Ayo Netizen

Perkembangan Kuliner Nasi Megono dalam Kehidupan Masyarakat Pekalongan

Oleh: Dien Tegar Wicaksono
Foto Nasi Megono yang biasa disajikan bersama keluarga. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Dien Tegar Wicaksono)

Di tengah gempuran tren kuliner modern, makanan tradisional tetap menyimpan cerita yang tak termakan zaman. Salah satu yang menarik untuk ditelusuri adalah Nasi Megono, yaitu hidangan khas dari Pekalongan, Jawa Tengah, yang berbahan dasar nangka muda cincang yang dicampur dengan kelapa parut dan bumbu rempah. Pekalongan yang dikenal luas sebagai kota batik ternyata juga menyimpan kekayaan kuliner yang tak kalah menarik. Wisatawan yang datang ke kota ini pun kerap menyempatkan diri untuk mencicipi Nasi Megono. Nasi Megono tidak hanya kita temukan di Pekalongan.

Hidangan ini dapat kita temukan di daerah Batang, Pemalang, Wonosobo, dan Temanggung. Di Batang, megono umumnya dijumpai pada pagi hari dan menjadi menu sarapan favorit masyarakat setempat. Lebih dari sekadar hidangan pengisi perut, Nasi Megono kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat.

Nasi Megono merupakan salah satu kuliner khas Pekalongan yang dikenal sebagai makanan sederhana. Kuliner ini terbuat dari nangka muda yang dicincang, lalu dicampur dengan kelapa parut dan diberi bumbu rempah seperti bawang merah, bawang putih, cabai, daun salam, dan lengkuas. Rasanya yang gurih dan sedikit pedas membuat makanan ini digemari oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Bahkan banyak pengunjung dari berbagai daerah yang datang ke Pekalongan sengaja menyempatkan diri untuk mencicipi Nasi Megono. Daya tarik utama yang membuat Nasi Megono tetap bertahan hingga saat ini adalah kesederhanaannya.

Dilansir dari artikel Good News From Indonesia yang terbit pada tahun 2022, kemunculan Nasi Megono bermula dari peradaban Jawa Kuno, yang menjadikan Nasi Megono sebagai lauk dari sebuah gunungan nasi yang digunakan sebagai sesaji sejak era Mataram Kuno. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa Nasi Megono berawal dari ekspedisi Mataram dalam menghadapi VOC di Batavia.

Ketika itu, rombongan pasukan Mataram yang sedang menuju ke Batavia mengalami kelelahan di wilayah Kabupaten Pekalongan. Penduduk setempat yang melihat hal itu lantas merasa kasihan dan berinisiatif untuk memberikan makanan. Namun, penduduk setempat hanya memiliki kerak nasi. Lalu dicarilah lauk tambahan untuk disandingkan dengan nasi, dan ditemukanlah nangka muda yang tumbuh melimpah di sekitar permukiman penduduk. Nangka muda itu lalu diolah dengan cara dicincang kecil-kecil dan dicampur dengan kelapa parut, serta diberi bumbu untuk memperkaya rasa.

Makanan ini kemudian disebut sebagai Megono yang merupakan singkatan dari “Merga Ono” yang berarti “Karena Ada” dalam bahasa Jawa. Pada masa itu, penduduk setempat memanfaatkan apa yang tersedia untuk menciptakan makanan sederhana yang mengenyangkan. Dari sinilah Nasi Megono berkembang sebagai bagian dari tradisi kuliner lokal yang terus diwariskan.

Repronegatief. De religieuze maaltijd 'selamatan', Java. (Sumber: Wereldmuseum Amsterdam)

Nasi Megono memiliki peran penting dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Pekalongan. Makanan ini tidak hanya hadir dalam keseharian, tetapi juga dalam berbagai kegiatan sosial seperti selamatan. Di masa lampau, Nasi Megono selalu dijadikan menu dalam acara selamatan, baik saat masa panen maupun masa tanam. Bahan-bahan yang digunakan dalam proses pembuatannya diambil langsung dari alam sekitar. Hal ini menjadikan masyarakat memiliki hubungan yang erat dengan alam sekitarnya, sekaligus menjadi simbol rasa syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan. Selain acara selamatan untuk masa panen, ada juga acara selamatan tujuh bulan atau dikenal sebagai Mitoni. Mitoni adalah tradisi Jawa yang dilakukan saat ibu hamil memasuki usia tujuh bulan. Tujuan dari acara ini adalah untuk memohon perlindungan dan kesehatan bagi bayi serta ibunya yang sedang mengandung. Dalam proses ini, Nasi Megono menjadi salah satu hidangan yang dipersiapkan. Nasi Megono menjadi simbol berkah dan harapan agar proses kelahiran berlangsung dengan lancar dan bayinya terlahir dalam kondisi yang sehat (Ahmada, 2023).

Hal ini memperkuat nilai kebersamaan dan rasa syukur yang menjadi inti dari upacara tersebut. Upacara ini memiliki kemiripan dengan tradisi Ngaliwet yang berasal dari tanah Sunda. Dalam upacara ini, Nasi Megono biasanya disajikan dengan lauk tambahan seperti tempe goreng, ayam goreng, atau ikan, serta dilengkapi dengan sambal (Ahmada, 2023). Melalui hidangan sederhana ini, hubungan antarwarga dapat terjalin dengan lebih erat.

