Penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika merupakan sebuah fenomena ekonomi yang krusial yang sedang terjadi sekarang ini. Hal ini sangat berpengaruh terhadap pasar penjualan hingga perusahaan karena mahalnya biaya operasional seperti ekspor dan impor. Jika hal ini terus terjadi, maka, usaha - usaha tersebut seperti UMKM nantinya akan mengalami kebangkrutan. Abdi Wahab dan M. Arif Budiyanto menyimpulkan bahwa bisnis di pasar dalam mata uang asing memiliki kuantitas bisnis dengan skala yang besar dan menjadi sebuah pasar yang diinginkan oleh para pedagang kecil hingga menengah.
Rupiah yang saat ini sedang melemah terhadap dolar Amerika, membuat perubahan kurs yang tidak hanya memengaruhi perusahaan besar, laporan perdagangan negara, tetapi juga mengganggu mikro ekonomi, terutama pada tingkat usaha mikro, kecil dan menengah. Menurut Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, kontribusi UMKM dalam perekonomian Indonesia telah mencapai 60% terhadap PDB nasional dan menampung sekitar 97% tenaga kerja nasional sehingga kelangsungan kegiatan UMKM sangat penting bagi ketahanan sektor perekonomian secara keseluruhan.
Dari sejarah Indonesia, melonjaknya nilai dolar atau jatuhnya nilai rupiah terendah di Indonesia adalah pada tahun 1998 akibat krisis moneter Asia. Sama hal nya dengan pelemahan rupiah yang sedang terjadi sekarang mirip dengan yang dialami orang indonesia pada kala itu. Menurut Desiyanti et al pelemahan rupiah yang sedang terjadi saat ini mentransmisikan tekanan biaya (cost-push inflation) pada struktur operasional usaha, khususnya bagi UMKM yang memiliki ketergantungan pada bahan mentah luar negeri (impor). Maka, dari pernyataan tersebut menurut Gusti Ayu Tita P, kondisi ini pun sekaligus memberikan peluang bagi bisnis yang berorientasi ekspor karena meningkatkan daya tarik pasar produk Indonesia di pasar internasional. Jadi, bagi UMKM sendiri kira - kira bagaimana depresiasi rupiah terhadap ketahanan operasional dan profitabilitas usahanya?
Transmisi Depresiasi Rupiah terhadap Ketahanan Operasional UMKM
Transmisi dampak depresiasi rupiah terhadap ketahanan operasional UMKM mampu bekerja secara dominan melalui mekanisme cost-push inflation. Maulana Kautsar menyatakan bahwa pelemahan rupiah secara langsung akan membebankan harga bahan baku yang diimpor, penolong komponen, serta sarana produksi dari luar negeri yang nyaris sulit disubstitusi secara cepat. Barang material fisik yang mengalami inflasi, seperti barang pangan olahan, bahan tekstil, dan barang elektronik, depresiasi rupiah akan memicu adanya kenaikan harga operasional dan perawatan mesin dengan standar impor.
Peningkatan harga produksi ini akhirnya mempengaruhi UMKM pada risiko rantai pasok (supply chain risk) yang cukup besar, di mana keseimbangan harga dari supplier atau agen/distributor dapat mengganggu ketelitian dalam perencanaan budgeting dan efisiensi inventory management. Dampaknya, ketahanan operasional pelaku usaha menjadi sangat rentan, sehingga mereka sering dipaksa mengambil langkah kooperatif (terbuka) seperti mengurangi kapasitas produksi atau menyerap kenaikan Harga Pokok Penjualan (HPP) untuk menjaga kelangsungan bisnis di tengah arus ketidakstabilan pasar.
Tekanan terhadap Laba Profitabilitas dan Tekanan Dilematis Harga

Melemahnya nilai tukar rupiah secara langsung memicu penurunan profit penjualan pada usaha mikro, kecil, dan menengah, yang dikarenakan biaya harga pokok penjualan (HPP) yang tidak stabil. Dampaknya pada negara juga sangat terasa dimana biaya produksi yang dilakukan secara ekspor dan impor melonjak naik, pinjaman yang masih dicicil negara dalam dolar juga semakin besar, sampai pendapatan kotor negara juga ikut terdesak.
Menurut Prof. Dr. Imron Mawardi, seorang pakar ekonomi dari Universitas Airlangga, rupiah melemah bisa disebabkan dari 2 sudut pandang yaitu dari faktor global dan faktor domestik. Yang dimana dari faktor global ketika dolar menguat, rupiah cenderung ikut tertekan dan dinamika dunia sering memicu ketidakpastian. Sedangkan dari faktor domestik politik yang tidak pasti, harga barang yang turun, strategi perekonomian yang masih kurang konsekuen membuat para penyandang dana (investor) menjadi khawatir dan memutuskan untuk melakukan penarikan dana.
