AYOBANDUNG.ID - Udara sejuk pagi di Bandung berpadu dengan aroma kopi yang menyeruak dari sebuah sudut kedai yang berbeda dari kebanyakan coffee shop lain. Jika banyak tempat mengandalkan konsep “kalcer” dan spot instagramable, Kibi Kopi justru menghadirkan cerita yang lebih dalam.
Di balik meja bar, seorang pemuda dengan kebutuhan khusus tampak begitu fokus. Tangan kanannya perlahan mengambil botol susu, menuangkannya ke dalam jug, lalu menyalakan mesin uap. Dengan penuh konsentrasi, ia merampungkan satu per satu tugasnya.
Tak hanya meracik minuman, ia juga menyapa pelanggan, mencatat pesanan, hingga menyajikan kopi dengan percaya diri. Di wajah para pengunjung, tak tampak rasa iba. Yang terlihat justru penghargaan atas kerja keras dan ketekunannya.

Baca Juga: Saat Dunia Tak Mengerti, Pelukan dan Cinta Ibu Jadi Rumah Teraman bagi Anak Down Syndrome
Menepis Cemas di Usia Dewasa
Program Difabel Empowerment in a Cup yang digagas oleh pemilik Kibi Kopi, Rendy Renaldi, sejak awal 2023 lahir dari kegelisahan pribadi. Sebagai orang tua dari anak berkebutuhan khusus, ia memahami betul kecemasan yang kerap muncul ketika anak mulai beranjak dewasa.
“Orang tua yang punya anak berkebutuhan khusus sering bingung saat anaknya mulai dewasa. Nanti anak saya gimana? Kerjanya apa?” tutur Rendy.
Bagi Rendy, Kibi Kopi bukan sekadar tempat usaha. Ia melihatnya sebagai laboratorium harapan—ruang pembuktian bahwa hidup tidak berhenti setelah pendidikan formal selesai. Dengan kesempatan yang tepat, para difabel tetap bisa berkarya.
“Yang mereka butuhkan itu kesempatan. Minimal ada satu tempat buat mereka kerja, dampaknya besar sekali,” tambahnya.
Baca Juga: Berlari Menantang Batas: Egi dan Gita Buktikan Disabilitas Tak Halangi Prestasi
Jembatan Menuju Kemandirian
Kolaborasi Kibi Kopi dengan Skill Center Percik Insani menjadi bagian penting dari proses pembinaan. Menurut Kepala Kurikulum, Christine Widya Praja, pelatihan bagi difabel membutuhkan pendekatan yang berbeda.
“Tujuannya mempersiapkan mereka menuju kemandirian. Supaya suatu hari, tanpa orang tua pun, mereka tetap bisa menjalani hidup,” jelas Christine.
Bekerja langsung di kedai kopi menjadi tahap akhir pelatihan. Interaksi dengan orang asing berfungsi sebagai terapi sosial, terutama bagi individu autis yang cenderung kaku dan sulit beradaptasi.
“Mereka perlu belajar bahwa ada orang asing, dan bagaimana bersikap di ruang publik,” ujarnya.

Menaklukkan Resep dan Komunikasi
Bagi para peserta pelatihan, mengingat resep bukan perkara sepele. Steven, salah satu barista difabel, mengibaratkannya sebagai “bukit” yang harus ditaklukkan.
“Butuh pengalaman berkali-kali sampai hafal menu. Kadang perlu catatan panduan juga,” katanya.
Selain resep, berkomunikasi dengan pelanggan menjadi tantangan terbesar. Namun, pengalaman di balik meja bar memberinya pelajaran berharga tentang pengelolaan emosi.
“Saya senang. Bisa belajar sabar, menenangkan diri, dan mengelola stres dari dalam diri,” ungkapnya.
Mimpi Mandiri secara Finansial
Meski dunia kerja semakin kompetitif, semangat Steven tak pernah surut. Ia memiliki impian yang jelas: mandiri secara finansial tanpa bergantung pada siapa pun.
“Saya ingin bisa memenuhi kebutuhan sendiri—makan, listrik, internet—tanpa dibiayai pemerintah,” tegasnya.
Rendy pun berharap pesan inklusi dari Kibi Kopi dapat menyebar lebih luas. Ia ingin kedainya menjadi ruang belajar bagi siapa pun yang ingin membuka peluang kerja bagi difabel.
“Anak-anak ini bisa berkarya. Kalau ada coffee shop lain yang punya hati tapi belum tahu caranya, mari belajar bareng kita,” pungkasnya.
Di Kibi Kopi, setiap tetes kopi bukan hanya soal rasa. Ia menjadi simbol keberanian untuk bermimpi, sekaligus pengingat bahwa setiap manusia—apa pun kondisinya—layak diberi ruang untuk tumbuh dan bermakna.