Sore itu cerah. Baru saja pulang kerja, sudah disambut anak ketiga Kakang yang menunggu di depan pintu masuk. “Bah, bawa kertas buat menggambar, kan?” katanya.
Kujawab singkat, “Muhun.”
Tak lama, Aa Akil, anak kedua, ikut nimbrung dengan pertanyaan polosnya, “Kenapa sih tiap tahun baru selalu ada petasan dan bunyi terompet?”
"Tos jadi kebiasaan A!" ujarku.

Tradisi Terompet
Rasanya tak afdhal bila pergantian (malam) tahun baru tidak dibarengi dengan turun ke jalan-jalan; peniupan terompet; petasan kembang api; kumpul-kumpul sambil bakar-bakar ikan, ayam, jagong, ubi; pesta pora di tempat hiburan.
Gegap-gempina ini mendakan pergantian tahun dimulai. Pelbagai harapan dan semangat hidup untuk diniatkan sejak ditiupkan terompet supaya selasar, damai, aman dan terhindar dari segala marabahaya dalam menjalani kehidupan yang sedang dilanda petaka dari Tuhan atas kesombongan dan kelaliman umat manusia.
Mereka melakukan ritual meniup terompet ini pada waktu perayaan tahun baru Yahudi, Rosh Hashanah, yang berarti "Hari Raya Terompet", biasa jatuh pada bulan September (Oktober). Bentuk terompet yang melengkung melambangkan tanduk domba yang dikorbankan dalam peristiwa pengorbanan Isaac (Nabi Ishaq dalam tradisi Muslim).
Dalam kepercayaan China perayaan pesta petasan, kembang api dan terompet menjadi syarat mutlak untuk perayaan. Mengingat ritual ini tidak hanya untuk mengusir setan tetapi dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan, kebahagiaan dan kemakmuran. (Pikiran Rakyat, 30/12/2010)
Kerinduan untuk menghadirkan kembali waktu mitos (mythical time) primordial (masehi) petanda manusia tradisional (homo religious). Ini dikemukakan Mircea Eliade (1907-1986) pakar studi agama-agama dan fenomenologi saat memotret masyarakat arkais (purba) cenderung untuk hidup sebisa mungkin dalam kesakralan dan dekat dengan objek suci dan pusat dunia.
Ingat, kebanyakan masyarakat primitif, tahun baru itu ekuivalen dengan munculnya taboo pada panen baru yang dengan demikian dinyatakan dapat dimakan dan tidak berbahaya bagi seluruh masyarakat.
Ketika berbagai spesies gandum, buah-buahan ditanam, menua dengan berhasil pada musim yang berbeda, kita seringkali menemukan berbagai festival Tahun Baru. Ini berarti pembagian waktu ditentukan oleh ritual yang menjamin kesinambungan hidup masyarakat dalam keseluruhannya.
Penerimaan tahun matahari sebagai unit waktu, pada mulanya berasal dari Mesir. Mayoritas kebudayaan yang lain --dan Mesir sendiri sampai periode tertentu-- menggunakan tahun yang berdasarkan bulan dan matahari sekaligus memiliki 360 hari dengan 12 bulan yang masing-masing terdiri atas 30 hari yang di dalamnya ditambahkan lima hari pada bulan tertentu.
Orang Indian Zuni menyebut bulan dengan "langkah tahun" dan tahun sebagai "bagian waktu". Awal tahun berbeda-beda dari satu negara ke negara lain juga dalam periode yang berbeda, kalender mereformasi pengenalan yang terus-menerus untuk membuat makna ritual festival cocok dengan musim yang dianggap sesuai. Sekalipun demikian, baik instabilitas maupun kebebasan permulaan Tahun Baru (Maret-April, 19 Juli-seperti di Mesir Kuno-September, Oktober, Desember-Januari dan sebagainya).

Sakralitas waktu
Konsep tentang akhir dan awal periode waktu berdasarkan atas pengamatan ritme biokosmis dan membentuk bagian sistem yang lebih besar-sistem pemurnian periodik, (semisal pembersihan dosa, puasa, pengakuan dosa) dan regenerasi hidup periodik. Dengan mengasumsikan sebagai penciptaan baru, yakni pengulangan aksi kosmogonik dan menimbulkan persoalan tentang pembebasan "sejarah"
Sakralitas waktu menjadi bagian penting manakala setiap perayaan keagamaan, waktu peribadatan, reaktualisasi kejadian-kejadian sakral yang terjadi pada zaman mitos (permulaan) dapat mewujud dalam kehidupan sehari-hari kita. Upaya mereaktualisai kosmogoni hadir dalam perayaan tahun baru.
