Ayo Netizen

Bandung dan Pusat Mata Nasional:  Solidaritas bagi Korban Karhutla Kalimantan

Oleh: Sri Maryati
Aeshtetic Eye Care & Dry Eye Clinic di RS Mata Cicendo. (Sumber: RS Mata Cicendo)

Penderitaan saudara kita di pulau Kalimantan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengundang simpati dan solidaritas sosial sesama warga bangsa. Penderitaan itu mengingatkan kita bahwa bencana lingkungan tidak hanya merusak hutan, mengganggu aktivitas ekonomi, dan mencemari udara. Ada persoalan kesehatan masyarakat yang tidak boleh diabaikan, termasuk gangguan kesehatan mata akibat paparan kabut asap dalam waktu lama.

Ketika udara dipenuhi asap, mata menjadi salah satu organ tubuh yang langsung berhadapan dengan lingkungan. Mata terasa perih, merah, gatal, berair, dan kering. Bagi sebagian orang, keluhan tersebut mungkin dianggap ringan. Namun, bagi warga yang harus tetap bekerja, bersekolah, berkendara, atau bertahan di lingkungan yang dipenuhi asap, gangguan mata dapat menghambat aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup.

Karhutla juga tidak selalu berhenti menjadi persoalan ketika api berhasil dipadamkan. Sisa asap dan partikel halus dapat bertahan di udara, sementara masyarakat harus menghadapi dampaknya. Karena itu, penanganan karhutla perlu dilihat sebagai persoalan lingkungan sekaligus persoalan kesehatan yang membutuhkan perhatian berkelanjutan.

Ketika Kabut Asap Mengancam Kesehatan Mata

Asap kebakaran mengandung campuran gas dan partikel pencemar, termasuk partikel halus PM2.5 yang berukuran sangat kecil. Partikel ini dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan, sedangkan asap dan berbagai zat pencemar di dalamnya juga dapat mengiritasi permukaan mata. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa paparan asap kebakaran dapat menimbulkan iritasi mata dan saluran pernapasan, bahkan memicu gangguan kesehatan yang lebih serius.

Dampak kesehatan tersebut perlu mendapatkan perhatian yang seimbang. Data kasus gangguan pernapasan memang penting, tetapi pelayanan kesehatan dalam situasi karhutla juga perlu memberikan ruang bagi pemeriksaan mata, terutama bagi anak-anak, lansia, pekerja lapangan, petugas pemadam, dan warga yang terus-menerus terpapar asap.

Gangguan mata akibat asap tidak selalu berakhir dengan kerusakan penglihatan permanen. Namun, iritasi yang menetap, peradangan, mata kering, serta infeksi atau cedera pada kornea perlu ditangani dengan benar. Risiko menjadi lebih serius apabila seseorang mengalami nyeri hebat, sensitif terhadap cahaya, penglihatan kabur, atau penurunan penglihatan secara mendadak.

Persoalan inilah yang perlu mendapat perhatian lebih besar. Pemeriksaan mata tidak boleh dianggap sebagai pelengkap penanganan bencana, melainkan bagian dari pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak. Gangguan penglihatan yang tidak ditangani dengan tepat dapat menghambat aktivitas, produktivitas, pendidikan, dan kemandirian seseorang.

Melindungi Mata Saat Terjebak Kabut Asap

Perlindungan kesehatan mata perlu dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan, mencari tempat dengan udara yang lebih bersih, serta menutup pintu dan jendela ketika kondisi di luar sangat berasap. Pembersih udara dengan filter HEPA dapat membantu mengurangi partikel di dalam ruangan.

Jika terpaksa beraktivitas di luar ruangan, penggunaan respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang dengan baik dapat mengurangi paparan partikel yang terhirup. Namun, masker tersebut tidak melindungi permukaan mata secara langsung. Kacamata pelindung yang pas dan menutup area sekitar mata dapat menjadi penghalang tambahan terhadap debu dan partikel yang terbawa angin.

Kacamata hitam biasa tidak selalu memberikan perlindungan yang memadai terhadap asap karena masih terdapat celah di bagian samping. Kacamata pelindung dengan desain rapat lebih sesuai untuk kondisi tertentu, khususnya bagi pekerja yang berada di sekitar lokasi kebakaran. Pemilihannya tetap perlu mempertimbangkan keselamatan kerja, kenyamanan, dan kemampuan melihat dengan baik.

Pengguna lensa kontak sebaiknya menghentikan pemakaiannya ketika mata mengalami iritasi akibat asap. Lensa kontak yang digunakan secara tidak tepat dapat meningkatkan risiko peradangan dan infeksi kornea. Mata juga tidak boleh digosok ketika terasa gatal atau perih karena tindakan tersebut dapat memperburuk iritasi.

