Ayo Netizen

Obituari untuk Kanaya Whu

Oleh: Vito Prasetyo
Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)

Ketika obituari harus dituliskan, nyanyian bergenre pop Sunda seakan kehilangan salah satu gema terbaiknya. Pulanglah dalam damai Kanaya Whu, semoga Allah merahmati kepergianmu.

Ada suara yang selesai ketika penyanyinya berhenti bernyanyi. Tetapi ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu adalah salah satunya.

Minggu, 13 September 2026, kabar duka datang dari Bandung. Kanaya Whulan, yang lebih dikenal sebagai Kanaya Whu, vokalis Emka 9, berpulang setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin. Ia disebut tengah berjuang melawan kanker. Jenazahnya kemudian dipersiapkan untuk dibawa pulang ke tanah kelahirannya, Kabupaten Tasikmalaya.

Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk mengubah seseorang menjadi kenangan. Kemarin ia masih menjadi suara di atas panggung. Hari ini ia telah menjadi gema. Dan barangkali begitulah nasib seorang penyanyi: tubuhnya dapat pergi, tetapi suaranya tidak pernah benar-benar pulang.

Kanaya dikenal luas melalui Emka 9, grup musik yang menjadi bagian dari berbagai kegiatan budaya di Jawa Barat. Ia bergabung dengan grup tersebut sejak 2019 dan kemudian menjadi salah satu suara yang memberi warna pada lagu-lagu bernuansa Sunda.

Di tangannya—atau lebih tepatnya di tenggorokannya—bahasa Sunda tidak sekadar menjadi bahasa lagu. Ia menjadi lanskap. Ada tanah di dalamnya. Ada kabut pegunungan. Ada suara sawah selepas hujan. Ada ibu yang menunggu anaknya pulang. Ada kampung yang perlahan menjauh dari ingatan. Dan ada sesuatu yang tidak mudah dijelaskan oleh bahasa: rasa.

Itulah kekuatan seorang penyanyi ketika ia tidak hanya menyanyikan kata, tetapi menghidupkan dunia yang berada di belakang kata-kata.

Kanaya pernah membawakan sejumlah lagu ciptaan Dedi Mulyadi, antara lain Rindu Purnama, Karembong Koneng, Prabu Siliwangi, Dangiang Galuh Pakuan, Indung, dan Memanen Cinta. Lagu-lagu itu menemukan tubuhnya melalui suara Kanaya. Mungkin karena itu, ketika Kanaya pergi, yang terasa hilang bukan hanya seorang vokalis.

Ada sepotong atmosfer Sunda yang mendadak sunyi. Suara yang pulang kepada tanah. Seorang penyanyi pada akhirnya selalu memiliki dua rumah. Rumah pertama adalah panggung. Rumah kedua adalah tanah kelahirannya. Kanaya mendapatkan keduanya.

Ia lahir di Tasikmalaya, tumbuh sebagai bagian dari kebudayaan Sunda, kemudian membawa suara itu ke berbagai panggung bersama Emka 9. Dalam sejumlah kegiatan kebudayaan Jawa Barat, ia hadir bukan hanya sebagai penyanyi, tetapi sebagai bagian dari pertunjukan yang mempertemukan seni, tradisi, dan masyarakat.

Salah satu penampilan terakhirnya berlangsung dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di Jawa Barat pada Agustus 2026. Ia tampil membawakan Melati di Tapal Batas karya Ismail Marzuki, dalam suasana kirab budaya dari Gedung Pakuan menuju Gedung Sate.