Pasalnya, meindikasikan waktu diulang lagi mulai dari awal, yakni retsorsi waktu primordial, murni ada pada saat penciptaan sekaligus peserta pesta dapat menemukan kembali kelahiran pertama dari waktu sakral. Inilah menjadi alasan tahun baru merupakan kesempatan untuk pemurnian untuk penghapusan dosa, pengusiran setan (tolakbala), bukan sekedar penghapusan dosa.
Sir George Frazer dalam The Golden Bough yang berjudul The Scapegoat, prosesi pengusiran setan, dosa dan penyakit ini mewujud dalam ritus; puasa, pembersihan badan dan pemurnian; pemadaman api dan secara ritual menyalakannya dalam bagian kedua upacara; pengusiran setan melalui bunyi-bunyian (terompet), tangisan, pemukulan (pintu, kohkol, bedug) yang diikuti dengan pengejarannya melalui perkampungan dengan kebisingan dan hullaboloo (tolakbala); pengusiran ini dapat dilaksanakan dalam bentuk pepohonan, hewan dan manusia.
Dengan demikian, festival tahun baru ini hanya mengulang waktu asali (kosmik), mengaktualisasikan kosmogoni, perjalanan dari kekacauan (chaos) menuju keteraturan dan keharmonisan (cosmos).
Mari kita lihat peringatan tahun baru Babylonia, Akitu dapat dilaksanakan pada saat siang dan malam, lamanya sama di musim semi (the spiring equinox), di bulan Nisa dan di musim gugur (the autumnal equinox) di bulan Tisrit.
Selama berlangsung perayaan akitu yang berlangsung secara dua belas tahun, apa yang disebut epik penciptaan, Enuma elis diceritakan secara sungguh-sungguh beberapa kali di kuil Marduk. Demikinalah pertarungan antara Madruk dan raksas laut Tiamat direaktualisasikan-pertarungan yang berlangsung in illo tempore yang mengakhiri kekacauan melalui kemenangan akhr dewa. Marduk menciptakan kosmos dari potongan badan Tiamat yang hancur dan menciptakan manusia dari darah demon Kingu, makhluk yang diciptakan oleh Tiamat untuk menyimpan Tablet Nasib (Enuma elis, VI, 33).
Peringatan atas penciptaan pada hakikatnya merupakan reaktualisasi aksi kosmogonik, perjalanan dari kekacauan (chaos) menuju keteraturan (cosmos) yang dinyatakan baik oleh ritual maupun mantera yang dilantunkan selama upacara berlangsung. Peristiwa istiknya muncul "semoga dia terus menundukkan Tiamat dan memperpendek harinya" seru orang yang melakukan upacara. Pertempuran, kemenangan dan penciptaan berlangsung pada saat itu juga.
Bagi A. J Wesinck, sarjana Belanda berpendapat fenomena ini menunjukkan adanya simetri antara berbagai sistem mythioco-ceremonial tahun baru di seluruh dunia semitik; dalam setiap sistem ini kita menemukan ide-ide pokok tentang kembalinya kekacauan secara tahunan yang diikuti oleh penciptaan baru.
Kontruksi waktu kosmik melalui pengulangan kosmogoni secara lebih jelas lagi ditunjukkan oleh simbolisme pengorbanan Brahmanik. Setiap korban Brahmanik menandakan penciptaan baru dunia. (bandingkan, misalnya Satapatha Brahmana, vi,5,1 ff).
Peristiwa ini telah menemukan pada setiap korban Brahman itu mereaktualisaikan aksi kosmogonik arrketifipis dan kejadian antara waktu mistik dengan sekarang mengasumsikan pembebesan waktu profan dan regenerasi dunia yang terus menerus. (Mircea Eliade, 2002; 53-96).

Asal-Usul Kembang Api yang Membara
Sebagian besar sejarawan meyakini kembang api pertama kali ditemukan di China, meskipun ada pendapat lain yang menyebut Timur Tengah, India. Penemuan ini terjadi secara tidak sengaja sekitar tahun 800 M, ketika para ahli kimia China mencampurkan kalium nitrat, sulfur, dan arang untuk mencari ramuan kehidupan kekal.
Campuran ini justru menghasilkan mesiu mentah yang kelak mengubah sejarah. Setelah diketahui dapat menimbulkan ledakan, masyarakat Tionghoa memanfaatkan bunyi kerasnya yang dipercaya mampu mengusir roh jahat.
Kembang api pertama dibuat dengan memasukkan mesiu ke dalam batang bambu yang dilemparkan ke api hingga meledak. Seiring perkembangan teknologi, batang bambu digantikan oleh tabung kertas dan sumbu dari kertas tisu mulai digunakan.
