Ayo Netizen

Batas Antara Ojek Online dan Ojek Pangkalan

Oleh: Dias Ashari
Ribuan pengemudi ojek dan taksi online melakukan unjukrasa di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 25 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Jam menunjukkan pukul 02:30 saat saya membuka ponsel yang ada di meja belajar. Saya menyadari bahwa itu adalah waktu yang pas untuk memulai aktivitas dan menyiapkan segala keperluan untuk berangkat ke tempat PKPA. Namun suhu udara Bandung yang lebih dingin dari biasanya membuat saya meminta jeda kepada diri sendiri untuk menarik selimut 15 menit saja untuk menuntaskan rasa kantuk yang belum selesai. Padahal saya sudah paham konsekuensinya berdasarkan pengalaman jika sudah terbangun lalu tertidur kembali biasanya akan terlambat dan benar saja-- saya kembali terbangun di jam 05:20. Saya hanya punya waktu 10 menit dari waktu keberangkatan yaitu 5:30.

30 menit berselang dari jam 5:30 betul saja jalanan sudah ramai dan sedikit padat -- membuat perjalanan semakin terhambat. Akhirnya saya hanya diantarkan sampai kawasan Rumah Sakit Jantung yang ada di Seokarno Hatta. Pilihan yang tepat adalah melanjutkan menggunakan ojek online agar waktu yang ditempuh bisa lebih cepat dibandingkan transportasi umum lainnya.

Lima menit berselang, ojek online pun datang. Baru saja duduk dan menggunakan helm , driver memulai percakapan yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh saya.

"Neng ini tujuannya yang lewat pangkalan ojek ya ?"

" Iyah pak" jawab saya yang belum menaruh keanehan.

Ada sekitar tiga menit dan saya mulai menyadari satu hal

" Oh iya pak, saya baru inget boleh ga ya gojek lewat pangkalan?"

"Gak bisa neng paling saya antar sampe bawah saja tidak bisa lanjut ke manisi"

"Terus gimana pak, saya kan sudah bayar tarif ongkosnya sesuai tujuan. (Saya pikir karena jalan dari manisi bawah menuju tempat pkpa cukup jauh)"

" Ya terus gimana, neng mau tanggung jawab kalau ada apa-apa dengan saya"

"Boleh ga pak kalau sudah dekat , jaket gojeknya dilepas saja. Soalnya saya sudah kesiangan dan sedang buru-buru".

" Coba aja edit tujuannya biar ongkosnya menyesuaikan"

Ojek online menjadi salah satu moda transportasi andalan warga Bandung zaman kiwari. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Saya pun mencoba mengikuti arahan dari driver ojek dan mencoba mengganti rute tujuan tapi bukannya ongkos berkurang justru aplikasi meminta biaya tambahan. Akhirnya saya memutuskan untuk turun saja di bunderan Cibiru dengan ongkos yang pertama. Dan melanjutkan menggunakan ojek pangkalan menuju tempat PKPA.

"Pak saya turun saja di bunderan Cibiru, soalnya kalau edit tujuan justru ada biaya tambahan"

"Baik, maaf ya neng".

Membicarakan soal ojek online dan ojek pangkalan memang tidak pernah selesai. Di awal kehadirannya pun seringkali mendapat protes dari ojek pangkalan. Pada beberapa lokasi ojek pangkalan yang memperbolehkan jika ada penumpang yang memilih ojek online. Namun ada respon sebaliknya yang justru menolak dan mengundang kriminalitas dengan cara teguran hingga menggunakan kekerasan fisik.

Dilansir dari kumparan.com kasus yang pernah terjadi pada (22/12) 2024 terhadap mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati pun menyebabkan korban luka-luka pada area wajah dan kepala sehingga harus dirawat di Rumah Sakit Al Islam. Tak hanya itu bahkan driver ojol juga mendapat penganiayaan.

Perseteruan ini berlanjut ketika puluhan ojek online datang ke pangkalan ojek yang dekat dengan stasiun Cimekar. Namun beruntungnya pihak berwajib segera datang untuk melakukan mediasi di antara keduanya.

Menurut saya fenomena yang menyebabkan kecemburuan sosial diantara keduanya terjadi karena kondisi ekonomi negara kita. Karena ketika kemajuan teknologi terjadi dan melahirkan peluang pekerjaan baru. Maka biasanya mulai banyak pekerjaan yang sudah tidak relevan lagi dan mulai ditinggalkan.

Faktanya negara kita belum benar-benar siap dalam menghadapi kemajuan teknologi sehingga pemetaan lapangan pekerjaan masih terdapat banyak ketimpangan dan akhirnya melahirkan kecemburuan sosial.

Selain itu juga birokrasi atau peraturan mengenai moda transportasi di kota Bandung masih belum terlihat baik. Terbukti dari moda transportasi yang masih berebut penumpang. Selain itu juga maraknya penggunaan kendaraan roda dua seperti motor kian menjamur dan masyarakat sudah mulai beralih menggunakan kendaraan pribadi.

Namun dibalik setiap kejadian tentunya selalu ada hikmah dibaliknya. Keterlambatan kita bisa saja menjadi rezeki untuk orang lain. Aada bagian atau hak orang lain yang harus ditunaikan dari apa yang kita miliki. Lewat peristiwa ini juga saya jadi teringat untuk menuliskan fenomena ini menjadi sebuah tulisan. (*)

Reporter Dias Ashari
Editor Aris Abdulsalam