Néléngnéngkung- néléngnéngkung
Geura gede geura jangkung
Geura sakola ka Bandung ….
Bandung itu kawasan pengetahuan. Sejak lama sampai sekarang, selalu menjadi andalan untuk menaruhkan mimpi besar banyak orang. Setidaknya itu yang kudengar pas kecil dulu, dalam lirik tembang Sunda, ketika menimang-nimangku sebelum pulas tertidur.
“Kuliah di Bandung”, berulang-ulang disebut-sebut. Ketika ditanya orang selewat. Ketika ditanya tante di hari raya. Ketika reuni SMA. Kata-kata ini bukan hanya punya kesan intelektual dan rizz. Juga keren, catchy, kekinian, FOMO.
Tumbuh sebagai ekosistem urban akademik yang padat. Bandung membentangkan universitas negeri dan swasta, sekolah tinggi, pusat riset, institut, politeknik, hingga komunitas ilmiah yang independen. Di kota inilah pengetahuan diproduksi, disirkulasikan, dan diberi legitimasi. Karena itu, bicara tentang masa depan Bandung layak menyertakan harapan untuk tahun baru ini. Yang mana, ia tidak mungkin dilepaskan dari tanggung jawab etisnya.
Namun justru di sinilah problemnya. Bandung hari ini mengenaskan. Kian banyak kampus ternama, kian kuat kesan bahwa kota ini bergerak ke arah WEIRD, ialah Western, Educated, Industrialized, Rich, Democratic. Sementara jarak antara dunia akademik dan realitas sosial-ekologis di sekitarnya kian menganga.
We Travelled Westward Proudly
Institut Teknologi Bandung (ITB) lama dikenal sebagai pusat keunggulan teknik, sains, dan desain. Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mencetak guru dan pendidik untuk seluruh negeri. Universitas Padjadjaran (UNPAD) unggul di bidang hukum, kesehatan, dan ilmu sosial. Telkom University menjadi pusat teknologi informasi dan industri digital. Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) kuat dalam arsitektur, filsafat, dan ilmu sosial-humaniora. Ditambah Politeknik Negeri Bandung (POLBAN), UIN Sunan Gunung Djati, Universitas Maranatha, Universitas Muhammadiyah Bandung, UNISBA, ITENAS, Widyatama, NHI, ISBI, dan puluhan kampus lain yang memperkaya lanskap akademik kota ini.
Dalam jumlah dan reputasi, Bandung adalah satu di antara kawasan pendidikan terkuat di Indonesia. Tetapi pertanyaannya bukan lagi seberapa canggih dan unggul lulusan Bandung, melainkan untuk siapa dan untuk apa pengetahuan itu?
Model WEIRD menjadikan kampus sebagai pabrik kompetensi. Terukur melalui akreditasi, peringkat global, publikasi internasional, paten, dan serapan industri. Mahasiswa dilatih untuk berprestasi secara individual, mobil secara global, dan adaptif terhadap kebutuhan pasar. Tidak salah. Tetapi menjadi problematik ketika pendidikan kehilangan tanggung jawab kontekstualnya.
Ijazah-ijazah hanya syarat. Tes-tes bahasa asing. Tri dharma perguruan tinggi. Jenjang karir dosen. Ospek dan kekerasan kultural.
Melek Huruf
WEIRD, sebagaimana dijelaskan Joseph Henrich dalam The WEIRDest People in the World (2020), tidak lahir pertama-tama dari sains, industri, atau demokrasi, melainkan dari akar religius Protestan, khususnya prinsip sola scriptura. Keyakinan bahwa kebenaran iman harus ditemukan melalui pembacaan langsung kitab suci menuntut setiap orang untuk melek huruf. Iman tidak lagi diwariskan lewat otoritas lisan atau tradisi komunal, tetapi melalui teks yang harus dibaca, dipahami, dan ditafsirkan secara personal.
Dari sini, literasi membaca berubah dari keterampilan teknis menjadi kewajiban moral. Membaca bukan sekadar alat, melainkan laku religius dan etis. Henrich memandang bahwa praktik ini menghasilkan konsekuensi yang jauh melampaui agama. Ialah meningkatnya pendidikan formal, berkembangnya budaya teks, dan terbentuknya cara berpikir analitis dan individualistik. Literasi tinggi bahkan mengubah struktur neurologis manusia, memengaruhi cara memori, visual, dan nalar bekerja. Inilah fondasi psikologis manusia WEIRD, sebuah fondasi kebudayaan yang kita puja-puja.
Perubahan besar ini tidak mungkin juga terjadi tanpa Johann Gutenberg. Mesin cetak huruf lepas yang dikembangkannya pada abad ke-15 memungkinkan teks suci dan lalu teks lain direproduksi secara masif dan murah. Karena dampaknya yang signifikan ini, Michael H. Hart dalam The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History (1978) menempatkan Gutenberg pada peringkat ke-8 tokoh paling berpengaruh dalam sejarah manusia. Gutenberg tidak menciptakan ajaran, tetapi menciptakan kondisi material bagi ledakan literasi dan transformasi peradaban Barat.
Apa yang dipaparkan Henrich secara psikologis dan Hart secara historis bertemu pada satu kata kunci, yakani melek huruf. Literasi membaca menjadi mesin kebudayaan yang melahirkan institusi sekolah, universitas, hukum tertulis, kerangka kerja saintifik, dan pada akhirnya modernitas Barat itu sendiri. WEIRD bukan keunggulan alamiah, melainkan hasil dari sejarah panjang praktik membaca yang dilembagakan dan diwariskan.