Pada abad ke-10, mesiu mulai dimanfaatkan sebagai senjata perang, seperti petasan yang dipasang pada anak panah. Dua abad dari itu, teknologi ini berkembang menjadi roket yang dapat diluncurkan tanpa panah, menjadi dasar pertunjukan kembang api modern.
Kembang api dikenal di Eropa melalui Marco Polo pada tahun 1295, mesiu telah lebih dulu dikenal saat Perang Salib. Pada abad ke-13, penyebaran mesiu semakin luas melalui jalur diplomasi, eksplorasi, dan misi keagamaan.
Bangsa Eropa mengembangkan mesiu untuk keperluan militer, dengan tetap mempertahankan kembang api sebagai bagian dari perayaan. Di Inggris, kembang api menjadi hiburan kerajaan, tercatat dalam pernikahan Raja Henry VII pada 1486 dan Kaisar Rusia Peter the Great menggelar pertunjukan besar untuk merayakan kelahiran putranya.
Pada era Renaisans, sekolah-sekolah piroteknik berkembang di Eropa dengan Italia sebagai pelopor inovasi. Pada 1830-an, penggunaan logam dan bahan kimia memungkinkan terciptanya warna-warna cerah seperti merah, hijau, biru, dan kuning. Teknologi ini dibawa ke Amerika, dengan pertunjukan pertama tercatat pada 1608 di Jamestown. Sejak 4 Juli 1777, kembang api menjadi bagian dari perayaan Hari Kemerdekaan Amerika.
Meski demikian, kekhawatiran akan keselamatan membuat berbagai wilayah menerapkan larangan dan regulasi ketat, aturan yang hingga kini masih berlaku di banyak negara. (Tempo, 31 Desember 2024).

Petasan Buang Kesialan, Bawa Keberuntungan
Petasan berkembang sebagai simbol peringatan sekaligus pertanda keberhasilan dalam berbagai peristiwa penting. Dalam tradisi perayaan Tahun Baru China, petasan dipercaya membawa keberuntungan sebagai penanda dimulainya tahun yang baru. Secara historis, petasan pertama kali ditemukan pada abad ke-2 sebelum Masehi di wilayah Liuyang kuno, Tiongkok, dengan bahan utama berupa bubuk mesiu.
Pada mulanya, masyarakat Tionghoa menggunakan petasan sebagai sarana untuk mengusir roh jahat. Seiring waktu, fungsi ini berkembang menjadi simbol perayaan dan keberhasilan dalam beragam acara, seperti pernikahan, upacara kematian, kemenangan perang, hingga perayaan keagamaan (Kompas, 25 Januari 2025).
Untuk konteks Tahun Baru dalam tradisi China, setiap aktivitas perdagangan secara tradisional diawali dengan pembakaran petasan. Ritual ini bertujuan untuk menyingkirkan nasib buruk dan pengaruh jahat yang diyakini dapat menghambat kelancaran usaha. Petasan tidak hanya dimaknai sebagai simbol keberuntungan, melainkan menjadi bagian dari rangkaian upacara sembahyang guna memohon restu dan berkat dari para dewa.
Masyarakat Tionghoa meyakini ihwal keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh kepandaian, perencanaan, dan kerja keras, justru dipengaruhi oleh faktor nasib. Walhasil, momentum Tahun Baru dimanfaatkan untuk membuang kesialan yang berpotensi dapat menimbulkan kerugian. Tradisi ini dilakukan melalui ritual mandi “limau bali” (jeruk bali), upacara sembahyang untuk memohon pertolongan dewa kekayaan, Tsai Shen Yeh, yang disembah secara khusus pada setiap awal Tahun Baru (Wan Seng Ann, 2007:118).
Untuk perayaan Tahun Baru 2026, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung melarang masyarakat menyalakan kembang api maupun petasan pada malam pergantian tahun. Pasalnya, kebijakan ini sejalan dengan imbauan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), yang mengajak masyarakat mengisi malam tahun baru dengan kegiatan yang lebih positif dan bermakna. Warga diharapkan memanfaatkan momen berharga ini untuk mempererat kebersamaan, seperti menghabiskan waktu bersama keluarga, makan bersama, menggelar doa bersama.
Muhammad Farhan, menegaskan larangan menyalakan kembang api dan petasan dengan merujuk pada peraturan yang telah lama berlaku dan aturan ini diberlakukan di seluruh wilayah Kota Bandung tanpa pengecualian, guna menjaga ketertiban, keamanan, dan kenyamanan masyarakat.
Saat membaca himbauan ini, tanpa disadari bocah kelas lima itu berkata, “Bah ga seru ya tidak ada kembang api dan petasan? Cag Ah! (*)