Kenaikan biaya produksi awal memaksa pelaku usaha untuk menghadapi kebingungan dalam penetapan harga (pricing power), dengan mempertahankan harga jual lama nantinya akan menekan keuntungan laba secara radikal (drastis), bahkan akan menyebabkan kerugian secara operasional, dan untuk sementara, jika pelaku usaha menaikkan harga barang dan biaya operasional justru akan berisiko menurunkan volume penjualan akibat penurunan kemampuan belanja konsumen di tengah inflasi.
Menurut Meiliani Luckieta, dari Universitas Nusa Putra, Indonesia, tekanan ganda dari sisi penawaran dan permintaan akan berujung pada krisis keuangan dan arus kas (cash flow). Usaha UMKM sendiri harus mengalokasikan dana operasional usaha yang lebih besar untuk mempertahankan tingkat pembelian bahan baku agar tetap sama dan seimbang. Tanpa adanya pengelolaan harga dan struktur modal yang fleksibel, ketidakseimbangan terhadap biaya operasional (operational cost atau operating expense), dan arus kas yang masuk, nantinya akan muncul potensi untuk mengganggu kemampuan usaha dalam memenuhi kewajiban utang jangka pendek (likuiditas) serta mengancam kewajiban utang bisnis jangka panjang (solvabilitas).
Siapa yang Untung dan Rugi dalam Ketidakstabilan Nilai Rupiah dan Dolar Amerika
Turunnya nilai tukar rupiah tidak terbayangkan akan dampaknya terhadap berbagai macam bentuk UMKM secara homogen. Sejumlah bisnis kecil berpaling pada berbagai strategi pemanfaatan sumber daya dan/atau strategi pemasarannya, serta menyesuaikan dengan ketersediaan pasar dan sistem kerja rantai pasok. Yang hampir pasti adalah bahwa UMKM yang menyalurkan barang dari vendor ke konsumen atau melalui suku cadang impor atau barang produksi dengan sistem yang memanfaatkan teknologi canggih, mereka juga bisa saja tergantung pada harga global yang terjadi di pasar bebas, sehingga harga barang bisa naik dari waktu-waktu tertentu. Ini secara langsung juga memengaruhi jumlah produksi mereka.
Sebaliknya, kejadian melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika memberi peluang bisnis bagi UMKM pada pasar global, tentu saja mereka harus terus memonitor perbedaan harga dolar terhadap rupiah serta kecenderungan pergerakan harga suatu barang di pasar internasional. Kemudian ketika kebocoran impor turun selama periode itu, meskipun impor tetap menjadi alat dalam aktivitas bisnis tetapi sebenarnya membuka jalan besar bagi UMKM yang menggunakan pendekatan berbasis bahan material dan produk lokal. Dengan produk mereka, para UMKM bisa mengganti impor. Hal itu akan mendorong para pelaku untuk menata ulang atau mengubah sistem pasar. Mahalnya harga impor yang timbul akibat selisih kurs membujuk konsumen beralih ke alternatif produk dalam negeri atau barang lokal sehingga hal ini memperkuat posisi negosiasi pasar lokal yang berdasarkan bahan baku domestik.

Penyusutan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terbukti mentransmisikan tekanan sistematis yang mengekspos kerentanan struktur modal serta resiliensi operasional UMKM, khususnya melalui mekanisme cost-push inflation, peningkatan supply chain risk, serta penggerusan margin akibat dilema penetapan harga (pricing power) dan gangguan arus kas (cash flow). Sebaliknya jika menguntungkan, perbedaan dampak atau asimetris yang terjadi pada berbagai bidang, menyisakan peluang bagi pelaku UMKM dalam mengatur kembali strategi mereka melalui peralihan produk impor ke produk yang telah mereka sendiri hasilkan atau produk impor.
Maka, dianjurkan pelaku UMKM segera melakukan rekonstruksi rantai pasok secara taktis dengan beralih secara bertahap ke sumber bahan baku lokal, menjaga keberadaan stok secara lebih efisien, dan menerapkan manajemen arus kas yang fleksibel sehingga tidak hanya likuiditas tetapi solvabilitas bisnis juga tetap terjaga. Secara bersamaan, pemerintah dengan bank sentral dituntut untuk memperkuat campur tangan kebijakan negara melalui pemanduan stabilitas nilai tukar, penyediaan model dukungan pendanaan bagi sektor riil, serta peningkatan dukungan bimbingan penjualan ke luar negeri (export) dan program substitusi impor. Sinergi antara adaptasi mikro di tingkat pelaku usaha dan dukungan makro dari regulator ini menjadi krusial untuk mentransformasi tekanan depresiasi mata uang menjadi momentum penguatan ketahanan ekonomi nasional yang berkelanjutan. (*)