Menimbang Masa Depan Akal Imitisasi dari Perspektif Filsafat

3 menit baca
Muhammad Sufyan Abdurrahman
Ditulis oleh Muhammad Sufyan Abdurrahman diterbitkan
Buku 19 Narasi Besar Akal Imitasi. (Sumber: ITB Press)
Buku 19 Narasi Besar Akal Imitasi. (Sumber: ITB Press)

Apakah kecerdasan buatan akan menjadi berkah atau bencana? Apakah kita sedang menciptakan alat bantu atau calon pengganti manusia itu sendiri?

Buku 19 Narasi Besar Akal Imitasi hadir sebagai undangan terbuka untuk merenungkan ulang arah perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang kini kian membaur dalam hidup sehari hari.

Ditulis dengan pendekatan naratif dan filosofis, buku ini membagi gagasan besarnya ke dalam tiga kelompok utama yaitu narasi optimis, narasi kritis, dan narasi alternatif.

Narasi optimis membuka pembahasan dengan penuh harapan terhadap masa depan Artificial Intelligence (AI). Tokoh tokoh seperti Ray Kurzweil, Nick Bostrom, Andreessen, hingga Anderson menarasikan AI sebagai penolong manusia.

AI dipercaya mampu memperpanjang usia, menambah kecerdasan, bahkan membawa umat manusia menuju kehidupan yang lebih spiritual.

Dalam bayangan mereka, AI akan menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih terang, efisien, dan tanpa batas. Pandangan seperti ini sangat kuat dalam narasi perusahaan teknologi global dan disambut baik oleh media arus utama.

Namun di tengah optimisme itu, buku ini juga menghadirkan narasi kritis yang layak direnungkan. Tokoh seperti Geoffrey Hinton, Yuval Noah Harari, hingga Habermas dan Frankfurt School mengingatkan bahwa AI juga menyimpan potensi bahaya serius.

Dari bahaya eksploitasi data hingga ancaman ketimpangan sosial yang makin melebar, narasi ini hadir untuk mengimbangi kegembiraan berlebih yang kerap menyertai setiap peluncuran teknologi baru.

Geoffrey Hinton misalnya menyebut AI sebagai bom atom kemanusiaan karena kekuatannya yang besar namun sulit dikendalikan. Sementara Harari memperingatkan soal oligarki algoritma yang dapat mengikis demokrasi dan kemanusiaan.

Pada bagian terakhir, narasi alternatif menjadi ruang tafsir paling reflektif dalam buku ini.

Berbasis pemikiran tokoh tokoh seperti Noam Chomsky, Derrida, Yuk Hui, Bernard Stiegler, dan Jalaluddin Rakhmat, pembaca diajak memandang AI dari perspektif budaya, bahasa, spiritualitas, hingga filsafat hermeneutika.

Artificial Intelligence (AI) dan Coding menjadi bagian penting yang bisa mengubah cara kita belajar, bermain, bahkan bekerja. (Sumber: Unsplash/BoliviaInteligente)
Artificial Intelligence (AI) dan Coding menjadi bagian penting yang bisa mengubah cara kita belajar, bermain, bahkan bekerja. (Sumber: Unsplash/BoliviaInteligente)

Dalam narasi ini, AI bukan sekadar mesin pintar, melainkan bagian dari jaringan realitas besar yang tidak netral. Teknologi dianggap memiliki arah ideologis dan menyimpan muatan tafsir tertentu.

Di sinilah pembaca ditantang untuk menggugat pandangan dominan dan menawarkan pendekatan baru yang lebih manusiawi, ekologis, dan kritis.

Struktur buku ini terdiri dari 19 bab yang ditulis berdasarkan pemikiran tokoh besar dunia, dimulai dari bab tentang singularitas hingga bab tentang jalan hidup kosmis.

Bab satu sampai empat berisi narasi masa depan yang menjanjikan.

Bab lima hingga sebelas menawarkan peringatan dan kehati hatian.

Sementara bab dua belas sampai sembilan belas menampung pemikiran alternatif yang mengusik nalar dan rasa.

Prolog di awal dan epilog di bagian akhir mengikat semua narasi dalam satu benang merah: bagaimana umat manusia memahami kembali akal, teknologi, dan masa depan secara lebih bijak.

Keunggulan utama buku ini terletak pada keberaniannya menghadirkan pluralitas pandangan. Bukan hanya menyajikan informasi, tetapi juga membangun kesadaran kritis bagi pembaca umum maupun akademik.

Penulis utamanya Dimitri Mahayana dikenal luas sebagai pendiri Sharing Vision, lembaga riset teknologi digital, serta Dosen STEI ITB. Sementara Agus Nggermanto aktif dikenal sebagai alumnus ITB pendidik matematika kreatif sekaligus penulis filsafat populer.

Kolaborasi mereka menjadikan buku ini padat namun tetap terasa akrab.

Meski demikian, tidak semua bagian buku ini mudah dicerna.

Beberapa bab mengandaikan pembaca telah akrab dengan pemikiran filsafat kontemporer seperti Stiegler, Gadamer, atau Derrida. Ini bisa menjadi tantangan tersendiri bagi pembaca umum yang belum terbiasa dengan literatur filosofis.

Secara keseluruhan, buku ini penting dibaca siapa saja yang ingin memahami AI tidak hanya sebagai perangkat teknis tetapi sebagai persoalan etika, budaya, dan arah kemanusiaan.

Buku ini mengajarkan bahwa membicarakan AI bukan hanya urusan ilmuwan komputer atau perusahaan raksasa, tetapi tanggung jawab kita semua sebagai manusia yang sedang menentukan masa depannya sendiri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)