Ayo Netizen

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Oleh: Vania Ramadhani Sidiq
Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)

Kemacetan lalu lintas merupakan fenomena yang sering dijumpai dalam kehidupan masyarakat perkotaan. Banyaknya kendaraan yang melintas pada waktu tertentu dapat membuat arus lalu lintas menjadi padat dan perjalanan terasa lebih lama. Kondisi ini juga dialami oleh masyarakat yang bepergian untuk bekerja, bersekolah, kuliah, maupun melakukan aktivitas lainnya. Salah satu kawasan di Bandung yang menarik untuk diamati adalah Bunderan Cibiru, yang menjadi titik pertemuan arus kendaraan dari berbagai arah.

Untuk melihat kondisi lalu lintas di kawasan tersebut, pengamatan langsung dilakukan selama tiga hari, yaitu pada 27, 28, dan 29 Oktober 2026. Pengamatan ini dilengkapi dengan wawancara terhadap dua mahasiswa yang hampir setiap hari melewati Bunderan Cibiru, yaitu Zahra Annazwa Putri Indriani dan Ikhsan Nuralif. Hasil pengamatan dan wawancara memberikan gambaran mengenai kepadatan lalu lintas, waktu terjadinya kemacetan, serta pengaruhnya terhadap perjalanan menuju kampus.

Kepadatan Lalu Lintas Berbeda pada Setiap Waktu

Pada Selasa, 27 Oktober 2026, pengamatan dilakukan pukul 06.00 WIB dan 16.00 WIB. Kondisi lalu lintas pada kedua waktu tersebut terlihat padat dan macet. Kendaraan masih dapat bergerak, tetapi hanya maju secara perlahan. Kepadatan pada pukul 06.00 WIB terlihat lebih tinggi dibandingkan dengan pukul 16.00 WIB. Pada pengamatan sore hari, hujan dengan intensitas cukup deras turut menyertai kondisi lalu lintas.

Pengamatan pada Rabu, 28 Oktober 2026, dilakukan pukul 07.00 WIB dan 11.00 WIB. Pada pagi hari, Bunderan Cibiru terlihat padat dan dipenuhi berbagai jenis kendaraan, seperti mobil, angkutan umum, elf, dan sepeda motor. Sepeda motor terlihat paling banyak mendominasi arus lalu lintas. Sementara itu, pada pukul 11.00 WIB, kondisi lalu lintas tidak sepadat pada pagi hari, meskipun masih banyak kendaraan yang melintas.

Pada Kamis, 29 Oktober 2026, pengamatan dilakukan pukul 06.00 WIB dan 14.00 WIB. Pada pukul 06.00 WIB, kondisi lalu lintas kembali terlihat padat dan macet. Sebaliknya, pada pukul 14.00 WIB, jumlah kendaraan yang melintas tidak terlalu banyak dibandingkan dengan kondisi pagi hari. Secara keseluruhan, pengamatan selama tiga hari menunjukkan bahwa kepadatan berbeda pada setiap waktu pengamatan dan cenderung lebih tinggi pada pagi hari.

Pengalaman Pengguna Jalan

Narasumber pertama, Zahra Annazwa Putri Indriani merupakan mahasiswi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung yang tinggal di Rancaekek. Ia hampir setiap hari melewati Bunderan Cibiru untuk menuju kampus di Cipadung, Cibiru. Menurut pengalamannya, kepadatan sering terjadi pada pagi hari sekitar pukul 06.00–07.00 WIB, khususnya dari arah Cinunuk menuju Cibiru. Ia juga merasakan kepadatan pada sore hari sekitar pukul 15.00–18.00 WIB.

Zahra menilai kemacetan cukup mengganggu, terutama ketika banyak pengendara motor melintasi kawasan tersebut secara bersamaan. Ia juga menceritakan bahwa beberapa mobil elf dan angkutan umum terkadang berhenti untuk menaikkan atau menurunkan penumpang. Menurut pengalamannya, kondisi tersebut dapat menambah kepadatan dan mengganggu kelancaran kendaraan lain.

Kepadatan lalu lintas terkadang membuat Zahra terlambat sampai di kampus, terutama pada Senin pagi sekitar pukul 07.00 WIB. Ia juga merasa perilaku sebagian pengendara motor yang menerobos celah sempit di antara kendaraan dapat mengganggu pengendara lain. Selain itu, Zahra merasakan ketidaknyamanan akibat polusi udara ketika terjebak dalam kepadatan kendaraan.

