Ayo Netizen

Ayam Bekakak: Eksplorasi Gastronomi, Akar Historis, dan Filosofi Budaya Sunda

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti
Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam), hidangan ayam panggang utuh khas Tatar Pasundan. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: amrufm)

Dalam peta kuliner Tatar Pasundan, Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam) bukan sekadar sajian pemuas lapar. Hidangan ini adalah pilar identitas sekaligus sajian sakral yang hampir selalu ada dalam momen-momen penting kehidupan masyarakat Sunda. Lebih dari sekadar makanan, Ayam Bekakak adalah simbol keharmonisan antara seni memasak, keindahan penyajian, dan tradisi lokal yang merekatkan silaturahmi serta nilai-nilai spiritual.

Secara bahasa dan wujudnya, istilah bakakak menggambarkan cara pemotongan dan penyajian ayam secara utuh. Ayam dibelah dari bagian dada hingga perut tanpa memutuskan punggungnya, lalu dibentangkan lebar-lebar. Hasilnya, bentuk ayam terlihat seperti orang yang sedang duduk bersila (dangkak dalam bahasa Sunda). Tampilannya yang megah dan berwibawa ini langsung mencuri perhatian saat disajikan di atas tampah tradisi.

Untuk urusan bahan, ada satu aturan wajib yang tak bisa ditawar: harus memakai ayam kampung jantan, bukan ayam potong (broiler). Secara ilmiah, ayam kampung punya serat daging yang lebih padat dan kokoh karena aktif bergerak. Struktur daging seperti inilah yang membuat Ayam Bekakak tahan diungkep perlahan (slow simmering) selama 45–60 menit tanpa bikin dagingnya hancur atau lepas dari tulang. Jika menggunakan ayam potong yang tinggi air dan lemak, dagingnya bakal cepat hancur sebelum bumbu sempat meresap sempurna.

Bentuk dibentangkan (didangkakkeun) yang khas beserta pemilihan bahan yang presisi ini bukan hanya soal estetika, melainkan juga sejarah panjang. Konon, bentuk unik ini berakar dari simbol kurban dalam ritual-ritual keagamaan masa lalu.

Etimologi dan Trajektori Historis

Evolusi Ayam Bekakak tidak lepas dari pertautan antara akar kebahasaan, kosmologi kuno Nusantara, dan dinamika jalur rempah. Dalam pandangan hidup Sunda, makanan dipahami melalui tingkatan kosmologis yang berjenjang: berawal dari tata salira (penataan diri), tata krama (etika sosial), tata negara (ketertiban sosial), hingga berlanjut ke tata surya (keselarasan alam semesta). Kebudayaan kuliner Sunda menempatkan pengolahan makanan sebagai tata kuliner—sebuah media yang menghubungkan mikrokosmos manusia dengan makrokosmos spiritual.

Secara etimologis, kata bekakak atau bakakak terikat erat dengan makna dasar "korban penyembelihan" (korban penyembelihan hewan atau manusia). Makna ini terdokumentasikan secara rinci dalam khazanah leksikografi bersejarah. Dalam Kamus Bahasa Sunda-Belanda (1913) karya Sierk Coolsma, bakakak didefinisikan sebagai:

"Naam van een schaap, kip of ander klein dier, dat na geslacht en gereinigd te zijn, opengespreid en in zijn geheel aan het vuur gebraden is" (Nama untuk domba, ayam, atau hewan kecil lainnya, yang setelah disembelih dan dibersihkan, dibelah/dibentangkan dan dipanggang secara utuh di atas api).

Definisi ini diperdalam dan dispesifikasikan oleh R.A. Danadibrata dalam Kamus Basa Sunda (2006): "Panggang hayam hiji nu beunang meulah palebah dada nepi kana beuteungna n.k saperti nu didangkakkeun; hayam dipakéna dina ngarewahkeun, dina upacara kapercayaan d.a dina huap-lingkung, dina sunatan jsté."

Penjelasan R.A. Danadibrata mengonfirmasi bahwa bentuk penyajian ayam yang dibelah menyerupai orang bersila (didangkakkeun) bukan sekadar teknik pemotongan teknis, melainkan wujud simbolis sakral yang digunakan dalam upacara kepercayaan, seperti huap-lingkung pada pernikahan dan khitanan.