Acara Selamatan Tahun Baru Islam 1444 H 2022 M Atau Bulan Sura Di Musola Al Musoli Desa Karang Tanjung Alian Kebumen Jateng Indonesia (Sumber: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Acara_Selamatan_Tahun_Baru_Islam_1444_H_2022_M_Atau_Bulan_Sura_Di_Musola_Al_Musoli_Desa_Karang_Tanjung_Alian_Kebumen_Jateng_Indonesia.jpg | Foto: SATELIT BM)

Seiring berjalannya waktu, Nasi Megono terus berkembang bukan hanya dalam cita rasa, tetapi juga dalam cara penyajiannya. Jika dulu hadir dalam tampilan yang sederhana, kini hidangan ini selalu disandingkan dengan berbagai lauk pendamping seperti ikan teri goreng, telur rebus, ayam suwir, tempe, hingga tahu.

Tak hanya itu, variasi baru pun mulai bermunculan, mulai dari megono orek tempe, megono buncis, hingga dalam bentuk rice bowl modern yang semakin memperkaya ragam pilihan bagi para penggemarnya. Yang menarik, meski dikenal sebagai makanan tradisional, Nasi Megono justru semakin relevan di tengah gaya hidup modern. Gen Z Pekalongan pun tak ragu menjadikannya sebagai comfort food, yaitu makanan rumahan yang dibuat dengan cara sederhana namun menghadirkan rasa yang akrab dan menenangkan, terutama saat jauh dari rumah. Bahkan, nasi megono mulai diangkat dalam festival kuliner atau event pariwisata lokal sebagai bagian dari identitas kuliner Pekalongan. Perubahan ini menunjukkan bahwa kuliner tradisional mampu beradaptasi dengan selera masyarakat modern. Meskipun demikian, cita rasa khasnya tetap dipertahankan sebagai identitas utama.

Hingga kini, Nasi Megono tetap bertahan sebagai makanan favorit masyarakat Pekalongan, bahkan di tengah gempuran makanan cepat saji yang semakin menjamur di setiap sudut kota. Di warung-warung tradisional, hidangan ini masih mudah ditemukan dengan harga yang sangat terjangkau. Banyak masyarakat yang menjadikan Nasi Megono sebagai menu sarapan utamanya karena dinilai simpel dan mengenyangkan.

Kini, Nasi Megono mulai diperkenalkan ke luar daerah melalui berbagai festival kuliner. Sejumlah restoran di luar Pekalongan pun mulai memasukkannya ke dalam menu sebagai bagian dari kekayaan kuliner Nusantara. Di sisi lain, warga Pekalongan yang merantau ke kota-kota besar turut andil dalam menyebarkan Nasi Megono lewat warung dan rumah makan yang mereka dirikan.

Foto Nasi Megono yang biasa diperdagangkan (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Dien Tegar Wicaksono)

Pada akhirnya, Nasi Megono bukan sekadar hidangan sederhana yang mengenyangkan, melainkan sebuah perjalanan panjang budaya dan kehidupan masyarakat Pekalongan. Dari asal-usulnya yang lahir dari keterbatasan dan kreativitas masyarakat, hingga perannya dalam berbagai tradisi seperti selamatan dan mitoni, Nasi Megono telah menjelma menjadi simbol kebersamaan, rasa syukur, dan harapan.

Seiring perkembangan zaman, kuliner ini mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya dan tetap hadir dalam berbagai bentuk yang lebih modern, namun tetap mempertahankan cita rasa khasnya. Di tengah arus globalisasi dan dominasi makanan cepat saji, keberadaan Nasi Megono menjadi bukti bahwa warisan kuliner lokal masih memiliki tempat yang kuat di hati masyarakat. Oleh karena itu, menjaga dan melestarikan Nasi Megono bukan hanya tentang mempertahankan sebuah makanan, tetapi juga merawat identitas budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi. (*)

Daftar Pustaka

  • Ahmada, A. A. (2023). Sajian hidangan nasi megono dalam upacara tingkepan di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah (Skripsi, Universitas Negeri Surabaya).

  • Briliawan, B. D. (2022, December 12). Sego megono: Ransum Mataram, barokah sedekah, dan asal yang diperdebatkan. Good News From Indonesia. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2022/12/12/sego-megono-ransum mataram-barokah-sedekah-dan-asal-yang-diperdebatkan

  • Chilmi, M. N. (2025, Juni 14). Jejak sejarah megono, makanan penyelamat masyarakat khas Pekalongan. Radar Pekalongan. https://radarpekalongan.id/2025/06/14/jejak sejarah-megono-makanan-penyelamat-masyarakat-khas-pekalongan/

  • Nog eens do slametan ngesoor tanah "Samarangsch advertentie-blad". Samarang, 10-07-1896, p. 2. Geraadpleegd op Delpher op 04-05-2026,

  • Sofyan, M. A. (2020). Eksistensi megono sebagai identitas kultural: Sebuah kajian antropologi kuliner dalam dinamika variasi makanan global. Sosiologi Reflektif, 15(1), 45 62.

  • Unimma FM. (n.d.). Asal-usul nasi megono khas Pekalongan. https://unimmafm.com/asal usul-nasi-megono-khas-pekalongan/

Reporter Dien Tegar Wicaksono
Editor Aris Abdulsalam