Namanya adalah Cikao. Sungai Cikao berhulu di Gunung Burangrang dan bermuara di Sungai Citarum sepanjang ± 48 km. Cikao juga pernah menjadi sebuah wilayah yang berganti-ganti dari Kabupaten Bandung, Cianjur, Karawang dan kemudian menjadi wilayah Purwakarta.
Pada arsip peta Poerwakarta Blad 38B (1922) sampai ada nama Tjikaobandoeng dan Tjikaokrawang yang saling berseberangan. Kini wilayah Tjikaobandoeng dikenal sebagai Desa Cikaobandung, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta dan Tjikaokrawang dikenal sebagai Kecamatan Babakancikao, Kabupaten Purwakarta.
Cikao telah lama dikenal orang terbukti dari naskah Carita Parahyangan (Kropak 406) yang masuk ke dalam urat nadi perekonomian dan lalu lintas perdagangan pada masa Kerajaan Pakuan (Sunda) dan Kerajaan Kawali (Galuh), yang dikenal sebagai jalan raya kuno Pajajaran (Pajajaran Highway, menurut filolog Amir Sutaarga) hingga sebelum Kerajaan Pajajaran runtuh 1579 dan awal kejayaan Kerajaan Sumedang Larang (21 April 1580).
Jalan raya kuno Pajajaran ini dengan rute dari: Kawali – Karang Sambung – Tomo – Kutamaya – Cisalak – Sagalaherang – Wanayasa – Sindangkasih – Kembang Kuning – Cikao – Tanjungpura – Cibarusah – Warung Gede – Cileungsi hingga Batutulis, Pakuan.
Rute ini terdapat juga dalam naskah Bujangga Manik karya Prabu Jaya Pakuan (Rakeyan Ameng Layaran/Bujangga Manik), yang kini disimpan di Bodleian Library, Oxford University, Inggris sejak 1627. Naskah ini ditulis oleh seorang pangeran dari keraton Pakuan Pajajaran, ibukota Kerajaan Sunda, yang menjalani hidup sebagai seorang resi Hindu, sekitar abad ke-15.
Cikao dalam Perdagangan Kopi
Sejak 1696 tanaman kopi mulai ditanam dibudidayakan di wilayah Batavia dan sekitarnya. Kemudian wilayah penanaman kopi adalah Priangan (Jawa Barat), beberapa diantaranya adalah Cianjur, Bogor, Sukabumi, Bandung, Sumedang, Garut, Sukapura (Tasikmalaya), Wanayasa dan Subang.
Gubernur Jenderal VOC Mattheus de Haan (1725-1729) atas inisiatif Bupati Bandung Tumenggung Anggadireja I (1704-1747) memulai apa yang kemudian disebut sebagai koffietransport. Kopi-kopi dari daerah ini pada awalnya dibawa dengan hewan beban (kerbau, sapi atau kuda), dengan waktu tempuh rata-rata selama 60-72 hari.
Berdasarkan beberapa catatan sejarah, maka perjalanan pengangkutan kopi itu memang sangat berbahaya. Pada masa itu jalanan belum sebaik masa kini. Jalanan tanah kering berdebu pada musim kemarau dan jalanan tanah licin berlumpur pada musim hujan. Melewati jalanan dataran tinggi, menengah hingga rendah. Menurun, menanjak, berkelak-kelok, berlika-liku. Melewati hutan belantara, tebing curam, jurang dalam, menyeberangi sungai. Melewati perkampungan dan pedesaan. Banyak orang yang tewas dalam perjalanan karena faktor kelelahan, sakit (seperti malaria), diterkam harimau, dibunuh perampok. Bahkan perbekalan mereka, hewan beban dan muatan angkutan kopi juga turut dijarah-rayah.