Dari perspektif sejarah ritual Nusantara, penggunaan hewan utuh sebagai persembahan berakar dari era kepercayaan Kapitayan kuno yang mengagungkan prinsip Tan Kena Kinaya Ngapa—Zat Ilahi Tertinggi yang tidak dapat didefinisikan atau digambarkan. Dalam kosmologi Kapitayan, daya Ilahi diwujudkan melalui titik-titik spiritual yang dihormati dengan menyajikan tumpeng (merepresentasikan unsur tumbuhan/tumbu) dan ayam tukung atau ingkung (merepresentasikan unsur hewani).

Transformasi penting dari praktik persembahan kuno menjadi hidangan konsumsi sosial tercatat dalam sejarah Islamisasi Nusantara. Sebagaimana dijelaskan dalam karya KH. Agus Sanyoto, Atlas Wali Songo, Sunan Bonang saat berdakwah di wilayah Singkal, Kediri, menerapkan strategi adaptasi kebudayaan secara damai.

Untuk mengikis tradisi penumbalan ekstrem (seperti korban darah atau manusia), Sunan Bonang mengalihkan konsep tumbal tersebut menjadi sajian keselamatan (slamatan) berupa tumpeng dan ayam utuh (ingkung/tukung) yang dapat dikonsumsi bersama oleh masyarakat. Adaptasi kebudayaan ini kemudian terintegrasi dan disempurnakan di Tatar Pasundan menjadi bakakak hayam, mengubah makna korban spiritual menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur.

Evolusi profil rasa Ayam Bekakak tidak terlepas dari trajektori niaga bumbu lintas zaman di Nusantara. Sebelum abad ke-10, sebagaimana diteliti oleh Titi Nastiti, komoditas bumbu asli yang lazim dipasarkan meliputi lengkuas, daun salam, serai, dan jahe. Rasa pedasnya tidak bersumber dari cabai modern, melainkan dari jahe merah, jahe gajah, merica lokal, serta cabai jawa. Pada era ini pula, penggunaan garam di Nusantara mulai berkembang—berawal dari ditemukannya kristal-kristal garam secara tidak sengaja di permukaan ikan yang dijemur.

Lanskap rasa tersebut berubah drastis memasuki abad ke-12 hingga ke-16 seiring maraknya perdagangan asing dan akulturasi budaya. Saudagar India memperkenalkan gula merah, bawang merah, serta teknologi budidaya padi, sementara pedagang Arab membawa rempah kering seperti kemiri dan ketumbar. Adapun bawang putih mulai dikenal luas melalui perantara saudagar Cina.

Di sisi lain, kontak niaga internasional melahirkan revolusi rasa pedas melalui hadirnya berbagai varietas cabai baru dari genus Capsicum. Cabai keriting masuk via jaringan niaga India, cabai merah dan cabai gendot dibawa oleh pedagang Portugis yang melintasi Pelabuhan Sunda, sedangkan cabai katokkon dari Sulawesi masuk melalui rute perdagangan Spanyol.

Kehadiran varietas cabai baru ini secara perlahan menggeser kepopuleran cabai jawa, jahe, dan merica sebagai penentu sensasi pedas utama. Pada akhirnya, dinamika pasokan bumbu lintas zaman inilah yang mematangkan komposisi racikan bumbu khas Ayam Bekakak hingga seperti yang kita kenal sekarang.

Racikan Rempah, Teknik Memasak, dan Profil Rasa

Pengolahan Ayam Bekakak membutuhkan ketelitian teknis dan penguasaan rasio rempah untuk menghasilkan perpaduan cita rasa gurih, manis, aromatik, serta sedikit pedas yang meresap hingga ke serat daging terdalam. Keseimbangan rasa ini dicapai melalui metodologi memasak dua tahap terintegrasi: proses ungkep dan pemanggangan perlahan (slow grilling).

Proses memasak diawali dengan tahap ungkep, yaitu merebus karkas ayam utuh yang telah dibelah didangkakkeun di dalam racikan bumbu halus, bumbu aromatik, dan cairan berupa air atau santan. Tahap ini berlangsung selama 45 hingga 60 menit dengan api sedang. Pengungkepan yang terkontrol memungkinkan penetrasi bumbu meresap ke dalam jaringan otot ayam kampung yang padat, sekaligus melembutkan tekstur daging tanpa merusak keutuhan karkas.

