Komunitas

Lewat Kearifan Lokal, Komunitas Cika-Cika Konsisten Jaga Ekosistem Sungai Selama 17 Tahun

Oleh: Halwa Raudhatul Selasa 21 Apr 2026, 15:51 WIB
Pengunjung beraktivitas di bantaran Sungai Cikapundung, Cikalapa pada Minggu 19 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Di tepi Sungai Cikapundung Bandung, khususnya di area Cikalapa, suara gemericik air mengalir berpadu dengan embusan angin yang sejuk menyapa setiap orang yang datang ke bantaran.

Setelah menuruni jalan yang landai dan melewati sebuah jembatan, berdiri semacam gapura sederhana terbuat dari bambu yang bertuliskan “Cika Cika”, ikon penanda sebuah ruang yang diciptakan dari kepedulian.

Lokasi ini lebih dari sekadar ikon atau kegiatan seremonial belaka, melainkan buah dari perjalanan panjang sekelompok warga yang memilih untuk tidak tinggal diam saat menyaksikan Sungai Cikapundung yang kian tercemar setiap tahunnya.

Awalnya, semua bermula pada tahun 2009 dari kebiasaan sederhana warga yang sering berkumpul, berbagi, dan makan bersama di bantaran Sungai Cikapundung. Orang Sunda menyebutnya dengan istilah ngaliwet. Di tengah kebiasaan tersebut, mereka mulai menyadari bahwa kondisi sungai semakin memburuk dengan bertambahnya sampah yang hadir di setiap alirannya.

“Kita teh suka kumpul, ngaliwet bareng. Terus lihat sungai kok banyak sampah, nggak terawat,” kata petugas Hubungan Masyarakat (Humas) Komunitas Cika Cika, Iin Ina Marsina (60) saat ditemui di sela kegiatan di Komunitas Cika Cika, Minggu 19 April 2026.

Iin Ina Marsina mengatakan bahwa konsistensi merawat bantaran sungai selama 17 tahun mampu mengubah keresahan menjadi cahaya bagi lingkungan dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Dari kekhawatiran ini, tujuh orang yang diketuai oleh Mamat Rosidi menjadi penggerak awal cikal bakal Komunitas Cika Cika ini lahir. Mereka mulai mengambil langkah kecil dengan membersihkan sungai secara mandiri. Aktivitas yang dimulai secara spontan itu perlahan menjadi rutinitas setiap pekan hingga sekarang.

“Barulah tepatnya tanggal 22 Desember 2012 kita membentuk Komunitas Cika Cika,” ucap Iin dengan suaranya yang tidak begitu keras, seakan berlomba dengan suara aliran sungai.

Dari Keresahan Jadi Aksi Nyata

Nama Cika Cika dipilih bukan tanpa arti, melainkan berasal dari daerah di mana komunitas ini berada, yakni Cikalapa yang dialiri oleh Sungai Cikapundung. Jadi, dinamakan Cika Cika, Cikapundung Cikalapa. Cika cika juga berasal dari bahasa Sunda yang artinya kunang kunang. Nama ini juga mencerminkan filosofi yang mewakili semangat mereka dalam menjaga lingkungan. “Cika cika itu kunang kunang,” kata Iin. “Walaupun kecil, tapi bisa memberi cahaya untuk banyak orang,” lanjutnya sambil menatap tersenyum.

Makna ini menjadi simbol dari gerakan komunitas yang mungkin terkesan kecil, namun memberikan dampak luas. Seiring berjalannya waktu, gerakan tersebut mulai menunjukkan perubahan signifikan di area bantaran Sungai Cikapundung.

“Dulu volume sampahnya tinggi, nggak terawat, dan warga jarang lewat sini,” kata Iin sambil menunjuk sisi bantaran. Perubahan ini dirasakan tidak hanya dalam aspek lingkungan, tapi juga dalam kehidupan sosial masyarakat. Tepi sungai yang dulunya dihindari kini menjadi area bersama yang digunakan warga untuk berbagai aktivitas sehari hari. Kehadiran komunitas ini menjadi titik perubahan dalam hubungan masyarakat dengan lingkungan sekitar melalui berbagai kegiatan yang mereka jalankan.

Merawat Sungai, Menghidupkan Warga

Sebagai komunitas yang peduli lingkungan, Cika Cika memiliki perhatian utama pada pelestarian tepi sungai. Kegiatan rutin seperti pembersihan sungai diadakan setiap akhir pekan, bahkan tetap berlangsung meski hanya diikuti oleh beberapa orang.

