Ayo Netizen

Gasibu Tempo Dulu

Oleh: Malia Nur Alifa
Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)

Kawasan Gasibu adalah sebuah lapangan dan ruang terbuka publik yang terletak di Kota Bandung. Letaknya persis di bagian depan dari kawasan Gedung Sate. Fungsi lapangan ini adalah sebagai sarana favorit warga untuk berolahraga, jalan santai, dan lainnya, tak jarang warga yang menyambanginya hanya untuk berfoto ria dan menghabiskan waktu bersama keluarga di akhir pekan, karena tepat di minggu pagi selalu ada pasar kaget di wilayah ini, yang membuat suasana semakin semarak. Sekarang kawasan favorit warga Bandung ini sedang direvitalisasi, ada yang setuju ada pula yang menyayangkan. Untuk itu mari kita lihat bagaimana kisah masa lalu kawasan Gasibu ini.

Lahan cikal bakal lapangan Gasibu awalnya merupakan lahan kosong berupa rawa. Selama pembangunan gedung Gouvernements Bedrijven (GB), lahan ini masih terlihat tergenang air di beberapa bagian tempat. Kemungkinan besar lahan tersebut mengandung sumber air. Dugaan ini sekarang terbukti dengan tergenangnya air di lahan bekas galian fondasi bangunan yang tidak jadi dilaksanakan yang terletak di sisi barat lapangan Gasibu. Air bekas galian tersebut tidak pernah menyusut ketika musim kemarau dan tidak pernah meluap ketika musim hujan sebagaimana layaknya danau alami, padahal yang terbentuk adalah danau buatan. Hal ini terjadi karena ada mata air di dasarnya.

Bupati Bandung R.A. Martanegara (1893–1918) meneruskan jalur saluran air (Kali Cikapayang) yang telah dibuat oleh Bupati Bandung R.A. Kusumahdilaga (1874–1893). Saluran air sodetan berupa kali (sungai kecil) yang dibangun Bupati Bandung R.A. Kusumadilaga (1874–1893) pada tahun 1880-an berawal dari sisi timur sungai Cikapundung, beberapa puluh meter di selatan jembatan di Dr. de Grootweg (Jalan Siliwangi). Kali ini kemudian dikenal sebagai Cikapayang. Kali Cikapayang dibuat dengan mengerahkan penduduk kampung Balubur dan sekitarnya, tujuan pembuatan kali Cikapayang adalah untuk memenuhi air di Pieterspark (Taman Balai Kota).

Saluran air yang dibuat oleh Bupati Bandung R.A. Kusumahdilaga (1874–1893) ke arah timur membelah Tjikapayang Plein (Taman Cikapayang). Memotong Dagostraat (Jl. Ir. H. Djuanda) dan membelah Ijzerman Plein (Taman Surapati) sampai ke lahan cikal bakal lapangan Gasibu (1910-an). Tujuan perpanjangan kali Cikapayang adalah untuk memenuhi kebutuhan air antara lain di Tjilaki Plein (Taman Cilaki), Tjibeunying Plantsoen (Taman Cibeunying), Oranjeplein (Taman Pramuka), dan saluran pembuangan air kotor gedung GB atau Gedung Sate.

Lahan cikal bakal lapangan Gasibu masuk ke dalam rencana pembangunan kompleks GB, sehingga dalam rangka persiapan pembangunan selanjutnya saluran air terbuka di lahan cikal bakal lapangan Gasibu kemudian dijadikan saluran air tertutup. Sayang pembangunan kompleks GB terhenti karena memasuki pendudukan Jepang, sehingga lahan cikal bakal lapangan Gasibu tersebut pun terlantar.

Gasibu adalah singkatan dari Gabungan Sepak Bola Indonesia Bandung Utara, yang merupakan wadah klub-klub sepak bola di kawasan Bandung Utara. Besar kemungkinan Gasibu dibentuk tidak lama setelah Persib. Lapangan tempat berlatih bola dan penyelenggaraan pertandingan antar klub anggota Gasibu adalah lahan kosong di selatan Ijermanpark (Taman Ganesha), yaitu di antara Jalan Gelap Nyawang dan Jalan Badak Singa awalnya lahan tersebut merupakan lahan yang diperuntukkan bagi pengembangan atau perluasan Ijermanpark ke selatan.

Pada tahun 1953, Gasibu terpaksa memindahkan lapangan sepak bolanya karena di lahan tersebut akan dibangun kompleks penjernihan air minum untuk Kota Bandung oleh PDAM. Akhirnya setelah mencari ke sana dan ke sini akhirnya Gasibu meminta izin untuk menggunakan lapangan Diponegoro di sisi utara Jalan Diponegoro, di seberang Gedung Sate untuk dijadikan lapangan sepak bola. Lahan yang masih dipenuhi ilalang dan semak belukar dibersihkan dan ditata menjadi lapangan sepak bola yang memadai secara mandiri yang melibatkan hampir semua anggota klub sepak bola di kawasan Bandung Utara. Sejak itu, lapangan tersebut dikenal warga Kota Bandung sebagai lapangan Gasibu.

Pada 1960-an aktivitas Gasibu menurun sehingga lapangan Gasibu relatif terlihat selalu kosong, yang menandakan lapangan tersebut adalah lapangan sepak bola adalah tiang-tiang gawang di utara dan selatan lapangan. Dan masih pada 1960-an Kota Bandung dilanda masalah sampah kota. Konon upaya yang dilakukan pihak pemerintah kota adalah dengan menggunakan para pengangguran dan tunawisma untuk memilah-milah sampah di samping para pemulung sampah yang sudah ada ketika itu. Mereka diberi kesempatan untuk mendirikan gubuk tempat tinggal di lapangan Gasibu. Sejak itu lapangan Gasibu menjadi kotor, kumuh, dan area rawan. Penghuni lapangan Gasibu semakin bertambah dari tahun ke tahun, tidak saja dihuni oleh para pemulung, namun juga dipakai oleh orang-orang yang membuka usaha perbengkelan dan usaha makanan.

Awal tahun 1970-an, rupanya pemerintah kota mulai gerah melihat kondisi lapangan Gasibu. Para penghuni lapangan Gasibu digusur paksa keluar dari lapangan. Mereka yang berminat diberi kesempatan untuk mencicil rumah ukuran kecil yang sedang dibangun di kawasan Sukaluyu, yang tidak berminat dipindahkan ke kawasan Padasuka di sisi timur Kota Bandung. Sejak itu lapangan Gasibu kembali menjadi lapangan sepak bola dan kegiatan olahraga lainnya, namun pada tahun 1980-an hingga 2000-an kawasan ini masih terlihat kumuh, terutama apabila setelah pasar kaget digelar.

Namun, secara bertahap lapangan Gasibu diubah menjadi lapangan olahraga yang bersih, nyaman, dan menjadi daya tarik tersendiri bagi warga. Sekarang ini kawasan lapangan Gasibu kembali direvitalisasi, entah akan seperti apa wajahnya kali ini, namun semoga tetap memberikan ruang terbuka yang sangat bermanfaat bagi warga Kota Bandung. (*)

Reporter Malia Nur Alifa
Editor Aris Abdulsalam