Sebagaimana dituliskan oleh Johannes Cornelis "Jan" Breman, Koloniaal profijt van onvrije arbeid: het Preanger stelsel van gedwongen arbeid op Java, 1720-1870. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal VOC Mattheus de Haan itu, dia minta agar para tenaga kerja (kuli) untuk membawa kopi dari Bandung, Parakanmuncang dan Sumedang ke gudang kopi dan pelabuhan kopi Cikao (Kabupaten Bandung), yang dibangun pada tahun 1730. Hal ini semasa dengan masa pemerintahan Bupati Cianjur R.A. Wiratanudatar IV (1727-1761), Bupati Kaawang R.A.A. Panatayuda II (1721-1732) dan Bupati Wanayasa R.A. Suriadikara I (Dalem Aria) dan Dalem Panembahan (Dalem Panengah).
Kopi dari wilayah Banjaran, Cileuleuy, Ciparay, Cisondari, Leuwi Gajah dan Palasari dibawa ke Cikao. Setelah jalanan semakin baik, maka kopi-kopi kemudian dibawa dengan pedati-pedati dengan perantaraan perahu-perahu berdayung dan/atau bertiang layar tunggal dengan layar tunggal berbobot maksimal 100 ton menuju ke Batavia.
Perahu-perahu ini mengarungi Sungai Citarum dari Cikao (kini Kampung Talibaju, Desa Cikaobandung, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta) hingga ke muara Ujung Karawang (kini wilayah Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi), hingga ke Batavia sejauh 100-120 km untuk selanjutnya diekspor ke luar negeri, seperti ke Eropa dan Amerika.
Perjalanan pengiriman kopi dari gudang kopi (koffie pakhuis) di Cikao ke Batavia dengan menggunakan perahu-perahu yang disewa oleh Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda, yaitu Bataaviasch Prauwen Veer (BPV) memerlukan waktu selama ± 8 hari. Artimya: 8 hari x 24 jam = 192 jam. Bagi total jarak dengan jam.120 kilometer : 192 jam = 0,625 km/jam.
Untuk menggerakkan perahu layar tunggal dengan kecepatan rata-rata 0,625 km/jam (sesuai perhitungan sebelumnya), kecepatan angin ideal yang dibutuhkan adalah sekitar 1,250 hingga 1,875 kilometer per jam (atau sekitar 0,7 hingga 1 knot).
Perahu layar tradisional bertiang tunggal umumnya memiliki rasio kecepatan angin terhadap kecepatan perahu sebesar 2:1 hingga 3:1 saat berlayar searah angin (downwind). Lambung perahu mengalami gaya gesek dengan air, sehingga kecepatan perahu tidak akan pernah sama persis dengan kecepatan angin yang mendorongnya.

Batas Minimum (Rasio 2:1): Kecepatan Angin = 0,625 km/jam x 2 = 1,250 km/jam. Batas Maksimum (Rasio 3:1): Kecepatan Angin = 0,625 km/jam x 3 = 1,875 km/jam. Dalam hukum maritim internasional, kecepatan angin di bawah 2 km/jam masuk dalam Skala Beaufort 0 (Tenang/Calm) atau Skala Beaufort 1 (Udara Ringan). Kecepatan perahu 0,625 km/jam itu sangat lambat (setara dengan laju benda hanyut atau perahu yang bergerak perlahan akibat hembusan angin sepoi-sepoi yang hampir mati).
Mulai 1872 pengangkutan kopi dari gudang-gudang di Kabupaten Bandung (Banjaran, Cikalong, Cililin, Cimahi, Ciparay, Cirateun, Cisondari, Kopo, Palasari, Sindanglaya) serta dari Plered dan Wanayasa dibawa ke Cikao.
Pada arsip peta koleksi Frederik de Haan, yaitu peta Tjikao A54; Tjikao D63 (1840); Tjikao F25 (karya kartografer J.G. Mathee, 21 Juli 1790) dan K27 dan Sindangkasih X28 (karya kartografer Wimmercrantz, 27 Desember 1778) jelas nampak posisi penting Cikao. Pada arsip peta Tjikao D63 (1840) dan arsip peta Tjikao A54 sangat jelas ditunjukkan posisi gudang-gudang kopi, dermaga kopi dan lain-lain.
