Ayo Netizen

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti
Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)

Arus globalisasi telah mengubah gaya hidup dan selera kuliner masyarakat perkotaan di Indonesia. Kehadiran beragam makanan modern perlahan mengikis kepopuleran kuliner lokal, hingga sajian warisan leluhur kini makin jarang ditemui di warung makan maupun restoran.

Dalam menghadapi tantangan peradaban ini, kesadaran kolektif untuk melestarikan identitas rasa bangsa menjadi sebuah kebutuhan yang sangat penting. Salah satu langkah paling efektif dan konkret adalah dengan menghidupkan kembali tradisi memasak resep warisan di dapur rumah sendiri. Langkah sederhana ini tidak hanya menjaga keberlanjutan cita rasa autentik secara turun-temurun, tetapi juga memperkokoh benteng kebudayaan kuliner Nusantara agar tidak punah ditelan zaman.

Kebanggaan nasional terhadap kekayaan kuliner Indonesia sejatinya diperkuat oleh pengakuan kancah internasional. Berdasarkan fakta yang sudah jamak diketahui, masakan Indonesia dinilai sebagai salah satu hidangan paling 'hidup' dan berwarna di dunia. Kepopuleran ini dibuktikan dengan dinobatkannya Rendang khas Minangkabau sebagai makanan terlezat di dunia versi CNN pada tahun 2011, disusul oleh Nasi Goreng di peringkat kedua.

Tidak hanya itu, Bakso menjadi hidangan favorit mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, sementara Sate Ayam yang gurih manis diakui masyarakat global hingga diadaptasi oleh celebrity chef internasional, Jamie Oliver. Keanekaragaman cita rasa Nusantara ini juga tidak lepas dari proses akulturasi sejarah yang panjang, di mana budaya lokal berpadu harmonis dengan pengaruh asing dari Tiongkok, India, Timur Tengah, hingga Eropa.

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Ragam Hidangan Utama

Dalam khazanah gastronomi Nusantara, hidangan utama tidak sekadar pemenuh nutrisi harian, melainkan manifestasi nyata kekayaan hayati dan kearifan lokal. Setiap daerah mengembangkan teknik pengolahan spesifik, memanfaatkan bahan autentik setempat, serta mengaitkannya dengan nilai adat, perayaan, dan ritual sosial.

Keragaman racikan rempah dan metode pematangan tradisional merefleksikan kompleksitas identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Memahami sejarah di balik sajian ini memberi kita gambaran utuh tentang tingginya peradaban kuliner tempo dulu yang patut didokumentasikan, dipelajari, dan dilestarikan.

Keunikan hidangan utama Nusantara sangat ditentukan oleh keahlian mengolah bahan dasar serta teknik preservasi tradisional. Gule Ikan Sale dari Tapanuli Selatan, misalnya, memanfaatkan pengasapan pada ikan limbat (sejenis lele sungai) hingga menghasilkan aroma smoky khas. Ikan ini kemudian dimasak dalam kuah santan bersama kecombrang/cikala, asam gelugur, dan belimbing sayur sebagai sajian istimewa pada upacara adat. Di Gorontalo, Ilabulo mengolah hati dan ampela ayam yang dicampur tumisan bumbu serta adonan bubur kanji/sagu bersantan, lalu dibungkus daun pisang dan dipanggang untuk santapan makan siang.

Beberapa hidangan memperlihatkan kejeniusan mengolah bahan dan tekstur. Dendeng Age khas Yogyakarta menggabungkan perbandingan seimbang 1:1 antara 300 gram daging sapi tanpa urat dan 300 gram kluwih rebus. Setelah dimemarkan bersama bumbu halus, adonan dijepit bilah bambu berpucuk daun pepaya lalu dibakar sambil diolesi santan kental—sebuah inovasi preservasi yang pas disajikan bersama nasi gurih.

Satai Komoh khas Jawa Timur menyajikan potongan dadu daging sapi has dalam yang dimasak bersantan bumbu pekat, lalu dipanggang di atas bara api. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Pinerineks)

Sementara itu, Satai Komoh asal Pasuruan, Malang, dan Surabaya mengolah daging sapi has dalam potong dadu yang dimasak bersama santan dan bumbu tajam (basah berlumur bumbu) sebelum dipanggang di atas bara api.