Setelah kuah menyusut dan bumbu meresap, ayam diangkat untuk memasuki tahap pemanggangan di atas api arang kayu. Selama pemanggangan, permukaan ayam diolesi secara berkala (basting) dengan sisa bumbu reduksi ungkep yang kaya akan gula aren dan santan. Dari sudut pandang kimia gastronomi, interaksi antara gula aren (sukrosa) dan asam amino daging di bawah paparan panas bara api memicu reaksi Maillard yang berjalan sejajar dengan karamelisasi gula.

Pada saat yang sama, lemak kelapa dari santan meleleh (rendering) menjadi minyak alami. Sinergi kimia ini menghasilkan lapisan luar yang mengilap (glossy), sedikit karamelized, beraroma smokey, dengan bagian dalam daging yang tetap basah dan lembut (juicy). Penggunaan santan ini sendiri berakar dari tradisi masyarakat pesisir Nusantara yang memanfaatkan ekstraksi minyak kelapa—di mana krim santan dipanaskan hingga menghasilkan minyak dan ampas kelapa (galendo)—sebagai teknik pengawetan alami.

Struktur komponen bumbu pembentuk profil rasa Ayam Bekakak terbagi ke dalam dua kategori utama, yaitu bumbu halus dan bumbu aromatik berbasis cairan. Bumbu halus yang diulek berfungsi sebagai fondasi utama cita rasa. Bawang merah dan bawang putih hadir menciptakan basis rasa gurih yang kaya aroma umami alami. Untuk urusan visual dan sensasi pedas yang halus, digunakan perpaduan cabai merah besar dan cabai keriting yang memberi warna merah kecokelatan nan memikat.

Kemiri sangrai menyuplai minyak alami yang memperkaya tekstur gurih sekaligus mengentalkan bumbu. Sementara itu, kunyit bakar membedah aroma amis dengan warna kuning keemasannya, berpadu harmonis dengan jahe yang memberikan efek hangat menyegarkan serta ketumbar yang memperkaya aroma herbal.

Keseluruhan rasa ini disempurnakan oleh garam sebagai penegas spektrum rasa, serta gula merah atau gula aren sebagai elemen penyeimbang vital yang menghadirkan sentuhan manis legit khas Pasundan sekaligus memicu proses karamelisasi yang sempurna saat ayam dibakar.

Kategori kedua adalah bumbu aromatik dan media cairan (liquid base) yang bekerja selama proses memasak. Serai geprek melepaskan ekstrak citral yang segar, bersanding dengan lengkuas geprek yang menyumbang aroma kayu (earthy) serta daun salam dengan nuansa herbalnya yang lembut.

Seluruh rempah ini dipadukan dengan air atau santan sebagai media perambat panas saat proses mengungkep. Penggunaan santan secara khusus menghasilkan cita rasa yang jauh lebih gurih, kaya, dan memberikan kilau menawan pada permukaan ayam setelah dipanggang.

Peran Tradisi dalam Ritual Adat Lifecycle Sunda

Dalam pandangan hidup masyarakat Sunda, Ayam Bekakak tidak lagi diperlakukan sebagai barang konsumsi harian, melainkan dinaikkan statusnya menjadi peranti ritual yang wajib hadir dalam momen-momen kritis peralihan kehidupan manusia (lifecycle rites).

Tradisi Tarik Bakakak atau Patarik-tarik Bakakak dalam pernikahan adat Sunda. (Sumber: IG annisharz)

Alur prosesi penyajian Ayam Bekakak dalam ritual adat Sunda diselenggarakan secara terstruktur, menyesuaikan konteks ritus kehidupan yang tengah dirayakan.

Dalam upacara pernikahan, Ayam Bekakak menjadi bagian inti dari ritus pelaminan. Setelah akad nikah usai, hidangan ini disajikan utuh di atas piring ceper tanpa nasi di hadapan kedua mempelai. Momen puncak terjadi pada tahap Patarik-tarik Bakakak, ketika pengantin pria dan wanita memegang kedua sisi karkas ayam secara bersamaan lalu menariknya hingga terbelah. Mempelai yang mendapatkan potongan lebih besar dipercaya secara simbolis akan menjadi penarik rezeki utama dalam rumah tangga. Setelah itu, masuklah tahap Uap Lingkung, di mana potongan ayam tersebut digunakan untuk saling menyuapi. Ritus saling menyuapi ini melambangkan kasih sayang, kesetaraan, sikap saling melengkapi, serta keseimbangan dalam mengelola rezeki pernikahan.

