Sebagai warga Bandung dan penulis Ayo Netizen, saya terpanggil untuk menyampaikan gagasan mengenai peran Kota Bandung dalam membantu mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bandung dikenal sebagai kota pendidikan, teknologi, penerbangan, dan tempat berkumpulnya banyak tenaga ahli. Potensi tersebut semestinya dapat dimanfaatkan untuk membantu mengatasi bencana lingkungan yang berulang setiap tahun di berbagai wilayah Indonesia.
Karhutla bukan sekadar persoalan api dan asap. Bencana ini berkaitan dengan kondisi lahan gambut, perubahan cuaca, tata kelola lingkungan, serta kemampuan mendeteksi titik api sejak dini. Ketika api sudah meluas, pemadaman menjadi jauh lebih sulit dan mahal. Dampaknya pun tidak berhenti di lokasi kebakaran, tetapi merambat menjadi gangguan kesehatan, kerusakan ekosistem, terganggunya aktivitas ekonomi, hingga pencemaran udara lintas wilayah dan negara.
Bandung memiliki modal untuk berkontribusi melalui pengembangan teknologi pendukung. Perguruan tinggi, lembaga riset, industri penerbangan, perusahaan teknologi informasi, serta komunitas insinyur dapat membangun kerja sama untuk menghasilkan sistem pemantauan dan penanganan karhutla yang lebih efektif.
Karhutla Membutuhkan Teknologi Terintegrasi
Besarnya tantangan karhutla terlihat dari data yang dilaporkan pada Agustus 2026. Berdasarkan laporan BNPB yang diberitakan detikNews pada 23 Agustus 2026, luas lahan yang terbakar di Indonesia tercatat mencapai 72.798 hektar. Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah dengan luas kebakaran terbesar, yakni 38.310 hektare. Laporan tersebut juga menyebutkan pengerahan 57.267 personel satuan tugas darat di sejumlah provinsi.
Angka tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla memerlukan dukungan lintas sektor. Personel di lapangan membutuhkan informasi yang cepat dan akurat mengenai lokasi api, arah penyebaran asap, kondisi cuaca, serta karakteristik lahan. Teknologi tidak menggantikan petugas pemadam, melainkan membantu mereka mengambil keputusan berdasarkan informasi yang lebih baik.
Sistem mitigasi idealnya menghubungkan pemantauan satelit, sensor di lapangan, pesawat tanpa awak atau drone, prakiraan cuaca, dan pusat komando. Informasi dari berbagai sumber dapat diolah untuk menentukan prioritas penanganan. Dengan demikian, petugas tidak hanya bergerak setelah api membesar, tetapi juga dapat mendeteksi gejala kebakaran dan mengidentifikasi kawasan yang berisiko tinggi.
Satelit dan Sensor untuk Deteksi Dini
Lembaga riset seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memiliki peran penting dalam pengembangan pemantauan lingkungan dan teknologi pengelolaan lahan gambut. Data satelit dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi titik panas, anomali suhu, perubahan tutupan lahan, serta luas area yang terdampak kebakaran.
Namun, titik panas pada citra satelit tidak selalu berarti kebakaran yang telah terkonfirmasi. Informasi tersebut perlu diperiksa bersama data cuaca, kondisi lapangan, dan sumber informasi lainnya. Karena itu, sistem deteksi dini harus menggabungkan data penginderaan jauh dengan verifikasi langsung agar keputusan yang diambil tidak keliru.
Perguruan tinggi di Bandung, termasuk Telkom University, berpotensi berkontribusi melalui pengembangan teknologi informasi, pengolahan citra, kecerdasan buatan, serta komunikasi data. Pengembangan satelit nano juga dapat menjadi bagian dari riset, sepanjang kemampuan dan ketersediaan datanya sesuai dengan kebutuhan operasional. Telkom University (Tel-U) mengembangkan purwarupa satelit nano (berjenis CubeSat ukuran 10x10x10 cm) melalui Laboratorium Satelit Nano Telkom University.
Satelit nano tidak otomatis mampu menghasilkan citra beresolusi tinggi atau memantau wilayah yang sama secara terus-menerus.
Yang lebih penting ialah membangun sistem yang mampu mengolah informasi menjadi peringatan dini yang mudah dipahami petugas. Teknologi akan lebih bermanfaat apabila hasil analisis dapat menunjukkan lokasi prioritas, tingkat risiko, dan kebutuhan tindakan di lapangan.

Drone dan Kecerdasan Buatan
Pesawat tanpa awak dapat membantu memeriksa titik panas yang sulit dijangkau, terutama ketika akses darat terbatas. Drone yang dilengkapi kamera termal dapat membantu menemukan sumber panas, sedangkan kamera visual dapat merekam kondisi vegetasi, jalur akses, dan perkembangan kebakaran.
Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence dapat dikembangkan untuk menganalisis citra, membaca pola cuaca, serta memperkirakan potensi penyebaran api. Hasil analisis tersebut dapat membantu petugas menyusun prioritas pemadaman dan menentukan lokasi yang perlu diperiksa lebih dahulu.
