Ayo Netizen

Tyson, Bullying, Bandung

Oleh: bram herdiana
Mike Tyson. (Sumber: Flickr | Foto: Eduardo Merille)

Ketika rampung masa kegemilangan petinju Muhammad Ali dipertengahan tahun 1980-an, muncul seorang pemuda yang kelak menjadi petinju hebat juga ikonik pada olahraga baku hantam tersebut. Pemuda tersebut bernama Mike Tyson yang karena kehebatannya membuat olahraga tinju gengsinya makin melambung. Kecepatan dalam menyungkurkan lawannya sangat dinantikan oleh masyarakat dunia penggemar tinju. Masyarakat rela meninggalkan kegiatan apapun karena jika Tyson bertanding maka biasanya tidak berlangsung lama, berbeda dengan para petinju lainnya yang sering jumlah rondenya lama.

Mike Tyson lahir 30 Juni 1966 di New York City, Amerika Serikat merupakan petinju profesional dan mantan juara kelas berat. Julukan Mike Tyson secara literasi internasional adalah "Iron Mike", merujuk pada postur tubuhnya yang kuat bagaikan besi. Ia menyabet juara dunia termuda saat berumur 20 tahun. kegemilangan ini membuat dunia terperanjat dan para petinju kelas berat sangat berambisi untuk menghancurkannya. Dua tahun berikutnya tahun 1988, Tyson membentangkan kemampuannya sebagai juara dunia paling komplit dengan membabat empat sabuk kelas berat WBO, WBA, dan IBF setelah WBC.

Tyson lahir di kota kecil Fort Greene, Brooklyn dengan nama lengkap Michael Gerard Tyson. Sejak kecil Tyson sudah terbiasa dengan kehidupan yang keras. Lingkungan hidupnya membuat Tyson menjadi karakter yang tenang. Namun, tinggal di area kriminalitas tinggi, membuat Tyson tak lepas dari gangguan, pertikaian dan perkelahian. Tyson mengakui pertarungan jalanan pertamanya terjadi pada usia 10 tahun, penyebabnya karena temannya yang lebih tua dan besar, mematahkan leher burung merpati kesayangannya. Ia emosi dan memukul orang tersebut dengan brutal,, karena burung merpati adalah pelarian berbagai perasaan Mike Tyson.

Narasi hidup Mike Tyson membuktikan bahwa seseorang yang pernah menjadi korban bullying dapat mengubah pengalaman pahit menjadi motivasi untuk meraih prestasi. Saat kecil, Tyson sering menjadi sasaran ejekan dan perlakuan tidak menyenangkan dari teman-temannya. Ia tumbuh di lingkungan yang keras dan menghadapi berbagai tantangan sosial yang memengaruhi kepercayaan dirinya. Namun, pengalaman tersebut tidak membuatnya menyerah.

Dengan bertinju, Tyson menemukan wadah untuk menyalurkan kemarahan dan energi yang selama ini terpendam. Dengan bimbingan pelatih serta latihan yang disiplin, ia mengembangkan kemampuan fisik dan mental yang luar biasa. Pengalaman menjadi korban bullying justru membentuk ketangguhan, keberanian, serta tekadnya untuk membuktikan bahwa dirinya memiliki nilai, kemampuan dan hak untuk menghilangkan penindasan tersebut.

Kesuksesan Tyson tidak hanya ditentukan oleh bakat, tetapi juga oleh kemampuannya mengubah tekanan menjadi motivasi. Ia belajar bahwa cara terbaik menghadapi penghinaan bukanlah dengan membalas dendam, melainkan dengan menunjukkan prestasi. Pada usia muda, Tyson berhasil menjadi juara dunia kelas berat termuda dalam sejarah tinju, sebuah pencapaian yang membuat namanya dikenal di seluruh dunia.

Dari kisah ini dapat disimpulkan bahwa pengalaman menjadi korban bullying tidak harus mematikan masa depan seseorang. Melalui kerja keras, disiplin, dan kemauan untuk berkembang, seseorang dapat bangkit dari kesulitan, membangun kepercayaan diri, serta meraih kesuksesan yang bahkan melampaui orang-orang yang merendahkannya.

