Ayo Netizen

Quo Vadis BKKBN dalam Kepungan Patologi Sosial

Oleh: Sri Maryati Senin 02 Feb 2026, 17:43 WIB
Ilustrasi perubahan perilaku generasi milenial dan Z. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Eksistensi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan dinas kependudukan yang ada di setiap daerah perlu cara baru untuk mengatasi norma keluarga yang kini telah dikepung oleh patologi atau penyakit sosial dan masalah akut psikologi kaum remaja.

 BKKBN telah di persimpangan jalan dalam era digitalisasi saat ini. Perkembangan teknologi sangat berpengaruh terhadap gaya pengasuhan anak yang menjadi faktor dominan pembentuk kepribadian seseorang.

Mestinya BKKBN mesti mampu memberi pembekalan bagi para orangtua agar dapat meningkatkan keterampilan komunikasinya agar menjadi efektif dan tepat sasaran. Perlu media digital yang dibangun oleh BKKBN untuk membantu orangtua membangun hubungan positif, sehat dan berkualitas antara remaja dan orangtua sehingga keluarga dapat berperan sebagai sumber informasi dan tempat belajar yang terpercaya bagi anak.

Ilustrasi gejala gangguan kesehatan jiwa terhadap remaja. (Sumber: Freepik)

Kecemasan Tinggi di Era Digital

 Era digital bisa melahirkan beberapa kondisi patologi sosial dan masalah psikologi. Kondisi banjir informasi dengan tingkat akurasi yang banyak bermasalah alias rendah menghasilkan ekosistem distorsi. 

Lahirlah ekosistem informasi yang menjadi habitat populasi dengan tingkat kecemasan tinggi. Terkait dengan Gen Z dikenal sebagai fenomena FOPO (Fear of Other People's Opinions). Yakni kondisi psikologis di mana individu merasa cemas atau khawatir tentang bagaimana mereka dinilai oleh orang lain. Di era digital, FOPO semakin relevan karena individu sering kali terpapar pada penghakiman publik melalui komentar, likes, atau bentuk umpan balik lainnya di media sosial.

Media sosial, layanan pesan instan, dan berbagai platform berbasis digital lainnya memungkinkan penyebaran informasi yang cepat, global, dan tanpa batas. Namun, komunikasi yang berciri cepat dan masif ini, sering kali tidak terkurasi dengan baik, dan dapat memunculkan tekanan psikologi model baru. 

Ada fenomena lain yang menyertai FOPO yakni YOLO dan FOMO. Semua fenomena itu menjadi tantangan psikologis yang amat berat yang bisa menghancurkan norma keluarga.

Fenomena YOLO (You Only Live Once) merupakan frasa yang pertama kali populer di kalangan anak muda dan menggambarkan pola pikir di mana individu cenderung mengambil keputusan impulsif atau berisiko dengan keyakinan bahwa hidup ini hanya sekali. Fenomena ini sering terlihat dalam budaya populer dan media sosial, di mana orang mempromosikan petualangan, pengalaman ekstrem, atau perilaku yang tidak konvensional.

Fenomena YOLO dapat dijelaskan melalui teori Motivasi Hedonis yang mengusulkan bahwa individu terdorong untuk mencari kesenangan dan menghindari rasa sakit (Freud, 1920). Di era digital, YOLO dimanifestasikan sebagai respons terhadap paparan konten yang menekankan pencapaian personal, gaya hidup yang mewah, atau pengalaman yang dianggap lebih bermakna, yang sering kali diperkuat oleh dampak media sosial.

 Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) adalah kondisi psikologis di mana individu merasa cemas atau takut kehilangan peluang, pengalaman, atau informasi penting yang mungkin dialami oleh orang lain. FOMO dipicu oleh peningkatan penggunaan media sosial, di mana individu terus menerus dihadapkan pada gambaran kehidupan orang lain yang terlihat lebih menyenangkan, produktif, atau bermakna.

Fenomena ini juga dapat dikaitkan dengan Teori Kecemasan Sosial, di mana individu cenderung mengalami kecemasan ketika merasa tidak terlibat dalam aktivitas yang dilakukan oleh kelompok sosial mereka.

 Transformasi Program BKKBN Mengatasi Kerenggangan Keluarga

 BKKBN perlu melakukan Transformasi program.  Tidak hanya mengendalikan pertumbuhan penduduk melalui program Keluarga Berencana (KB). Namun juga menekankan program yang bisa mewujudkan keluarga bahagia yang  bisa mengatasi kerenggangan keluarga dan memperbaiki pola asuh anak.

Dengan kelembagaan yang telah eksis, program BKKBN terkait pembudayaan Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS) sebaiknya juga menekankan pola asuh anak yang sesuai dengan kondisi zaman.