Meski demikian, akurasi sistem kecerdasan buatan harus diuji dengan data lapangan yang memadai. Klaim persentase akurasi yang tinggi tidak cukup dijadikan dasar penerapan sebelum metode pengujian, jenis data, dan kondisi operasionalnya dijelaskan secara terbuka.
Drone juga mempunyai keterbatasan. Daya tahan terbang, jangkauan komunikasi, cuaca, dan luas wilayah kebakaran dapat membatasi penggunaannya. Untuk kebakaran berskala besar, drone tetap perlu didukung kendaraan pemadam, helikopter, pesawat, serta personel darat.
Industri Penerbangan dan Teknologi Pemadaman
Bandung memiliki pengalaman dan ekosistem industri penerbangan yang dapat dilibatkan dalam pengembangan peralatan pendukung mitigasi karhutla. PT Dirgantara Indonesia, perguruan tinggi teknik, perusahaan rekayasa, serta industri teknologi lainnya berpotensi membangun kolaborasi untuk mengembangkan perangkat pemantauan, sistem komunikasi, dan perlengkapan pemadaman.
Salah satu peralatan yang dikenal dalam pemadaman dari udara adalah Bambi Bucket, yaitu wadah fleksibel yang digantungkan pada helikopter untuk membawa dan menjatuhkan air ke lokasi kebakaran. Pengembangan peralatan semacam ini memerlukan perhitungan kapasitas, bobot, kekuatan material, keselamatan penerbangan, serta kesesuaian dengan jenis helikopter yang digunakan.
Industri lokal dapat dilibatkan dalam penelitian dan pengembangan peralatan tersebut. Akan tetapi, informasi mengenai perusahaan tertentu yang telah mengembangkan Bambi Bucket berkapasitas hingga 4.000 liter, termasuk sistem kendali jarak jauhnya, perlu diverifikasi melalui sumber resmi sebelum dinyatakan sebagai kemampuan yang sudah tersedia dan siap digunakan.
Teknologi pemadaman dari udara juga tidak boleh dipandang sebagai satu-satunya solusi. Pada lahan gambut, api dapat merambat di bawah permukaan sehingga sulit diketahui dari pengamatan visual. Pemadaman perlu disertai pembasahan lahan, pengelolaan tata air, perlindungan kawasan gambut, dan pemantauan berulang untuk mencegah api kembali menyala.
Riset BRIN mengenai pengelolaan gambut, termasuk pengembangan bahan pembasah berbasis pati singkong dalam penelitian tertentu, dapat menjadi salah satu bahan kajian. Penerapannya tetap membutuhkan pengujian lapangan untuk memastikan efektivitas, keamanan lingkungan, dan kesesuaiannya dengan kondisi gambut yang berbeda.
Bandung sebagai Pusat Kolaborasi
Inisiatif yang dapat ditawarkan ialah membangun forum kolaborasi teknologi mitigasi karhutla di Bandung. Forum ini dapat mempertemukan pemerintah daerah, BRIN, perguruan tinggi, industri penerbangan, perusahaan teknologi informasi, serta organisasi profesi insinyur. Tujuannya bukan sekadar mengadakan diskusi, melainkan menyusun proyek percontohan yang memiliki sasaran dan ukuran keberhasilan yang jelas.
Tahap awal dapat difokuskan pada pengembangan sistem peringatan dini berbasis data satelit, sensor, prakiraan cuaca, dan verifikasi drone. Sistem tersebut dapat diuji bersama instansi yang menangani kebakaran dan bencana di wilayah rawan. Indikator keberhasilannya antara lain waktu yang dibutuhkan untuk mengonfirmasi titik panas, ketepatan informasi lokasi, kecepatan penyampaian peringatan, serta biaya operasional.
Setelah tahap percontohan dievaluasi, pengembangan dapat diperluas sesuai kebutuhan. Bandung tidak harus mengerjakan semua teknologi sekaligus. Kota ini dapat mengambil peran sebagai simpul riset, rekayasa, integrasi data, dan pengembangan sumber daya manusia yang mendukung kerja petugas di daerah rawan karhutla.
Patut dicatat bahwa teknologi hanyalah salah satu bagian dari upaya mitigasi. Pencegahan pembakaran lahan, penegakan hukum, pemulihan ekosistem gambut, pengawasan kegiatan usaha, serta partisipasi masyarakat tetap menjadi agenda utama. Teknologi bisa memberikan manfaat lebih besar apabila terhubung dengan tata kelola yang tegas dan koordinasi antar lembaga yang berjalan baik.
Bandung memiliki sumber daya pendidikan, riset, dan rekayasa yang layak diperhitungkan. Potensi itu dapat diarahkan untuk membantu Indonesia menghadapi karhutla secara lebih sistematis. Dari Bandung, teknologi tidak hanya dikembangkan untuk kepentingan industri, tetapi juga untuk melindungi lingkungan, kesehatan masyarakat, dan demi masa depan generasi mendatang. (TS)