Beranda

Cerita Ibu-ibu Majelis Taklim Menjaga Bumi dari Tumpukan Sampah di Jatihandap

Oleh: Halwa Raudhatul Senin 16 Mar 2026, 14:50 WIB
Inisiatif perempuan di Bank Sampah Ikhtiar RW 15 membuktikan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi keluarga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Di antara sekian banyak pekerja informal yang nasibnya tidak selalu bersandar pada perlindungan hak yang jelas, ada satu profesi yang kerap luput dari perhatian. Mereka bukan tokoh yang tampil di panggung seminar lingkungan, bukan pula aktivis yang lantang berbicara di depan kamera. Namun dari sudut-sudut kecil kehidupan kota, mereka bekerja dalam diam menjaga lingkungan.

Mereka adalah perempuan-perempuan yang setiap hari bersentuhan langsung dengan sampah—memilah, membersihkan, dan mengelompokkannya dari sumber paling awal sampah itu berasal.

“Kadang saat orang memberikan sampah kepada kami, seolah-olah mereka menilai kami seperti sampah,” ucap Wiwi dengan suara pelan di tengah obrolan. Matanya berkaca-kaca, seolah menahan air mata yang hampir jatuh.

Wiwi Wijayanti (56), yang akrab disapa Ambu, adalah salah satu perempuan pengelola sampah di Bank Sampah Ikhtiar 15, Jatihandap, Kota Bandung. Bersama tiga rekannya, ia telah sekitar tiga tahun bekerja memilah sampah di tempat sederhana itu.

Wiwi Wijayanti telah tiga tahun bekerja bersama ibu-ibu lainnya mengurangi sampah dari sumber rumah tangga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Bagi sebagian orang, pekerjaan ini mungkin tidak terlihat bergengsi. Namun bagi mereka, ada semangat lain yang membuatnya tetap dijalani.

“Walaupun bau, walaupun uangnya tidak seberapa, tapi ada semangat untuk peduli lingkungan,” kata Iis, rekan Ambu yang juga bekerja sebagai pemilah sampah.

Baca Juga: Eco Enzyme dari Sampah Organik, Langkah Warga Jatihandap Tekan Sampah dan Hasilkan Produk Ramah Lingkungan

Dari Majelis Taklim ke Bank Sampah

Di halaman kecil RW 15 Jatihandap, tumpukan karung berisi berbagai jenis sampah tersusun rapi. Botol plastik, kardus, kaleng, hingga plastik kemasan dipisahkan sesuai jenisnya.

Di tengah tumpukan itu, beberapa perempuan berkerudung kuning tampak sibuk memilah sampah yang baru datang dari warga. Tangan mereka bergerak cepat memisahkan botol, plastik, dan kaleng.

Aktivitas ini rutin dilakukan setiap hari Rabu di Bank Sampah Ikhtiar 15. Tempat sederhana ini dikelola oleh sekelompok perempuan yang sebelumnya hanya berkumpul untuk kegiatan keagamaan.

“Awalnya dari Majelis Taklim. Kami sering kumpul di masjid, lalu ada kegiatan Jumat bersih. Dari situ akhirnya ibu-ibu yang mengurus bank sampah,” ujar Lina Gusmatina (56), Ketua Bank Sampah Ikhtiar 15.

Seiring waktu, kegiatan membersihkan lingkungan berkembang menjadi upaya yang lebih terorganisir. Para ibu yang terbiasa bertemu dalam majelis taklim kemudian mengambil langkah lebih jauh dengan mengelola sampah dari rumah-rumah warga.

Menurut Lina, sejak awal gerakan ini memang banyak digerakkan oleh perempuan di lingkungan tersebut.

“Ibu-ibu yang biasanya kumpul pengajian akhirnya ikut terlibat mengurus bank sampah,” ujarnya.

Lewat kegiatan memilah sampah, para perempuan di Bank Sampah Ikhtiar RW 15 Kelurahan Jatihandap menunjukkan bahwa gerakan kecil di tingkat rumah tangga dapat memberi dampak ekonomi dan lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

WTS: Wanita Tenaga Super

Di antara para pengelola bank sampah itu terdapat nama-nama seperti Oneng Juwaini (63), Ingrid yang akrab dipanggil Pengki (66), Iis Nurhayati (55), dan Wiwi Wijayanti (56). Mereka datang dari latar belakang yang berbeda, namun dipersatukan oleh kepedulian terhadap lingkungan.

Dengan nada bercanda, mereka bahkan menyebut diri sebagai WTS—Wanita Tenaga Super.

Menurut Lina, ada enam perempuan yang aktif mengelola operasional Bank Sampah Ikhtiar 15. Lima orang bekerja langsung di lapangan memilah sampah, sementara satu orang bertugas mengurus administrasi.

“Kalau yang operasional langsung ada lima orang, satu lagi di bagian admin. Jadi totalnya enam ibu-ibu yang mengelola,” jelas Lina.

Di bank sampah ini, setiap jenis limbah memiliki perlakuan yang berbeda. Botol plastik tidak bisa langsung digabung begitu saja karena warna dan jenisnya harus dipisahkan terlebih dahulu.

“Tugasnya memilah. Botol saja harus dipisah-pisah—ada yang bening, biru, hijau. Plastik juga beda lagi jenisnya,” jelas Lina.

Para pengelola biasanya memiliki bagian masing-masing saat bekerja.

“Kalau saya memang menangani botol. Botol dan gelas itu dipisah-pisah,” kata Oneng.

“Kalau saya menangani plastik-plastik yang bening, seperti kresek,” ujar Iis.