Mike Tyson. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Eva Rinaldi)

Bullying atau perundungan adalah tindakan agresif yang disengaja dan dilakukan berulang kali oleh satu atau sekelompok orang untuk menyakiti, mengintimidasi, atau mendominasi orang lain. Tindakan ini menciptakan ketidakseimbangan kekuasaan dan membuat korban merasa tertekan serta tidak berdaya. Hal ini sesuai dengan pengalaman Mike Tyson yang dianggap lemah oleh orang-orang disekitarnya namun Tyson memberontak lalu melawan orang-orang tersebut sehingga mereka ciut nyalinya ketika Tyson yang sering dikasari melawan dengan kuat.

Sejak itu juga Mike Tyson menjadi orang yang punya keberanian hidup dijalanan melakoni kehidupan kriminal sejak anak-anak sebelum akhirnya menjadi petinju dunia yang gagah perkasa, sulit dikalahkan lawan, benar-benar tangguh. Bahkan lawannya bertinju sering ketakutan sebelum pertarungan di mulai. Bulan juni sering menjadi kesuksesan dan kekalahan bagi si "manusia besi" tersebut. Berawal pada tanggal 27 Juni 1981,, Mike meraih gelar juara tinju pertamanya, sebagai petinju amatir berusia 15 tahun, mengalahkan petinju kelas berat Joe Cortez hanya dalam 8 detik untuk merebut medali emas di Olimpiade Junior.

Selanjutnya 27 Juni 1988 tercatata Mike mengalahkan Michael Spinks dalam 91 detik lewat pertarungan tinju terkaya dalam sejarah pada saat itu. Meskipun Tyson datang dengan semua sabuk juara, majalah Ring dan lainnya menganggap Spinks sebagai juara sejati. Setelah KO tersebut, Spinks tidak pernah bertarung lagi.

Setelah kekalahannya atas Holyfield pada 1996. Tyson kembali berhadapan dengan Holyfield. Pertandingan yang digelar 28 Juni 1997 ini menjadi salah satu pertandingan yang bersejarah dalam dunia tinju. Hal ini karena saat memasukki ronde ke-3, Tyson yang saat itu sedang dirangkul, tiba-tiba menggigit telinga kanan Holyfield dan Holyfield langsung melompat kesakitan. Gigitan pertama mengakibatkan pengurangan dua poin, dan gigitan kedua mengakhiri pertandingan. Insiden menggigit kuping ini membuat Mills Lane, wasit dalam pertandingan ini, menghentikan pertandingan dan memaksa Tyson untuk memakai pelindung gigi yang ia miliki. Akhirnya, Tyson harus didiskualifikasi dan Holyfield dinyatakan kembali menjadi juara.

Tanggal 8 Juni 2002 Dalam pertarungan kejuaraan terakhir dalam kariernya, Tyson menantang Lennox Lewis untuk memperebutkan gelar WBC, IBF, IBO, dan gelar lineal, dan kalah melalui knockout di ronde kedelapan . Pertarungan tersebut diadakan di Memphis, Tennessee, setelah komisi Nevada dan negara bagian lain menolak memberikan lisensi kepada Tyson. Namun, acara tersebut menarik 1,95 juta pembelian PPV, sebuah rekor yang kemudian dilampaui oleh empat pertarungan Floyd Mayweather. kemudian awan kelabu mewarnai pertandingannya waktu 11 Juni 2005, Mike Tyson menyerah di sudut ring sebelum ronde ketujuh dari Kevin McBride dalam pertarungan terakhir dalam kariernya.

Suasana Kota Bandung pada Minggu sebelum siang tahun 1980-an ketika Mike Tyson bertanding yang ditayangkan TVRI, maka akan telrihat jalanan atau gang lebih lengang dari biasanya. Dari sebuah rumah atau warung terdengar suara komentator TVRI, sementara puluhan warga duduk berdesakan di depan televisi tabung yang dominan BW bersorak setiap kali Tyson melancarkan pukulan kerasnya. Bagi banyak warga Bandung pada masa itu, pertandingan Mike Tyson bukan sekadar tontonan olahraga, melainkan juga sebuah wujud sebagai massa secara kelompok sosial yang dipersatukan oleh tontonan di TVRI.

Ketika TVRI menayangkan pertandingan tinju Mike Tyson, banyak warga Bandung menjadikannya acara khusus. Tidak semua rumah memiliki televisi, sehingga warga sering berkumpul di rumah tetangga, warung, pos ronda, atau balai RW untuk menonton bersama. Hubungan antar warga cenderung akrab. Menonton siaran olahraga besar seperti pertandingan Mike Tyson menjadi sarana berkumpul dan mempererat hubungan sosial. (*)

Reporter bram herdiana
Editor Aris Abdulsalam