Sejarah dilahirkan kembali, setiap helai kain berayun membawa cerita: tentang tangan yang menenun, tentang leluhur yang menjaga, tentang asal jati diri tanah sunda dan identitas yang tidak pernah pudar. Mojang Jajaka menapaki lintasan waktu, mempertemukan tradisi dan modernitas dalam satu tarikan napas pada West Java Festival, di Kiara Artha Park, Jalan Banten, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, Jawa Barat, Minggu (9/11/2025).
Festival budaya terbesar di Jawa Barat kembali merayakan tradisi yang terus bernapas di tengah arus modernitas melalui fashion show tradisional baju adat yang menjadi sorotan West Java Festival (WJF). Mengusung tema “Gapura Panca Waluya”, West Java Festival menjelma menjadi panggung raksasa yang yang berdenyut dengan warna, seni rupa, dan pesan budaya yang kaya makna.
Angela Aura Rahma selaku perwakilan Mojang Jajaka mencuri perhatian publik dengan kebaya berwarna putih gading dipadu dengan kain batik bermotif bunga tanjung melambangkan kesucian. Busana itu menjadi representasi keanggunan perempuan Jawa Barat, sederhana namun penuh makna filosofis.
“Kebaya ini bukan sekadar busana, tapi warisan yang membuat saya merasa terhubung dengan siapa diri saya. Saya berharap, lewat kebaya ini generasi muda bisa melihat bahwa adat bukan hal kuno, tapi bagian dari siapa kita,” ujar Angela saat diwawancarai di area backstage usai tampil.
Dalam alunan gemuruh musik tradisional, kilau lampu menyentuh permukaan kain deretan kebaya dan busana adat dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat yang tampil memukau menggabungkan masa lalu dan masa kini. Fashion show baju adat ini menjadi bukti bahwa kesenian tradisional tidak hanya bisa dipamerkan di museum, tetapi juga dapat hidup di panggung modern.
Fajar Ramdhani, Salah satu panitia West Java Festival 2025, mengungkapkan bahwa fashion show tradisional baju adat ini menjadi bentuk nyata bagaimana budaya bisa terus hidup ditengah kemajuan zaman.
“Kami ingin masyarakat melihat bahwa kain tradisional bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi juga identitas yang harus terus dibawa dalam kehidupan modern,” tutur pria berkacamata tersebut.
Mojang Jajaka melangkah menuju panggung fashion show pada West Java Festival 2025 di Kiara Artha Park, Jalan Banten, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, Jawa Barat. Minggu (9/11/2025). Foto: Zivaluna Wicaksono
Suasana festival pada sore hari itu terasa hangat dan penuh kehidupan, sorak penonton bergema setiap kali kain tradisional berayun di atas catwalk. Riuh tepuk tangan menyatu dengan alunan suling bambu yang mengalun lembut, menciptakan suasana magis yang sukar dilupakan.
Selain fashion show, West Java Festival 2025 juga menampilkan parade seni, pertunjukan musik tradisional, serta bazar kuliner tradisional. Setiap sudut taman Kiara Artha park disulap menjadi kampung Jawa Barat dengan deretan stan kuliner serta permainan tradisional yang mengiringi sesi fashion show.
Tepuk tangan panjang penonton menjadi penutup hangat fashion show West Java Festival 2025. Di balik kemeriahan itu tersisa makna yang dalam, tentang kebanggaan akan warisan, tentang kain yang bukan hanya sekadar bahan.
Nabila Salsabila, salah satu penonton West Java Festival 2025 membagikan pesan dan kesannya usai menyaksikan seluruh rangkaian acara, ia mengaku terkesan dengan kemeriahan sekaligus nilai budaya yang tersampaikan.
“Festival ini bukan hanya tentang hiburan, tapi juga tentang bagaimana masyarakat Jawa Barat merayakan jati dirinya. Setiap sudutnya punya cerita, dan semuanya terasa hidup,” ungkapnya.
Di setiap lipatan kain dan alunan musik tradisional tersimpan pesan sederhana, Jawa Barat tidak sekadar hidup di masa lalu, ia menari di masa kini, menuju masa depan yang penuh warna. West Java Festival 2025 merupakan cermin dari semangat masyarakat Jawa Barat untuk terus menjaga, menghidupi, dan merayakan budayanya di tengah arus zaman. (*)