Baca Juga: Dari Botol Plastik jadi Tabungan Emas: Cara Warga Jatihandap Mengelola Sampah yang Bisa Ditiru

Namun pembagian tugas tersebut tidak selalu kaku. Ketika volume sampah yang datang meningkat, mereka saling membantu menyelesaikan pekerjaan.

“Kalau saya biasanya menangani duplek dan tetra, tapi pada akhirnya semua ikut membantu,” ujar Ingrid.

Tidak ada pelatihan resmi ketika para ibu ini mulai mengelola bank sampah. Pengetahuan mengenai jenis sampah dan cara memilahnya dipelajari secara otodidak.

“Tidak ada pelatihan khusus. Langsung praktik saja,” ujar Lina.

Ia mengaku awalnya belajar sendiri tentang berbagai jenis plastik dan material sampah. Pengetahuan itu kemudian dibagikan kepada anggota lainnya.

“Saya belajar sendiri, lalu saya ajarkan ke ibu-ibu yang lain,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, selama tiga tahun merawat Bank Sampah Ikhtiar 15, keterampilan mereka semakin berkembang. Kini mereka mampu mengenali berbagai jenis plastik dan bahan lain dengan lebih teliti.

Demi memudahkan warga menabung sampah, pengurus Bank Sampah Ikhtiar RW 15 secara rutin menjemput sampah pilahan dari rumah ke rumah. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

“Orang Lain Membuang, Kita Mengambil”

Bekerja di tengah tumpukan sampah tentu bukan perkara mudah. Bau menyengat dan kotoran kerap menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari mereka.

“Walaupun bau, walaupun uangnya tidak seberapa, tapi ada semangat untuk peduli lingkungan,” ucap Iis sambil menautkan kedua tangannya dengan penuh keyakinan.

Bagi mereka, aktivitas ini lebih dari sekadar pekerjaan. Ada kepedulian yang tumbuh dari pengalaman melihat persoalan sampah di lingkungan sekitar.

“Ada kebanggaan tersendiri. Jadi lebih peduli terhadap lingkungan. Orang lain membuang, kita mengambil,” ujar Ingrid.

“Saya merasa bahagia dan bangga walaupun kerjaannya begini,” kata Wiwi dengan tulus.

Di balik kerja mereka, masih ada stigma dari sebagian masyarakat. Mengelola sampah sering dipandang sebagai pekerjaan rendahan yang tidak banyak diminati.

“Untuk merekrut orang ke bank sampah itu susah. Tidak semua orang mau,” kata Ingrid.

“Kalau semua orang peduli, mungkin banyak yang mau ikut seperti ini,” tambahnya.

Ada pula pengalaman yang meninggalkan kesan mendalam bagi para pengelola saat menerima sampah dari warga.

Wiwi pernah mengalami kejadian yang membuatnya terpukul. Suatu hari, seorang warga memberikan sampah dengan cara menendangnya ke arah dirinya.

“Kadang saat orang memberikan sampah kepada kami, seolah-olah mereka menilai kami seperti sampah,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Masih ada yang memberi sampah bercampur pembalut wanita dan kotoran,” katanya sambil menyeka air mata.

Menurut mereka, persoalan utama bukan hanya soal banyaknya sampah, tetapi juga kebiasaan masyarakat yang belum terbiasa memilah sampah dari rumah.

“Saya kadang berpikir, kapan ya mereka sadar?” keluh Wiwi.

Lina Gusmatina bersama para ibu rumah tangga di RW 15 Jatihandap membuktikan bahwa pengelolaan sampah dapat menjadi ruang pemberdayaan ekonomi perempuan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Lebih dari Sekadar Uang

Walaupun bank sampah memberikan insentif kecil kepada para pengelolanya, tujuan utama kegiatan ini bukanlah keuntungan ekonomi.

“Kalau uang mah nomor sekian. Yang penting kepedulian,” kata Ingrid.

“Tujuannya bukan mengejar uang, tapi kemanusiaan,” ujar Iis.

Selain mengurangi sampah di lingkungan sekitar, kegiatan ini juga memiliki dampak sosial. Sebagian hasil pengelolaan sampah disisihkan untuk kegiatan kemasyarakatan.

“Kami juga sisihkan untuk dana sosial, seperti santunan anak yatim,” ujar Lina.

Pengalaman mengelola sampah selama beberapa tahun terakhir turut mengubah cara pandang para ibu ini terhadap lingkungan.

“Menyelamatkan dunia itu bukan dari luar, tapi dari diri kita sendiri, dari rumah,” ujar Ingrid.

Bagi mereka, kebiasaan sederhana seperti memilah sampah bisa membawa dampak besar jika dilakukan secara bersama-sama.

“Satu plastik yang kita buang mungkin kecil bagi kita. Tapi kalau menumpuk bisa jadi banjir,” tambah Iis.

Di sela kegiatan memilah sampah setiap pekan, para perempuan ini menyimpan harapan agar kerja kecil mereka mendapat perhatian yang lebih luas.

“Harapan kami ke pemerintah, lihatlah kami di sini bekerja kotor-kotor seperti ini,” ucap Ingrid.

Bagi mereka, bank sampah bukan sekadar tempat mengolah limbah, tetapi juga ruang untuk membangun kesadaran bersama tentang lingkungan.

“Kalau semua orang peduli, mungkin banyak yang mau ikut seperti ini,” katanya.

Di sudut halaman kecil RW 15 itu, tangan-tangan para perempuan terus bergerak memilah sampah satu per satu. Karung-karung berisi plastik dan botol perlahan bertambah, sementara percakapan ringan di antara mereka sesekali terdengar di sela pekerjaan.

“Ini ibu-ibu Majelis Taklim, jadi kami kerjakannya lillahi ta’ala,” ujar Lina.

Reporter Halwa Raudhatul
Editor Andres Fatubun