Kampus modern hari ini, termasuk yang berdiri di Bandung, adalah pewaris sekuler tradisi sola scriptura. Meskipun kitab suci digeser oleh buku teks, jurnal ilmiah, dan dokumen kebijakan, kebenaran tetap dicari melalui teks. Mahasiswa dilatih hidup di dalam bacaan, dan dunia direduksi menjadi sesuatu yang harus dibaca, ditulis, dan dinilai.
Di sinilah kampus melahirkan elit literasi WEIRD. Kelompok manusia yang cakap dalam membaca alfabet dan menafsirkan teks yang rumit, tetapi kerap lupa bahwa keunggulan itu adalah produk sejarah budaya tertentu. Tanpa kesadaran ini, literasi berpotensi berubah dari alat pembebasan menjadi sumber jarak sosial.
Jadi tantangan kampus di Bandung hari ini bukan meninggalkan literasi, melainkan menyadari kekuasaannya. Agar membaca tidak hanya melahirkan elit baru, tetapi juga tanggung jawab pada kehidupan kota dan sekitarnya yang lebih luas.
Bahaya Indiferensi
Paulo Freire sebagaimana ditulis Freddy Varona Dominguez lewat artikel ilmiahnya Paulo Freire's Educational Ideas. Reflections from Higher Education (Region, 2023) mengingatkan bahwa dominasi literasi teks dalam pendidikan modern membawa risiko yang benar-benar serius.
Dalam kritiknya terhadap banking education, Freire menolak model pendidikan yang menjadikan mahasiswa sekadar “wadah” pengetahuan. Sebatas pandai membaca, menghafal, dan mengulang, tetapi pasif terhadap realitas. Kampus modern, termasuk perguruan-perguruan tinggi di Bandung, rentan mereproduksi logika ini ketika literasi gagal diarahkan pada kesadaran kritis.
Bagi Freire, masalah utama pendidikan tinggi bukan soal kekurangan pengetahuan, tetapi indiferensi yakni sikap acuh terhadap penderitaan sosial, ketimpangan, dan kehidupan konkret di luar tembok kampus. Literasi yang tidak dialogis justru melahirkan manusia terdidik yang cakap secara teknis namun tumpul secara moral. Dalam dunia WEIRD, ini adalah individu yang sangat rasional, analitis, dan individualistik, tetapi terputus dari relasi komunal dan tanggung jawab sosial-ekologisnya.
Dengan begitu Freire menawarkan jalan lain. Sebuah pendidikan sebagai praktik dialog, di mana membaca tidak berhenti pada teks, tetapi berlanjut pada “membaca dunia”. Literasi sejati bukan sekadar kemampuan menafsirkan buku, melainkan keberanian mempertanyakan realitas, meragukan ketidakadilan yang dinormalisasi, dan terlibat dalam transformasi sosial.
Kampus, dalam pandangan ini, bukan lagi menjadi pabrik gelar melainkan ruang pembentukan manusia etis yang sadar akan posisinya dalam masyarakat.
Ketika Kampus Terpisah dari Kota
Di banyak titik, kampus-kampus Bandung berdiri secara eksklusif di tengah kota yang menderita Penelitian berkembang pesat, tetapi sering berputar di ruang seminar dan jurnal. Pengabdian masyarakat menjadi kewajiban administratif. Kampus berbicara tentang smart city, sementara kampung di sekitarnya berjuang dengan banjir, sampah, dan penggusuran.
Dan inilah wajah WEIRD dalam dunia akademik kita. Pengetahuan global yang kurang membumi, kritik yang tajam tetapi mencari aman, dan kepedulian sosial yang dibatasi oleh proposal dan luaran akreditasi.
Akibatnya, Bandung sebagai kota tumbuh tanpa arah moral akademik yang jelas. Pembangunan berjalan, tetapi ketimpangan meningkat. Inovasi teknologi hadir, tetapi krisis ekologis memburuk. Demokrasi kampus hidup, tetapi keberanian intelektual untuk mengkritik kekuasaan lokal kian merapuh.
Tanggung Jawab Akademik Baru
Harapan akan Bandung di 2026 ini tidak akan lahir dari naskah-naskah akademik kebijakan, dari survei dan riset, dari FGD yang mengundang para pakar. Ia hanya mungkin lahir jika komunitas akademik Bandung bahu-membahu mengubah orientasi dirinya sendiri.
Kampus perlu redefinisi makna keunggulan, makna berdaya saing global. Keunggulan tidak lagi hanya peringkat kancah dunia tetapi dampak sosial-ekologis nyata bagi sekitar. Begitu juga pengajaran, riset, dan pengabdian perlu diarahkan ulang. Kampus kita tidak boleh terobsesi pada agenda internasional yang buta, tetapi pada persoalan lokal yang mendesak. Mahasiswa perlu dididik bukan hanya sebagai profesional, tetapi sebagai warga kota yang bertanggung jawab.
Bayangkan Bandung 2026, di mana kampus-kampus membuka diri secara mengakar. Laboratorium yang bersatu padu dengan warga miskin kota, kelas yang berpindah ke pinggiran Citarum, dan dosen yang hadir sebagai intelektual publik, pembela rakyat kecil, bukan sekadar penulis jurnal. (*)