Ayo Netizen

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Oleh: Bayu Hikmat Purwana
Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)

Ketika seseorang sedang tidak baik-baik saja secara mental, pertolongan sering kali tidak dimulai dari ruang konsultasi psikolog atau rumah sakit. Ia bisa bermula dari percakapan sederhana di rumah, perhatian seorang teman, pertanyaan dari guru, atau kepekaan rekan kerja yang menyadari adanya perubahan.

Ketika seseorang mulai menarik diri, mengalami perubahan perilaku, sulit tidur, kehilangan minat, atau menunjukkan tanda-tanda membutuhkan bantuan, respons pertama dari lingkungan terdekat dapat menentukan apakah dia merasa didengar atau justru semakin terisolasi.

Kepedulian menjadi penting. Namun, empati saja tidak cukup. Menolong membutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan dukungan agar niat baik tidak berubah menjadi tekanan baru.

Persoalan kesehatan mental karena itu bukan hanya tentang tersedianya layanan profesional, tetapi juga perlu diimbangi dengan kesiapan orang-orang di sekitarnya untuk menjadi bagian dari dukungan tersebut.

Bandung dan Tantangan Kesehatan Mental

Kota Bandung menyadari bahwa persoalan ini tidak bisa dianggap ringan. Jumlah kasus orang dengan gangguan jiwa berat meningkat dari 4.261 kasus pada 2022 menjadi 5.272 kasus pada 2025. Dalam tiga tahun, terdapat tambahan 1.011 kasus atau sekitar 23,7 persen.

Pada saat yang sama, Dinas Kesehatan Kota Bandung juga menyebutkan bahwa persoalan kesehatan mental lainnya, seperti depresi, kecemasan, gangguan tidur, hingga gangguan bipolar, menunjukkan kecenderungan meningkat.

Bandung sebenarnya tidak tinggal diam. Layanan kesehatan jiwa telah tersedia di 80 puskesmas yang tersebar di 30 kecamatan, dan pada 2026 Pemerintah Kota Bandung memperluas kehadiran psikolog klinis ke 12 puskesmas untuk memperkuat akses masyarakat terhadap layanan kesehatan mental.

Langkah ini penting karena penguatan layanan bukan sekadar menambah fasilitas, melainkan mendekatkan pertolongan kepada masyarakat. Namun, memperbanyak layanan belum otomatis menyelesaikan seluruh persoalan.

Layanan Bertambah, Apakah Kapasitas Bertambah?

Bayangkan seseorang mulai menunjukkan perubahan perilaku. Keluarganya melihat, tetapi tidak memahami apa yang sedang terjadi. Mereka mungkin menganggapnya dia kurang bersyukur, terlalu banyak pikiran, mencari perhatian, atau kurang mendekatkan diri kepada keluarga. Alih-alih mendapatkan pertolongan, orang tersebut justru merasa dihakimi.

Kesehatan mental tidak cukup dijawab dengan membangun kesadaran bahwa “kita harus peduli”. Kepedulian perlu diterjemahkan menjadi pengetahuan dan keterampilan: bagaimana mengenali tanda-tanda masalah, bagaimana berkomunikasi tanpa menghakimi, kapan harus memberikan dukungan, dan kapan harus mencari bantuan profesional.

Kita bisa melihatnya dari hal yang sangat dekat dalam keseharian: curhat. Remaja bercerita kepada sahabat, mahasiswa berbagi cerita dengan teman dekat, atau orang dewasa memilih berbicara kepada seseorang yang dipercaya ketika sedang menghadapi tekanan.

Curhat mungkin bukan solusi atas seluruh persoalan kesehatan mental, tetapi kesediaan orang untuk mendengarkan tanpa menghakimi dapat menjadi bentuk dukungan awal yang penting. Dari percakapan itulah seseorang bisa merasa tidak sendirian, sekaligus memiliki keberanian untuk mencari bantuan yang lebih tepat ketika persoalannya membutuhkan penanganan profesional.

Menjadi Penolong Juga Membutuhkan Kemampuan

Di sinilah pentingnya membangun kesiapan orang-orang yang berada paling dekat dengan mereka yang membutuhkan pertolongan. Menjadi caregiver atau pendamping bukan sekadar hadir dan membantu, tetapi membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang memadai.

Caregiver perlu memahami kondisi yang dihadapi, mampu berkomunikasi tanpa menghakimi, mengetahui bentuk dukungan yang tepat, memahami kapan harus mencari bantuan profesional, sekaligus mampu menjaga kesehatan dirinya sendiri. Tanpa kompetensi yang memadai, niat baik dapat berubah menjadi tekanan ganda, baik bagi orang yang membutuhkan pertolongan maupun bagi penolong yang mendampinginya.

Siapa yang Menopang Para Penolong?

Keluarga yang mendampingi anggota keluarganya dengan masalah kesehatan mental dapat mengalami kelelahan fisik, tekanan emosional, rasa bersalah, konflik keluarga, keterbatasan waktu, bahkan burnout. Karena itu, caregiver juga membutuhkan kesempatan beristirahat, dukungan keluarga lain, kelompok dukungan, serta akses kepada tenaga profesional ketika diperlukan.

