Ayo Netizen

Kereta Cepat dan Tantangan First Mile–Last Mile

Oleh: Angga Marditama Sultan Sufanir Minggu 10 Mei 2026, 18:08 WIB
Layar di dalam kabin Whoosh yang menampilkan informasi kecepatan kereta saat itu. (Sumber: Dok. Penulis)

Banyak pengguna Whoosh mengeluhkan bahwa total perjalanan Jakarta–Bandung terasa tidak jauh berbeda dibanding menggunakan travel. Keluhan ini mungkin terdengar paradoksal. Bagaimana mungkin kereta dengan kecepatan ratusan kilometer per jam masih dianggap belum jauh lebih cepat?

Jawabannya terletak pada satu hal penting yang sering luput dalam diskusi transportasi: pengalaman perjalanan pengguna tidak hanya ditentukan oleh kecepatan kendaraan, tetapi oleh keseluruhan perjalanan dari titik asal hingga tujuan akhir (door-to-door journey).

Kereta Cepat Sangat Cepat, tetapi Hanya di Inti Perjalanan

Secara teknis, perjalanan inti Whoosh memang sangat cepat. Waktu tempuh dari Stasiun Halim menuju Stasiun Padalarang hanya berlangsung dalam hitungan puluhan menit.

Namun bagi banyak pengguna, perjalanan sesungguhnya dimulai jauh sebelum naik kereta. Pengguna dari Tangerang, Depok, Jakarta Utara, atau Jakarta Barat sering kali harus menghadapi kemacetan panjang hanya untuk mencapai Stasiun Halim. Dalam kondisi lalu lintas padat, perjalanan menuju stasiun dapat menghabiskan waktu hingga dua jam.

Setelah tiba di stasiun, penumpang juga masih perlu menghadapi proses perpindahan moda, pemeriksaan, antrean, dan waktu tunggu keberangkatan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kecepatan tinggi di atas rel tidak otomatis membuat perjalanan menjadi efisien jika akses menuju stasiun masih menyita banyak waktu dan energi.

Tantangan akses menuju stasiun juga terlihat dari persoalan ruang parkir dan sirkulasi kendaraan di kawasan Stasiun Halim. Sebagian pengguna mengeluhkan berkurangnya kapasitas parkir reguler karena adanya alokasi area bagi taksi maupun layanan parkir dengan tarif premium (Rp 100.000). Selain itu, sistem drop-off berbayar juga kerap dipersepsikan menambah beban perjalanan, terutama bagi pengguna yang hanya mengantar penumpang dalam waktu singkat.

Konsep first mile sendiri merujuk pada perjalanan awal pengguna dari titik asal menuju simpul transportasi utama. Menurut Shaheen dan Chan (2016), keberhasilan transportasi publik sangat dipengaruhi oleh kualitas akses menuju moda utama, terutama dari sisi konektivitas dan kemudahan perpindahan moda.

Area parkir premium di Stasiun Halim. (Sumber: Thread/imankuntu)

Tantangan Setelah Tiba di Bandung

Persoalan tidak berhenti setelah kereta tiba. Penumpang yang turun di Stasiun Padalarang atau Stasiun Tegalluar masih harus melanjutkan perjalanan menuju pusat kota Bandung atau kawasan tujuan lainnya.

Sebagian penumpang perlu menggunakan kereta feeder, shuttle, taksi, atau kendaraan pribadi. Pada jam sibuk, perjalanan lanjutan ini juga tidak lepas dari kemacetan. Akibatnya, keuntungan waktu yang dimiliki kereta cepat menjadi berkurang ketika dihitung secara keseluruhan.

Kondisi di kawasan Stasiun Padalarang juga menunjukkan bahwa aspek pendukung perjalanan masih menjadi tantangan. Kapasitas parkir yang sangat terbatas membuat area stasiun terasa padat oleh parkir kendaraan sewa dan kendaraan penjemput rombongan VIP. Situasi ini memperlihatkan bahwa keberhasilan transportasi publik modern tidak hanya bergantung pada layanan utama, tetapi juga pada pengelolaan ruang akses dan sirkulasi di kawasan stasiun.

Menurut Geurs dan van Wee (2004), aksesibilitas transportasi tidak hanya ditentukan oleh kecepatan perjalanan, tetapi juga oleh kemudahan mencapai lokasi tujuan secara menyeluruh. Dalam konteks ini, kualitas last mile menjadi sama pentingnya dengan kecepatan perjalanan utama.

Stasiun Whoosh Padalarang: stasiun elit, parkiran sulit. (Sumber: Tiktok/harisubakti4382)

Mengapa Travel Masih Dianggap Kompetitif?

Di sisi lain, travel masih dianggap kompetitif karena menawarkan perjalanan langsung dari titik asal ke titik tujuan. Meskipun lebih lambat di jalan tol, moda ini meminimalkan perpindahan moda dan terasa lebih praktis bagi sebagian pengguna.

Dalam banyak kasus, kenyamanan, kesederhanaan, dan kepastian perjalanan justru lebih menentukan dibanding kecepatan maksimum kendaraan. Pengguna tidak perlu memikirkan akses menuju stasiun maupun perjalanan lanjutan setelah tiba.

Hal ini sejalan dengan konsep generalized travel cost, yaitu bahwa pengguna transportasi mempertimbangkan keseluruhan beban perjalanan, termasuk waktu tunggu, perpindahan moda, kenyamanan, dan ketidakpastian perjalanan, bukan hanya waktu tempuh kendaraan semata.

Integrasi Menjadi Pekerjaan Rumah Utama

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru dalam dunia transportasi. Keberhasilan sistem kereta cepat di Jepang, Tiongkok, maupun Eropa tidak hanya ditentukan oleh rel berkecepatan tinggi, tetapi juga oleh integrasi transportasi perkotaan yang kuat.

Stasiun kereta cepat di negara-negara tersebut umumnya terhubung langsung dengan metro, kereta komuter, bus kota, jalur pejalan kaki, hingga kawasan berbasis transit-oriented development (TOD). Perjalanan antarmoda dibuat sesingkat dan semudah mungkin.

Menurut Cervero (1998), integrasi tata guna lahan dan transportasi merupakan faktor penting dalam meningkatkan efektivitas sistem transportasi publik massal. Karena itu, tantangan utama transportasi modern bukan hanya membangun infrastruktur besar, tetapi juga memastikan konektivitas antarmoda berjalan dengan baik.

Penguatan feeder menuju stasiun, integrasi tarif antarmoda, sinkronisasi jadwal perjalanan, penyediaan park and ride, hingga peningkatan akses pejalan kaki dan pesepeda dapat menjadi langkah penting untuk meningkatkan pengalaman perjalanan pengguna. Dengan demikian, kecepatan tinggi kereta cepat dapat benar-benar diterjemahkan menjadi efisiensi perjalanan sehari-hari.

Pada akhirnya, masa depan transportasi bukan hanya soal seberapa cepat kendaraan dapat bergerak, melainkan seberapa mudah masyarakat mencapai tujuan akhirnya. Dalam konteks ini, first mile dan last mile bukan sekadar pelengkap perjalanan, melainkan penentu utama apakah kereta cepat benar-benar terasa cepat bagi penggunanya. (*)

TAGS:
Reporter Angga Marditama Sultan Sufanir
Editor Aris Abdulsalam