AYOBANDUNG.ID - Bagi warga Bandung, Sungai Cikapundung yang mengalir sepanjang 28 km adalah oase sekaligus sumber air bersih yang sangat krusial. Salah satu titik populernya, Teras Sungai Cikapundung, tampak menyegarkan dengan riak air yang membelah pepohonan asri di tengah kota.
Namun, di balik pemandangan yang memanjakan mata tersebut, sebuah rahasia kurang menyenangkan tersembunyi: air di bagian hulu ini ternyata berada dalam kondisi tercemar sedang.
Kesimpulan ini didapat setelah para peneliti mengamati kehidupan makhluk mikroskopis bernama fitoplankton. Fitoplankton adalah tanaman air super kecil yang pergerakannya mengikuti arus. Karena mereka sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, kehadiran dan jenis mereka menjadi "detektif" alami untuk menentukan kualitas suatu perairan.
Baca Juga: Ancaman Tak Terasa, Diam-diam Permukaan Tanah Kota Bandung Ambles Perlahan
Si Kecil Pemberi Pesan
Dari hasil pengamatan di tiga titik Teras Cikapundung, ditemukan 22 jenis fitoplankton. Namun, ada satu jenis yang paling dominan, yakni Cyclotella sp. dari kelas Bacillariophyceae. Kehadiran spesies ini dalam jumlah besar merupakan sinyal peringatan, karena Cyclotella sp. dikenal mampu bertahan di air dengan kandungan bahan organik tinggi akibat polusi. Dominasi satu jenis makhluk seperti ini menunjukkan bahwa ekosistem sedang tertekan oleh aktivitas manusia.
Data menunjukkan bahwa nilai keanekaragaman dan keseragaman jenis makhluk di sana berada pada level "sedang". Artinya, kualitas airnya belum masuk tahap sangat buruk, namun sudah jauh dari kata sehat atau alami.
Musuh Utama di Hulu
Lantas, apa yang membuat air di Teras Cikapundung tercemar? Faktanya, di lokasi penelitian ditemukan banyak sampah plastik yang menumpuk serta limbah cair domestik dari pemukiman dan tempat wisata di sekitarnya.
Selain itu, keberadaan peternakan di bagian hulu turut menambah beban sungai melalui pembuangan kotoran hewan. Akibatnya, angka BOD (kadar kebutuhan oksigen untuk mengurai bahan organik) mencapai 7,1 mg/L, yang berarti sudah melampaui batas aman yang ditetapkan pemerintah, yakni sekitar 2-3 mg/L.

Mengapa Kita Harus Peduli?
Kondisi di hulu sangat menentukan masa depan sungai secara keseluruhan. Jika air di bagian atas sudah tercemar, dampaknya akan dirasakan oleh semua makhluk hidup dan masyarakat yang bergantung pada aliran air ini di sepanjang jalur sungai.
Kabar baiknya, masih ada waktu untuk berbenah. Para ahli menyarankan agar masyarakat lebih ketat mengawasi pembuangan limbah dan mulai mengadopsi solusi alami seperti menanam eceng gondok sebagai alat pembersih air atau fitoremediasi.*
Artikel ini bersumber dari hasil penelitian berjudul "Kualitas Perairan di Teras Sungai Cikapundung, Kota Bandung Berdasarkan Struktur Komunitas Fitoplankton" oleh Vina Phangestu, Keukeu Kaniawati Rosada, & Sunardi dari Universitas Padjadjaran. Karya ilmiah ini dipublikasikan dalam Environmental Pollution Journal Volume 4 Nomor 3 November 2024 yang diterbitkan oleh Ecoton.