Selama dua hari satu malam, Jumat–Sabtu (23–24 Januari 2026), anak kedua, Aa Akil, bersama kurang lebih 50 siswa kelas 4, 5, dan 6 yang didampingi 13 guru, mengikuti LDKB (Latihan Dasar Kepemimpinan BEST). Kegiatan ini berlangsung di Family Camp Kiara Payung, Jatinangor, Sumedang, dengan suasana alam yang sangat mendukung proses pembelajaran, kebersamaan, dan refleksi diri.
LDKB bertajuk “To Be The Best Leader” ini menghadirkan dua narasumber yang kompeten di bidang kepemimpinan dan pendidikan, yaitu Dr. Nunung Kurniasih, M.Pd, Kepala Sekolah; Adzkia Putrika Sari Supriadi, Presiden BEST periode 2017/2018, Ketua Umum OSHK (Organisasi Santri Husnul Khotimah) MTs periode 2020/2021, MA periode 2023/2024, Bendahara Umum Forum OSIS Kuningan (2024/2025), dan Protokoler Muda mahasiswa Universitas Padjadjaran (2025-sekarang)

Memupuk Jiwa Kepemimpinan Ala BEST
Tahun sebelumnya, LDKB dilaksanakan pada 17-18 Januari 2025 menampilkan Rameyza Athira Syafiqa, Putri Pendidikan Indonesia; Fajri Fathurrahman Herdes, Motivator Cilik sebagai pembicara.
Badan Eksekutif Siswa Teladan (BEST) merupakan penyelenggara program keorganisasian formal dan terstruktur sebagai sarana pengembangan pola pikir dan perilaku anak. Program ini dilaksanakan oleh SD Islam Al Amanah yang beralamat di Jl. Raya Cinunuk No. 186, Cileunyi, Bandung.
BEST berdiri pada bulan Agustus 2009. Gagasan awal pembentukan BEST dicetuskan oleh Bapak Ijang Yusuf Ismail, S.Ag (alm.), yang menjabat sebagai Kepala Sekolah SD Islam Al Amanah pada periode 2008–2011, dengan pengarahan dari seorang psikolog. (Kesekretariatan BEST SDI Al Amanah dan Jurnal Manajemen Komunikasi, Volume 1, No. 2, April 2017: 220)
BEST semacam orang kesiswaan seperti OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) kalau di tingkat SMP, SMA. Peserta yang mengikuti LDKB telah melalui serangkaian seleksi, aturan, dan ketentuan yang berlaku. Tujuan utamanya membekali peserta didik dengan pengetahuan, pengalaman dasar kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai keislaman.
Program LDKB ini dirancang untuk membentuk karakter siswa yang bertanggung jawab, percaya diri, disiplin, dan diharapkan mampu menjadi teladan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Rombongan berangkat pada hari Jumat pukul 13.00 WIB menggunakan tujuh angkot. Sepanjang perjalanan, suasana terasa seru: anak-anak mengobrol, tertawa, dan menikmati pemandangan.
Setibanya di lokasi sekitar pukul 13.30 WIB, mereka berteduh di Aula, menyimpan tas di tenda (setiap tenda diisi delapan orang), menikmati camilan, lalu mengikuti berbagai permainan kelompok yang melatih kerja sama dan ketangkasan.
Setelah berganti pakaian dan melaksanakan salat Ashar, kegiatan dilanjutkan dengan camilan sore, jajan ringan, yel-yel dan tepuk khas SDI Al Amanah yang dipandu Pak Dadan. Aa satu tenda dengan Fatir, Arfa, Assaidi, Ken Bima, Attalah, Mikala, dan Kaizen. Sambil menunggu waktu Magrib, mereka murojaah bersama, lalu melaksanakan salat berjamaah.
Usai salat, guru membagi peran kepengurusan dengan sistem kementerian. Aa Akil terpilih menjadi anggota Menteri Olahraga dan Kesenian (Orkes). Meski sempat berharap menjadi Menteri Keagamaan agar sekolah semakin damai dan terlindung dari bullying, bocah kelas lima ini tetap menjalani peran yang diamanahkan dengan penuh tanggung jawab.
Malam hari diisi dengan pemaparan dari para narasumber. Nunung Kurniasih memberikan motivasi dan wawasan tentang kepemimpinan berkarakter, percaya diri, termasuk pentingnya peran generasi muda (Islam) dalam dunia pendidikan. Pesannya buat anak-anak BEST harus taat kepada Allah, patuh pada aturan, memiliki mental dan fisik yang kuat, serta mampu memberi manfaat bagi sesama baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Adzkia Putrika Sari membagikan kisah dan perjalanan inspiratifnya sebagai anak BEST, hingga menjadi bagian dari protokoler Universitas Padjadjaran, dengan memotivasi para peserta untuk terus berproses, menggali potensi diri, mengasih wawasan, kemampuan, aktif berorganisasi dan berani bermimpi untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Anak-anak beristirahat pukul 22.00 WIB. Pada pukul 03.00 dini hari, mereka bangun untuk salat tahajud berjamaah. Aa sudah terbangun sejak pukul 02.00. Setelah salat Subuh, kegiatan dilanjutkan dengan memasak nasi liwet bersama. Mulai dari mencuci beras, hingga menyiapkan hidangan, semua dilakukan secara gotong royong.
Aa bertugas membagikan makanan, memastikan setiap orang mendapatkan satu porsi nasi liwet lengkap dengan tahu dan tempe.
Sebelum kepulangan, dilaksanakan upacara penutupan pada Sabtu (24/1/2026) yang ditandai dengan serah terima jabatan Presiden dan Wakil Presiden BEST dari kepengurusan lama, Aidan dan Azalea, kepada kepengurusan baru, Kai dan Ghiea. Prosesi ini dilakukan dengan pemakaian rompi BEST dan simbolisasi kebersamaan melalui pelukan antara Presiden dengan Presiden dan Wakil dengan Wakil.
Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, rombongan kembali ke sekolah sekitar pukul 08.00 WIB dengan hati yang penuh cerita, pengalaman, dan pembelajaran berharga mengenai kepemimpinan, kebersamaan, serta tanggung jawab.

