya.

Menurut Eben, kegiatan ini bertujuan untuk menghadirkan puisi lebih dekat dengan masyarakat. Selama ini, puisi kerap dianggap sebagai karya sastra yang eksklusif dan hanya dinikmati kalangan tertentu.

“Tujuannya untuk memperlebar ruang kata dan membumikan puisi. Selama ini puisi seperti ada di menara gading,” katanya.

Salah satu pembaca puisi yang tampil, Arini Djayanti (34), mengaku tertarik mengikuti kegiatan tersebut karena kecintaannya terhadap puisi sejak kecil. Ia bahkan datang dari Tasikmalaya untuk mengikuti acara tersebut.

“Puisi selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi saya. Ketika ada acara puisi dan saya punya kesempatan hadir, saya pasti datang,” ujarnya.

Menurut Arini, ruang ekspresi seperti yang disediakan oleh komunitas ini penting bagi para penikmat sastra.

“Bandung menurut saya sangat hidup untuk sastra, sementara di kota kecil, ruang seperti ini masih relatif senyap,” katanya.

Antusiasme juga datang dari para penonton. Salah satunya Salman Reynaldi (23), mahasiswa yang datang untuk menikmati pembacaan puisi secara langsung.

“Perasaan yang muncul itu senang. Kadang saya juga terbawa emosi oleh teman-teman yang membacakan puisi,” kata Salman.

Menurutnya, kegiatan seperti ini membuat puisi terasa lebih dekat dengan masyarakat karena menghadirkan suasana yang lebih intim.

“Acara yang intim seperti ini membuat puisi terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Reporter Ilham Maulana
Editor Andres Fatubun