Untuk meredakan keluhan ringan, masyarakat dapat menggunakan tetes mata pelumas yang sesuai atau menempelkan kompres bersih dan sejuk pada kelopak mata yang tertutup. Hindari penggunaan air yang tidak terjamin kebersihannya, obat tetes mata sembarangan, serta ramuan tradisional yang tidak steril. Jika terdapat partikel yang menancap, cedera, nyeri berat, atau penglihatan menurun, jangan mencoba mengeluarkannya sendiri.

Pemeriksaan dokter spesialis mata diperlukan apabila keluhan tidak membaik, berulang, atau disertai tanda bahaya. Cedera mata yang berat membutuhkan penanganan segera, tanpa harus menunggu satu atau dua hari. Pertolongan yang terlambat dapat memperburuk kondisi tertentu dan meningkatkan risiko gangguan penglihatan.

Di samping paparan asap, cuaca panas ekstrem juga meningkatkan risiko dehidrasi dan kelelahan, terutama pada pekerja lapangan. Pengaturan waktu kerja, tempat beristirahat yang sejuk, ketersediaan air minum, dan penggunaan alat pelindung diri merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan masyarakat di wilayah terdampak.

RS Mata Cicendo, Bandung. (Sumber: rsmatacicendo.go.id)

Bandung dan Tanggung Jawab Kemanusiaan

Di tengah persoalan tersebut, kepedulian masyarakat Bandung terhadap korban karhutla di Kalimantan perlu diwujudkan dalam bentuk partisipasi yang lebih konkret. Inisiatif kepedulian yang dibuka oleh Ayobandung menjadi kesempatan untuk memperluas solidaritas, tidak hanya melalui pengumpulan bantuan, tetapi juga dengan menghimpun gagasan dan aksi nyata yang menjawab kebutuhan masyarakat terdampak.

Salah satu gagasan yang patut dipertimbangkan adalah menjadikan Bandung sebagai salah satu pusat solidaritas dan rujukan penanganan gangguan mata akibat kabut asap. Bandung memiliki Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo, rumah sakit khusus mata milik Kementerian Kesehatan yang mempunyai layanan spesialis untuk menangani berbagai gangguan penglihatan.

Keberadaan RS Mata Cicendo memberikan peluang bagi Bandung untuk berkontribusi lebih jauh. Kontribusi tersebut bukan berarti seluruh korban harus dibawa ke Bandung. Pelayanan awal tetap perlu dilakukan sedekat mungkin dengan tempat tinggal korban, sedangkan pasien dengan kondisi kompleks dapat dirujuk berdasarkan kebutuhan medis dan hasil pemeriksaan dokter.

Atas dasar itu, RS Mata Cicendo dapat diajak membahas program tanggap darurat kesehatan mata untuk wilayah terdampak karhutla di Kalimantan. Langkah pertama ialah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan, dinas kesehatan setempat, rumah sakit daerah, puskesmas, dan pemerintah daerah untuk memetakan kebutuhan pelayanan.

Pemetaan tersebut penting untuk mengetahui jenis gangguan mata yang paling banyak ditemukan, ketersediaan dokter spesialis mata, kebutuhan obat dan alat pemeriksaan, serta jumlah pasien yang memerlukan penanganan lanjutan. Data lapangan akan menjadi dasar penentuan bentuk intervensi, bukan sekadar perkiraan mengenai beratnya dampak asap.

Mengirim Tim Medis dan Membuka Jalur Rujukan

Gagasan berikutnya adalah mengirim tim kesehatan mata dari Bandung ke wilayah terdampak. Tim dapat melibatkan dokter spesialis mata, perawat mata, tenaga kesehatan pendukung, dan petugas edukasi kesehatan. Pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan setempat serta dilakukan melalui koordinasi resmi dengan otoritas kesehatan.

Pada tahap awal, tim dapat menyelenggarakan pemeriksaan mata, mengidentifikasi pasien berisiko tinggi, memberikan edukasi pencegahan, serta membantu tenaga kesehatan setempat dalam memilah kasus yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Pelayanan bergerak dapat diprioritaskan untuk daerah yang aksesnya terbatas, termasuk kelompok masyarakat yang sulit menjangkau fasilitas kesehatan.

Namun, pemeriksaan lapangan saja tidak cukup. Perlu dibangun jalur rujukan yang jelas bagi pasien dengan dugaan kerusakan kornea, infeksi berat, trauma mata, gangguan penglihatan mendadak, atau kondisi lain yang memerlukan fasilitas spesialis. Pasien harus mendapatkan pemeriksaan awal, stabilisasi sesuai kebutuhan, dan keputusan rujukan berdasarkan pertimbangan klinis.