Narasumber kedua, Ikhsan Nuralif, merupakan mahasiswa Universitas Islam Nusantara yang tinggal di Cikutra, Bandung. Ia hampir setiap hari melewati Bunderan Cibiru untuk menuju kampusnya di Sekejati, Buah Batu. Ia biasanya melintasi kawasan tersebut sekitar pukul 07.00 WIB dan pukul 14.00 WIB.

Menurut Ikhsan, lalu lintas cenderung padat ketika terjadi kemacetan, tetapi kendaraan biasanya masih dapat bergerak secara perlahan. Ia juga mengamati bahwa kendaraan roda dua mendominasi arus lalu lintas. Selain itu, beberapa mobil elf dan angkutan kota terkadang menghalangi kendaraan lain sehingga kemacetan terasa semakin parah, khususnya bagi pengendara mobil.

Bagi Ikhsan, kepadatan kendaraan pada waktu berangkat membuat perjalanan menuju kampus menjadi kurang lancar. Kondisi tersebut dapat menyebabkan perjalanan membutuhkan waktu lebih lama dan membuat waktu yang tersedia untuk menuju kampus menjadi terbatas.

Persamaan dan Perbedaan Pengalaman

Pengalaman Zahra dan Ikhsan memiliki beberapa persamaan. Keduanya hampir setiap hari melewati Bunderan Cibiru untuk menuju kampus dan sama-sama merasakan kepadatan lalu lintas, terutama pada pagi hari. Keduanya juga menyebutkan dominasi kendaraan roda dua serta keberadaan kendaraan angkutan yang terkadang menghalangi arus kendaraan sebagai bagian dari kondisi yang mereka alami.

Meski demikian, terdapat perbedaan dalam hal yang paling mereka rasakan. Zahra lebih menyoroti kemungkinan terlambat sampai di kampus, perilaku sebagian pengendara motor, serta ketidaknyamanan akibat polusi udara. Sementara itu, Ikhsan lebih menekankan perbedaan kondisi lalu lintas antara pukul 07.00 WIB dan pukul 14.00 WIB serta pengaruh kepadatan terhadap kelancaran waktu perjalanan.

Jika dibandingkan dengan pengamatan langsung, pengalaman kedua narasumber sejalan dengan kondisi padat yang ditemukan pada pagi hari selama pengamatan. Namun, pengalaman mereka tetap merupakan keterangan pribadi, sedangkan pengamatan langsung hanya menggambarkan kondisi pada tanggal dan jam yang telah ditentukan. Oleh karena itu, temuan tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi lalu lintas, tetapi belum dapat digunakan untuk menyimpulkan pola kemacetan setiap hari secara keseluruhan.

Kemacetan dalam Perjalanan Sehari-hari

Berdasarkan pengamatan selama tiga hari dan wawancara dengan dua pengguna jalan, kemacetan di Bunderan Cibiru terlihat melalui kepadatan kendaraan dan pergerakan lalu lintas yang lambat pada waktu-waktu tertentu. Pengamatan menunjukkan bahwa kondisi lalu lintas pada pagi hari cenderung lebih padat dibandingkan beberapa waktu menjelang siang atau siang hari. Sementara itu, pengalaman Zahra dan Ikhsan memperlihatkan bahwa kepadatan dapat memengaruhi waktu tempuh, kelancaran, dan kenyamanan perjalanan menuju kampus.

Keberadaan kendaraan angkutan yang berhenti atau menghalangi arus lalu lintas juga menjadi salah satu hal yang disoroti oleh kedua narasumber berdasarkan pengalaman mereka. Meski begitu, pengamatan dan wawancara dalam artikel ini terbatas pada tiga hari pengamatan dan dua narasumber, sehingga hasilnya tidak mewakili seluruh pengguna jalan maupun seluruh kondisi lalu lintas di Bunderan Cibiru.

Pada akhirnya, kemacetan di Bunderan Cibiru bukan hanya terlihat dari padatnya kendaraan di jalan, tetapi juga dari pengalaman masyarakat yang menghadapinya dalam perjalanan sehari-hari. Pengamatan langsung dan cerita dua pengguna jalan memberikan gambaran lebih dekat mengenai bagaimana kepadatan lalu lintas dapat memengaruhi waktu, kelancaran, dan kenyamanan perjalanan mereka. (*)

Reporter Vania Ramadhani Sidiq
Editor Aris Abdulsalam