Sementara itu, dalam upacara khitanan sebagai ritus pendewasaan, Ayam Bekakak disajikan utuh di atas piring ceper khusus bagi anak yang baru dikhitan (pengantin sunat), lengkap dengan pendamping nasi kuning dan aneka jajanan pasar. Penyajian ini memegang fungsi ganda. Secara psikologis, keistimewaan hidangan ini hadir untuk menghibur sekaligus mengembalikan rasa percaya diri anak pascaprosedur khitan. Secara fisik, asupan protein tinggi berpadu dengan kandungan rempah di dalamnya bertindak sebagai penawar rasa sakit alami yang memulihkan stamina serta mempercepat proses penyembuhan.

Kehadiran sakral Ayam Bekakak dalam mengiringi setiap fase kehidupan manusia tak lepas dari saratnya makna filosofis serta spiritual yang tersimpan di dalam setiap elemen hidangannya.

Makna Spiritual, Legitimasi Budaya, dan Adaptasi Modern Ayam Bekakak

Konstruksi makna Ayam Bekakak berdiri di atas landasan kosmologi spiritual, simbolisme moral, hingga pengakuan budaya yang terus beradaptasi melintasi zaman. Pemilihan ayam jantan (ayam jago) sebagai bahan utama memuat pesan spiritual mendalam.

Secara simbolis, ayam jantan mewakili sifat keangkuhan, kesombongan, dan egoisme. Penyembelihannya dalam ritual menjadi metafora penyucian diri, yakni ajakan bagi manusia untuk 'menumbalkan' sifat buruk tersebut sebelum melangkah ke jenjang kehidupan baru, baik dalam pernikahan maupun kedewasaan pasca-khitan.

Di samping itu, dalam kepercayaan sebagian masyarakat Sunda seperti di kawasan Pandeglang, Banten, ayam jantan juga diyakini memiliki daya spiritual sebagai penolak bala—sebuah sarana untuk memohon keselamatan dari gangguan roh jahat, menolak nasib buruk, serta memohon restu leluhur agar kelancaran kenduri tetap terjaga.

Baca Juga: Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Selain sarat makna sakral, wujud Ayam Bekakak yang disajikan utuh memancarkan nilai sosial dan gotong royong. Proses pembuatannya yang rumit menjadi media perekat silaturahmi antaranggota keluarga dan masyarakat yang terlibat dalam persiapan upacara adat. Keutuhan nilai tradisi ini mendapat pengakuan resmi dari negara dengan ditetapkannya Bakakak Hayam sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada tahun 2010 dalam kategori Tradisi dan Keterampilan Kerajinan Tradisional khas Tatar Pasundan dan Banten. Pengakuan tersebut menegaskan pentingnya menjaga integritas dan autentisitas kuliner legendaris ini di tengah arus zaman.

Seiring berjalannya waktu dan pesatnya pariwisata kuliner, Ayam Bekakak mengalami transformasi fungsi tanpa kehilangan jati dirinya. Hidangan yang dahulu bersifat eksklusif-sakral kini bertransformasi menjadi centerpiece kuliner populer yang mudah dijumpai di berbagai rumah makan Sunda hingga restoran modern di pusat kota seperti Bandung dan Bogor.

Kunci keberlanjutan Ayam Bekakak di era modern bertumpu pada keseimbangan antara penjagaan tradisi dan fleksibilitas adaptasi; tetap mempertahankan penggunaan ayam kampung jantan utuh demi cita rasa autentik, memanfaatkan teknik memasak modern seperti oven tanpa meninggalkan opsi pemanggangan di atas bara arang kayu untuk aroma smokey yang khas, serta merawat peran gandanya—baik sebagai elemen sakral dalam ritual adat maupun sebagai komoditas unggulan yang memperkuat daya tarik gastronomi Indonesia di mata dunia. (*)

Reporter Badiatul Muchlisin Asti
Editor Aris Abdulsalam