Setiap Lebaran, ketupat hadir bukan hanya di meja makan, tetapi juga di depan rumah dan tergantung dalam anyaman janur yang khas. Ia tampak sederhana: beras yang dimasak dalam bungkus daun kelapa muda. Namun di balik bentuknya yang padat, ketupat menyimpan lapisan makna yang jauh lebih kompleks.
Pertanyaannya, sejak kapan ketupat menjadi simbol Idul Fitri? Dan benarkah kata “kupat” berasal dari “ngaku lepat”alias mengakui kesalahan?
Jawabannya tidak tunggal. Ia berada di persimpangan antara bahasa, budaya, dan sejarah panjang islamisasi di Jawa.
Ketupat bukan bagian dari ajaran normatif Islam. Ia tidak ditemukan dalam praktik keagamaan di Timur Tengah. Sebaliknya, ketupat tumbuh sebagai tradisi lokal di Nusantara, terutama di Jawa.
Dalam perspektif antropologi, fenomena ini menunjukkan bahwa agama selalu hadir melalui medium budaya. Clifford Geertz dalam The Religion of Java menjelaskan bahwa praktik keagamaan di Jawa merupakan hasil percampuran antara ajaran Islam dengan tradisi lokal. Islam, dalam konteks ini, tidak hadir sebagai sistem yang sepenuhnya menggantikan budaya lama, melainkan bernegosiasi dengannya.
Ketupat menjadi salah satu wujud konkret dari proses tersebut. Sebuah tradisi lokal yang kemudian dilekatkan pada momen religius Idul Fitri.
Dakwah Kultural Sunan Kalijaga
Sejarah ketupat kerap dikaitkan dengan peran Sunan Kalijaga, tokoh Wali Songo yang dikenal menggunakan pendekatan budaya dalam menyebarkan Islam di Jawa.
Alih-alih menolak tradisi yang sudah ada, ia justru mengadaptasinya. Dalam kajian tentang dakwah kultural, pendekatan ini dipahami sebagai strategi untuk menjembatani nilai-nilai Islam dengan praktik sosial masyarakat. Abbas et al. (2023), misalnya, menunjukkan bahwa dakwah Sunan Kalijaga banyak menggunakan simbol budaya sebagai medium komunikasi.
Ketupat, dalam konteks ini, berfungsi sebagai simbol atau cara menyampaikan ajaran tanpa konfrontasi. Ia menjadi bahasa kultural yang mudah dipahami masyarakat.
Penjelasan populer menyebut bahwa “kupat” berasal dari frasa “ngaku lepat”, yang berarti mengakui kesalahan. Makna ini selaras dengan praktik Lebaran di Indonesia, di mana saling memaafkan menjadi ritual utama.
Namun, dari sudut pandang linguistik, hubungan ini tidak bisa diterima begitu saja sebagai asal-usul kata yang historis. Ketupan lebih tepat dipahami sebagai folk etymology atau penafsiran masyarakat yang menghubungkan bunyi kata dengan makna tertentu untuk memperkuat pesan budaya.
Dalam kajian antropologi linguistik, seperti ditunjukkan oleh Maghfiroh dan Nurhayati (2023), makna simbolik dalam tradisi ketupat memang tidak selalu berasal dari struktur bahasa yang objektif, melainkan dari kesepakatan sosial yang hidup di masyarakat.
Dengan kata lain, “kupat” menjadi bermakna “ngaku lepat” bukan karena sejarah bahasanya, tetapi karena fungsi simboliknya dalam konteks Lebaran.

Ketupat bukan sekadar satu simbol, melainkan bagian dari sistem makna yang lebih luas.
Dalam perspektif semiotika budaya, seperti dijelaskan oleh Sofianti (2024), tradisi ketupat dapat dibaca sebagai rangkaian tanda yang saling berkaitan. Anyaman janur yang rumit sering dimaknai sebagai representasi dari kesalahan manusia yang kompleks. Sementara bagian dalamnya—beras putih yang telah matang—melambangkan kesucian setelah proses pembersihan.
Penafsiran ini sejalan dengan pandangan Koentjaraningrat yang melihat budaya sebagai sistem makna yang diwujudkan dalam simbol-simbol. Dalam konteks Jawa, sebagaimana dijelaskan oleh Benedictus Herusatoto, simbol sering kali hadir dalam bentuk benda sehari-hari, termasuk makanan.
Ketupat, dengan demikian, bukan hanya makanan, melainkan teks budaya yang bisa “dibaca”.