Perspektif ini relevan bagi Bandung. Data Profil Anak Kota Bandung 2025, misalnya, PUSPAGA Kota Bandung tercatat telah memberikan layanan kepada 296 klien terkait kesehatan mental sepanjang 2024. Dari jumlah tersebut, 44 klien merupakan laki-laki dan 252 perempuan. Data ini bukan gambaran prevalensi gangguan mental berdasarkan gender, melainkan catatan pemanfaatan layanan PUSPAGA.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap dukungan kesehatan mental dan keluarga hadir secara nyata di tingkat layanan.

Di sisi lain, Bandung memiliki potensi sumber daya profesional yang cukup besar. Data Ikatan Psikolog Klinis Indonesia per Oktober 2026 mencatat 135 psikolog klinis berdomisili di Kota Bandung dan 147 psikolog klinis tercatat bekerja di Kota Bandung.

Artinya, tantangannya bukan semata-mata pada ketiadaan tenaga profesional. Yang perlu terus diperkuat adalah keterhubungan antara tenaga profesional, layanan primer, keluarga, lingkungan pendidikan, dan masyarakat.

Membangun Sistem yang Siap Menolong

Langkah nyata Kota Bandung juga semakin terlihat. Melalui Program Cek Kesehatan Gratis bagi anak sekolah, pemeriksaan kesehatan jiwa mulai menjadi bagian dari layanan bagi siswa pada tahun ajaran baru dimulai di berbagai jenjang Pendidikan. Program ini patut diapresiasi karena menempatkan sekolah sebagai ruang penting deteksi dini, sebelum persoalan kesehatan mental berkembang menjadi lebih berat.

Namun, dukungan kesehatan mental idealnya tidak berhenti pada satu pintu layanan kesehatan. Dibutuhkan lebih banyak pintu dukungan pertama yang mudah dijangkau agar tidak berhenti di tengah jalan, hanya karena tidak tahu harus mencari bantuan ke mana atau kepada siapa.

Di sinilah pembicaraan tentang kapasitas layanan kesehatan mental perlu diperluas. Kapasitas sering kali diukur dari jumlah tenaga profesional dan ketersediaan fasilitas layanan. Keduanya tentu penting. Tetapi kemampuan merespons juga perlu dibangun kepada orang-orang yang setiap hari berada paling dekat dengan mereka yang sedang mengalami masalah kesehatan mental.

Orang tua perlu tahu bagaimana merespons anak yang sedang mengalami tekanan. Guru perlu memiliki kemampuan dasar mengenali tanda-tanda yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.

Kader dan masyarakat perlu tahu bagaimana memberikan dukungan tanpa memberikan stigma. Bahkan lingkungan kerja perlu memiliki pengetahuan dasar agar persoalan kesehatan mental tidak selalu berakhir pada pelabelan sebagai persoalan pribadi.

Peran tersebut dapat diperkuat di tingkat kelurahan. Pemerintahan kelurahan dapat menjadi penghubung antara warga, keluarga, kader, dan puskesmas, terutama dalam mengenali kebutuhan, mendorong warga yang membutuhkan akses layanan, serta membantu memastikan keberlanjutan pendampingan di lingkungan. Dukungan ini dapat dilakukan melalui pendataan dan identifikasi dini warga, penyebarluasan informasi program “Bangbara”, serta koordinasi dengan puskesmas ketika ditemukan warga yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.

Dari Peduli Menjadi Mampu Menolong

Dengan demikian, puskesmas tidak bekerja sendirian, tetapi didukung oleh lingkungan terdekat yang membantu membawa layanan lebih dekat kepada masyarakat. Bandung tidak harus menunggu banyak orang menjadi ahli kesehatan mental. Yang juga dibutuhkan adalah masyarakat yang memiliki kemampuan dasar untuk mengenali, merespons, dan menghubungkan seseorang dengan pertolongan yang tepat

Oleh karena itu, penguatan layanan kesehatan mental di Kota Bandung perlu berjalan dalam dua arah sekaligus.

Pertama, memperluas dan memperkuat kapasitas layanan profesional agar masyarakat semakin mudah mendapatkan bantuan. Kedua, membangun dukungan orang-orang terdekat agar mereka mampu menjadi pintu pertama dukungan, bukan justru menjadi sumber stigma atau tekanan baru.

Baca Juga: Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Pada akhirnya, ketika seorang warga sedang tidak baik-baik saja, yang dibutuhkan bukan hanya satu orang yang tahu harus menolong, tetapi lingkungan yang memahami bagaimana membantu dan sistem yang siap menopangnya.

Paradigma kesehatan mental bukan hanya tentang siapa yang sakit dan siapa yang mengobati. Tetapi juga tentang siapa yang pertama kali melihat, siapa yang tahu harus berbuat apa, dan siapa yang memastikan seseorang tidak menghadapi masalahnya sendirian.

Sebab, kadang-kadang, pertolongan pertama bukan datang dari ruang praktik psikolog. Pertolongan pertama bisa dimulai dari seseorang yang memilih untuk tidak menghakimi, mau mendengarkan, dan tahu kapan harus berkata: “Mari kita cari bantuan bersama.” (*)

Reporter Bayu Hikmat Purwana
Editor Aris Abdulsalam