Ayo Netizen

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Oleh: Mulki Alifa Hakim
ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)

Stoisisme menjadi salah satu filosofi yang banyak dibicarakan belakangan ini, terutama di kalangan Gen Z. Salah satu alasannya adalah karena filosofi ini membantu kita menghadapi tekanan kehidupan, mulai dari masalah pekerjaan, perkuliahan, hingga hubungan sosial. Stoisisme mengajak kita memahami bahwa tidak semua hal berjalan sesuai keinginan dan tidak semuanya berada dalam kendali kita. Alih-alih larut dalam kemarahan, kesedihan, atau kekecewaan, kita diajak belajar menyikapi keadaan dengan lebih bijaksana.

Sejarah Singkat tentang Stoicisme

Stoisisme merupakan aliran filsafat yang berasal dari Yunani Kuno dan berkembang sekitar abad ketiga sebelum Masehi. Filosofi ini kemudian semakin dikenal melalui pemikiran sejumlah tokoh, seperti Epictetus, Seneca, dan Marcus Aurelius.

Ketiganya memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda. Epictetus pernah hidup sebagai budak sebelum akhirnya dikenal sebagai seorang filsuf. Seneca merupakan filsuf sekaligus penulis yang pernah menjadi penasihat Kaisar Romawi. Sementara itu, Marcus Aurelius adalah seorang kaisar Romawi yang juga dikenal melalui catatan pemikirannya tentang kehidupan dan cara mengendalikan diri.

Meski memiliki latar belakang yang berbeda, ketiga tokoh tersebut dikenal melalui pemikiran mereka tentang bagaimana manusia menghadapi kehidupan.

Prinsip dasar dalam stoicisme

Salah satu prinsip penting dalam stoisisme adalah dichotomy of control, yaitu membedakan hal-hal yang berada dalam kendali kita dan hal-hal yang berada di luar kendali kita.

Kita bisa mengendalikan usaha yang kita lakukan, keputusan yang kita ambil, serta bagaimana kita merespons suatu keadaan. Namun, kita tidak bisa sepenuhnya mengendalikan pendapat orang lain, hasil akhir dari setiap usaha, atau kejadian yang sudah telanjur terjadi.

Misalnya, ketika mendapatkan nilai ujian yang tidak sesuai harapan, kita mungkin merasa kecewa karena sudah belajar dengan sungguh-sungguh. Perasaan itu wajar. Namun, setelah hasilnya keluar, kita tidak bisa mengubah nilai tersebut hanya dengan terus menyesalinya. Hal yang masih bisa kita lakukan adalah mengevaluasi cara  belajar, memahami kesalahan, dan mempersiapkan diri dengan lebih baik untuk ujian berikutnya.

Salah satu hal yang sering kali menjadi perhatian kita adalah penampilan diri, di media sosial, kita sering menjumpai standar “good looking” tertentu yang membuat seseorang merasa penampilannya kurang menarik hanya karena tidak sesuai dengan standar tersebut, kita tidak bisa menentukan apa yang orang lain nilai kepada kita, tetapi bukan berarti kita harus terus-menerus mengubah diri demi mendapatkan pengakuan dari mereka. Pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang bagaimana masyarakat memandang kita, tetapi juga tentang bagaimana kita memandang dan menghargai diri sendiri. Kita boleh berusaha merawat diri dan memperbaiki penampilan, tetapi jangan sampai penilaian orang lain menjadi satu-satunya alasan kita merasa berharga. Dalam hal ini, Stoicism mengajak kita untuk lebih fokus pada hal yang bisa kita kendalikan, termasuk cara kita memperlakukan diri sendiri dan bagaimana kita menyikapi pendapat orang lain.

Meski sering dikaitkan dengan ketenangan, stoisisme bukan berarti kita menyembunyikan perasaan setiap kali menghadapi masalah. Merasa sedih setelah mengalami kegagalan, marah ketika diperlakukan tidak adil, atau cemas menghadapi masa depan merupakan hal yang manusiawi.

Yang perlu dipelajari adalah bagaimana menghadapi perasaan tersebut tanpa membiarkannya mengambil alih seluruh keputusan kita. Kita bisa memberi waktu kepada diri sendiri untuk merasa sedih, mengambil jeda ketika sedang marah, atau membicarakan masalah dengan orang yang dipercaya saat merasa kewalahan.

Stoicism juga menekankan pentingnya menerima kenyataan. Dalam hidup, tidak semua hal akan berjalan sesuai rencana.

Prinsip lain dalam Stoicism adalah bahwa kebahagiaan tidak semestinya hanya bergantung pada kekayaan, barang yang dimiliki, atau pengakuan dari orang lain. Memiliki materi dan menikmati kenyamanan hidup bukanlah sesuatu yang salah. Namun, masalah bisa muncul ketika kita menjadikan semua itu sebagai satu-satunya ukuran kebahagiaan dan keberhasilan.

Kita mungkin pernah merasa ingin membeli barang tertentu karena sedang populer, merasa tertinggal ketika melihat pencapaian orang lain di media sosial, atau merasa hidup kita kurang berhasil karena belum memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain. Tanpa disadari, kebiasaan membandingkan diri seperti ini bisa membuat kita terus merasa kurang, meskipun sebenarnya kita sudah memiliki banyak hal yang patut disyukuri.

Penerapan dalam kehidupan sehari-hari

Stoicism bisa diterapkan ketika kita merasa khawatir tentang masa depan. Terkadang, kita terlalu sibuk memikirkan berbagai kemungkinan yang belum tentu terjadi hingga lupa bahwa ada hal-hal yang bisa kita usahakan mulai dari sekarang. Daripada terus-menerus mencemaskan apa yang akan terjadi, kita bisa berfokus melakukan yang terbaik untuk mencapai masa depan yang kita inginkan.

Pada akhirnya, Stoisisme bukan tentang menghilangkan semua emosi atau membuat hidup selalu berjalan sesuai keinginan. Filosofi ini mengajak kita untuk memahami perasaan, menerima hal-hal yang tidak bisa diubah, dan tetap berusaha melakukan apa yang masih berada dalam kendali kita. Sebab, menjalani hidup dengan bijaksana bukan berarti mengendalikan segala sesuatu, melainkan mengetahui kapan harus berusaha dan kapan harus menerima. (*)

Reporter Mulki Alifa Hakim
Editor Aris Abdulsalam