Dari Simbol ke Ritual Sosial
Makna ketupat tidak berhenti pada level simbolik. Ia juga hadir dalam praktik sosial, seperti tradisi Lebaran Ketupat atau Bakda Kupat yang dirayakan sekitar sepekan setelah Idul Fitri.
Dalam kerangka sosial-ekonomi, praktik ini memiliki fungsi penting. Ketupat tidak hanya dikonsumsi, tetapi juga dibagikan kepada tetangga dan kerabat. Ini menciptakan mekanisme distribusi makanan yang memperkuat solidaritas sosial.
M. C. Ricklefs dalam kajiannya tentang islamisasi Jawa menekankan bahwa praktik keagamaan sering kali berkembang melalui institusi sosial semacam ini—bukan hanya melalui doktrin, tetapi melalui kebiasaan kolektif.
Ada indikasi bahwa ketupat telah dikenal sebelum kedatangan Islam di Jawa. Jika demikian, maka yang terjadi bukanlah penciptaan tradisi baru, melainkan reinterpretasi.
Fenomena ini sesuai dengan pola yang dijelaskan dalam berbagai studi tentang islamisasi Jawa: tradisi lama tidak dihapus, tetapi diberi makna baru agar selaras dengan nilai Islam.
Dengan cara ini, agama tidak datang sebagai kekuatan yang memutus masa lalu, tetapi sebagai proses yang merangkul dan menafsirkan ulang budaya yang sudah ada.
Baca Juga: Lebaran Ketupat: Melacak Akar Historis dari Era Jawa Kuno hingga Syiar Sunan Kalijaga
Pada akhirnya, ketupat adalah lebih dari sekadar hidangan Lebaran. Ia adalah hasil dari proses panjang—pertemuan antara bahasa, budaya, dan agama.
“Kupat” mungkin bukan berasal dari “ngaku lepat” dalam arti linguistik yang ketat. Namun, hubungan itu tetap bertahan karena bermakna secara sosial. Ia membantu masyarakat memahami Lebaran sebagai momen pengakuan, pengampunan, dan pembaruan diri.
Di balik anyaman janur, tersimpan cara masyarakat merundingkan agama melalui budaya. Ketupat menjadi bukti bahwa makna tidak selalu diwariskan secara langsung, tetapi dibangun, disepakati, dan terus dihidupkan dari generasi ke generasi. (*)
Daftar Pustaka
- Abbas, N., et al. (2023). Landscape dakwah Islam kultural Sunan Kalijaga di Jawa. Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner, 2(2), 98–107.
- Detikcom. (2023). Asal-usul ketupat Lebaran yang jadi tradisi Idul Fitri di Indonesia. https://news.detik.com/berita/d-6677965/asal-usul-ketupat-lebaran-yang-jadi-tradisi-idul-fitri-di-indonesia
- Geertz, C. (1989). The religion of Java. University of Chicago Press. (Original work published 1960)
- Herusatoto, B. (1985). Simbolisme dalam budaya Jawa. Hanindita.
- Koentjaraningrat. (1974). Kebudayaan, mentalitas, dan pembangunan. Gramedia.
- Maghfiroh, A., & Nurhayati, N. (2023). Makna kultural kepercayaan masyarakat Jawa terhadap ketupat di momen Lebaran: Kajian antropologi linguistik. Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra, 14(2), 216–228. https://doi.org/10.31503/madah.v14i2.640
- Nahdlatul Ulama Jawa Timur. (n.d.). Sejarah Lebaran ketupat punya makna filosofis yang mendalam. https://jatim.nu.or.id/rehat/sejarah-lebaran-ketupat-punya-makna-filosofis-yang-mendalam-SpU3D
- Nahdlatul Ulama Lampung. (n.d.). Filosofi ketupat Sunan Kalijaga. https://lampung.nu.or.id/seni-budaya/filosofi-ketupat-sunan-kalijaga-ubru6
- Ricklefs, M. C. (2006). Mystic synthesis in Java: A history of Islamization from the fourteenth to the early nineteenth centuries. EastBridge.
- Ricklefs, M. C. (2012). Islamisation and its opponents in Java: A political, social, cultural and religious history, c. 1930 to present. NUS Press.
- Sofianti, D. (2024). Nilai budaya dalam tradisi Hari Raya ketupat: Kajian semiotika. Journal of Educational Language and Literature.
- Suara Muhammadiyah. (n.d.). Mengulik sejarah ketupat dan tradisi mudik di Indonesia.https://suaramuhammadiyah.id/read/mengulik-sejarah-ketupat-dan-tradisi-mudik-di-indonesia