Sebagai orang tua, terutama seorang istri melepas anak mengikuti kegiatan di luar sekolah selalu menghadirkan perasaan yang campur aduk. Ada khawatir, harap, dan doa yang tak henti dipanjatkan. Namun di balik semua itu, tumbuh satu keyakinan tentang proses bertumbuh tidak selalu terjadi di ruang kelas. Melainkan hadir di alam terbuka, di antara tawa teman-teman, tantangan, rintangan, termasuk pengalaman yang perlahan membentuk karakter dan kepribadian.
Suasana malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Rintik hujan yang turun sejak sore menambah kegelisahan di hati. Muncul berbagai pertanyaan: apakah Aa bisa mengikuti kegiatan LDKB dengan baik? Bagaimana tidur dan makan? Maklum, ini adalah kali pertama dilepas mengikuti pelatihan dan berkemah tanpa orang tua. Belajar mandiri dan membangun kebersamaan bersama teman-temannya di alam bebas.
Dengan harapan setelah mendapatkan materi dari para narasumber, anak-anak belajar ihwal kepemimpinan bukan tentang jabatan, melainkan tentang nilai, keteladanan, dan kebermanfaatan.

Mendengar cerita perjalanan yang berangkat dengan angkot, saling bercanda, menikmati pemandangan, lalu beradaptasi dengan suasana tenda dan kegiatan kelompok. Suasana hati terasa hangat. Aktivitas sederhana seperti menyimpan tas sendiri, mengikuti permainan tim, berganti pakaian, hingga shalat berjamaah. Semuanya adalah latihan kecil menuju kemandirian yang lebih besar.
Malam hari menjadi salah satu momen paling bermakna. Setelah Magrib, anak-anak diberi amanah peran dalam struktur kementerian. Aa Akil mendapat tugas sebagai anggota Menteri Olahraga dan Kesenian. Sempat berharap berada di bidang keagamaan, dengan niat agar sekolah menjadi lebih damai dan terhindar dari perundungan. Mendengar alasan itu, hati ini bergetar. Di usia yang masih sangat belia, ternyata telah menunjukkan kepekaan sosial dan kepedulian terhadap lingkungannya.
Bagiku niat baik seorang anak jauh lebih penting daripada posisi apa pun yang diperoleh dan ditempatkan.
Pesan para narasumber menjadi penguat. Anak-anak BEST diajak untuk taat kepada Allah, patuh pada aturan, kuat secara mental dan fisik, hadir sebagai pribadi yang membawa manfaat bagi banyak orang. Nilai-nilai ini akan tumbuh seiring waktu, dan menjadi bekal hidup yang tak ternilai.