“Mau satu orang, dua orang, tetap jalan. Yang penting konsisten,” kata Iin. “Kita fokusnya menjaga, merawat bantaran sungai, sama mengurangi volume sampah yang ada di sungai,” lanjutnya.

Selain kegiatan langsung, komunitas ini juga melaksanakan berbagai program yang berbasis pada konservasi, edukasi, dan sosialisasi. Melalui tiga program utamanya yakni, paket edukasi lingkungan, Imah Maggot Bantaran (IMB), dan Pasar Sisi Walungan (Pasiwa).

Penanda Komunitas Cika-cika di bantaran Sungai Cikapundung, di kawasan Cikalapa Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Paket edukasi lingkungan ini adalah program yang dijalankan Komunitas Cika Cika untuk memutar roda perekonomian warga melalui edukasi yang ditujukan bagi pelajar hingga akademisi, yang mengajak mereka untuk belajar langsung di alam.

“Kita ada paket edukasi wisata alam, dari TK sampai SMA, bahkan akademisi juga,” ucap Iin. “Kalau akademisi biasanya kita ajak clean up sungai,” tambahnya. Dalam program ini, peserta tidak hanya diperkenalkan pada ekosistem sungai, tetapi juga dilibatkan dalam praktik seperti ecoprint hingga kegiatan pembersihan. Pendekatan ini menjadikan proses belajar lebih relevan dan membangun kesadaran sejak dini.

Program kedua yakni Imah Maggot Bantaran (IMB), pengolahan sampah organik lewat budidaya maggot. Melalui program ini, Komunitas Cika Cika dapat mengelola puluhan kilogram sampah setiap harinya.

“Sampah organik kita olah pakai maggot. Sehari kita bisa kasih pakan sampai 75 kilo sampah,” ucap Iin. “Dalam sebulan bisa mengurangi sampai 1 ton sampah organik. Hasilnya jadi pupuk organik lagi,” lanjutnya.

Program ketiga yakni, Pasar Sisi Walungan (Pasiwa), sebuah ruang ekonomi yang berbasis lingkungan dan melibatkan masyarakat setempat. Hal yang menarik di sini adalah transaksi dilakukan dengan menggunakan koin yang terbuat dari bambu dan kayu dari sekitar sungai. Seluruh konsepnya dirancang untuk ramah lingkungan, baik pada pengunjung dan penjual untuk sama sama membuang sampah pada tempatnya dan sesuai jenisnya.

“Di sini kita pakai koin, satu koin Rp5.000, dan pedagang juga harus paham soal lingkungan,” ujar Iin.

Hal menarik lain dari Pasiwa ini adalah produk yang dijual berupa kuliner khas tradisional yang sebagian besar menggunakan alas pelepah daun pisang untuk wadahnya. Contohnya seperti ulen oncom, kupat tahu, dan lotek. Namun, jajanan zaman sekarang seperti dimsum dan air perasa juga tetap disuguhkan di sini.

Membersihkan sungai lalu menikmati jajanan tradisional sambil menatap gemercik aliran sungai sungguh menjadi pilihan menarik untuk menghabiskan akhir pekan dari hiruk pikuk kota yang tiada habisnya. Lewat program program ini, Cika Cika tidak hanya fokus pada masalah lingkungan, tetapi juga berusaha menciptakan ekosistem sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.

Sungai Cikapundung yang menjadi obyek lindungan Komunitas Cika-cika dalam 17 tahun terakhir. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Tantangan 17 Tahun Menjaga Bantaran Sungai

Di balik berbagai pencapaian itu, perjalanan komunitas ini tidak lepas dari berbagai tantangan yang rumit. Walaupun sudah hadir selama 17 tahun hingga kini, salah satu rintangan terbesar adalah mengubah pola pikir warga yang masih terbiasa membuang sampah sembarangan.

“Tantangan paling berat itu mengubah pola pikir masyarakat,” kata Iin sambil menunjukkan raut keluhnya. “Mungkin karena mereka ada di hulu sungai, jadi nggak begitu ngerasain dampaknya. Tapi, kan, yang di hilir gimana? Kasihan,” ucap Iin.

Meskipun demikian, semangat komunitas ini tetap dijaga hingga 17 tahun lamanya hingga saat ini. Mereka terus melangkah, bahkan dengan keterbatasan, dengan keyakinan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah yang kecil.

“Kalau nunggu bantuan terus, nggak akan selesai. Yang penting kita lakukan dulu semampunya,” ucap Iin tertawa pasrah.

Reporter Halwa Raudhatul
Editor Andres Fatubun