Ayo Netizen

Market Driven atau Potential Driven, Dilema Bisnis Koperasi Merah Putih

Oleh: Vina Fitrotun Nisa Rabu 03 Jun 2026, 13:15 WIB
Masa Retreat Kabinet Merah Putih di Magelang. (Sumber: menpan.go.id)

Dibawa kemana arah bisnis koperasi merah putih akan sangat tergantung pada eksekusi yang dilakukan para pengurus di lapangan. Sebelum membuat keputusan bisnis, para pengurus seringkali dipusingkan oleh pertanyaan mau mulai dari mana. Apakah mereka harus menjual barang yang sudah jelas pasarnya atau mencari potensi bisnis yang dapat digali berdasarkan keunggulan yang dimiliki daerah masing-masing.

Kedua keputusan ini sebenarnya sama-sama memiliki tujuan yang sama, yakni menciptakan kesejahteraan untuk para anggota. Namun, ada keputusan yang menghasilkan cashflow yang lebih cepat sementara yang lain secara bertahap.

Pertanyaannya, mana yang harus dilakukan terlebih dahulu. Meskipun keduanya bisa dijalankan secara bersamaan, namun pengurus perlu memilih langkah prioritas. Terutama di masa-masa koperasi baru didirikan. Dalam tahapan ini, koperasi dapat dikatakan sedang ada di mode survival, sehingga modal yang dimiliki harus terus diputar agak omzetnya terus meningkat.

Mari kita ambil contoh apabila koperasi menetapkan pendekatan potential driven. Artinya koperasi memulai bisnis dengan mengidentifikasi sumber daya apa yang dapat digali untuk menciptakan keuntungan. Alkisah ada desa yang memiliki sungai yang jernih dengan pemandangan yang indah, kondisi ini mungkin membuat pengurus berpikir untuk menjalankan bisnis glamping, water tubing, perahu wisata hingga kuliner tepi sungai.

Semua perencanaan dan pembangunan fasilitas telah rampung dikerjakan, namun tempat tersebut belum dikenal banyak orang. Sehingga, pengurus masih harus mengeluarkan biaya tambahan di awal untuk mempromosikan tempat tersebut kepada banyak orang. Dalam pendekatan ini, modal yang tadi sudah dikeluarkan tidak dapat kembali dalam waktu yang singkat. Di sisi lain, koperasi harus terus mengeluarkan biaya operasional bulanan untuk membayar listrik, kebersihan dan promosi. Namun pendapatan yang diperoleh masih belum sesuai harapan.

Inilah tantangan dari pendekatan bisnis potential driven. Modal awal yang dikeluarkan dalam jumlah tertentu tidak dapat kembali seutuhnya saat itu juga. Untuk mencapai keuntungan maksimal, koperasi masih harus membangun reputasi dari awal, menciptakan pengalaman wisata yang menarik, dan menciptakan permintaan baru. Langkah ini akan terasa lebih sulit dibanding menjual barang yang sudah jelas ada permintaannya di pasar.

Apakah akan berhasil atau tidak, langkah ini tergantung pada kerelaan pengurus dan anggota untuk bersabar dan berjuang melewati proses yang panjang dan tidak mudah. Karena orientasi dari pendekatan bisnis ini adalah pertumbuhan dan pembangunan jangka panjang.

Koperasi Merah Putih Bentangan Klaten. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: BiographyWriter45)

Pendekatan lain yang umumnya dilakukan saat memulai suatu bisnis adalah market driven. Dengan pendekatan ini, koperasi tidak fokus pada pertanyaan barang apa yang akan dihasilkan. Melainkan, bagaimana bisa masuk ke pasar yang sudah ada.

Contonya, ada kawasan wisata yang memiliki banyak hotel. Setiap harinya, hotel dan penginapan tersebut membutuhkan suplai beras sebanyak 5 ton, sayur 1 ton, buah hingga daging segar. Selama ini, stok tersebut diperoleh dari distributor yang ada di luar kota. Padahal, jarak di antara keduanya sangatlah jauh dan distribusinya sering terhambat karena macet. Di sisi lain, banyak petani dan peternak di kawasan wisata itu sulit menjual barang.

Di titik inilah koperasi bisa mengambil peran. Dalam pendekatan market driven, koperasi bisa berperan sebagai mitra bagi hotel dengan menyediakan stok yang berkualitas dan berkelanjutan. Stok tersebut dapat didapatkan dari para peternak dan petani yang telah bergabung menjadi anggota Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Tidak hanya satu koperasi, beberapa koperasi dapat saling bekerjasama untuk memenuhi stok yang dibutuhkan pasar. Dengan demikian, koperasi sudah bisa menciptakan arus kas yang terus berputar setiap hari.

Meskipun begitu, pendekatan ala market driven tidak sepenuhnya tanpa risiko. Menjalankan bisnis yang sudah ada pasarnya seringkali dihadapkan keuntungan yang tipis dan pesaing yang tinggi. Akibatnya koperasi kehilangan peran transformatifnya sebagai lembaga yang mampu mendongkrak potensi desa.

Tanpa potential driven, koperasi akan menjadi roda bisnis yang jalan ditempat. Oleh karenanya, penting bagi pengurus koperasi untuk memadukan langkah bisnis yang dijalannkan. Kedua pendekatan tersebut bisa dijalankan secara bertahap tanpa meniadakan satu dengan yang lainnya. Di tahap awal koperasi dapat menjelasnkan pendekatan market driven. Setelah memiliki modal dan pengalaman bisnis yang memadai, koperasi bisa perlahan bergerak ke arah potential driven. (*)

Reporter Vina Fitrotun Nisa
Editor Aris Abdulsalam