Ayo Netizen

Memahami Wajah Lain El Nino di Jawa Barat

Oleh: Djoko Subinarto
Kemarau panjang yang terjadi dalam beberapa bulan terkahir, membuat kekeringan melanda di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)

KETIKA fenomena El Nino menguat, yang berubah bukan hanya jumlah hujan, tetapi  juga semestinya cara kita memahami hubungan antara alam dan ekonomi sehari-hari.

Secara teoritis di atas kertas, El Nino adalah urusan meteorologi. Tetapi, di lapangan, ini soal air di sawah, sayur di ladang, dan harga-harga di pasar. 

Ketika hujan tertunda, rantai yang terdampak sesungguhnya tidak berhenti di petani. Ia merambat pula sampai ke dapur warga kota.

Sinyal awal

Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika sudah memberi sinyal sejak awal bahwa kemarau 2026 lebih kering dari normal, dengan potensi berlanjut hingga awal 2027. Itu artinya, tekanan terhadap sistem air dan pangan menjadi bukan kejadian sesaat.

Khusus di Jawa Barat, tekanan kemarau ini terasa berlapis. Wilayah Jawa Barat bukan hanya lumbung pangan, tapi juga pusat konsumsi. Artinya, produksi dan konsumsi bertemu di wilayah yang sama, dan menciptakan kerentanan yang unik.

Di daerah seperti Lembang, Pangalengan, hingga Garut, petani sayur tentu saja mulai merasakan perubahan pola tanam akibat kemarau panjang. Tanah menjadi lebih cepat kering, irigasi tidak lagi stabil, serta hasil panen mulai tidak seragam.

Sayuran adalah komoditas yang sensitif. Berbeda dengan padi yang masih bisa bertahan dalam siklus tertentu, sayuran membutuhkan air yang konsisten. Sedikit saja gangguan dalam pasokan air, kualitas langsung turun.

Di sisi lain, petani padi menghadapi dilema yang berbeda saat ini. Mereka tidak hanya berhadapan dengan kekurangan air, tapi juga ketidakpastian musim tanam. Kalender tanam yang biasanya menjadi pegangan, kiwari mulai goyah.

Sawah-sawah di wilayah Pantura seperti Indramayu dan Subang, misalnya, mulai mengalami penurunan debit air irigasi. Waduk dan saluran yang selama ini menopang produksi tidak lagi bekerja dengan ritme normal.

Dalam perspektif ekologi, ini adalah sinyal bahwa sistem air sedang tertekan. Air bukan hanya berkurang, tapi juga distribusinya menjadi tidak merata. Bisa jadi ada wilayah yang masih mendapat pasokan, sementara yang lain mulai kekeringan.

Ketimpangan ini kemudian berubah menjadi ketimpangan ekonomi. Petani yang berada dekat sumber air relatif lebih aman, sementara yang di hilir menghadapi risiko gagal panen.

Maka, kita mulai melihat bahwa krisis air bukan sekadar masalah alam. Ia adalah masalah distribusi. Siapa mendapat air, siapa tidak, menjadi penentu siapa yang bertahan dan siapa terpukul.

Dampak berikutnya terasa di kota. Bandung sebagai pusat konsumsi sangat bergantung pada pasokan komoditas dari daerah sekitarnya. Ketika produksi terganggu, pasokan menjadi tidak stabil.

Pasar mulai menunjukkan gejala klasik, yakni harga naik, stok fluktuatif, dan kualitas tidak konsisten. Konsumen mungkin hanya melihat angka di papan harga. Tetapi di balik itu, ada sistem yang sedang terguncang.

Fenomena tahunan menyusutnya air Situ Ciburuy kian terasa di musim kemarau ini, berdampak langsung pada sektor pertanian, pariwisata lokal, hingga aktivitas warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Distribusi pangan pun menjadi semakin kompleks. Jalan distribusi yang biasanya lancar, kini harus menyesuaikan dengan ketersediaan barang. Pedagang harus mencari sumber alternatif, seringkali dengan biaya lebih tinggi.

Biaya distribusi yang naik ini tidak selalu terlihat. Ia tersembunyi dalam harga akhir. Konsumen membayar lebih mahal, tanpa selalu memahami kenapa.

Dalam kacamata ekonomi, ini adalah contoh nyata bagaimana gangguan ekologi berubah menjadi inflasi pangan karena pasokan terganggu.

Stabilitas iklim

Fenomena El Nino memperlihatkan bahwa sistem pangan kita masih sangat bergantung pada stabilitas iklim. Ketika iklim berubah, sistem pangan kita langsung goyah. Ini menunjukkan masih belum adanya bantalan yang cukup kuat.

Padahal, Jawa Barat memiliki infrastruktur pertanian yang relatif maju. Namun, infrastruktur ini umumnya dirancang untuk kondisi normal, bukan untuk kondisi ekstrem yang semakin sering terjadi di era krisis iklim sekarang ini.

Itu masalahnya. Kita membangun sistem berdasarkan masa lalu, sementara tantangan datang dari masa depan. Ketika pola hujan berubah, maka sistem yang lama tidak lagi relevan sepenuhnya.

Pendekatan ekologi mengajarkan bahwa ketahanan merupakan kemampuan beradaptasi.  Sayangnya, banyak kebijakan masih bersifat reaktif. Ketika air kurang, baru dilakukan intervensi. Ketika harga naik, baru dilakukan operasi pasar. 

Padahal, El Nino bukan fenomena baru. Yang baru adalah intensitas dan dampaknya yang semakin terasa. Ini seharusnya menjadi dasar untuk membangun strategi jangka panjang.

Misalnya, dalam diversifikasi sumber air. Ketergantungan pada hujan harus dikurangi. Pengelolaan air tanah, embung, dan sistem irigasi mikro perlu diperkuat.

Di sisi lain, pola tanam juga perlu disesuaikan. Tidak semua komoditas cocok ditanam dalam kondisi kering yang panjang. Adaptasi varietas menjadi kian krusial.

Namun, adaptasi ini tidak bisa dibebankan sepenuhnya ke petani. Mereka bekerja dalam keterbatasan. Tanpa dukungan kebijakan dan insentif, perubahan sulit terjadi.

Dari sisi ekonomi, perlu pula ada mekanisme yang melindungi petani dari fluktuasi ekstrem. Jika tidak, mereka akan selalu berada di posisi paling rentan.

Kesadaran akan hal tersebut penting, karena krisis pangan tidak selalu datang dalam bentuk kelangkaan total. Ia sering muncul sebagai ketidakstabilan yang perlahan menggerus.

Seperti wilayah-wilayah lainnya di Indonesia, Jawa Barat saat ini sedang berada di titik uji, apakah ia mampu beradaptasi dengan tekanan iklim, atau justru terjebak dalam pola lama yang rentan.

El Nino hanya mempercepat apa yang sebenarnya sudah lama terjadi dan membuka kelemahan yang selama ini tersembunyi.

Sudah barang tentu, yang dibutuhkan sekarang adalah cara pandang baru bagaimana melihat Jawa Barat bukan semata sebagai wilayah produksi dan konsumsi, tetapi sebagai ekosistem yang harus dijaga keseimbangannya di tengah perubahan iklim yang semakin nyata. (*)

Reporter Djoko Subinarto
Editor Aris Abdulsalam