Karangsambung dalam Perdagangan Kopi
Gudang kopi dan pelabuhan kopi Karangsambung diresmikan 20 Oktober 1803. Gudang ini berada di pinggir Sungai Cimanuk yang kini terletak di antara wilayah Tomo (Kabupaten Sumedang) dan Kadipaten (Kabupaten Majalengka).
Kopi dari Balubur, Cicalengka, Cisurupan, Leles, Limbangan dan Tarogong serta Sumedang diangkut ke Karangsambung. Kopi dan produk lainnya untuk pasar Eropa dari Cianjur ke Palabuhanratu dan dari Cianjur dan Bandung ke Cikao
Masa Akhir Kejayaan Cikao dalam Perdagangan Kopi
Segala sesuatu pasti mengalami masa timbul dan tenggelam, pasang dan surut. Demikian pula masa kejayaan Cikao dalam perdangan kopi, mengalami masa menjelang surut setelah adanya jalur rel kereta api di wilayah Jawa Barat, khususnya wilayah Priangan, termasuk Sukabumi, Cianjur, Bandung, Cibatu dan Purwakarta.
Kopi yang pada awalnya diangkut ke gudang kopi dan pelabuhan kopi Cikao, semakin lama semakin hilang setelah adanya jalur kereta api, stasiun dan depo di Purwakarta yang diresmikan 27 Desember 1902.
Lebih lagi setelah dibangunnya Bendungan Walahar (Parisdo) di Desa Walahar, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang (± 1918-1925) dan diresmikan 30 November 1925. Praktis pengangkutan kopi dari Cikao menuju Batavia berhenti total, meski di Bendungan Walahar ada pintu ke-5 yang dapat digunakan untuk perahu-perahu kayu dan rakit-rakit bambu pengangkut kayu dan bambu.
Bangunan gudang kopi Cikao kemudian lama ditinggalkan, dibiarkan terlantar dimakan zaman, perlahan tertutup kerimbunan rumput dan dibanjiri air Sungai Citarum yang sering meluap pada musim hujan. Lama-lama bangunannya pun runtuh, hampir tak tersisa, kemudian menjadi lahan pemukiman penduduk di Kampung Talibaju. Tinggallah Cikao yang perlahan seakan dilupakan masa, dilupakan zaman, kecuali dituliskan berulang tentang kejayaannya pada masa silam.
Singkatnya, perkebunan tanaman kopi di wilayah Jawa Barat sudah ada sejak zaman Preangerstelsel (1720-1871), Cultuurstelsel (1830-1870) dan particulair onderneming (1870-1942).

Cikao dan Cikaobandung bukan sekadar nama geografis di Purwakarta, melainkan saksi bisu denyut nadi sejarah perdagangan Nusantara yang pernah berjaya pada masa lampau. Transformasi kawasan ini dari bandar pelabuhan sungai yang ramai menjadi daerah pemukiman modern mencerminkan adaptasi masyarakat terhadap perubahan zaman. Jejak arkeologis dan cerita tutur yang tersisa menjadi warisan berharga yang menghubungkan generasi masa kini dengan kejayaan leluhur di sepanjang aliran sungai.
Menjaga kelestarian sejarah Cikao merupakan tanggung jawab bersama agar identitas lokal tidak tenggelam oleh arus modernisasi. Upaya konservasi, pencatatan literatur serta edukasi kepada generasi muda sangat penting untuk merawat memori kolektif ini. Nilai-nilai historis yang tertanam di tanah Cikaobandung harus terus digaungkan sebagai sumber inspirasi pembangunan daerah.
Kesimpulannya, perjalanan panjang Cikao dari hulu sejarah hingga hilir masa depan menegaskan bahwa kemajuan tidak boleh melupakan akar budaya. Dengan menghargai warisan pelabuhan kuno ini, Purwakarta tidak hanya merawat masa lalunya, tetapi juga membangun fondasi jati diri yang kokoh untuk melangkah ke depan. (*)