Dalam skema tersebut, RS Mata Cicendo dapat menjadi salah satu tujuan rujukan bagi pasien yang memang membutuhkan pelayanan tingkat lanjut dan memenuhi persyaratan pemindahan medis. Pemerintah daerah asal, fasilitas kesehatan perujuk, dan pihak rumah sakit perlu menyepakati prosedur penerimaan pasien, pembiayaan, transportasi, pendampingan keluarga, serta tindak lanjut setelah pasien kembali ke daerahnya.

Pemeriksaan awal dan penanganan kasus ringan tetap dilakukan di daerah asal agar masyarakat tidak harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan pelayanan dasar. Sementara itu, pasien dengan gangguan serius dapat memperoleh kesempatan mengakses layanan spesialis yang mungkin belum tersedia secara memadai di daerahnya.

Rumah sakit juga dapat mempertimbangkan penguatan layanan kegawatdaruratan mata, termasuk kesiapan penanganan sepanjang waktu sesuai kapasitas dan kebijakan pelayanan. Gagasan ini perlu dibahas secara kelembagaan agar kebutuhan pasien dari daerah bencana dapat dilayani tanpa mengabaikan pasien lain yang juga membutuhkan perawatan.

Dari Kepedulian Ayobandung Menjadi Aksi Bersama

Kepedulian yang dibuka Ayobandung dapat menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pihak yang memiliki kemampuan dan kepedulian berbeda. Pemerintah Kota Bandung dapat diajak mendukung koordinasi lintas lembaga. RS Mata Cicendo dapat memberikan pertimbangan medis dan dukungan keahlian. Organisasi profesi, perguruan tinggi, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat dapat mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing.

Bentuk partisipasinya dapat berupa dukungan biaya pemeriksaan dan pengobatan, penyediaan alat pelindung mata, pengadaan tetes mata pelumas yang sesuai, bantuan transportasi pasien rujukan, hingga dukungan akomodasi bagi pasien dan pendampingnya. Semua bantuan medis harus mengikuti rekomendasi tenaga kesehatan dan kebutuhan nyata di lapangan.

Ayobandung juga dapat mengembangkan kanal informasi yang memuat edukasi kesehatan mata, perkembangan program, kebutuhan pasien yang telah diverifikasi, serta laporan penggunaan bantuan secara transparan. Dengan demikian, publik tidak hanya mengetahui bahwa bantuan telah dikumpulkan, tetapi juga memahami manfaat dan hasil yang dicapai.

Program tersebut dapat dimulai dengan membentuk kelompok koordinasi kecil yang melibatkan pihak media, tenaga kesehatan, pemerintah, dan perwakilan masyarakat. Kelompok ini dapat menyusun daftar kebutuhan prioritas, mengidentifikasi wilayah yang paling membutuhkan pelayanan, serta menentukan mekanisme penyaluran bantuan. Setiap tahap perlu disertai evaluasi agar bantuan benar-benar menjawab kebutuhan warga terdampak.

Aksi kemanusiaan ini juga perlu disertai kesadaran bahwa karhutla merupakan persoalan yang berulang. Pelayanan kesehatan harus berjalan beriringan dengan upaya pencegahan kebakaran, perlindungan kawasan gambut, pengawasan pembukaan lahan, dan penegakan aturan. Tanpa pembenahan penyebabnya, masyarakat berisiko kembali menghadapi masalah kesehatan yang sama pada musim kemarau berikutnya.

Segenap urang Bandung memiliki momentum yang amat mulia untuk menunjukkan bahwa solidaritas antardaerah tidak berhenti pada rasa prihatin. Melalui kemampuan pelayanan kesehatan mata, jejaring rumah sakit, dan partisipasi masyarakat, Bandung dapat membantu memperluas akses perawatan bagi warga Kalimantan yang membutuhkan.

Perlu kesadaran nasional bahwa menjaga kesehatan mata korban karhutla bukan sekadar urusan medis. Ini merupakan bentuk kepedulian terhadap hak masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang layak, termasuk ketika mereka tinggal jauh dari pusat layanan spesialis.

Insya Allah, dari Bandung, kepedulian itu dapat diwujudkan melalui langkah yang efektif, yakni mengirim tim medis, memperkuat layanan di daerah terdampak, dan membuka jalur rujukan bagi pasien dengan gangguan mata serius. Dengan kerja sama yang tepat, keberadaan Pusat Mata Nasional di Bandung dapat menjadi kekuatan kemanusiaan yang membantu masyarakat Kalimantan menghadapi dampak karhutla.

Ayo, perkuat semangat solidaritas dan kesetiakawanan. Solidaritas yang sejati bukan hanya hadir ketika bencana menjadi perhatian publik. Solidaritas harus terus hidup melalui tindakan nyata, pelayanan yang efektif, dan kesediaan untuk membantu sesama memulihkan kesehatan serta kualitas hidupnya. (SRI)

Reporter Sri Maryati
Editor Aris Abdulsalam