 Sejarah telah mencatat keberhasilan BKKBN dalam mengelola kebijakan kependudukan, yang ditandai dengan penghargaan Global Statesman Award dari Population Institute, Amerika Serikat, dan pada 1989 Presiden Soeharto menerima penghargaan tertinggi di bidang kependudukan dan keluarga berencana berupa United Nations Population Award dari

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), penghargaan yang sama baru diraih kembali pada 2022. Kini Indonesia telah menjadi center of excellence kependudukan dunia. Namun apa artinya jika masalah kerenggangan keluarga dan masalah komunikasi dalam keluarga memburuk.

Transformasi BKKBN bertujuan mewujudkan Indonesia menjadi bangsa yang memiliki norma keluarga sebagai prasyarat bagi terwujudnya kesejahteraan rakyat.

Kondisi remaja yang sedang mencari jati diri mengalami sejumlah perubahan,baik fisik maupun psikis. Perubahan secara fisik dan emosi, tidak jarang membuat remaja tidak nyaman, bahkan merasa aneh dan ketakutan. Sayangnya, remaja sering kesulitan mengungkapkan kekhawatirannya dengan lugas. Akibatnya, orangtua atau orang di sekitarnya sering salah paham atau memberikan respon yang tidak sesuai.

Perubahan juga terjadi pada aspek kecerdasan atau kognitif. remaja mulai mampu secara abstrak memikirkan berbagai kemungkinan terhadap sebuah kondisi yang dihadapinya. Namun, ini belum disertai kemampuan mengambil keputusan yang baru akan berfungsi optimal saat masa dewasa awal. Akibatnya, banyak tindakan remaja yang dinilai orang dewasa sebagai tidak berpikir panjang, terburu nafsu, seenaknya sendiri, dan sejenisnya.

Keluarga Indonesia memerlukan media komunikasi yang mampu menjelaskan kepada publik tentang kesehatan jiwa keluarga. Berbagai negara memiliki kanal panduan yang berbeda, walau isi panduan antarnegara cenderung sama. Misalnya, di Amerika Serikat, dokter dan psikolog menggunakan buku panduan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders yang diterbitkan pada 2013 oleh American Psychiatric Association.

Di Indonesia terdapat buku panduan berjudul Pedoman dan Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa III (PPDGJ-3) yang diterbitkan Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada 1993. Diagnosis gangguan jiwa oleh dokter jiwa mesti mengikuti buku panduan PPDGJ-3 dan ICD-10 atas dasar Keputusan Menteri Kesehatan.

Komunikasi Digital Mempengaruhi Kesehatan Mental Individu

 Masyarakat perlu mendapatkan penyuluhan dan pemahaman terhadap kesehatan jiwa keluarga dan pola hidup yang mampu mencega penyakit jiwa.  BKKBN bersama instansi terkait perlu bersinergi membangun platform layanan kesehatan jiwa yang sesuai dengan perkembangan zaman. Sekedar catatan, Indonesia merupakan salah satu negara yang diberi catatan khusus oleh WHO bahwa ledakan depresi diprediksi bakal terjadi. Tentunya ini sangat serius. Karena dampak depresi bisa menyebabkan kualitas hidup keluarga terpuruk dan produktivitas keluarga bisa hancur.

Jika fenomena YOLO, FOMO, dan FOPO dihubungkan, muncul gambaran yang lebih luas mengenai bagaimana komunikasi digital mempengaruhi kesehatan mental individu. Paparan terus-menerus terhadap konten yang memicu perbandingan sosial, ketakutan akan kondisi pencilan, atau kekhawatiran tentang citra diri, secara kolektif dapat meningkatkan risiko kecemasan dan depresi.

BKKBN yang memiliki misi membentuk keluarga bahagia mesti punya solusi terkait biaya sosial ekonomi karena adanya ekses eksponensial ini akan tinggi sekali.

Ketika seseorang mengalami stres, hipotalamus melepaskan hormon pelepas/rilis kortikotropin (CRH) yang merangsang kelenjar pituitari untuk menghasilkan hormon adrenokortikotropik (ACTH). ACTH kemudian merangsang kelenjar adrenal untuk melepaskan kortisol, hormon stres utama.

Kortisol memiliki peran penting dalam mengatur berbagai proses tubuh, termasuk sistem imun. Dalam kondisi normal, kortisol membantu mengendalikan respon peradangan/inflamasi, tetapi pada stres kronis yang berkepanjangan, kadar kortisol yang terus-menerus tinggi dapat menekan fungsi imun melalui beberapa mekanisme, antara lain, menghambat kinerja imunitas seluler, dimana kadar kortisol yang tinggi menghambat aktivitas sel-sel imun seperti sel limfosit T dan sel Natural Killer (NK), yang bertanggung jawab dalam mengelola infeksi virus dan kanker.

Stres kronis yang berkepanjangan menyebabkan berbagai jenis penyakit akan meningkat. Sementara tingkat produktivitas menurun karena kondisi fisik dan mental yang tidak memungkinkan untuk melakukan  kegiatan kreatif dan produktif.  (*)

Reporter Sri Maryati
Editor Aris Abdulsalam