Betapa sering manusia tidak menyadari bahwa sebuah pertunjukan mungkin merupakan salam perpisahan. Penonton menyaksikan seseorang bernyanyi. Mereka bertepuk tangan. Mereka mungkin merekamnya dengan telepon genggam. Tidak seorang pun tahu bahwa beberapa minggu kemudian suara itu akan menjadi kenangan. Demikianlah hidup. Kita sering baru menyadari nilai sebuah suara setelah kesunyian datang. Kanaya dan Musik yang Tidak Ingin Kehilangan Akarnya

Di tengah perubahan zaman, musik daerah menghadapi persoalan yang tidak sederhana. Modernitas membawa banyak suara baru. Algoritma membawa musik dari seluruh dunia ke dalam kamar-kamar kita. Anak-anak muda dapat mengenal musik Seoul, London, New York, Tokyo, atau Los Angeles hanya melalui layar kecil di telapak tangan.

Tetapi di tengah banjir suara global itu, pertanyaan penting tetap ada: Siapa yang akan menyanyikan rumah kita sendiri? Kanaya Whu, bersama Emka 9, adalah bagian dari jawaban itu. Ia menyanyikan Sunda bukan sebagai benda museum. Ia membawanya ke panggung. Ia membiarkan bahasa daerah bernapas melalui musik. Dan itu penting.

Sebab kebudayaan tidak akan bertahan hanya karena kita menyimpannya dalam buku, museum, atau pidato peringatan. Kebudayaan bertahan karena ada manusia yang terus menggunakannya, menyanyikannya, mencintainya, bahkan membawanya ke generasi berikutnya.

Dalam pengertian itu, Kanaya telah melakukan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar bernyanyi. Ia ikut menjaga agar bahasa dan rasa Sunda tetap memiliki suara.

Sebuah puisi untuk Kanaya karya penyair Vito Prasetyo adalah obituari untuknya. Sebab barangkali obituari tidak pernah benar-benar cukup untuk seseorang yang hidupnya telah menjadi suara.Maka biarlah puisi mengambil alih kata-kata yang terlalu berat untuk dijelaskan oleh berita.

KANAYA, SETELAH PANGGUNG MENJADI SUNYI

Karya: Vito Prasetyo

Kita sering mengira kehidupan seorang seniman berakhir ketika namanya berhenti muncul di panggung. Tidak. Seorang seniman mati secara biologis, tetapi karya-karyanya mempunyai umur yang tidak dapat kita tentukan.

Kanaya telah pergi. Namun lagu-lagu yang pernah dibawakannya masih mungkin terdengar dari radio, panggung pertunjukan, rekaman digital, rumah-rumah, kendaraan yang melintasi jalan-jalan Jawa Barat, atau dari seseorang yang tiba-tiba merindukan masa lalu.

Di sanalah seorang penyanyi memperoleh kehidupan keduanya. Bukan lagi melalui tubuh. Melainkan melalui ingatan. Dan mungkin inilah bentuk keabadian yang paling sederhana bagi seorang seniman: ketika seseorang masih mengingat suaranya setelah suaranya tidak lagi terdengar.

Kanaya tidak akan kembali ke panggung. Tidak akan ada lagi langkahnya menuju mikrofon. Tidak akan ada lagi tarikan napas sebelum bait pertama. Tidak akan ada lagi tepuk tangan yang menyambutnya setelah lagu berakhir. Tetapi Sunda masih mempunyai langit. Masih ada gunung. Masih ada sawah. Masih ada hujan yang jatuh ke tanah Tasikmalaya. Masih ada bahasa yang diwariskan dari mulut ke mulut.

Dan selama lagu-lagu itu masih dinyanyikan, sebagian dari Kanaya akan tetap hidup di dalamnya. Sebab kematian mungkin dapat mengambil manusia dari panggung. Tetapi kematian tidak selalu mampu mengambil suara dari ingatan.

Selamat jalan, Kanaya Whu. Pulanglah kepada tanah yang pertama kali mengenal namamu. Biarkan panggung menjadi sunyi. Biarkan mikrofon menunggu. Dan biarkan lagu-lagu yang pernah kau nyanyikan menjadi doa yang terus berjalan—dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di sana, barangkali, suara tidak pernah benar-benar mati. (*)

TAGS:
Reporter Vito Prasetyo
Editor Aris Abdulsalam