Ayo Biz

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Oleh: Aris Abdulsalam
Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.COM — Bunyi palu kecil beradu dengan bahan kulit di lorong sempit workshop kawasan Cibaduyut, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Selasa (26/5/2026). Saat itu Ayobandung.id bertemu dengan Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik Koku Footwear, dan mengamati proses menjahit sepatu yang sudah ia geluti lebih dari satu dekade.

Indra sebetulnya bukan orang yang "seharusnya" ada di workshop itu, jika meninjau "di atas kertas". Ia menempuh S1 Sastra Inggris di Universitas Kristen Maranatha, lalu melanjutkan S2 Pendidikan Bahasa Inggris di UPI.

Bagaimanapun Cibaduyut sudah menarik minatnya jauh sebelum mendapat ijazah kuliah. Ia kerap bermain ke rumah teman kecilnya yang orang tuanya berprofesi sebagai perajin sepatu, dan dari segenap kunjungan itu ia memupuk rasa penasaran yang lama-lama menjelma tekad.

"Pemilihan nama merek 'Koku' itu sederhana, karena mirip aja pelafalannya seperti 'kaki'. Jadi supaya gampang diingat mereknya, namanya Koku," kata Indra di Taman Cibaduyut Endah.

Indra memulai usahanya dengan modal Rp200.000. Ia membawa modal terbatas ini ke perajin Cibaduyut untuk membuat sepasang sepatu pertama. Ia memotret produk sepatu pertamanya, lalu mengunggahnya ke Kaskus dan Facebook sebagai cara promosi paling realistis yang kala itu.

"Pas awal bikin sepatu itu saya masih kuliah S2, tidak laku, sebab harganya tergolong mahal Rp300 ribu untuk saat itu tahun 2009. Setelah lulus kuliah, saya coba pasarkan di Kaskus, masih sepi juga di tahun pertama. Barulah di tahun kedua ada pesanan pre-order, dan di tahun ketiga saya memberanikan diri untuk buka bengkel sepatu sendiri, dengan pegawai sekitar 4 orang," kenangnya.

Mau tak mau, sebab pengalaman pahit mencari vendor yang bisa dipercaya (sepanjang 2010 hingga 2012), Indra membuka workshop sendiri.

"Cari vendor yang amanah itu susah. Sering kali kepercayaan pembeli terhadap Koku Footwear terhambat karena ada saja gangguan produksi dari vendor. Akhirnya saya bikin sendiri," ujarnya.

Hasil keputusan itu terbukti lebih baik dalam jangka panjang. Koku Footwear kini mempekerjakan sekitar 33 perajin dan 5 karyawan pemasaran di dua workshop dan satu toko, semuanya tetap berbasis di kawasan Cibaduyut, naik dari 4 orang di awal berdirinya.

"Salah satu tujuan saya buka wirausaha berangkat dari keinginan agar warga lokal lebih sejahtera. Upah pegawai sepatu di Cibaduyut sejak dulu lazimnya kecil dan jauh dari UMP, tidak ada THR. Oleh karena itu, saya menekankan Koku Footwear untuk menyejahterakan mereka, membayar upah lebih layak, dengan jaminan THR," lanjutnya.

Kualitas menjadi fondasi lain yang tak Indra tawar. Koku Footwear tetap mempertahankan teknik hand welting dan blake stitch, metode jahit kelas atas yang dulu menjadi ciri khas perajin Cibaduyut, dengan bahan kulit dari Cianjur dan Garut. Harga produknya berkisar Rp800 ribu hingga Rp2,5 juta, bahkan bisa mencapai belasan juta untuk pesanan kustom. Sejak 2015, sekitar 10 persen produksinya sudah menembus pasar ekspor di kawasan Asia Tenggara.

Etalase di Layar Gawai

Perajin sepatu Koku Footwear di Cibaduyut, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Dalam pertemuan kedua dengan ayobandung.id, Indra bercerita bahwa Kaskus dan Facebook dahulu menjadi andalan. Tetapi sejak 2017 Koku Footwear mulai serius menggarap marketplace, dan Shopee menjadi salah satu kanal utamanya.

"Iya, kami berjualan di banyak marketplace, terutama Shopee. Mulai aktifnya di sekitar tahun 2017," tutur Indra.

Perpindahan itu mengubah struktur bisnis mereka secara signifikan. E-commerce kini mendominasi hingga 70 persen dari omzet bulanan Koku Footwear.

"Untuk saat ini e-commerce mendominasi omzet bulanan sekitar 70 persen dari keseluruhan," ungkap Indra.

Angka tersebut menjadi lompatan besar dari era ketika penjualan masih mengandalkan transaksi tatap muka dan promosi manual di forum daring. Selain itu, fitur promosi dan afiliasi memberi dampak paling terasa bagi Indra.

"Fitur paling membantu penjualan kami adalah promosi dan affiliate. Lewat promo ini kami bisa mengikuti promo mega/big campaign agar bisa mendapatkan traffic dan conversion rate yang lebih besar. Selain itu, kami terbantu dengan fitur affiliate yang memudahkan kami untuk bekerja sama dengan para influencer dalam memasarkan produk kami," jelas Indra.

Dalam ihwal yang bikin semringah, momen paling berkesan baginya pun datang dari luar negeri.

"Hal yang paling berkesan adalah kami bisa menjual produk kami ke luar negeri dengan menggunakan fitur Shopee International," ujarnya, sesuatu yang dulu terasa jauh ketika ia hanya mengandalkan unggahan foto di Kaskus untuk menjangkau pembeli.