Ketelitian dan teknik khusus juga terlihat pada pengolahan bahan berisiko maupun pemanfaatan cairan alami. Pantollo Pamarrasan dari Makassar dan Toraja mengolah ikan gabus panggang berkuah hitam dengan buah keluwak tua (pamarassan), kucai, dan cabai rawit utuh. Pengolahan keluwak menuntut ketelitian perendaman air panas atau perebusan agar bebas dari racun asam sianida alami. Pada Tumis Blakutak khas Cirebon—lauk pendamping Nasi Jamblang—cumi-cumi ditumis hingga mengeluarkan air dan tinta alami, lalu dimasak bersantan hingga kuahnya mengental dan ukurannya menyusut setengahnya.

Selain keahlian teknis, hidangan-hidangan ini memegang peranan erat dalam ritual sosial dan tradisi keagamaan. Gangan Rebung Daging dari Kalimantan memadukan iga sapi dan irisan rebung dalam kuah santan berrempah (jintan, adas manis, ketumbar, dan kelapa sangrai), menjadikannya menu favorit di pesta pernikahan dan perhelatan adat. Di Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, Gulai Iga Kemba'ang yang memadukan iga sapi, daun pakis, kelapa sangrai, dan asam kandis menjadi sajian khas bulan Ramadan hingga Lebaran.

Dari gurihnya lauk pauk utama yang kaya rempah dan teknik tinggi ini, penelusuran rasa kita berlanjut menuju kejutan manis dan keunikan tekstur dari deretan kudapan serta jajanan pasar tempo dulu.

Kudapan dan Jajanan Pasar Tempo Dulu

Jajanan pasar dan kudapan tradisional Indonesia memegang posisi istimewa yang melampaui sekadar hidangan penutup. Kudapan ini merupakan simbol perekat hubungan sosial, hantaran adat, hingga bentuk nyata akulturasi sejarah.

Melalui bentuknya yang mungil dan rasa manis legitnya, jajanan tempo dulu menyimpan nilai kepribadian luhur, seperti pentingnya menjaga silaturahmi dan menghormati orang tua. Bahan-bahan alami diolah secara artistik, menghasilkan kekayaan tekstur dari kenyalnya ketan hingga kelembutan adonan santan yang membangkitkan nostalgia.

Di Minangkabau, Ketan Sarikaya memegang nilai adat yang mendalam. Konon, anak gadis Minang diwajibkan mahir membuatnya sebelum menikah. Kudapan ini menjadi hantaran wajib seorang istri saat berkunjung ke rumah mertua, terutama di awal bulan Ramadan, dengan memadukan ketan hitam gurih dan lapisan srikaya harum beraroma daun suji-pandan.

Dari Tatar Pasundan, Colenak Tapai Pisang—akronim dari 'dicolok enak' yang populer di Bandung sejak 1930—menghadirkan kombinasi tapai singkong dan pisang tanduk panggang bersiram saus kental gula merah, santan, kelapa parut, serta daun jeruk yang nikmat disantap hangat bersama teh panas.

Variasi olahan ketan juga hadir lewat Lalampa khas Sulawesi Utara. Berbeda dari lemper Jawa yang manis, Lalampa diisi suwiran ikan cakalang atau tongkol berbumbu pedas dan kemangi, lalu dibungkus daun pisang dan dibakar di atas bara api. Sementara di Jawa Tengah, Sengkulun menjadi wujud nyata akulturasi Tionghoa-Jawa. Diadaptasi dari kue keranjang (Nian Gao), masyarakat lokal mentransformasikan sajian musiman Imlek ini menggunakan tepung ketan, tepung beras, gula aren, dan parutan kelapa muda menjadi penganan empuk bermutu manis-gurih yang kini dapat dijumpai sepanjang tahun.

Lalampa khas Sulawesi Utara berisi suwiran ikan cakalang atau tongkol pedas beraroma kemangi, yang dibungkus daun pisang lalu dibakar di atas bara api. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nafisathallah)

Tekstur lembut dan manis legit juga menjadi daya tarik Jongkong Kelapa Nangka serta Babay Maring. Jongkong Kelapa Nangka khas Surabaya menyajikan adonan tepung beras beraroma suji-pandan berisi kelapa muda, gula merah sisir, dan nangka matang bersiram santan kental. Di wilayah Lampung dan Palembang, Babay Maring mengombinasikan beras ketan hitam, pisang raja, dan gula merah yang dibungkus daun pisang berbentuk contong kerucut, lalu dikukus dan disajikan bersama taburan kelapa parut.