Camping Sekolah, Pengalaman Seru dan Edukatif bagi Siswa
Camping sekolah merupakan aktivitas edukatif yang sangat dinantikan oleh para siswa. Pasalnya, kegiatan ini bukan sekadar rekreasi, tetapi menjadi sarana pembelajaran di luar kelas yang menyenangkan. Melalui camping sekolah, siswa belajar kebersamaan, kemandirian, dan tanggung jawab dalam suasana alam terbuka.
Dengan mengikuti camping sekolah dapat memberikan banyak manfaat positif bagi perkembangan siswa, di antaranya:
1. Mengembangkan Keterampilan Sosial
Siswa belajar berinteraksi, bekerja sama, dan berkomunikasi dengan teman-teman dalam berbagai aktivitas kelompok. Situasi ini membantu menumbuhkan rasa kebersamaan, kepemimpinan, dan kerja tim.
2. Menumbuhkan Kemandirian dan Tanggung Jawab
Selama camping, siswa dilatih untuk mengurus kebutuhan pribadi dan menjalankan tugas yang diberikan, seperti mendirikan tenda, menjaga kebersihan, dan menyiapkan perlengkapan. Ini membentuk sikap mandiri dan bertanggung jawab.
3. Mempererat Persahabatan
Aktivitas yang dilakukan bersama, seperti permainan kelompok dan kegiatan malam hari, menciptakan ikatan emosional yang kuat antar siswa sehingga hubungan pertemanan menjadi lebih erat.
4. Meningkatkan Kepedulian terhadap Lingkungan
Kegiatan di alam terbuka mengajarkan siswa untuk mengenal, menghargai, dan menjaga lingkungan sekitar. Pengalaman langsung ini menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian alam.
5. Melatih Keterampilan Bertahan Hidup
Siswa diperkenalkan dengan keterampilan dasar seperti mendirikan tenda, membuat api unggun, dan menghadapi tantangan alam. Keterampilan ini melatih ketangguhan dan keberanian dalam menghadapi masalah.

Berbagai aktivitas menarik menjadi bagian dari camping sekolah, antara lain:
1. Trekking dan Orientasi Medan
Siswa diajak menjelajahi alam sambil belajar membaca peta dan menggunakan kompas.
2. Games Kelompok
Permainan yang dirancang untuk melatih kerja sama, kepemimpinan, dan kemampuan memecahkan masalah.
3. Api Unggun dan Cerita Malam
Kegiatan kebersamaan yang diisi dengan bernyanyi, berbagi cerita, dan refleksi bersama.
4. Workshop dan Pelatihan
Pelatihan singkat seperti keterampilan bertahan hidup, pengenalan tanaman, dan tali-temali yang menambah wawasan siswa.
Camping sekolah menjadi pengalaman berharga yang memberikan dampak positif jangka panjang. Tentunya dengan menambah pengetahuan, keterampilan, dan menciptakan kenangan indah yang tak terlupakan bagi siswa. (www.citraalam.id)

Saat Aa bersama teman-temannya kembali ke sekolah dengan selamat, yang pulang bukan sekadar fisik anak-anak yang lelah, melainkan jiwa dan semangat yang membawa segudang cerita, keberanian, dan pelajaran hidup. Sebagai orang tua, kita diingatkan soal tugas bukan membesarkan anak yang selalu berada dalam kenyamanan, agar anak yang siap belajar, bertumbuh, dan memimpin yang dimulai dari dirinya sendiri, kelas, sekolah.
Selama mengikuti rangkaian kegiatan, kita dituntut untuk mempelajari pentingnya kerja sama, komunikasi yang baik, sikap saling menghargai antar sesama peserta. Kebersamaan yang terjalin selama acara berlangsung di Kiara Payung menumbuhkan rasa ukhuwah Islamiyah, melatih untuk bersikap sabar, rendah hati, dan siap melayani orang lain. Dengan memahami semua ini ihwal kepemimpinan sejati bukanlah tentang kekuasaan, melainkan tentang memberi teladan dan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Baca Juga: Interior Bus Listrik Metro sebagai Pengalaman Ruang Bergerak di Kota Bandung
Dengan adanya LDKB ini, kita berharap nilai-nilai kepemimpinan Islami yang telah diperoleh dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat. Mudah-mudahan pengalaman ini menjadi bekal berharga bagi kita untuk terus menggali potensi diri, memperbaiki diri, meraih prestasi dengan berusaha menjadi pemimpin yang bertanggung jawab, berakhlakul karimah, dan senantiasa diridhai oleh Allah SWT. (*)