Kendati demikian, tidak segalanya hadir sempurna, digitalisasi juga membawa konsekuensi. Masih ada beberapa masalah yang tersisa, sebagian memang bisa diatasi secara kompromi, sementara lainnya cukup menjengkelkan akibat perbuatan pihak tak bertanggung jawab.

"Kendala yang paling utama adalah perbedaan persepsi antara pembeli dan barang yang dipesan. Selain itu, yang paling mengganggu ialah maraknya pembeli fiktif dan bom COD," aku Indra.

Dua kendala tersebut (pembeli fiktif dan bom COD) menurutnya masih menjadi pekerjaan rumah bagi banyak pelaku UMKM yang berjualan daring.

Wajah Baru Ekonomi Indonesia

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik Koku Footwear (produsen sepatu kulit) di Taman Cibaduyut Indah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Kisah Koku Footwear menggambarkan pergeseran besar yang sedang terjadi di ekonomi Indonesia. Sektor UMKM menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional, setara Rp9.580 triliun, dan menyerap sekitar 97 persen dari total tenaga kerja di Indonesia, menurut data yang berulang kali Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian Koperasi dan UKM publikasikan.

Dalam pendataan UMKM secara daring, Komdigi menyebut per Mei 2024, sekitar 25,45 juta dari total lebih dari 64 juta unit UMKM di Indonesia telah terhubung ke ekosistem digital. Lalu pada 2026 Komdigi menyatakan hampir seluruh UMKM telah terhubung dengan internet, dengan tingkat konektivitas wilayah berpenduduk telah mencapai sekitar 98 persen.

Meski begitu, memasuki 2026 pula, Komdigi menilai akses internet bukan lagi persoalan utama bagi UMKM. Pemerintah kini justru mengarahkan perhatian pada produktivitas, daya saing, dan terciptanya pasar digital yang lebih adil bagi UMKM.

Cerita Koku Footwear pun menjadi relevan pada perkembangan UMKM di ranah daring. Bisnis ini merupakan salah satu contoh nyata pergeseran dari forum jual-beli sederhana macam Kaskus ke ekosistem marketplace yang matang bisa mengubah skala bisnis secara signifikan, dari yang tadinya hanya mengandalkan pembeli lokal, menjadi menembus pasar mancanegara lewat fitur ekspor lintas batas.

Data pertumbuhan Shopee Indonesia juga menggambarkan perkembangan tersebut. Sepanjang 2023, lebih dari 500 ribu penjual UMKM bergabung dengan Shopee. Pada periode 2020 hingga 2023, pendapatan UMKM di platform tersebut tumbuh hingga 30 persen secara tahunan. Pada semester pertama 2024, Shopee mencatat penjualan produk UMKM dan brand lokal melalui fitur Shopee Live meningkat lebih dari 13 kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Monica Vionna, Senior Director of Marketing Growth Shopee Indonesia, mengatakan Shopee terus mendukung pelaku usaha lokal melalui berbagai program, fitur interaktif, dan pelatihan.

Koku Footwear juga memanfaatkan ekosistem digital tersebut untuk memperluas pasar. Koku Footwear menggunakan fitur live shopping dan program afiliasi untuk menjangkau lebih banyak konsumen. Kedua kanal tersebut membantu Koku Footwear memperkenalkan produknya kepada konsumen di dalam dan luar negeri.

Ekspor menjadi salah satu titik singgung yang paling terasa. Dalam keterangan resminya, Shopee Indonesia memaparkan bahwa Program Ekspor Shopee telah mengantarkan lebih dari 90 juta produk UMKM lokal terjual ke berbagai negara di Asia Tenggara, Asia Timur, hingga Amerika Latin, sejak program tersebut diluncurkan pada 2019.

Dampak positif dari ekosistem marketplace itulah yang mendorong lonjakan omzet Koku Footwear, dari sekitar Rp1 miliar per tahun sebelum pandemi, menjadi stabil di kisaran Rp3 miliar pada 2023 hingga kini (pernah mencapai puncak angka Rp4,9 miliar pada 2024).

***

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Indah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Kesuksesan sudah tergapai. Walakin, Indra masih menyimpan kegelisahan. Cibaduyut hari ini bukan lagi Cibaduyut yang ia kenal di masa kecil. Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat mencatat, jumlah perajin yang dulu ramai mencapai ratusan kini menyusut menjadi sekitar 50 perajin saja. Kebangkrutan produsen bahan baku sol kulit lokal di Magetan dan Malang sejak 2022 memaksa para perajin, termasuk Koku Footwear, beralih ke bahan impor.

"Sayangnya, Cibaduyut yang terkenal akan industri sepatu kulit ini tidak didukung oleh pendidikan formal terkait. Bahkan dahulu Cibaduyut terkenal oleh banyaknya perajin sepatu kelas Italia (blake stitch). Harapan saya, jika bisa didukung oleh pemerintah, adakan sekolahnya di Bandung, seperti di Yogyakarta, semacam politeknik industri kulit. Industri sepatu di Bandung ini selalu jadi barometer tertinggi secara nasional, baik model ataupun kekuatan tahan lamanya, jadi sangat memprihatinkan jika kian lama malah menuju kematian," tutur Indra.

Bagi Indra, digitalisasi lewat marketplace bukan sekadar soal menaikkan omzet pribadi. Ia menjadikannya alat untuk mempertahankan sesuatu yang sedang merapuh di Cibaduyut yaitu keahlian tangan para perajin sepatu kulit tengah kehilangan penerusnya. Kini, di sentra industri itu, juga bermunculan produsen yang lebih memilih bahan kulit imitasi, tapi Koku Footwear bergeming pada barometer kualitasnya. (*)

Reporter Aris Abdulsalam
Editor Aris Abdulsalam