Kelezatan serta keanekaragaman cita rasa pada hidangan utama maupun kudapan manis tersebut sejatinya berakar dari satu kunci utama, yaitu penguasaan racikan bumbu dasar Nusantara.

Pondasi Cita Rasa: Menguasai Tiga Bumbu Dasar dan Rempah Autentik

Memasak kuliner tradisional Indonesia yang kaya rasa kerap dipersepsikan rumit dan menyita waktu bagi masyarakat modern. Padahal, kunci kepraktisan dan keilmuannya terletak pada pemahaman serta persiapan racikan bumbu dasar. Dengan menguasai tiga bumbu utama dan memahami fungsi rempah autentik, proses memasak hidangan daerah dapat dilakukan secara ringkas dan efisien tanpa mengurangi keaslian rasanya. Bumbu-bumbu ini pun dapat dibuat dalam jumlah besar dan disimpan di lemari pendingin untuk kemudahan memasak sehari-hari.

Terdapat tiga fondasi bumbu dasar yang menjadi kunci utama dapur Nusantara. Bumbu Dasar Merah meracik 30 siung bawang merah, 8 siung bawang putih, 20 cabai merah (kombinasi keriting dan besar), serta 2 sendok makan terasi bakar untuk masakan balado dan sambal goreng.

Bumbu Dasar Putih memadukan 30 siung bawang merah, 8 siung bawang putih, 10 butir kemiri sangrai, dan 2 sendok makan ketumbar sangrai untuk menghadirkan rasa gurih alami. Sementara itu, Bumbu Dasar Kuning menggunakan racikan bumbu putih yang ditambahi 2 cm kunyit bakar untuk memberikan warna cerah sekaligus menghilangkan bau amis pada bahan olahan.

Ketiga bumbu ini dapat dipadukan secara sinergis sesuai kebutuhan hidangan. Kombinasi bumbu putih dan kuning sangat cocok untuk mengolah ayam bakar, ayam goreng, kare, hingga rawon. Campuran bumbu merah dan kuning menjadi formulasi ideal untuk pepes, sedangkan bumbu merah dan putih tepat digunakan pada sambal goreng atau urap.

Jika ketiganya digabungkan (triple blend), racikan ini menghasilkan bumbu lengkap yang sempurna untuk hidangan ayam bakar, sambal goreng, maupun sayur godog.

Selain bumbu dasar, pemahaman terhadap rempah kunci juga menentukan keautentikatan rasa. Keluwak (kepayang/picung) yang berwarna cokelat kehitaman memberikan warna hitam pekat alami dan rasa gurih mendalam pada rawon, brongkos, atau pantollo pamarrasan. Kecombrang/Cikala memberikan aroma segar harum serta cita rasa khas pada olahan sayur, sambal, dan tumisan ikan seperti gule ikan sale. Untuk kudapan dan minuman, perpaduan Daun Suji memberikan warna hijau alami yang pekat, sedangkan Daun Pandan menyumbangkan aroma wangi yang kuat.

Kemudahan membuat dan menyimpan racikan bumbu dasar ini menjadi jembatan praktis yang mendorong masyarakat untuk kembali mempraktikkan resep-resep warisan di dapur rumah sendiri.

Baca Juga: Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Menjaga Kelestarian Kuliner dari Dapur Sendiri

Melestarikan warisan kuliner Nusantara sejatinya bukanlah tugas berat yang hanya menjadi tanggung jawab kaum profesional atau pelaku industri gastronomi. Langkah pelestarian paling nyata justru bermula dari meja makan dan dapur rumah tangga kita sendiri. Dengan memahami prinsip penggunaan bumbu dasar serta mengenal keunikan resep-resep nostalgia dari berbagai daerah, kita dapat dengan mudah menghadirkan kembali sajian tempo dulu yang kaya akan nilai sejarah dan kehangatan tradisi keluarga.

Mari kita ambil peran aktif dalam menjaga keberlanjutan identitas budaya bangsa dengan kembali menyalakan kompor dan mempraktikkan resep-resep nostalgia ini di rumah. Setiap suapan hidangan warisan yang kita sajikan bukan sekadar pemuas dahaga kuliner, melainkan bentuk penghormatan dan ikhtiar nyata agar kekayaan rasa Nusantara tetap hidup, lestari, dan membanggakan hingga generasi mendatang. (*)

Reporter Badiatul Muchlisin Asti
Editor Aris Abdulsalam